
Rania berada di dalam ruangannya mengganti pakaiannya dengan dress merah mencolok yang memanjang tanpa lengan. Sehingga memperlihatkan mulusnya dadanya. Rambutnya di sanggul indah sehingga memperlihatkan ceruk lehernya.
Rania memang tidak pulang ke rumah lagi. Rania menyuruh sekretarisnya menyiapkan pakainanya dan segala keperluannya. Agar bisa tampil sempurna untuk menghadiri pesta Perusahaan.
Meski baru mendapatkan insiden yang luar biasa membuatnya pasti sedikit trauma dan juga takut. Tetapi Rania tetap pada hakikatnya mengikuti pesta Perusahaan itu. Karena memang dia pasti yang di tunggu-tunggu orang. Dia menjadi orang penting dalam acara tersebut.
Tok-tok-tok-tok
" Masuk!" perintah Rania dari dalam ruangannya. Astri Asistennya pun masuk ketika mendapatkan perintah dari atasannya.
" Ini Bu Heelsnya," ucap Astri memberikan paper bag yang berarti berisi heels kepada Rania.
" Hmmm, letakkan saja di sana!" tunjuk Rania pada meja yang ada di sana. Karena dia sibuk memakai anting. Astri mengangguk dan akhirnya melatakkan di mana di perintahkan Rania.
" Apa tamu-tamu sudah datang?" tanya Rania.
" Sudah Bu, sudah banyak yang datang, para wartawan juga sudah banyak yang datang dan sudah ingin mewawancarai ibu," jawab Astri.
" Baiklah kalau begitu, saya akan segara kesana. Kamu duluan aja," sahut Rania.
" Baik Bu," sahut Astri menundukkan kepalanya dan langsung pergi dari ruangan Rania.
*********
Acara perusahaan jelas sangat meriah. Berhubung dengan ulang tahun Perusahaan yang ke 32 tahun. Para media sudah berkumpul mengambil foto-foto orang penting di sana. Juga mewawancarai CEO dan petinggi-petinggi lainnya yang memiliki saham besar di Perusahaan tersebut.
Tamu-tamu dari dalam kota, Luar Kota sampai Luar Negri pun sudah berdatangan. Bukan hanya dari Pembisnis saja. Dari beragam Profesi yang memang mendapatkan undangan di perusahaan tersebut.
Wartawan terlihat sedang mewawancarai Monica. Dengan anggunnya dan senyum manisnya. Monika menjawab setiap pertanyaan yang di berikan wartawan kepadanya. Dia juga memang tampil cantik agar mencuri perhatian orang-orang.
Di tengah wawancara Monica dengan beberapa wartawan. Rania wanita yang di tunggu-tunggu pun akhirnya muncul dengan langkah yang cantik. Seperti model profesional.
Wartawan yang mewawancarai Monica berhenti seketika dan mata mereka langsung menatap ke arah Rania. Tersenyum seakan mengagumi. Monica juga melihat ke arah mata wartawan itu dan langsung kesal ketika Rania yang membuatnya di acuhkan dan tidak di hargai.
" Kurang ajar, dia memang selalu tebar pesona. Dia pikir. Siapa dirinya," batin Monica menatap dengan sinis. Ada beberapa wartawan yang sudah menghampiri Rania. Tetapi tampaknya Asisten Rania langsung menghadang.
" Mbak Rania, mohon sebentar pendapatnya," sahut salah satu wartawan.
" Nanti akan ada sesi wawancara. Jadi tolong bersabar, Ibu Rania harus menyapa tamu dulu," sahut asisten dengan ramah memberikan peringatan.
Rania memang beda sendiri. Dia tidak bisa di uber-Uber wartawan. Ada waktu Rania melayani wartawan dan pasti berbeda dengan yang lainnya. Yang di tengah-tengah pesta di wawancarai. Sementara dirinya punya tempat khusus layaknya seperti konferensi pers.
" Di tunggu nanti ya," ucap Astri lagi. Wartawan mengangguk-angguk. Mereka memang harus bersabar untuk mendapat pendapat dari orang yang paling penting.
" Terimakasih untuk semuanya," sahut Rania tersenyum dengan menundukkan kepalanya. Lalu para wartawan memberi jalan padanya.
Mungkin itu yang membuat wartawan memang menyukainya. Rania sangat sopan dan sangat ramah. Rania pun langsung menghampiri Tuan Dellano sang CEO perusahaan yang sedang berbincang-bincang dengan seorang pengusaha yang pasti dari Luar Negri.
" Nona Rania," sapa Pria yang sekitar berusia 50 tahunan yang berbicara dengan Dellano.
" Halo tuan Mark," sahut Rania menjabat tangan Pria itu.
" Nona Rania cantik sekali hari ini!" puji Pria itu.
" Tuan bisa aja," sahut Rania malu-malu.
" Rania, memang sangat cantik, berwibawa, pintar. Makanya Perusahaan ini berkembang karena kehadirannya," sahut Delano yang tidak kalah memberi pujian.
" Jangan seperti itu, saya nanti akan semakin melayang-layang," sahut Rania yang malu-malu. Dia memang rendah hati. Tapi sangat heran. Banyak orang yang membencinya.
" Hmmm, Tuan Mark, datang kemari bersama siapa?" tanya Dellano.
" Hmmm, saya bersama keponakan saya," sahut Mark.
" Di mana dia. Apa dia tidak ikut masuk?" tanya Dallano.
" Hmmm, tadi ada di sini. Lagi ke toilet mungkin," jawab Mark melihat-lihat di sekelilingnya.
__ADS_1
" Nah itu dia!" tunjuk Mark. Rania dan Dellano sama-sama melihat ke arah yang di tunjuk tersebut.
Rania sedikit kaget saat melihat keponakan dari tuan Mark. Yang tak lain adalah Rendy yang berbahan sambil memegang ponselnya.
" Rendy," batin Rania yang melihat Rendy melangkah semakin dekat dengannya dan Rendy juga memelankan langkahnya saat melihat Rania. Namun tetap melanjutkan langkahnya.
" Ini keponakan saya," sahut Mark. Rendy yang sudah berdiri di samping Mark langsung menyapa dengan sopan.
" Dia keponakan tuan Mark," batin Rania yang pasti tidak percaya.
" Kebetulan, ibu Rendy adalah adik terakhir saya," sahut Mark yang menjelaskan.
" Kita sudah saling mengenal," sahut Rania.
" Oh, iya benarkah," sahut Mark sedikit kaget.
" Iya, saya juga mengenal Zahra. Pak Dellano Zahra manajer bagian produksi adalah sepupunya keponakan tuan Mark," sahut Rania menjelaskan sedikit kepada atasannya.
" Ohhhh, benarkah!" sahut Dellano.
" Iya, ALM ayahnya Zahra adik saya yang sekarang Zahra tinggal bersama Rendy dan keluarganya," sahut Mark menjelaskan.
" Ya ampun, dunia memang kecil," sahut Dellano tertawa kecil yang juga di sambut tawa geleng-geleng oleh Mark. Sementara Rendy dan Rania saling melihat dengan senyum tipis namun terlihat gugup sedikit.
" Nak Rendy ini apa seorang pengusaha juga?" tanya Dellano.
" Tidak pak. Kebetulan saya seorang Dokter," sahut Rendy.
" Wahhh, hebat sekali," sahut Dellano yang memuji profesi tersebut dengan tersenyum.
Ternyata Monica yang di sudut sana terus melihat kearah Rania. Melihat dengan sinis. Dengan tangannya yang di silangkan di dadanya.
" Dia memang sangat pintar cari muka. Dia pikir siapa dirinya. Rencana ku gagal berantakan dan dia semakin berkuasa," batin Monica yang memiliki iri hati pada Rania. Dia memang tidak pernah bisa menggeser wanita itu. Rania tetap menjadi no satu sementara dirinya no 2 pun tidak. Bahkan tidak di anggap sama sekali.
**********
" Ada apa?" tanya Rania dengan sopan.
" Kamu bahagia dengan pernikahan mu yang batal," sahut Monica. Rania langsung melihat Monica dengan tersenyum miring.
" Apa dia sudah menyampaikan kabar itu?" tanya Rania. Dia malah bertanya dan tidak menjawab pertanyaan Monica sama sekali.
" Jadi, kamu benar-benar sebahagia itu," sahut Monica.
" Aku yang bahagia atau kamu. Lagian jika pernikahan itu batal. Bukannya kamu bisa melanjutkan hubungan mu dengan dia. Dan tidak perlu sembunyi-sembunyi dari ku. Atau merasa tidak enak dan segan dariku," sahut Rania yang berbicara dengan santai.
" Apa maksud mu?" tanya Monica.
" Jangan bertanya apa maksudku. Tetapi kamu lah. Apa maksudmu bermain dengan calon suami orang di belakangku," sahut Rania dan Monica terdiam.
" Tetapi sudahlah, lupakan semuanya. Jangan menjawabnya. Karena itu tidak penting. Lagian aku juga sudah tidak ada hubungan dengannya. Kamu dan dia terserah mau seperti apa. Aku juga tidak peduli dan aku ucapkan selamat untuk kalian ber-2," sahut Rania Benar-benar tidak peduli dengan Monica.
" Aku permisi!" sahut Rania tersenyum lalu pergi. Menghadapi Monica memang harus berkelas dan tidak perlu murahan.
" Kurang ajar kenapa dia seenaknya bicara. Dia benar-benar merendahkan diriku," batin Monica mengepal tangannya dengan penuh emosi.
Dengan perselingkuhan itu. Rania memang cukup tau sipa Monica dan tidak perlu harus baik-baik bicara pada Monica atau bersilat sopan seperti orang yang lainnya. Karena menderitanya itu tidak penting.
Setelah menyapa para tamu dan berbincang-bincang dengan tamu-tamu penting. Rania tiba saatnya mengadakan sesi wawancara. Para wartawan sudah rapi untuk mewawancarai Rania.
" Bu Rania, bagaimana apakah anda akan ada proyek baru lagi untuk pengembangan perusahaan ini?" tanya salah satu wartawan.
" Hmm, pasti. Pasti saya akan terus ada proyek kedepannya?" jawab Rania dengan cepat.
" Apa kah, anda akan ada aja ada kerja sama dengan manca Negara lagi?" tanya wartawan.
" Kita doakan saja, kalau rencana pasti banyak. Tetapi kembali lagi yang mengatur semuanya hanya waktu. Jika waktunya tepat. Maka semua rencana juga akan terlaksana," jawab Rania.
__ADS_1
" Lalu bu Rania. Ibu adalah pemilik saham terbesar di perusahaan ini. Ibu juga sangat mahir untuk dalam berbisnis apakah anda ada pernah berniat ingin membangun perusahaan sendiri?" tanya wartawan lagi.
" Hmmm, masalah itu saya belum kepikiran. Karena pekerjaan saya juga sangat bajak di perusaan. Tetapi mungkin. Jika untuk bisnis lain akan bisa di coba," jawab Rania. Wartawan mengangguk - angguk tersenyum.
Orang-orang yang ada di pesta itu juga terlihat senang melihat Rania yang melayani wartawan dengan baik.
" Nona Rania, anda sangat cemerlang dalam karir. Kebanyak wanita karir akan mengkesampingkan pernikahan. Bagaimana dengan anda sendiri. Apa kah ada rencana untuk menikah?" tanya salah satu wartawan. Rania terdiam dalam pertanyaan itu.
" Bagaimana tanggapan anda dengan pernikahan dan wanita karir?" tanya wartawan lagi.
" Maaf, jangan tanyakan masalah pribadi, bisa ganti pertanyaan," sahut Astri yang langsung bertindak.
" Bu Rania, apa kah benar. Pernikahan Anda batal berkali-kali?" tanya salah satu wartawan dan Rania kaget mendengarnya.
" Apa kah, pernikahan Anda batal karena kesibukan anda sebagai wanita karir,"
" Lalu bagaimana dengan pernikahan anda yang seharusnya lusa di laksanakan. Apa kah akan batal juga," pertanyaan wartawan membuat Rania kaget. Pernikahannya dengan Gilang sama sekali tidak ada yang tau dan sekarang wartawan tau.
Tamu-tamu yang ada di sana juga saling melihat. Mereka pasti heran mendengar pernyataan yang juga pertama kali mereka dengar.
" Nona tolong jawab pertanyaan kami. Apa benar anda juga akan kembali membatalkan pernikahan itu?"
" Apa kah anda akan mementingkan karir di bandingkan pernikahan?" sahut lagi wartawan yang terus berdesakan yang memberikan pertanyaan di luar konteks kepada Rania.
" Maaf, wawancaranya sudah selesai. Jadi tolong beri kami jalan. Kami mohon. Tolong minggir!" sahut Astri dengan cepat bertindak dan menutup sesi wawancara.
Namun terjadi kerusuhan. Wartawan tidak akan menurut, ketika belum mendapatkan jawabannya dan mereka terus memaksa Rania untuk menjawab. Astri dan Rania pun sudah saling himpit-himpitan dengan wartawan yang benar-benar heboh dan tidak bisa di kasih tau.
" Nona Rania, tolong jawab pertanyaan kami, jangan menghindari kami," sahut wartawan yang terus mendesak.
" Nona!"
" Nona!"
" Nona, nona, nona, nona jawablah, nona, jangan diam saja, jawab pertanyaan kami, nona," wartawan terus mendesak mengkerumuni Rania dan Astri berusaha melindungi Rania.
Tetapi dari ujung sana Monica tersenyum puas dengan apa yang di lihatnya. Dia benar-benar sangat bahagia dengan apa yang di lihatnya. Di mana Rania Benar-benar di permalukan dengan pertanyaan wartawan.
" Rasakan. Makanya jadi wanita jangan terlalu sombong. Lihat akibatnya," batin Monica benar-benar puas dengan tersenyum penuh kemenangan.
Mata Rania sudah berkaca-kaca dengan pertanyaan wartawan yang lebih menyinggung perasaannya.
" Ya Allah, apa lagi ini. Kenapa tidak kebahagian sedikitpun. Engkau bahkan tidak memberiku sejam untuk tidak menderita," batin Rania yang saling himpit dengan wartawan yang terus mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
Di tengah-tengah kericuhan. Sebuah tangan menarik Rania dan melindungi Rania, dari sorot kamer dan juga kerumunan. Tangan Pria itu adalah Rendy yang langsung membawa Rania dengan langkah yang cepat dari kerumunan wartawan.
" Nona, tolong berikan jawabannya. Nona!" panggil-panggil wartawan yang tetap heboh mengejar Rania. Namun Rania tetap mengikuti Rendy dan terus melihat wajah Rendy yang serius membawanya pergi seolah melindunginya.
" Kenapa. Kenapa dia selalu ada di saat aku kesulitan. Siapa dia sebenarnya. Kenapa dia dekan magnet untuk menjagaku," batin Rania yang terus melihat Rendy dengan langkahnya yang juga cepat sama seperti Rendy. Walah kesulitan melangkah karena dress yang di gunakannya.
Wartawan terus mengejar. Tetapi berhasil di hentikan Astri dan satpam yang berusaha mengganggu Rania. Monica yang melihat Rania terselamatkan langsung berdecak kesal. Menatap penuh kebencian dan pergi meninggalkan tempat itu.
Giliran Astri yang sekarang harus mengatasi suasana pesta Perusahaan yang sedikit berantakan dan membuat tamu-tamu tidak nyaman.
***********
Rania dan Rendy memasuki mobil. Rania duduk di samping Rendy dengan sedikit menunduk dan pasti menangis. Tetapi dia menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya. Suara tangisnya tidak kedengaran. Mungkin karena dia malu. Karena terlalu sering menangis di depan Rendy.
" Hapus air matamu," sahut Rendy yang memberikannya sapu tangan dan Rania mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Rendy. Lalu perlahan mengambil sapu tangannya.
" Kamu mengatakan. Tuhan akan memberikan kesempatan kepada semua orang tanpa ketercuali. Tetapi apa aku adalah pengecualiannya," sahut Rania dengan mengusap air matanya dengan lembut.
" Hidupku berantakan. Aku selalu di salahkan. Pernikahan ku berantakan. Karena sebuah perselingkuhan. Kakak iparku berusaha melecehkan ku dan itu pasti akan terus terjadi. Dan sekarang orang-orang tau aku akan menikah. Aku mendapat cemoohan lagi. Ketika mereka juga akan menyaksikan batalnya pernikahanku," ucap Rania dengan air matanya yang mengalir yang kembali mengeluh dengan keadaannya.
" Kalau begitu menikah dengan ku," sahut Rendy tiba-tiba.
Bersambung.
__ADS_1