Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 144 Keputusan Zahra.


__ADS_3

Zahra mengepal tangannya kuat yang sorot matanya menatap tajam Elang. Zahrah mengendalikan dirinya dengan mengusap air matanya dan melangkah cepat menghampiri Rania dan Elang.


" Zahra," lirih Rania saat Zahra melewati Rania dan Zahra yang sudah berhadapan dengan Elang.


" Kita bicara baik-baik," ucap Elang.


Plakkk.


Zahra langsung melayangkan tangannya kepipi Elang sampai wajah Elang miring kesamping dengan tangannya yang memegang pipinya yang memerah begitu panas akibat tamparan Zahra.


" Bajingan," desis Zahra. Rania hanya bisa diam dengan apa yang di lakukan Zahra yang sebenarnya mewakili Rania yang seharunya juga sejak tadi menampar Elang. Namun untung sudah terwakilkan oleh Zahra.


Plakkkkkkk.


Bukan satu tamparan lagi. Tapi Zahra juga menampar di pipi yang satunya.


" Kamu brengsek Elang. Kamu seenaknya bicara seperti itu!" teriak Zahra yang tidak bisa mengendalikan dirinya.


" Kamu bilang apa barusan. Kamu tidak ingin menghiyanati kekasihmu. Heh brengsek. Aku tau aku dalam pengaruh obat malam itu. Makanya aku menghindarimu biadab. Tapi kamu yang mendekatiku dan sekarang kamu bilang itu kecelakaan. Kamu benar-benar bajingan," umpat Zahra yang dengan kemarahannya pada Elang yang menunjuk-nunjuk tepat di wajah Elang yang sama sekali tidak bisa berkata apa-apa.


" Apa yang kamu katakan barusan kepada Rania. Kamu akan menikahiku dan kamu akan berhubungan dengan pacarmu. Heh, kau pikir aku wanita apaan hah. Setelah aku mendengar kata-kata mu. Aku sungguh tidak sudi menikah denganmu. Aku tidak sudi menjadikan mu ayah dari bayi ini. Aku tidak sudi!" teriak Zahra yang begitu marah.


" Seharusnya aku tau dari awal. Jika Pria sepertimu. Tidak mungkin bisa bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan. Kau benar-benar sungguh biadap," ucap Zahra..


" Aku minta maaf Zahra. Tetapi aku juga harus mempertahankan hubungan ku dengan kekasihku," ucap Elang yang dengan entengnya membuat Zahra mendengus kasar mendengarnya. Namun dia tersenyum dengan kata-kata Elang.

__ADS_1


" Ya, pertahankanlah hubungan kalian dan aku juga ingin tau apakah wanita itu juga mau bersamamu ketika dia tau bahwa kekasihnya sedang menanam benih di janin wanita lain," sahut Zahra. Apa yang di katakan Zahra membuat Elang kaget.


" Apa yang kamu katakan Zahra. Kamu tidak mungkin melakukan itu?" tanya Elang dengan wajahnya yang penuh ketakutan.


" Elang, kau menghancurkan hidupku dan tidak mungkin kau juga hidup dengan tenang-tenang saja," sahut Zahra menegaskan pada Elang.


" Zahra ini masalah kita. Jangan pernah libatkan Cindy, orang tua ku sudah tau hubungan kami dan tidak lucu. Kamu memberitahu semua ini," ucap Elang panik.


" Aku tidak akan hanya memberitahu kekasihmu apa yang kamu lakukan. Tapi semua orang di rumah ini termasuk orang tuamu," tegas Zahra dengan keputusannya yang membuat Elang sampai melotot mendengarnya.


" Dasar laki-laki bajingan, datang kerumah ini hanya sebagai perusak," umpat Zahra yang menatap penuh kebencian pada Elang dan langsung pergi.


" Ayo Rania!" ajak Zahra..


" Zahra tunggu!" panggil Elang yang menahan tangan Zahra. Namun Rania langsung menepis kasar tangan Elang.


" Zahra kamu tidak bisa melakukan ini!" teriak Elang yang frustasi sendiri dengan mengusap wajahnya kasar dan mengacak-acak rambutnya. Maslah yang ditimbulkan semakin merembet kemana-mana.


Walau Zahra sudah hancur. Tetapi dia masih mempunyai harga diri yang tidak bisa di permainkan begitu saja. Untuk orang seperti Elang memang harus tegas-tegas.


***********


Meski Zahra begitu terlihat kuat saat bicara dengan Elang tadi. Namun dia tetap rapuh yang menangis di kamarnya yang mana Rania memeluknya dengan erat.


" Aku tau perasaan kamu Zahra," ucap Rania yang hanya bisa mengusap-usap bahu Zahra untuk memberikan Zahra kekuatan.

__ADS_1


" Dia benar-benar brengsek Rania, aku tidak tau apa lagi yang harus aku lakukan. Bayi ini akan lahir tanpa seorang ayah, aku tidak tau Rania harus berbuat apa," ucap Zahra yang terlihat putus asa.


" Kamu jangan takut, masih ada Allah, dia tidak pernah tidur dia akan membukakan jalan untuk kamu. Yang terpenting kamu ikhlas mengahadapi semua ujian ini dan past ada hikmah dari setiap kejadian," ucap Rania yang berbicara lembut pada Zahra. Agar Zahra bisa tenang.


" Zahra kamu tidak sendirian. Selain ada aku orang-orang juga banyak yang sayang pada kamu. Kita juga tidak bisa menyembunyikan semua ini lagi. Kita harus memberitahu semua orang. Agar ada solusi untuk masalah ini dan jelas solusi satu-satunya bukan menikah dengan Elang yang tidak bertanggung jawab kepadamu. Apa yang terjadi tadi Allah sudah menunjukkan jika Elang bukan pria yang tepat. Bersyukurlah Allah masih memberikan petunjuk sebelum kamu mengambil keputusan yang salah," lanjut Rania dengan kata-kata yang begitu bijak.


Zahra melepas pelukannya dari Rania dan Rania mengusap air mata Zahra.


" Apa kita harus memberitahu semua orang?" tanya Zahra yang ingin meminta pendapat.


" Bukan semua orang. Tapi pada keluargamu yang mana keluargamu adalah mama Ratih yang kamu anggap ibu dan juga mama Ratih punya wewenang dengan keputusan untuk masa depan kamu. Dan Rendy sebagai kepala keluarga di rumah ini juga harus tau," ucap Rania.


" Kamu benar, aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Aku butuh Tante Ratih," sahut Zahra yang masih menangis dengan terisak. Rania tersenyum mendengarnya dan kembali mengusap air mata Zahra.


" Rania biarkan aku yang akan bicara pada Tante Ratih dan juga Rendy. Aku tidak mau nanti Rendy akan salah paham dengan kamu yang sudah menutupi semua ini," ucap Zahra.


" Iya Zahra, kamu jangan khawatir. Itu hal kamu. Yang penting masalah ini cepat selesai," ucap Rania. Zahra yang masih menangis senggugukan mengangguk-angguk saja dan Rania kembali memeluknya.


" Terimakasih Rania. Terima kasih untuk kamu yang sudah membantuku banyak. Aku sungguh tidak bisa berbuat apa-apa lagi," ucap Zahra.


" Aku tidak melakukan apa-apa. Percayalah semuanya akan kembali baik-baik saja. Kamu jangan takut. Karena kamu tidak sendirian ada aku yang akan selalu bersama kamu," ucap Rania yang terus mendukung sahabatnya. Zahrah memang jauh lebih merasa lega.


" Ya Allah akhirnya aku tidak akan menyembunyikan apa-apa lagi dari Rendy, terima kasih untuk pelajaran yang kau berikan kepada kami," batin Rania yang juga merasa begitu laga.


Rania juga memang akan tenang dan tidak merasa bersalah lagi pada suaminya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2