
Acara 7 bulanan itu berjalan dengan lancar. Semua ada di lakukan dengan baik tanpa ada yang kurang.
" Kamu mau makan?" tanya Rania pada suaminya.
" Iya," jawab Rendy.
" Ya sudah. Kalau begitu aku ambil dulu makanannya," ucap Rania.
" Iya sayang," sahut Rendy. Rania pun langsung menuju meja hidangan untuk mengambil makanan untuk suaminya. Di mana Rania mengambil untuk suaminya yang pasti mereka sepiring ber-2.
Tiba-tiba Monika berdiri di samping Rania yang juga mengambil makanan.
" Kok bisa Zahra sudah 7 bulanan dan kamu perutnya masih ramping-ramping aja," ucap Monika dengan sinis yang tampaknya menyindir Rania. Namun Rania tidak mempedulikannya dan tetap melanjutkan mengambil beberapa lauk yang ingin di ambilnya.
" Atau jangan-jangan kamu mandul lagi," ucap Monika membuat Rania diam dengan berhenti mengambil lauk ke piringnya. Rania pun tersenyum dan melihat ke arah Monika.
" Kamu mending suruh deh pacar kamu menikahi kamu. Biar kamu juga sama kayak Zahra. Kenapa tidak bisa menyuruh pacar kamu untuk menikahi kamu. Karena tidak mendapat restu dari mamanya. Aku sih mendengar-dengar kalau keluarga Gilang itu sangat sensitif dengan wanita yang suka jajan dan jika mereka tidak menemukan fakta itu aja. Mereka tidak akan menerima wanita itu. Apa lagi menemukan faktanya. Jadi ya aku yakin sih mana mungkin mereka mau menerimanya. Harga diri keluarga mereka jauh lebih penting dari pada kehadiran wanita yang tidak berguna," ucap Rania dengan sinis yang berbicara pada Monika yang membuat Monika memegang piring itu dengan kuat dan tangannya sampai bergetar.
" Jadi kamu menikah aja dulu dengan Gilang. Baru bicara kepadaku," ucap Rania menekankan.
" Kurang ajar sekali kau Rania bicara seperti itu kepadaku. Kau pikir siapa dirimu," sahut Monika.
" Biar aku ingatkan kepadamu siapa diriku di rumah ini aku menantu dan ini rumah mertuaku dan kau hanya tamu. Jadi sudah jelas siapa diriku," sahut Rania dengan santai.
" Kau!" geram Monika ingin menampar Rania. Namun tiba-tiba tangannya di tahan dan tidak menyangka itu adalah Anisa yang membuat Monika kaget dan juga Rania yang kaget.
" Lepaskan!" ucap Monika yang melepaskan tangannya dari Anisa.
" Jangan membuat kegaduhan di sini. Sebelum kau hanya mempermalukan dirimu sendiri di depan semua orang dan termasuk di depan calon mertuamu," ucap Anisa dengan terang-terangan.
" Awas kalian ber-2. Kalian pikir kalian siapa yang berani-beraninya melakukan itu kepadaku hah! Rania urusan kita belum selesai," ucap Monika yang panas dan langsung pergi dari hadapan Rania dan juga Anisa.
__ADS_1
" Kamu tidak apa-apa Rania!" ucap Anisa.
" Tidak apa-apa Anisa. Makasih ya kamu sudah membantuku," ucap Rania tersenyum.
" Sama-sama," sahut Anisa.
" Hmmm, gimana kandungan kamu apa baik-baik aja?" tanya Rania.
" Alhamdulillah baik-baik aja," sahut Anisa.
" Syukurlah kalau begitu. Ya sudah aku mau kasih makanan dulu sama Rendy," ucap Rania. Anisa mengangguk dan Rania langsung pergi menuju suaminya untuk memberikan suaminya makanan.
" Ini sayang!" ucap Rania. Rendy mengangguk dan mengambilnya. Merekapun makan berduaan dengan satu piring yang bergantian saling menyuapi.
Dan jauh di sana Monika melihat kebersamaan yang begitu romantis itu membuatnya marah. Apalagi tadi Rania sudah mengatainya yang tidak-tidak.
" Kenapa sih hidup Rania itu dari dulu enak banget, semua orang menyukainya, semua orang mencintainya dan memperlakukannya seperti tuan putri. Lihat ini suaminya begitu mencintainya," batin Monika yang iri dan dengki pada Rania.
" Nggak ada," sahut Monica ketus.
" Oh, begitu," sahut Gilang.
" Gilang, kamu desak keluarga kamu untuk menikahiku," ucap Monica.
" Jangan membahas masalah itu Monica di sini. Ini bukan tempat yang cocok untuk membahasnya," ucap Gilang.
" Ya lalu kapan lagi," sahut Monica yang terlihat kesal.
" Aku bilang jangan membahas masalah itu. Jadi sudahlah," sahut Gilang.
" Kamu itu benar-benar sama aja dengan ke-2 tua mu. Dasar menyebalkan," batin Monica yang bertambah kesal.
__ADS_1
Pandangan mata Rania kembali melihat ke bahagian Zahra dan juga Elang yang sama-sama begitu bahagia. Genggaman tangan suaminya yang selalu menguatkannya yang memberikannya kebahagian dan tidak berpikir apa-apa.
Meski ada beberapa orang yang menggunjingnya di sana. Yang menghina dirinya. Namun Rania tidak peduli selagi suaminya bersamanya itu tidak penting baginya. Karena memiliki keluarga, mertua, ipar yang baik sudah kelengkapan di dalam hidupnya.
**************
Anisa dan Agam pun pulang dari acara Zahra dan juga Elang. Mereka sampai rumah malam. Karena bicara lagi dengan Ratih dan juga yang lainnya. Karena memang tidak pernah bertemu.
Mereka berdua langsung memasuki kamar dan Anisa yang sudah berganti pakaian dengan pakaian ingin tidur duduk di pinggir ranjang dan Agam sendiri baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya.
" Aku dan Agam sudah baikan. Bahkan kami sering mengobrol dan juga sering jalan-jalan. Lalu kenapa Agam tidak pernah menyentuhku semenjak kejadian itu. Bukannya seharusnya dia melakukannya. Karena hubungan kami juga sudah baik-baik saja," batin Anisa yang terus melihat Agam yang tiba-tiba kepikiran dengan masalah itu.
" Ada apa Anisa?" tanya Agam yang melihat Anisa melihatnya terus. Anisa pun berdiri dan langsung mendekati Agam.
" Aku ingin tanya sesuatu sama kamu," ucap Anisa.
" Iya apa itu?" tanya Agam heran.
" Hmmm, begini Agam. Kita kan sudah menikah dan kita pernah bertengkar dan kita juga berbaikan. Namun aku merasa kamu masih belum sepenuhnya memaafkan aku," ucap Anisa dengan pelan yang ragu-ragu bicara dengan Agam.
" Maksud kamu apa. Memaafkan, bukanya masalah kita itu udah selesai," ucap Agam.
" Iya kamu benar, masalah itu memang sudah selesai saat itu, tetapi bukan itu yang aku maksud, jika memang masalah itu benar-benar selesai. Lalu kenapa kamu sama sekali tidak menyentuhku?" tanya Anisa dengan pelan yang ragu untuk bicara yang membuat Agam tersenyum tipis.
" Anisa aku sudah mengatakan kepadamu. Aku tidak akan menyentuhmu, jika kamu tidak menginginkannya. Aku sudah menyadari rumah tangga, pernikahan bukan hanya untuk kepentingan masalah di atas ranjang saja. Ya ternyata benar kata orang menikah itu sangat indah dan inilah keindahannya. Di mana aku bisa bersama dengan kamu tanpa harus hubungan seksual," ucap Agam dengan santai.
" Lalu kenapa tidak menyentuhku?" tanya Anisa. Agam tersenyum lagi dan langsung memeluk Anisa.
" Aku suamimu dan bukan penjahat. Aku tidak ingin memaksamu dan juga mencelakaimu. Jadi kamu juga jangan memaksakan diri kamu," ucap Agam dengan lembut bicara pada Anisa dan Anisa tetap diam di dalam pelukan itu. Giliran di minta jatah berkali-kali selalu menolah eh tidak tidak pernah di sentuh langsung ingin di sentuh.
Bersambung
__ADS_1