Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 247 Kesiangan.


__ADS_3

Mentari pagi kembali tiba. Hanya 1 malam saja untuk menginap di Villa puncak keluarga itu dan sekarang mereka sudah berkumpul di ruang tamu untuk pulang kembali ke Jakarta. Rania, Rendy, Zahra, Elang, dan Ratih, dan Nia sudah selesai bersiap-siap.


" Anisa sama Agam belum turun?" tanya Ratih yang tidak melihat pasangan suami istri yang satu itu.


" Iya benar, kok Anisa dan Agam belum turun, apa belum siap-siap," sahut Rania.


" Padahal sudah jam 9," sahut Zahra yang melihat arloji di tangannya.


" Ya sudah biar Nia lihat ke atas dulu," sahut Nia.


" Ya sudah sana. Kamu bilang semuanya sudah kumpul," ucap Ratih.


" Oke mah," sahut Nia mengangguk dan langsung pergi menaiki anak tangga untuk memberitahu pada Agam dan Anisa agar secepatnya turun. Karena yang lain sudah menunggu mereka di bawah.


Tidak lama akhirnya Nia pun sampai di depan pintu kamar Anisa dan Agam.


" Kak Anisa, kak Agam. Kalian sudah siap. Yang lain sudah siap, dan sudah menunggu di bawah dan tinggal hanya kakak saja," ucap Nia yang mengetuk-ngetuk pintu. Namun tidak ada respon dari dalam.


" Kok nggak di jawab sih," gumam Nia kebingungan yang menempelkan telinganya di daun pintu dan kembali memanggil-manggil Anisa dan Agam, mengetuk-ngetuk pintu.


" Kak, kak!" Anisa terus memanggil dan tidak mendapatkan respon.


Yang Manna ternyata Anisa dan Agam masih ada di atas tempat tidur yang mana keduanya tidur dengan berpelukan, di dalam selimut yang menutupi tubuh polos mereka


Kamar itu juga sedikit berantakan dengan pakaian Anisa dan Agam yang berserakan di lantai dan sepertinya ke-2nya entah selesai jam berapa makanya sampai kesiangan.


Suara Nia sama sekali tidak didengar pasangan suami istri itu yang akhirnya suara Nia semakin di kuatkan yang membuat Anisa tersentak sedikit dan Agam juga ikut terbangun dengan matanya yang mengkerut.


" Kak Anisa, kak Agam!" Nia bahkan sudah berteriak dengan kesalnya yang tidak mendapat respon.


Dengan perlahan Anisa membuka matanya yang masih begitu berat. Dengan tangannya yang memijat dahinya.


" Kenapa lampunya terang sekali," ucap Anisa dengan suara seraknya. Cahaya matahari yang begitu terang membuat Anisa berpikiran jika itu adalah cahaya lampu. Tetapi Anisa tidak sadar jika itu bukan lampu.


" Ahhhhh!" Agam juga sudah bangun tetapi masih tetap pada posisinya yang sebelah tangannya masih berat. Karena Anisa masih menjadikan lengannya bantal.


" Itu bukannya suara Nia," tebak Agam.

__ADS_1


" Hmmm, itu memang Nia, kenapa dia memanggil malam-malam begini," sahut Anisa yang mencoba untuk duduk dengan memegang selimut agar tidak jatuh dari menutupi tubuhnya yang sudah polos.


" Kak cepat keluar!" teriak Nia lagi dari luar sana yang ketukan pintunya semakin kuat.


" Apa sih Nia, heboh benget," ucap Anisa yang malah kesal dan tiba-tiba Anisa melihat kearah jendela yang terangnya minta ampun yang membuatnya langsung melotot dan dengan cepat melihat ke arah Agam yang masih mengumpulkan nyawanya.


" Ini sudah jam berapa?" tanya Anisa dengan panik. Agam yang masih santai mengambil ponselnya di atas nakas dan melihat sudah jam 9.


" Jam 9," jawab Agam dengan santai membuat Anisa semakin melotot.


" Astaga, kita kok bisa kesiangan!" pekik Anisa yang panik dan Agam pun langsung duduk dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.


" Kak Anisa, cepat keluar yang lain sudah pada nungguin, kita harus pulang!" teriak Nia yang lama-lama hilang kesabaran.


" Astaga, hari ini kita harus pulang dan yang lain sudah menunggu kita," ucap Anisa yang semakin panik.


" Jadi gimana dong?" tanya Agam yang ikutan panik.


" Aku mana tau, kenapa malah tanya aku, kamu sih, jadi kesiangan," sahut Anisa yang malah menyalahkan Agam.


" Kok malah aku, kamu yang tidak mau berhenti," sahut Agam yang tidak mau disalahkan.


" Udah stop!" ucap Anisa dan Agam serentak.


" Sekarang kamu cepat buka pintu sedikit. Bilang sama Nia, kita menyusul pulangnya. Karena tidak mungkin kita di tungguin untuk siap-siap," sahut Anisa mencari solusi.


" Ya sudah memang itu yang terbaik," sahut Agam setuju dan langsung bangkit dari ranjang.


" Agam pakai baju dulu!" ucap Anisa mencegah kegilaan Agam.


" Kenapa tidak bilang dari tadi," sahut Agam yang langsung memakai pakaiannya dengan buru-buru untuk membuka pintu agar Nia tidak berteriak-teriak terus. Lama dan lelah memanggil Anisa dan Agam. Akhirnya Agam pun membuka pintu sedikit.


" Lama amat sih," ucap Nia dengan wajah kesalnya.


" Hmmm, maaf Nia. Kayaknya kalian pulang duluan deh. Soalnya aku masih ada keperluan di sini sama Anisa. Jadi kalian sebaiknya pulang terlebih dahulu," ucap Agam.


" Kenapa nggak bilang dari tadi," sahut Nia kesal.

__ADS_1


" Hmmm, maaf," sahut Agam.


" Ya sudah kalau begitu," sahut Nia dengan kesal yang langsung pergi dan Agam langsung bernapas lega dan kembali menutup pintu dan melihat Anisa.


" Bagaimana?" tanya Anisa.


" Aman," sahut Agam.


" Hhhhhhhh," Anisa langsung menghembuskan napasnya panjang, " syukurlah kalau begitu. Bisa-bisanya kita kesiangan. Ya sudah sekarang sebaiknya aku mandi biar siap-siap," ucap Anisa.


" Mau di temani tidak?" tanya Agam dengan sedikit menggoda.


" Nggak perlu," sahut Anisa ketus. Menarik selimut ketubuhnya semuanya dan langsung turun dari ranjang menuju kamar mandi dan Agam mendengus tersenyum melihat Anisa.


" Sekarang aja jual malam. Tadi malam aja minta-minta," ucap Agam geleng-geleng.


" Aku mendengarnya!" teriak Anisa dari dalam kamar mandi, Agam mendengar teriakan itu bertambah tertawa dengan tingkah Anisa yang kadang-kadang berubah.


**********


Akhirnya Nia kembali menuruni anak tangga setelah yang lain sudah menunggu dari tadi. Bahkan mereka juga mendengar teriakan dari Nia.


" Bagaimana Nia apa mereka sudah siap?" tanya Ratih.


" Kata kak Agam, kita di suruh pulang terlebih dahulu. Katanya masih ada keperluan di sini dengan kak Anisa. Nia juga tidak tau apa itu," jelas Nia.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Ratih. " Ya sudah kalau begitu sebaiknya kita pulang saja. Elang dan Rendy juga mau kerumah sakit langsung kan," ucap Ratih.


" Ya sudah ayo kita pulang," sahut Elang. Yang lain mengangguk dan mulai melangkah keluar dari dalam Villa. Namun Rania malah terlihat tersenyum yang membuat Rendy bingung melihat senyum istrinya tersebut yang penuh dengan arti.


" Ada apa sayang kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Rendy.


" Hmmm, aku yakin Anisa dan Agam pasti kesiangan. Karena cara yang aku ajarkan tadi malam telah berhasil," ucap Rania.


" Sok tau kamu," sahut Rendy.


" Benar sayang," sahut Rania.

__ADS_1


" Ya sudah biarin aja. Ayo kita pulang," ucap Rendy yang merangkul bahu istrinya menyusul yang lain untuk keluar dari rumah.


Bersambung


__ADS_2