
Rendy pulang kerumahnya agak sore-an. Karena sang mama menelponnya yang mengatakan harus pulang cepat. Dan Rendy kebetulan yang tidak banyak pekerjaan di rumah sakit jadi bisa pulang. Langkahnya memang sangat baik, mungkin karena permintaan seorang ibu.
Di pekarangan rumah mewah Rendy sudah terparkir banyak mobil. Rumahnya sepertinya kedatangan tamu yang mungkin alasan sang mama yang menyuruhnya pulang lebih awal adalah karena tamu yang berkunjung yang dia tidak ketahui siapa.
Rendy pun memarkirkan mobilnya di jajaran mobil itu dan Rendy langsung keluar dari mobil setelah mematikan mesin mobilnya.
Rendy melihat sebentar jajaran mobil itu dan langsung memasuki rumahnya. Saat Rendy memasuki rumahnya. Di ruang tamu itu sudah di penuhi para tamu-tamu. Yang pasti di kenalnya.
" Rendy kamu sudah pulang?" tanya sang mama yang melihatnya.
Rendy mengangguk tersenyum dan menghampiri ruang tamu yang berbagai macam usia dan jenis kelamin itu. Dari yang tua yang muda juga ada di sana.
Dan ternyata ada juga Gilang di sana, ada, adiknya Tania dan ada sepupunya Zahra dan ada Anisa yang sepertinya tidak akan absen ada di rumah itu.
Rendy dengan sopan menyalami orang-orang tua di sana yang tak lain orang tua Gilang, neneknya juga hadir di sana dan di sana juga ada orang tua Anisa.
Selesai bersalaman dengan mencium tangan para orang yang lebih tua darinya. Rendy pun mendekati Gilang dan juga memeluk Gilang.
" Apa kabar?" tanya Rendy.
" Baik," jawab Gilang. Rendy tersenyum melepas pelukan itu dan duduk di samping mamanya yang berhadapan dengan keluarga Gilang.
Keluarga Gilang yang tak lain adalah sepupunya dari almarhum ayahnya. Di mana mama Gilang adalah kakak dari ayahnya.
" Ada apa ini, sampai-sampai Tante iren om Jaya sampa dan yang lainnya datang kemari?" tanya Rendy benar-benar kebingungan dengan tamu yang tiba-tiba datang. Karena Setaunya tidak ada acara di rumahnya.
Bahkan sang Oma yaitu ibu dari almarhum papanya juga ada di sana dan jelas dia sangat penasaran ada apa.
" Apa kami tidak boleh bertamu di rumah ini? tanya Gilang.
" Bukan begitu, aku hanya heran saja," jawab Rendy.
" Begini Rendy, Mereka datang kemari. Karena ingin membawa Gilang untuk melamar calon istrinya," sahut Mamanya yang mengambil alih untuk menjelaskan. Rendy kaget mendengarnya dan langsung melihat ke arah Gilang.
" Kamu akan menikah?" tanya Rendy memastikan.
__ADS_1
" Hmmm, iya aku akan menikah secepatnya malam ini ada kunjungan Kerumah calon istriku," jawab Gilang dengan sedikit penjelasan.
" Begitu rupanya. Aku tidak percaya jika kamu akan menikah," sahut Rendy.
" Iya dong Rendy. Gilang akan menikah. Ini juga jelas tidak tiba-tiba. Lalu kamu kapan akan menyusul Rendy," sahut Iren yang menggoda Rendy yang mengundang tawa orang-orang yang ada di ruang tamu itu.
" Tau nih, kasian lo anak Tante menunggu terus," sahut Maya ibu dari Anisa.
" Mama apaan sih," ucap Anisa malu-malu dengan mamanya yang menggodanya.
" Aduh Tante. Kak Rendy itu nikahnya nanti saja. Dia cari yang tepat dulu. Dia tidak akan menikah kalau bukan menemukan wanita yang tepat," sahut Tania.
" Bukannya wanita yang tepat itu sudah ada di depan mata," sahut Iren yang melihat ke arah Anisa dan Anisa menunduk malu-malu. Tetapi dia jelas senang karena sepertinya semua orang merestui hubungannya.
" Pokoknya kak Rendy harus benar-benar mencari yang paling tepat," sahut Tania menegaskan.
Mendengar Tania yang berkali-kali mengatakan hal itu, membuat wajah Anisa langsung berubah seakan ucapannya menyinggung dirinya yang mungkin tidak tepat untuk Rendy.
" Iya kan kak Rendy, yang harus satu frekuensi denganku," ucap Tania melempar pada Rendy dengan mengedipkan sebelah matanya.
" Sudah-sudah. Jangan membahasa masalah siapa yang tepat dan tidak tepat. Jodoh sudah ada yang mengatur. Jadi tidak ada yang harus di cemaskan," sahut Rendy dengan bijak.
" Walau seperti itu Rendy, kamu harus secepatnya memberikan menantu untuk ibu kamu," sahut jaya papanya Gilang.
" Aku tidak terlalu mendesak, jadi tidak akan masalah," sahut Farida yang memang tidak pernah menyuruh sang anak harus menikah.
" Walaupun mbak," sahut Iren.
" Sudahlah, sebaikknya nikmati dulu makananya. Rendy kamu naik keatas, lalu bersih-bersih. Bukannya kita akan secepatnya pergi ketempat calon istri Gilang," ucap sang mama yang tidak ingin membahas lebih banyak lagi.
" Iya ma," jawab Rendy. " Semuanya, saya ke atas dulu," ucap Rendy pamitan yang lainnya mengangguk.
" Ya semoga saja Rendy mendapatkan wanita yang terbaik," ucap Iren setelah kepergian Rendy.
" Dia Pria tampan dan baik dalam segala hal. Juga mapan. Jadi istrinya juga harus sesempurna mungkin," sahut Jaya.
__ADS_1
" Dan Anisa kamu masuk dalam kategori itu," sahut Lina mama Anisa.
" Mama apapan, sih," sahut Anisa malu-malu.
" Kiita doakan saja yang terbaik," sahut Ratih yang sebagai orang tua pasti mendoakan yang terbaik untuk putranya.
" Apa jangan-jangan Rendy belum menikah, karena Tante yang pilih-pilih menantu," sahut Gilang menebak-nebak.
" Jelas tidak Gilang, Tante tidak pernah memilih-milih menantu. Semuanya sama bagi Tante. Tante juga tidak pernah ikut campur urusan asmara Rendy. Karena semuanya Tante serahkan kepadanya. Selagi itu baik dan sopan tidak ada masalah. Lagian Rendy yang menjalaninya bukan siapa-siapa," ucap Ratih dengan lempang hati berbicara.
Dia memang bukan tipe ibu yang mencampuri urusan anaknya. Karena jela itu tidak penting baginya.
" Kita doakan saja, apa yang terbaik untuk anak-anak," sahut Oma Wati yang baru bicara setelah lama diam.
Sementara Anisa yang ada di sana tersenyum. Seakan ingin lebih dekat dengan Ratih agar mendekati sang mama baru mendapatkan perhatian dari Rendy.
Karena semua orang juga tau. Jika Anisa menyukai Rendy dan menginginkan Rendy melamarnya sebagai istrinya. Tetapi Anisa harus berusaha lagi agar mendapatkan hati Rendy.
*************
Keluarga besar Gilang akhirnya sampai di rumah Rania. Untung saja persiapan di rumah itu sudah selesai dan penyambutan tamu penting itu juga bisa di sambut.
Rania juga sudah bersiap-siap di dalam kamarnya dengan memakai dress bermodel kimono berwarna biru Navy denga polesan makeup di wajahnya dengan tipis. rambutnya yang di gerai dan di beri keriting di bagian bawahnya.
Mungkin cukup untuk penampilannya dalam menyambut keluarga calon suaminya yang akan membicarakan hubungan lebih serius dengan pertemuan awal 2 keluarga besar itu.
Tok-tok-tok-tok
" Masuk!" sahut Rania dari dalam kamarnya. Pintu kamar pun terbuka dan ternyata Della adikknya yang mengetuk pintu.
" Kak mereka sudah datang," ucap Della yang memberikan informasi.
" Oh iya," sahut Rania dengan menarik napasnya panjang dan membuang perlahan kedepan. Dia jelas dek-dekan dengan orang tua dari Gilang karena memang dia belum pernah bertemu sama sekali.
Bersambung....
__ADS_1