
Elang berada di dalam kamarnya yang membereskan pakaiannya memasukkan kedalam kopernya. Pagi-pagi sekali dia memang sudah bangun untuk beres-beres yang mungkin Elang akan pergi dari rumah itu.
" Aku sudah berusaha untuk bertanggung jawab. Tapi Zahra tidak mau melakukan syarat yang aku katakan. Jadi mau bagaimana lagi. Aku tidak mungkin meninggalkan Cindy aku mencintainya dan aku tidak mungkin menikah dengan Zahra tapi meninggalkannya," ucap Elang yang buru-buru memasukkan pakainnya ke dalam koper.
" Aku juga tidak mungkin tinggal di rumah ini terus menerus. Aku harus pergi aku lebih baik pergi. Karena berada di rumah ini akan menambah masalah. Dan jangan sampai Zahra juga memberitahu Rendy semuanya. Rendy bisa mengatakan semuanya kepada Cindy nantinya," gerutu Elang.
" Aku harus pergi dari kehidupan Zahra ini adalah kesalahan, maafkan aku Zahra kita ber-2 tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. Jadi maafkan aku," batin Elang.
Elang memang menjelma menjadi seorang pengecut dan Pria yang benar-benar egois. Dia sudah merusak Zahra namun pergi begitu saja dan niat bertanggung jawab tapi pertanggung jawaban yang tidak masuk akal. Elang benar-benar Pria brengsek.
Setelah membereskan koper-kopernya Elang langsung keluar dari kamarnya dan benar-benar akan pergi pagi-pagi sekali. Elang menuruni anak tangga yang kebetulan Ratih ingin menaiki anak tangga dan heran dengan Elang yang menyeret kopernya.
" Elang kamu mau kemana?" tanya Ratih heran.
" Gawat apa yang harus aku katakan," batin Elang tetap menuruni anak tangga dan melanjutkan langkahnya mendekati Ratih yang menunggu di bawah.
" Kamu mau kemana kok bawa-bawa koper segala?" tanya Ratih lagi dengan penuh kebingungan.
" Saya mau pergi Tante, kebetulan ada urusan. Jadi saya tidak bisa tinggal di sini lagi," jawab Elang dengan pintar memberikan alasannya.
" Memang ada urusan apa?" tanya Ratih heran.
" Hmmm, nanti saja saya akan bahas kalau saya kemari lagi. Tapi karena saya buru-buru jadi tidak sempat untuk menceritakannya pada Tante," ucap Elang yang berusaha untuk tenang.
" Hmmm, begitu rupanya. Ya sudah kalau begitu. Kamu hati-hati ya," ucap Ratih yang percaya-percaya aja dengan Elang.
" Iya Tante, saya pergi dulu," ucap Elang pamit mencium punggung Ratih.
__ADS_1
Ternyata Rania dan Zahra berada di atas yang melihat kepergian Elang. Namun Zahra tidak mencegahnya sama sekali. Karena memang baginya itu tidak berguna mempertahankan Elang atau memaksa Elang untuk menikahinya.
" Kamu yakin?" tanya Rania dengan lembut yang mengusap-usap pundak Zahra.
" Aku yakin Rania, dia memang lebih baik pergi. Karena dia adalah pengecut," jawab Zahra yang yakin 100%.
" Ya sudah Tante, saya pergi dulu," ucap Elang pamit kembali. Ratih hanya mengangguk, Elang melihat-lihat di sekelilingnya seakan mengamati isi rumah yang akan di tinggalkannya. Namun mata Elang melihat ke arah Zahra yang ternyata mengetahui kepergiannya. Namun Zahra membuang pandangannya dan sama sekali tidak akan mencegah Elang.
" Aku tau kamu membenciku Zahra. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Maafkan aku Zahra," batin Elang menatap nanar Zahra yang berada di atas sana.
Elang menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan ke depan. Lalu menyeret kopernya berlalu dari hadapan Ratih.
" Mau kemana kamu Elang?" tiba-tiba terdengar suara dingin yang membuat langkah Elang berhenti dan munculah Rendy bersama Anisa. Kedatangan Rendy membuat Elang kaget dan bahkan Rania dan Zahra yang di atas sana.
" Rendy!" lirih Elang. Rendy mendekati Elang dan berdiri di hadapan Elang.
" Aku mau pergi..." jawab Elang dengan santai.
1 pukulan melayang ke wajah Elang. Di mana hal itu membuat semua orang kaget termasuk Zahra dan juga Rania sampai melotot dengan mulut menganga yang kagetnya luar biasa di mana Rendy tiba-tiba yang memukul Elang.
" Astagfirullah Al Azdim, Rendy apa yang kamu lakukan?" tanya Ratih panik. Dengan emosi Rendy kembali memukul Elang yang membuat Elang sampai terhuyung.
" Rendy hentikan apa yang kamu lakukan!" sahut Ratih benar-benar terkejut yang berusaha untuk mencegah putranya itu.
Hanya 2 pukulan wajah Elang sudah memerah dan terlihat ujung bibirnya berdarah. Zahrah dan Rania saling melihat yang masih begitu terkejut dengan apa yang mereka lihat.
" Brengsek!" teriak Rendy.
__ADS_1
" Ardian apa yang kau lakukan. Kenapa kau memukulku," sahut Elang mengusap darah di ujung bibirnya dengan jempolnya.
" Berani sekali kau pergi dari rumah ini. Setelah kau menghancurkan hidup Zahra," teriak Rendy dengan suara yang menggelegar.
Elang terkejut mendengarnya dengan matanya yang melotot sementara Ratih bingung dengan perkataan Rendy. Di atas sana Zahra dan Rania juga semakin tidak mengerti apa yang di katakan Rendy. Namun mereka berdua juga terlihat panik.
" Kau sudah menghamili Zahra dan kau malah pergi tanpa bertanggung jawab," ucap Rendy dengan menekan suaranya, wajah Rendy yang memerah dengan matanya yang hampir keluar menatap tajam Elang.
" Apah," sahut Ratih yang benar-benar bisa jantungan dengan pernyataan Rendy yang begitu mengejutkan. Rania dan Zahra sama-sama melihat yang tidak percaya Rendy mengetahui hal itu.
" Aku belum mengatakannya Zahra," sahut Rania dengan suara seraknya saat Zahra melihatnya seakan menanyakan hal itu.
" Aku juga belum menceritakannya," saut Zahra bertambah panik. Berita ini masih belum di ceritakannya. Tetapi Rendy sudah tau semuanya.
" Apa maksud kamu Rendy, apa yang kamu katakan?" tanya Ratih dengan wajah seriusnya.
" Yang aku katakan sudah benar. Tanyakan padanya apa yang di lakukannya pada Zahra dan tanya pada Zahra apa yang sudah terjadi," sahut Rendy menekan suaranya yang melihat ke ujung anak tangga yang melihat Zahra yang kepanikan di sana.
Wajah Zahra sudah begitu pucat dengan tangannya yang dingin dan tubuhnya yang bergetar. Yang mana akhirnya apa yang di rahasiakan ya terbongkar begitu cepat.
" Bagaimana ini ya Allah. Tante Ratih pasti sangat kecewa kepadaku," batin Zahra yang sudah kebingungan.
" Kenapa Rendy bisa tau. Dan dia datang bersama Anisa ekspresi Anisa seakan tau masalah ini," batin Rania yang tidak kalah kebingungannya dengan melihat wajah Anisa yang tampak tenang yang tidak terkejut sama sekali.
" Turun kamu Zahra!" titah Rendy dengan suara menekannya. Dia pasti bukan hanya marah pada Elang. Tapi pasti pada Zahra yang berani-beraninya hamil di luar nikah. Sementara Ratih sudah meneteskan air mata yang pasti begitu terkejut dengan kenyataan itu.
Zahrah sudah seperti anaknya sendiri. Apa yang terjadi pasti membuatnya gagal dalam menjaga Zahra.
__ADS_1
" Kamu masih tetap berdiri di sana?" tanya Rendy yang menekan suaranya. Rania mengusap pundak Zahra dan membawanya turun ke bawah. Karena apapun masalahnya harus di hadapi bersama dan semuanya sudah ketahuan. Tidak ada lagi yang perlu di tutup-tutupi.
Bersambung