Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 139 Rania yang schok.


__ADS_3

" Astagfirullah Al Azdim," lirih Raina yang schok mendengar cerita Zahra. Zahra memang akhirnya jujur pada Rania, mereka bicara di dalam kamar Zahra dan tidak ada satupun yang di tutupi oleh Zahra.


" Aku tidak tau Rania, jika semuanya akan seperti itu. Aku hanya menemui klien dan mereka berniat jahat kepadaku. Mereka mencampurkan minumanku dengan obat dan aku yang mengetahui hal itu memilih untuk pergi diam-diam. Aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak di ingin kepadaku. Tapi aku tidak percaya jika akhirnya semuanya terjadi dengan Elang," ucap Zahra yang menangis menceritakan semuanya kepada Rania.


" Aku sudah berusaha menghindari Elang. Tapi nyatanya aku juga tidak bisa mengontrol diriku dan saat itu Elang juga sama dengan ku. Dia juga dalam pengaruh obat. Aku benar-benar tidak tau Rania harus berbuat apa lagi, semuanya terjadi seperti itu," ucap Zahra yang menagis senggugukan dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.


Rania mengusap bahu Zahra untuk memberikan Zahra ketangan. Dia tau posisi Zahra sangat sulit dan Zahra tidak pernah menginginkan hal itu terjadi padanya.


" Lalu Zahra apa tespeck yang di temukan dorong sampah adalah milik kamu?" tanya Rania dengan berhati-hati. Zahrah mengangkat kepalanya melihat Rania dengan serius.


" Tespeck, jadi kamu menemukan tespeck itu?" tanya Zahra kembali dengan wajah paniknya.


" Bukan aku. Tapi mama," sahut Rania. Zahrah semakin terkejut mendengarnya.


" Lalu!" lirih Zahra mendadak panik.


" Mama mengira itu adalah milikku. Aku sudah menjelaskan itu bukan milikku dan semua orang berspekulasi kalau itu milik orang lain yang jatuh," jelas Rania. Zahrah terlihat bernapas lega.


" Jadi benar, tespeck itu adalah punya kamu?" tanya Rania memastikan sekali lagi.


" Iya, aku hamil," jawab Zahra jujur. Rania memejamkan matanya yang lebih terkejut lagi dengan pengakuan Zahra.


" Lalu Elang bagaimana. Bagaimana hubungan kalian selanjutnya?" tanya Rania.


" Dia hanya mengatakan akan bertanggung jawab. Tetapi berkali-kali meminta waktu untuk bertanggung jawab. Sampai akhirnya aku hamil dan tetap itu yang di katakannya," jawab Zahra yang sepertinya tidak mendapat kepastian dari Elang.


" Ya Allah, kenapa semuanya seperti ini. Cobaan apa yang kau kepada keluarga kami," batin Rania yang menjadi kepikiran dengan masalah Zahra dan Elang.


" Rania, aku benar-benat bingung. Aku sudah tidak tau harus melakukan apa lagi. Aku takut Rania. Aku sudah mengecewakan Tante Ratih. Aku mengecewakan semua orang di rumah ini dan aku tidak sanggup jika pada akhirnya mereka akan mengetahui semuanya. Aku tidak tau Rania harus melakukan apa lagi," ucap Zahra yang benar-benar tidak bisa berpikir dengan masalah besar yang menimpanya.

__ADS_1


" Zahrah, kamu tenangkan diri kamu dulu minta petunjuk pada Allah. Elang pasti akan bertanggung jawab untuk masalah ini. Dan aku akan coba bicara dengan Rendy. Kita akan coba mencari jalan keluarnya," ucap Rania memutuskan.


" Jangan Rania!" cegah Zahra dengan cepat.


" Maksud kamu?" tanya Rania.


" Aku mohon jangan. Aku tidak ingin Rendy tau masalah ini. Rania aku mohon tolong rahasiakan semua ini. Aku tidak mau semua orang tau tentang apa yang terjadi antara aku dan Elang. Aku tidak mau Rania, Tante Ratih akan sedih," ucap Zahra dengan kepanikannya.


" Tapi Zahra, masalah ini tidak mungkin di sembunyikan," sahut Rania.


" Aku tau Rania, masalah ini memang tidak akan mungkin di sembunyikan. Tapi aku mohon untuk kamu merahasiakannya sementara. Termasuk dari Rendy. Aku akan coba menyelesaikannya dengan Elang. Aku mohon Rania tolong jangan beritahu siapapun," ucap Zahra dengan memohon pada Rania.


Wajah Rania penuh kebingungan mendengar permohonan itu. Dia mana mungkin menyembunyikan masalah itu dari suaminya. Tapi apa yang terjadi pada Zahra adalah aib yang dia juga tidak berhak untuk menyebarnya.


" Rania, aku mohon," lirih Zahra dengan memegang ke-2 tangan Rania yang memohon berkali-kali pada Rania.


" Kamu maukan melakukannya. Tolong rahasiakan ini. Aku mohon Rania," ucap Zahra yang terus memohon pada Rania.


" Zahra, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan kamu dan juga Elang. Tapi aku berharap dengan kejadian ini. Kalian berdua sama-sama belajar. Kalian ber-2 saling memperbaiki diri untuk semua ini. Jangan melakukan hal-hal yang semakin membuat kalian semakin berdosa. Tebuslah kesalahan kalian dengan sama-sama bertanggung jawab," ucap Rania memberi saran Zahra.


" Iya Rania, aku tidak melakukan dosa lebih besar lagi," sahut Zahra. Rania menganggukkan matanya dan memeluk Zahra.


" Terimakasih Rania kamu sudah membantuku. Terima kasih untuk semuanya," ucap Zahra yang merasa begitu lega.


" Aku tidak melakukan apapun. Jadi jangan berterima kasih," sahut Rania. Zahrah merasa sedikit tenang ketika bercerita dengan Rania. Pelukan Rania juga membuatnya benar-benar menjadi tenang.


*********


Setelah bicara dengan Zahra dan juga menemani Zahra istrirahat sampai Zahra akhirnya tertidur. Rania kembali kekamarnya yang juga harus istrirahat dan pasti suaminya sudah menungguinya.

__ADS_1


Rania membuka pintu kamar dan melihat Rendy duduk di atas tempat tidur dengan menyandarkan punggungnya di atas ranjang sambil membaca buku.


" Kamu sudah selesai makan?" tanya Rania menghampiri suaminya.


" Sudah, putingnya sudah kosong," jawab Rendy menoleh kearah piring. Rania tersenyum. Lalu menaiki ranjang.


" Kamu sendiri apa sudah makan?" tanya Rendy menutup bukunya, meletakkan dia atas nakas.


" Sudah, aku tadi makan di kamar Zahra," jawab Rania bohong.


" Memang ada apa dengan Zahra, sampai kalian bicara sangat serius, sampai larut malam?" tanya Rendy heran.


" Hmmm, tidak ada-ada yang serius-serius. Aku hanya bertanya masalah pekerjaan saja. Jadi kita keasikan mengobrol sampai tidak menyadari waktu," jelas Rania yang tetap berbohong pada suaminya.


" Ya sudah tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah makan," ucap Rendy. Rania mengangguk.


" Lalu ada apa ini, kenapa aku melihat wajahmu sangat murung?" tanya Rendy yang mengamati wajah Rania dengan intens. Rania tersenyum tipis untuk menutupi wajahnya yang mencerminkan pikirannya yang tidak baik-baik saja pada saat ini.


" Aku tidak apa-apa. Hanya mengantuk saja," ucap Rania.


" Begitu rupanya. Ya sudah kalau mengantuk. Alangkah baiknya kita tidur," ucap Rendy Tania mengangguk lagi.


Dan mereka sama-sama meluruskan diri untuk rebahan di atas tempat tidur. Mereka sama-sama menarik selimut sampai dada dan Rendy meletakkan lengannya di bawah kepala Rania membawa Rania untuk tidur kedalam pelukannya.


Sebelum memejamkan matanya Rendy mencium lembut kening Rania.


" Selamat malam!" ucap Rendy.


" Selamat malam," sahut Rania. Rendy memejamkan matanya perlahan.

__ADS_1


" Maafkan aku Rendy, aku bohong pada kamu. Aku tidak bisa menceritakan apa yang terjadi pada Zahra," batin Rania yang merasa bersalah karena membohongi suaminya.


Bersambung


__ADS_2