
Rendy keluar dari kamar mandi yang sudah selesai mandi dan sekarang sudah memakai pakaian santai yang ingin langsung beristirahat mungkin. Namun dia tidak melihat Rania sama sekali ada di kamar itu. Tadi juga saat pulang dia juga tidak melihat istrinya.
Rendy mendekati ranjang dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Rendy melihat keluar yang mana sedang hujan rintik-rintik. Rendy pun mengambil handphonenya dan melihat pesan dari Rania yang ternyata belum sempat di bacanya tadi.
Rendy berniat untuk membalasnya. Namu belum sempat membalasnya pintu kamarnya sudah terbuka dan ternyata Rania sudah pulang.
" Assalamualaikum," sapa Rania mengucap salam dengan lembut.
" Walaikum salam," sahut Rendy dengan datar. Rania menutup pintu dengan perlahan dan menghampiri Rendy lalu duduk di atas ranjang.
Rania mengambil tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya dan juga menyodorkan keningnya pada Rendy untuk di cium. Rendy pun menciumnya dengan lembut. Jika seperti ini mana bisa Rendy marah lama-lama pada Rania.
" Aku tadi pulang di antar papa," ucap Rania tanpa di tanyakan Rendy.
" Kamu sudah lama pulang?" tanya Rania.
" Mandilah, kamu habis kenak hujan nanti kamu masuk angin," ucap Rendy yang tidak menjawab pertanyaan Rania dan menyuruh istrinya mandi.
" Baiklah. Habis aku mandi kita mengobrol ya," ucap Rania meminta kepastian dari Rendy.
" Aku mau istirahat besok pagi ada operasi pagi," jawab Rendy. Dari jawaban itu jelas Rendy menunjukkan jika dia masih marah.
" Sebentar saja Rendy, aku mandi cepat-cepat," ucap Rania yang tidak akan menyerah.
" Sana mandi!" titah Rendy dengan dinginnya.
" Ya sudah," sahut Rania dengan lesuh. Rania pun beranjak dari ranjang dan melihat Rendy benar-benar langsung membaringkan diri dan menarik selimut.
" Aku tau kamu marah, aku tidak akan menyerah Rendy," batin Rania yang menatap nanar suaminya itu.
Rania pun langsung menuju kamar mandi untuk bersih-bersih, dia sebenarnya sangat kedinginan karena tadi sempat terkena hujan. Namun Rendy mengatakan dia harus mandi agar tidak masuk angin. Jadi Rania pun akan tetap mandi.
__ADS_1
Tidak lama Rania sudah selesai mandi. Rania keluar dari kamar mandi menggunakan piyama dress yang panjangnya sepahanya dan berlengan 1 yang berwarna merah mencolok. Rania menghampiri meja riasnya, mengambil hair dryer mengeringkan rambutnya ala sebentar agar tidak terlalu lepek.
Rania melihat ke arah Rendy yang benar-benar sudah tidur. Namun Rania tetap santai di depan cermin yang sekarang sudah menyisir rambutnya, memberi polesan makeup pada wajahnya, memakai lipstik dan juga menyemprotkan parfum dari ciri-cirinya
Rania ingin memberi jatah pada suaminya. Mungkin Willo sudah mengajarinya yang tidak-tidak sampai Rania melakukan hal yang tidak pernah di lakukannya.
Setelah selesai dengan riasannya, Rania menarik napas panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu Rania menghampiri Rendy di atas ranjang duduk di samping Rendy yang masih tertidur lelap.
Tapi sebenarnya wangi tubuh Rania pasti sudah tercium yang mungkin membuat Rendy sudah mabuk.
" Rendy!' lirih Rania mendekatkan wajahnya pada Rendy dengan mengusap-usap pipi Rendy.
" Rendy bangunlah!" ucap Rania lagi dengan serak membangunkan Rendy mencium pipi Rendy dengan lembut yang membuat Rendy akhirnya membuka matanya dan sudah melihat wajah Rania berada di hadapannya dan jangan tanya penampilan Rania jelas sangat istimewa untuknya.
" Ada apa Rania?" tanya Rendy.
" Aku ini sudah melakukan banyak dosa yang membohongimu dan aku ingin mendapatkan pahala malam ini. Aku ingin bersamamu malam ini," ucap Rania dengan lembut sambil mengusap pipi Rendy dengan lembut.
" Kamu istirahat lah Rania ini sudah malam," ucap Rendy yang mengerti maksud Rania.
" Aku bertanya kembali kepadamu. Apa aku tidak bisa marah kepadamu. Apa aku harus tetap diam dengan kesalahan yang terus itu yang kamu lakukan. Bagaimana Rania jika aku menutupi sesuatu darimu dan aku membohongi mu berkali-kali. Apa kamu tidak akan kecewa apa kamu tidak akan marah?" ucap Rendy yang membalikkan posisi yang di rasakannya pada Rania.
" Maaf," lirih Rania yang memang tidak bisa berkata apa-apa hanya selain maaf.
" Rania ini bukan masalah yang spele," sahut Rendy. Walau marah. Tetapi tetap bicaranya lembut pada Rania yang mana wajah Rania masih berada di depannya.
" Rendy, bukannya apa yang terjadi pada Zahra adalah sebuah aib. Bukanya kamu pernah mengatakan. Jika kita menutupi aib orang lain. Maka Allah akan menutup aib kita. Jika Zahra sudah mengatakan akan menceritakan padamu. Lalu kenapa aku harus sok tau menceritakan kepadamu. Aku hanya menghargai Zahra dan bukan berarti aku tidak menghargaimu. Aku juga tau dalam masalah ini banyak membuat kebohongan dan kamu sangat membenci itu. Tapi aku bisa apa, aku juga sudah menceritakannya padamu. Sungguh aku tidak tenang saat menyimpan rahasia itu," sahut Rania bicara dengan matanya berkaca-kaca yang memang penuh penyesalan.
Rendy akan luluh jika melihat mata istrinya yang bergenang itu dan wajah Rania memang penuh penyesalan.
" Aku minta maaf, Rendy aku janji tidak akan menutupi apapun lagi dari mu. Aku sungguh menyesal Redny, aku mohon maafkan aku. aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji," ucap Rania mengangkat 2 jarinya yang benar-benar berjanji pada suaminya.
__ADS_1
" Kamu janji?" tanya Rendy dengan lembut. Rania menganggukan kepalanya dengan cepat.
" Ya sudah masalah ini sudah selesai. Aku berharap kamu mempercayaiku sebagai suamimu dan tidak menutupi apapun lagi, karena dalam pernikahan yang membuat kuat itu adalah kepercayaan dan yang melemahkan adalah kebohongan yang awalnya kecil akan menjadi besar," ucap Rendy menjelaskan sedikit pada istrinya..
" Iya aku janji tidak akan melakukannya lagi," sahut Rania.
" Ya sudah kalau begitu masalah ini selesai," sahut Rendy yang sudah memaafkan Rania.
" Apa itu artinya kamu sudah tidak marah lagi kepadaku?" tanya Rania memastikan. Rendy menganggukkan matanya. Rania tersenyum lega mendengarnya.
" Kamu istirahatlah, ini sudah malam," ucap Rendy. Rania langsung menggeleng.
" Kan aku bilang mau mendapat pahala. Kenapa menyuruhku istirahat. Bukannya kamu bilang kalau istri yang meminta duluan pahalanya akan semakin banyak, jadi malam ini aku ingin mendapatkan pahalah," ucap Rania dengan mengusap-usap dada Rendy mainkan kancing baju Rendy.
" Kapan aku mengatakan itu?" tanya Rendy menatap dalam istrinya itu.
" Kamu tidak mengatakannya tapi aku membacanya di buku," sahut Rania.
" Buku apa lagi yang kamu baca?" tanya Rendy menaikkan 1 alisnya.
" Ada deh," sahut Rania tersenyum manja.
Rendy juga tersenyum dengan membelai rambut Rania, membuat anak rambut itu kebelakang telinga Rania.
" Kamu berdandan seperti ini apa hanya ingin merayuku, supaya dapat maaf atau sungguh-sungguh ingin mendapatkan pahala?" tanya Rendy.
" Dua-duanya nya aku ingin mendapatkan maaf, karena dengan hati kita yang sama-sama tenang maka apa yang kita lakukan berkesan," ucap Rania tersenyum dan mencium lembut pipi Rendy.
" Aku mencintaimu," ucap Rania.
" Aku juga mencintaimu," sahut Rendy. Rania pun perlahan mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Rendy. Rendy pun membalas ciuman itu. Mereka sama-sama hanyut dalam ciuman yang akhirnya membuat Rendy dengan perlahan membalikkan posisi mereka yang mana tadi Rania berada di atasnya dan sekarang Rendy yang menindih tubuhnya tanpa melepas ciuman itu.
__ADS_1
Akhirnya pertengkaran mereka berakhir di atas ranjang. Tidak sia-sia usaha Rania. Mereka memadu kasih dengan penuh cinta di bawah rintikan hujan.
Bersambung