Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 96 Rendy.


__ADS_3

Rania selesai mandi dan sekarang Rania berdiri di depan cermin yang ada di kamar mandi. Di mana Rania malam ini menggunakan piyama merah maron berbahan satin. Yang panjangnya hanya sepahanya dengan lengan pendek bahkan bagian dada Rania terbuka sedikit.


Ya selama menikah dengan Rendy baru kali ini dia berani memakai pakaian minim seperti itu. Walau dia mempunyai banyak pakaian seperti itu. Tetapi dia sangat menjaga kesopanannya di depan Rendy.


Dan tidak tau kenapa Rania malam ini memakai pakaian seperti itu. Entah setan apa yang merasukinya sampai dia nekat seperti itu.


" Lagian ini sudah waktunya. Mungkin Rendy tidak melakukannya padaku. Karena dia sangat menghormati ku dan menghargaiku. Lagian aku adalah istrinya dan sudah sewajarnya aku melakukan itu kepadanya?" ucap Rania.


" Tapi apa yang harus aku lakukan. Masa iya aku menyuruhnya melakukan itu. Atau aku harus menggodanya supaya dia tertarik padaku,"


" Ahhhh, bukannya itu hanya akan menurunkan harga diri ku saja. Mana mungkin aku harus menggodanya," Rania terus mengoceh di depan cermin. Dia berbicara sendiri dan menjawab sendiri.


Rania malah hanya terlihat frustasi karena kebingungan harus melakukan apa. Di sisi lain dia ingin melaksanakan tugasnya wajibnya pada suaminya. Tetapi di sisi lain dia juga gengsi. Kalau harus melakukan itu terlebih dahulu. Harga dirinya seolah akan hilang. Jika dia harus memulai semuanya.


Pranggg.


Rania tersentak kaget saat suara barang yang jatuh dan sepertinya berbahan kaca.


" Apa itu," lirih panik memegang dadanya yang jantungnya berdetak kencang karena masih kaget. Rania yang penasaran pun akhirnya memilih keluar dari kamar mandi untuk melihat apa yang tuh itu.


" Rendy!" pekik Rania kaget saat melihat gelas jatuh di pinggir ranjang dan Rendy terduduk di lantai dengan bersandar pada pinggiran ranjang.


" Ya ampun kamu kenapa?" tanya Rania panik dan langsung menghampiri Rendy jongkok di samping Rendy dan Rendy terlihat begitu lemas.


" Kamu kenapa Rendy?" tanya Rania yang semakin cemas.


" Kamu sakit!" ucapnya yang memegang tangan suaminya panas dan Rania memegang kening Rendy dengan punggung tangannya. Rania begitu terkejut saat mendapati tubuh itu begitu panas.


" Astaga Rendy kamu sakit, panas kamu tinggi sekali," ucap Rania yang begitu kepanikan.


" Aku tidak apa-apa," sahut Rendy dengan suara rendah terlihat Rendy memang tidak enak badan.


" Apa yang harus aku lakukan, kamu jelas demam tinggi," ucap Rania yang menjadi gelisah dan panik.


" Ma, mama, Nia!" teriak Rania yang saking paniknya memanggil seisi rumahnya dan tidak lama orang-orang di rumah itu berdatangan termasuk, Ratih, Nia, Oma wati.Anisa, Sarah dan Zahra.

__ADS_1


" Astagfirullah Al Azdim, ada apa ini Rania?" tanya Ratih kaget melihat kondisi Rendy dan Ratih langsung menghampiri Rendy.


" Ya ampun kak Rendy kenapa?" tanya Nia yang juga ikutan panik. Sementara Anisa juga kaget yang masih berdiri tidak jauh dari Rendy dan yang lainnya.


" Rendy, kenapa. Dan Rania apa dia seperti ini kalau di kamar. Apa pakaiannya selalu terbuka seperti ini," batin Anisa yang malahan kesal melihat pakaian Rania. Ya pakaian yang menggoda imam.


" Kenapa Rendy bisa seperti ini?" tanya Oma Wati.


" Rendy sakit, tiba-tiba jatuh seperti ini," jawab Rania panik.


" Ya sudah kita telpon Dokter saja," sahut Zahra yang ikut panik.


" Tidak usah aku tidak apa-apa, aku hanya perlu istirahat," sahut Rendy.


Sarah melihat hal itu menyenggol Anisa.


" Sana kamu ambil kompres, kamu gunakan kesempatan ini untuk cari perhatian orang-orang," ucap Sarah pelan.


" Iya ma," sahut Anisa yang langsung bergerak cepat menggunakan kesempatan dengan baik.


" Panasnya sangat tinggi," ucap Oma Wati.


" Biar, di kompres sebentar untuk menurunkan panasnya," sahut Anisa yang sudah datang membawa handuk kecil dan Baskom yang menghampiri Rendy bahkan sampai melewati Rania seolah menggeser posisi Rania di samping suaminya dan dengan lantang Anisa duduk di samping Rendy memeras kain putih tersebut.


" Untung ada Anisa yang langsung gercep. Masa iya harus teriak-teriak memanggil orang hanya masalah seperti ini," sahut Sarah yang membuat suasana keruh.


Anisa menyunggingkan senyumnya. Lalu kain yang sudah di remasnya ingin di tempelkan di dahi Rendy. Namun Rania langsung menyetopnya dengan memegang tangan Anisa sampai Anisa tidak jadi melakukannya dan mereka saling melihat.


" Jangan di kompres. Air nya seharusnya tidak sepanas ini. kulitnya bisa melepuh," tegur Raina membuat Anisa menatapnya tajam.


" Nia, tolong ambilkan air yang tidak terlalu panas!" titah Rania pada adik iparnya.


" Iya baik kak," sahut Nia yang langsung pergi dengan cepat.


" Kurang ajar Rania, beraninya dia mengkomplen ku," batin Anisa dengan kesal.

__ADS_1


" Minggirlah Anisa, itu bukan tempatmu," ucap Rania to the point. Anisa mendengarnya geram dengan napasnya yang sesak dan mau tidak mau Anisa pun minggir dan harus menahan kekesalan.


Rania duduk di samping bagian kepala Rendy dan mengusap dahi Rendy yang berkeringat dengan tangannya. Mata Rendy masih terpejam. Suhu tubuhnya memang sangat panas. Merasakan ada tangan di dahinya Rendy meraih tangan itu memegangnya dan meletakkan di dadanya. Menanganinya sangat erat. Seakan tidak ingin melepasnya.


Hal spontanitas yang di lakukan Rendy membuat Anisa semakin panas. Sementara Ratih yang melihat anaknya seperti itu tersenyum tipis. Ada hikmah di balik sakitnya Rendy.


" Ini kak," sahut Nia yang sudah datang membawa air di dalam baskom dengan handuk putih kecil, sesuai permintaan Rania.


" Makasih ya," ucap Rania dan langsung meremas handuk itu dan langsung meletakkan di dahi Rendy.


" Semoga panasnya segera turun," ucap Ratih.


" Iya mah," sahut Rania yang juga berharap yang sama.


" Ya sudah, sebaiknya kita keluar saja. Rendy juga sudah tidak apa-apa. Lagian ada Rania," sahut Zahra.


" Tapi Rania belum tentu bisa menjaganya," sahut Sarah.


" Tante jangan khawatir. Aku istrinya aku lebih tau apa yang harus aku lakukan pada suamiku," jawab Rania ketus. Membuat Sarah mendengarnya kesal.


" Maaf sudah membuat kalian cemas. Tapi kalian istirahatlah. Aku yang akan menjaga Rendy," lanjut Rania melihat satu-persatu orang yang di dalam kamarnya itu.


" Ya sudah sebaiknya kita istirahat saja," sahut Oma Wati.


" Ya sudah Rania kamu jaga Rendy ya. Ada apa-apa. Kamu panggil mama," ucap Ratih.


" Iya mah," jawab Rania, akhirnya merekapun keluar dari kamar itu. Anisa harus keluar dengan wajah kesalnya.


" Anisa tunggu!" panggil Rania tiba-tiba membuat langkah Anisa berhenti.


" Ada apa?" tanya Anisa yang sudah membalikkan tubuhnya.


" Bawa ini, itu punya kamu," ucap Rania menoleh ke arah Baskom yang di bawa Anisa tadi. Anisa semakin kesal pun melangkah untuk mengambil apa yang tadi di bawanya. Namun Rania tampaknya tidak peduli dengan Anisa. Walau dia tau Anisa sedang menatapnya tajam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2