Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 278


__ADS_3

Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu


Suara sirene ambulan berhenti di rumah sakit. Dokter dan beberapa suster langsung berlari dengan membawa tempat tidur pasien menuju ambulan yang Rendy berada di dalam mobil itu dan langsung turun. Rania yang masih tidak sadarkan diri langsung di keluarkan dari ambulan dan di pindahkan ke atas kereta pasien.


" Air ketubannya pecah!" sahut Dokter Anita melihat air mengalir dari kaki Rania.


" Siapkan ruang persalinan!" perintah Rendy dengan panik yang hanya berusaha untuk tenang.


Mereka langsung mendorong tempat tidur itu memasuki rumah sakit dan mungkin langsung keruang persalinan, Rendy terus melihat istrinya itu. Rania yang berada di atas tempat tidur pasien yang didorong buru-buru membuka matanya dengan perlahan.


" Sayang!" lirih Rendy.


Hanya senyuman yang di keluarkan Rania. Ini adalah hari yang ditunggu-tunggunya di mana dia akan melahirkan dan pasti harus norma sesuai pesannya pada suaminya. Rendy sambil mendorong memegang tangan Rania dengan erat. Rania bisa merasakan tangan suaminya yang begitu dingin dan sangat bergetar.


********


Ratih, Oma Wati dan Nia pun tiba di rumah sakit. Mendengar berita mengejutkan itu dari Rendy membuat mereka buru-buru langsung kerumah sakit. Mobil mereka bersamaan berhentinya dengan mobil Willo yang juga datang bersama papanya dan mereka langsung saling bertemu dengan wajah panik yang penuh dengan ketegangan.


" Apa mereka sudah sampai?" tanya Rudi.


" Sudah Pak Rudi ayo kita masuk!" sahut Ratih yang sekalian mengajak. Mereka semua pun buru-buru memasuki rumah sakit untuk melihat Rania yang kondisinya melemah.


Beberapa perawat menyiapkan ruang persalinan untuk Rania. Rania juga konsinyasi sudah di periksa oleh Dokter Anita sebelumnya dan sekarang Dokter Anita sedang berdebat dengan Rendy yang ke-2nya sudah sama-sama memakai baju operasi.


" Dokter nyawa istri anda bisa melayang kalau kita paksakan semuanya!" Dokter Anita masih saja mempermasalahkan masalah sebelum-sebelumnya yang membuat Rendy bisa gila saat itu juga.


" Cukup Dokter! jangan membahas itu lagi. Sekarang keluarkan semua surat-suratnya saya harus menandatangani semuanya," sahut Rendy yang memang tidak mungkin harus ada drama memilih ini atau itu.

__ADS_1


Nyawa Rania jelas dalam bahaya, kemungkinan hidup 0 sekian persen. Namun jika Dokter masih mengatakan harus menyelamatkan di antara satu. Itu sama saja Rendy akan kehilangan ke-2nya. Kesepakatannya dengan Rania adalah menyelematkan anak mereka.


Dokter Anita yang berusaha untuk membujuk Rendy akhirnya mengalah dan memberikan semua surat-surat yang berhubungan dengan persalinan, operasi dan segalanya yang berkaitan dengan cepat Rendy menandatangani surat itu.


" Ayo kita masuk!" ucap Rendy dengan menghembuskan napasnya perlahan kedalam.


" Kita akan berusaha Dokter untuk menyelamatkan nyawa istri Dokter," sahut Dokter Anita yang mau tidak mau harus mengikuti Rendy.


" Terima kasih," sahut Rendy yang langsung keluar dari ruangan tersebut setelah berdebat banyak dan ujung-ujungnya Rendy juga yang benarnya.


Rendy pun menuju ruangan di mana istrinya akan bersalin. Di sana keluarganya sudah berdatangan. Rendy langsung menghampiri ibunya dan memeluknya yang juga Nia ikut masuk kedalam pelukan itu.


Apalagi jika bukan air mata yang di tumpahkan kakak beradik dengan seorang ibu yang selalu memberikan semangat kepada anaknya.


" Apapun hasilnya kamu sudah menjadi suami yang terbaik. Rania akan bahagia dengan kamu yang memberikannya banyak kebahagian. Dia akan sangat bahagia dengan keputusan kamu. Kamu sudah melakukan yang terbaik nak, jangan takut dan percayalah apapun yang terjadi itu yang terbaik dari Allah. Kamu harus yakin itu," ucap Ratih memberikan semangat pada putranya yang menagis di pelukannya.


Rendy melepas pelukan itu dan Ratih langsung menghapus air mata pitanya. Nia juga melakukan hal yang sama bahkan memegang tangan kakaknya untuk memberikan kakaknya kekuatan agar di kuatkan dengan kenyataan yang akan di hadapinya.


" Masuklah jadi Dokter untuk istrimu. Dia menunggumu untuk sama-sama memperjuangkan anak kalian. Mama akan terus berdoa di sini," ucap Ratih. Rendy menganggukkan kepalanya.


Mencium punggung tangan mamanya untuk mendapatkan doa restu untuk perjuangannya menyelamatkan anak atau istrinya. Ya pasti di antara 2. Rendy juga mencium punggung tangan mertuanya dan juga memeluknya.


Tidak ada yang di katakan Rudi, mungkin dia juga tidak mampu berkata-kata dan memeluk erat yang sudah menggambarkan apa yang sudah ingin di katakannya. Setelah berpamitan pada semua orang. Rendy pun memasuki ruangan persalinan.


Tidak tau Rania sekuat apa. Dalam keadaannya yang benar-benar menurun dan Dokter di awal-awal juga sudah menyarankan untuk operasi sesar. Namun tidak bagi Rania. Rania hanya berpesan jika kondisinya tidak sadar dan pasti jalan yang diambil adalah operasi.


Tetapi apa dia yang sempat beberapa jam tidak sadar dan sekarang sudah sadar dan itu artinya dia akan melahirkan normal. Kata resiko mungkin tidak ada gunanya lagi. Karena sebelum-sebelumnya resiko itu sudah di ketahui dan sudah bisa di terima.

__ADS_1


Sekarang dia yang di beri kesempatan sadar dalam proses persalinan. Hanya ingin bersalin dengan normal.


Ada 4 suster di ruangan itu. 3 Dokter wanita dan satu Dokter Pria yaitu Rendy. Mereka sudah memakai pakaian hijau yang memang untuk pelaksanaan persalinan, lengkap dengan masker dan lain-lainnya. Alat dan segalanya yang berhubungan pun sudah terpasang.


Sebelum melakukan persalinan semuanya berdoa dan persalinan di mulai.


Dengan suara teriakan Rania menarik napas membuang napasnya, melakukan semua instruksi dari Dokter yang ada di sekitarnya dengan tangan Rendy yang tidak lepas menggenggam tangan istrinya.


Jangan tanya air mata. Baik Rendy ataupun Rania tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Rasa sakit mungkin iya di rasakan Rania. Sama dengan Rendy yang seakan tau rasa sakit yang di alami istrinya itu.


Suara mesin jantung sampai tidak terdengar karena suara teriakan Rania yang berusaha mengeluarkan sang anak di dalam rahimnya.


Di luar sana Rudi, Willo, Ratih, Oma Wati dan Nia menunggu dengan cemas dengan wajah yang sama-sama tegang. Wajah yang di penuhi dengan ketakutan.


Yang pasti mereka juga tidak berdoa untuk Rendy dan Rania di dalam sana yang sama-sama berjuang.


" Ya Allah berikan kekuatan untuk membantuku. Usahanya begitu banyak jangan biarkan usahanya sia-sia. Aku mohon ya Allah," batin Ratih yang tidak hentinya berdoa untuk menantu kesayangannya.


" Rania adalah wanita yang kuat aku yakin putriku bisa mengalahkan semua sakit itu," batin Rudi dengan penuh harapannya.


" Kak, bertahanlah, kakak harus bertahan," batin Nia dalam doanya.


" Rania kamu akan bisa melewati semua ini. Kamu pasti bisa," batin Willo.


" Semoga Rania bisa selamat dan juga bayinya," batin Oma yang juga ikut memberikan doanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2