
Owe Owe Owe Owe owe owe owe owe owe
Terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang persalinan membuat semuanya saling melihat dan wajah tegang itu berubah menjadi wajah penuh kebahagian atas hadirnya anugrah dari Allah. Sehingga Rendy, Rania, Ratih dan Nia sama-sama mengucap syukur dengan mengusap wajah masing-masing.
" Alhamdulillah ya Allah," lirih Ratih terharu. Rania dan Rendy saling melihat dengan tangan Rendy merangkul istrinya dan Rania meletakkan kepalanya di dada Rendy yang pasti dia juga bahagia dengan lahirnya anak dari Zahra.
Setelah persalinan selesai. Rania dan yang lainnya pun sudah di perbolehkan untuk melihat Zahra. Kondisi Zahra masih lemas. Dia masih berbaring dengan bayi laki-laki di sampingnya.
" Kamu sudah merasa enakan Zahra?" tanya Ratih.
" Sudah Tante, tadinya masih lemas. Tetapi begitu bayinya lahir aku jadi merasa bahagia. Dan sakitnya hilang," jawab Zahra.
" Alhamdulillah kalau begitu Tante senang mendengarnya," sahut Ratih.
" Selamat ya Zahra, Elang atas lahirnya bayi kalian. Kalian sekarang sudah menjadi orang tua," ucap Rania yang matanya terus melihat bayi itu.
" Sama-sama Rania, kamu dan Rendy juga akan menjadi orang tua," sahut Zahra. Rania tersenyum dan melihat Rendy. Lagi-lagi dan lagi. Rendy hanya takut jika hal itu terjadi. Dia hanya tersenyum untuk menutupi rasa khawatirnya.
" Aku minta maaf sama kalian, sudah merepotkan kalian, harus bangun malam, maaf sekali," sahut Elang merasa tidak enak.
" Tidak apa-apa kak Elang, justru kita senang. Jadi pengalaman untuk Nia. Jadi kalau nanti kak Rania melahirkan. Nia sudah siap siaga," sahut Nia dengan bergurau yang membuat tawa kecil semuanya.
" Hmmm, aku boleh gendong tidak?" tanya Rania meminta izin.
" Pasti Rania," sahut Zahra. Rania begitu bahagianya dan langsung menggendong dengan perlahan.
" Ya ampun tampan sekali," puji Rania begitu gemesnya menunjukkan pada Rendy, Rendy mengusap-usap rambut Rania. Dia sangat tau istrinya itu memang ingin sekali memiliki seorang bayi.
" Ya Allah, aku tau apa yang membuat istriku bahagia. Meski berat untuk menerima semua ini. Aku hanya meminta untuk engkau kuatkan fisiknya. Agar istriku bisa kuat dalam menjalani kehamilannya. Walau aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi. Bahkan aku juga tidak bisa merasakan apa yang di rasakannya," batin Rendy sembari mengusap-usap rambut Rania.
__ADS_1
" Mama mengerti perasaan kamu Rendy, kehamilan Rania semakin hari justru semakin menakutkan untuk kamu. Tapi percayalah nak semua itu sudah di gariskan dalam takdir. Jika Allah berkehendak maka semuanya akan baik-baik saja," batin Ratih yang melihat wajah Rendy yang menahan kesedihan.
" Rania begitu bahagia dengan kehadiran bayiku. Aku bisa melihat banyak keinginan darinya. Dia bahkan berusaha untuk hamil. Tanpa memikirkan kondisinya. Ya Allah angkatlah penyakit Rania dia wanita yang sangat baik," batin Zahra yang juga terharu melihat Rania yang begitu bahagia.
Semua orang terharu. Bukan terharu karena kehadiran bayi Zahra. Tetapi justru terharu melihat Rania yang berjuang untuk hamil tanpa memikirkan dirinya yang mana nyawanya menjadi taruhannya. Semua orang juga tau keputusan yang di ambil Rania itu sangat berisiko. Tetapi namanya juga Rania begitu keras kepala ya mau bagaimana lagi.
*********
Masih berada di rumah sakit dan sudah pagi hari. Rania yang keluar dari ruangan Zahara mencari-cari suaminya.
" Rendy di mana ya, apa dia ada pasien? tanya Rania dengan kepalanya yang berkeliling mencari keberadaan suaminya yang tidak di temukannya sama sekali.
" Rania!" tiba-tiba Rania mendengar suara yang tidak asing dan membalikkan tubuhnya dan melihat Anisa dan Agam.
" Anisa, Agam," sahut Rania. Anisa dan Agam pun menghampiri Rania.
" Hmmm, kami mau melihat Zahra," ucap Anisa.
" Baiklah. Dia baik-baik aja kan?" tanya Anisa.
" Alhamdulillah baik-baik aja. Bayinya juga sehat, bayi laki-laki yang begitu tampan," sahut Rania.
" Alhamdulillah kalau begitu. Ya sudah kamu lihat masuk dulu," ucap Anisa.
" Hmmm, mau titip makanan nggak sekalian. Soalnya aku kan mau keluar sama Rendy," ucap Rania menawarkan.
" Hmmm, kalau gratis tidak masalah," sahut Agam bercanda.
" Ya sudah kalian masuklah!" ucap Rania. Anisa dan Agam mengangguk dan Rania melanjutkan pencarian pada suaminya.
__ADS_1
**********
Rania terus mencari suaminya dan tiba-tiba Rania melewati ruangan Dokter Anggi dan di sana ada suaminya yang ternyata mengobrol dengan Dokter Anggi.
" Dokter Rendy apa Dokter yakin ingin melanjutkan kehamilan istri Dokter. Dokter kehamilannya sudah memasuki 2 bukan dan saya yakin Bu Rania sudah merasakan gejala-gejala yang tidak biasa," ucap Dokter Anggi.
" Dokter benar. Bahkan Rania sering mual berlebihan. Tapi ini sudah keputusan dan saya sudah sepakat dengan istri saya," sahut Rendy yang terlihat pasrah.
" Dokter, nyawa Bu Rania bisa menjadi taruhannya. Jangankan untuk menyelamatkan bayi atau mempertahankannya. Bahkan bisa jadi dalam beberapa bulan kedepan kesehatannya akan menurun. Dan ibu dan bayinya bisa tidak terselamatkan," ucap Dokter yang mengatakan resikonya. Mendengarnya membuat Rendy memejamkan matanya sangat ngeri dan pasti dia tidak ingin itu terjadi.
" Bersabarlah Dokter Rendy, percayalah Bu Rania akan sembuh jika keputusannya tidak di lanjutkan," ucap Dokter Anggi menyarankan.
" Sayang!" sahut Rania memanggil suaminya dan Rendy langsung melihat kebelakang melihat istrinya yang tanpa ekspresi.
" Ayo!" ajak Rania yang kelihatan tidak mau Rendy bicara banyak-banyak dengan Dokter itu.
" Ayo cepat aku lapar!" desak Rania. Rendy mengangguk.
" Saya permisi Dokter, nanti kita bicara lagi," ucap Rendy. Dokter Anggi mengangguk dan Rendy langsung menghampiri istrinya dan Rania langsung menariknya jauh-jauh dari ruangan itu.
" Rania kenapa terburu-buru," ucap Rendy. Rania menghentikan langkahnya dan berdiri di hadapan suaminya dengan wajahnya mengkerut. Lalu Rania menutup ke-2 telinga suaminya dengan tangannya.
" Ada apa Rania?" tanya Rendy heran.
" Jangan dengarkan kata-kata Dokter itu. Aku tidak mau kamu terhasut olehnya. Pokoknya kalau dia bicara harus tutup kuping," ucap Rania membuat Rendy hanya mengangguk saja. Matanya Rendy terlihat begitu sedih.
" Janji!" sahut Rania. Rendy mengangguk lagi.
" Jangan suka bertemu dengannya. Apa lagi mengobrol berduaan, aku cemburu," sahut Rania lagi. Rendy menganggukkan saja kepalanya. Rania pun langsung memeluk suaminya.
__ADS_1
" Dokter itu bohong sayang. Aku selama ini belum merasa apa-apa. Apa yang terjadi itu memang biasa untuk ibu hamil. Percayalah kepadaku. Bukannya aku sudah berjanji akan berkata jujur jika terjadi sesuatu nanti. Jadi percayalah, aku baik-baik saja untuk saat ini. Jadi jangan khawatir atau mengubah keputusan kita sudah sepakat dan sudah membahasnya. Jadi jangan membuatku marah," ucap Rania memeluk erat suaminya. Rendy hanya diam saja yang juga memeluk Rania.
Bersambung