Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 61 waktu berdua.


__ADS_3

Rendy dan Rania masih menikmati bubur di dalam mobil tanpa ada obrolan atau pembicaraan sama sekali sampai makanan itu akhirnya habis.


" Kamu masih mau makan lagi?" tanya Rendy.


" Tidak, aku sudah kenyang," jawab Rania.


" Lalu apa kita langsung pulang?" tanya Rebdy.


" Hmmm, terserah kamu," sahut Rania menggedikkan bahunya.


" Jika kata terserah. Berarti kamu belum mau pulang?" tanya Rendy dengan menaikkan 1 alisnya.


" Hmmm, aku bosan sih di rumah," ucap Rania dengan gugup.


" Memang kamu tidak kekantor?" tanya Rendy.


" Aku masih cuti," jawab Raina.


" Baiklah kalau begitu, kalau memang kamu tidak ada kegiatan hari ini. Dan kalau memang kamu bosan ya tidak ada salahnya kita pergi sebentar," ucap Rendy mengusulkan ide.


" Memang kamu tidak sibuk?" tanya Rania, " Kerumah sakit gitu?" tanyanya lagi.


" Aku cuti sampai 2 hari kedepan," sahut Rendy.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Rania.


" Ya sudah kalau begitu kamu tidak keberatan untuk kita jalan?" tanya Rendy. Nayra mengangguk pelan. Rendy tersenyum tipis.


" Ya sudah ayo kita pergi," ucap Rendy. Rania mengangguk dan Rendy pun menarik gas mobilnya lalu melakukan dengan kecepatan santai.


************


Sementara Willo tampak frustasi di dalam kamarnya. Willo mengacak-acak kamarnya sehingga berantakan seperti kapal pecah, apa yang di meja riasnya telah hancur semuanya bantal di mana-mana berserakan entah apa yang membuatnya seperti orang gila.


" Dasar Rania brengsek," teriak Willo yang ternyata Rania yang membuatnya menjadi marah-marah seperti itu. Tidak tau apa lagi kesalahan yang di lakukan Rania sampai Willo terlihat begitu emosinya.


" Kamu pikir kamu siapa Rania, kamu pikir kamu sudah merasa paling hebat, seenaknya kamu mengatur hidupku. Kamu ingin membuatku menjadi gelandangan apa," teriak Willo yang memegang kepalanya dengan ke-2 tangannya. Wajahnya layaknya seperti monster kelaparan.


Della yang mendengar teriakan kakaknya langsung memasuki kamar kakaknya dan kaget melihat apa yang terjadi di depannya.


" Kak Willo ada apa ini?" tanya Della heran sampai dia menutup mulutnya saking tercengang kaget dengan pemandangan kamar kakaknya yang berantakan minta ampun.


" Keluar kamu! ini bukan urusan kamu!" teriak Willo yang mengusir Della membuat Della menjadi takut dengan kakaknya yang aneh.


" Apaan sih kak, orang cuma nanya kakak langsung kayak gitu," sahut Della.


" Sudah diam, aku bilang keluar!" teriak Willo dengan menunjuk arah pintu.


" Willo ada apa ini," sahut Rudi menggertak yang tiba-tiba datang ketikan mendengar teriakan Willo.


" Tau, nih pa, Della cuma nanya. Tetapi malah di usir," sahut Della heran.


" Ada apa Willo?" tanya Rudi.


" Pah, Rania," sahut Willo.


" Ada apa lagi dengan Rania?" tanya Rudi.


" Rania, Rania bukan hanya memblokir kartu kredit ku pa. Tapi rumah yang kami tempati bahkan di ambilnya. Willo sudah tidak punya apa-apa lagi pa. Papa tau sendirilah perceraian Willo sebentar lagi akan ketuk palu dan pasti Bram tidak akan mau bertanggung jawab atas 2 anak Willo dan Willo sudah tidak punya biaya lagi pa. Bagaimana Willo menanggung Lila dan Bobo kalau Willo sudah tidak punya uang pah," ucap Willo yang mengadu kepada papanya tentang banyak hal yang di berikan Rania kepadanya.


" Kak. Tidak ada gunanya kakak mengadu pada papa. Seharusnya kakak belajar dari kesalahan kakak. Ambil itu sebagai teguran bukan malah merecoki seperti ini," sahut Della dengan bijak bicara.


" Apa kamu bilang, kamu jangan ikut-ikutan Della. Kamu anak kecil yang sok tau. Kamu tidak mengerti apa-apa," sahut Willo yang marah dengan Della yang membela Rania.


" Aku tidak mengerti, kakak yang tidak mengerti. Kakak tidak pernah mau belajar dari kesalahan. Semenjak kakak datang kerumah ini kakak selalu membuat kegaduhan. Dikit-dikit menyalahkan kak Raina yang tidak-tidak. Kakak yang punya masalah dengan suami kakak tapi malah menyalahkan kak Rania," sahut Della yang tidak takut dengan Willo.

__ADS_1


" Kamu bilang apa!" teriak Willo dengan geram.


" Aku mengatakan. Kakak kembali Kerumah ini membawa sial. Gara-gara perbuatan kakak mama meninggal," teriak Della dengan matanya melotot.


Plakkk.


Willo langsung menampar Della karena terpancing emosi.


" Willo!" gertak Rudi yang kaget melihat Willo menampar Della.


" Kakak menampar ku! kakak menamparku," teriak Della yang memegang pipinya yang panas akibat tamparan itu. Della melihat papanya.


" Dan papa diam saja," sahut Della melihat tajam papanya, " Jadi begini rasanya menjadi kak Rania yang salah siapa yang kenak siapa dan kakak dengan mudah main tangan dan papa hanya diam saja. Kalian berdua memang sama," kecam Della yang langsung pergi dengan penuh kemarahannya.


" Della!" panggil Rudi. Dan Willo hanya diam tanpa merasa bersalah.


" Apa yang kamu lakukan Willo, kamu menampar Della," sahut Rudi yang mungkin masih tidak percaya dengan apa yang di katakannya.


" Dia yang mencari gara-gara duluan pa. Dia yang bicara yang tidak-tidak pada ku. Itu bukan kesalahan ku pa," sahut Willo tidak ingin di salahkan.


" Kamu tetap bersalah, seharunya kamu tidak main tangan dengan Della dan sekarang lihat apa yang terjadi," sahut Rudi.


" Aku pusing pah, dan dia sengaja memancingku," geram Willo.


" Sudahlah, pokoknya kamu harus secepatnya meminta maaf pada Della," tegas Rudi yang langsung pergi.


" Argggghhh," teriak Willo meremas rambutnya kasar.


" Semua gara-gara Rania sialan itu," teriaknya yang masih saja menyalahkan Rania. Padahal jelas Rania tidak melakukan kesalahan apa-apa.


*********


Karena Rania dan Rendy dengan duduk di salah satu bangku yang ada di pinggir pantai menikmati indahnya pemandangan di siang hari yang begitu cerah dengan rambut Rania yang menari-nari karena tiupan angin yang kencang.


Rania tambak bahagia dengan kebahagian kecil itu. Melihat ombak yang menyapu pasir membuatnya merasa yang teduh dan banyak kedamaian.


" Iya, dulu aku suka bermain-main di pantai," jawab Rania.


" Dulu, lalu sekarang bagaimana apa kamu masih suka di pantai?" tanya Rendy.


" Tidak. Aku bahkan tidak pernah menghabiskan 5 menit pun untuk melihat air laut dan pemandangan indah ini," jawab Rania melihat sebentar Rendy.


" Apa itu karena kamu sibuk?" tanya Rendy. Rania mengangguk pelan.


" Aku tidak tau kalau mencintai pekerjaan itu bisa membuat kita tidak tau apa-apa. Sama dengan ini. Aku tidak pernah membayangkan. Jika aku bisa menikmati pemandangan ini bahkan sudah berjam-jam," sahut Rania.


" Itu berarti kamu harus mengurangi cinta kamu pada pekerjaan, supaya kamu bisa merasakan banyak kenikmatan yang ada di depan mata kamu," ucap Rendy. Rania mengangguk pelan.


Rendy mengambil kelapa yang tadi di pesannya dengan 2 sedotan yang tersedia. Rendy meneguk air kelapa itu. Lalu melihat ke arah Rania.


" Minumlah!" ucap Rendy. Rania menoleh dan meraih dari tangan Rendy. Tetapi pas mengambilnya Rania malah menjatuhkan sedotan miliknya.


" Astaga, ceroboh sekali," ucapnya menunduk ingin mengambil sedotan yang jatuh kepasir itu.


" Jangan diambil itu kotor," ucap Rendy mencegah.


" Masih ada satu lagi bukan?" sahut Rendy. Rania mengangguk pelan. Dan dengan gugup Rania pun menyeruput air kelapa itu dengan sedotan bekas Rendy.


Rania terlihat melihat Rendy dengan senyum malu-malu. Dan Rendy juga tersenyum. Lalu keduanya kembali fokus memandang kedepan dengan Rania masih tersenyum malu-malu.


Mereka ber-2 memang aneh, mungkin sudah mulai tumbuh benih-benih cinta di dalam sana yang tumbuh dengan sendirinya. Jantung Rania juga tidak hentinya berdetak tidak menentu.


Rania dan Rendy benar-benar menikmati hari mereka dan sekarang mereka sedang makan malam yang masih berada di sekitar pantai.


Pasangan itu duduk berhadapan yang masih menunggu pesanan mereka. Tidak lama akhirnya pesanan itu datang di mana Rania memesan gado-gado yang sama dengan Rendy dengan minuman yang juga sama.

__ADS_1


" Silahkan di nikmati!" ucap pelan dengan ramah


" Makasih mbak," sahut Rania.


" Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya pelayan.


" Sudah cukup mbak," sahut Rania.


" Kalau begitu saya permisi dulu. Rania dan Rendy sama-sama mengangguk.


Mereka pun sama-sama menyinggirkan emping yang di piring mereka. Dan seketika saling melihat lalu saling tersenyum. Seakan lucu dengan tingkah mereka yang sama-sama tidak menyukai emping.


" Makanlah!" ucap Rendy mempersilahkan Rania terlebih dahulu.


" Iya, kamu juga," sahut Rania. Rendy mengangguk.


" Hmmm, lumayan pedas," sahut Rania tampaknya kepedasan dengan makanannya.


" Kamu pesan pedas memangnya?" tanya Rendy.


" Tidak, apa mereka salah membuat ya?" tanya Rania. Rendy terlihat mencicip makanannya.


" Punya ku tidak pedas. Kalau kamu mau, ini saja kamu makan," ucap Rendy.


" Memang boleh?" tanya Rania. Rendy mengangguk.


" Ya sudah," sahut Rania yang akhirnya bertukaran piring dengan Rendy.


" Dari pada aku makan tidak nyaman," sahut Rania.


" Iya maka nikmatilah," sahut Rendy.


" Makasih ya," ucap Rania.


" Santai aja," sahut Rendy yang mulai memakan makanan milik Rania. Rania mengangguk tersenyum dan mereka pun memakan makanan mereka.


" Kamu tidak suka pedas memangnya?" tanya Rendy.


" Kurang terlalu suka soalnya aku ada masalah dengan lambung," jawab Rania.


" Apa karena kamu tipe orang yang makan tidak teratur?" tebak Rendy.


" Ya begitulah, kebanyakan nunggu nanti-nanti dan akhirnya jadi suka telat makan," jawab Rania.


" Perhatikan kondisi makan mu. Masalah lambung bukan hal yang harus di anggap spele. Jadi harus perhatikan makan dengan benar," ucap Rendy memberi saran.


" iya, terima kasih sudah memberiku saran," sahut Rania. Rendy mengangguk dan kembali makan.


" Lalu bagaimana dengan kamu. Kamu tidak suka pedas?" tanya Rania.


" Kalau yang berlebihan tidak. Bukan karena suatu hal. Hanya saja memakan suatu makanan dengan pedas yang memaksa membuat kita enak makan. Jadi buat apa makan. Kalau tidak enak sama sekali," jelas Rendy.


" Iya kamu benar, memang berlebihan dalam makanan itu tidak enak," sahut Rania.


" Hmmm, lalu bagaimana dengan emping, kamu tidak menyukai emping?" tanya Rania.


" Iya, aku tidak tau kenapa aku tidak menyukai makanan itu. Tetapi aku merasa jika memakannya selera makan akan hilang," jawab Rendy.


" Lalu kamu bagaimana?" tanya Rendy.


" Aku tidak tau kenapa tidak menyukainya mungkin karena bentuknya yang tidak enak untuk di pandang," ucap Rania.


" Memang aneh-aneh terkadang dengan selera orang. Ya memang begitu manusiawi memiliki perbedaan yang lain-lain," sahut Rendy.


" Kalau sampai semuanya sama, bisa sangat aneh," ucap Rania. Rendy mengangguk-angguk kan kepalanya dan mereka tertawa kecil dengan menikmati makanan mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2