Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 290


__ADS_3

Rendy dan Aisyah saling melihat, mata yang sama-sama saling bertemu dengan jantung mereka ber-2 yang sama-sama bergetar hebat. Getaran yang mereka rasakan itu tidak asing. Getaran yang penuh arti. Getaran yang memang pernah ada sebelumnya.


Asyifa tersenyum saat melihat wanita yang di carinya sudah berdiri di depan ayahnya. Asyifa mengusap dadanya melihat ayahnya yang berdiri di sampingnya lalu bergantian melihat ibunya yang berdiri di depannya.


" Alhamdulillah ya Allah, ibu Asyifa ternyata menepati janjinya. Makasih ya Allah sudah bantuin Asyifa," batin Asyifa yang bersyukur kepada Allah atas campur tangan Allah dalam usahanya mempertemukan ayah dan juga ibunya.


Aisyah yang masih diam dan saling menatap dengan Rendy. Tangannya perlahan naik kewajahnya, dengan perlahan tangannya membuka pengait cadarnya. Bersamaan dengan angin kencang yang datang dan saat baru saja terbuka sedikit. Angin itu membawa terbang cadar Aisyah dan menampilkan wajah Aisyah.


Deg.


Jantung Rendy semakin berdebar tidak menentu, matanya terbelalak kaget ketika wanita yang berdiri di depannya itu. Wanita itu adalah Rania, wajahnya sama dengan istrinya membuat Rendy tidak tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Tidak mungkin. Kata itu pasti sudah terlintas di dalam hati Rendy. Namun pada nyatanya Rania ada di depan matanya. Aisyah adalah Rania yang telah hilang ingatan.


" Rania!" akhirnya satu nama itu keluar dari mulut Rendy. Suara yang keluar begitu serak.


Mendengar suara Rendy mampu membuat air mata Rania menetes.


" Kamu Rania? kamu istriku? apakah aku salah lihat. Apa kamu benar-benar Rania. Apa kamu istriku?" tanya Rendy yang takut berhalusinasi dengan wanita di depannya itu.


Tetapi sudah begitu lama, wanita itu masih ada dan tidak menghilang. Berarti itu memang adalah istrinya.


" Apa kamu Rania?" tanya Rendy lagi dengan matanya berkaca-kaca. Mata yang begitu banyak berharap. Rania menganggukkan kepalanya, membenarkan semua pikiran suaminya kepadanya.

__ADS_1


Usaha Rania tadi malam tidak sia-sia. Berdoa, berzikir mati-matian dengan menahan sakit di kepalanya mampu membuat Rania mengingat masa lalunya. Dia seorang istri dari Pria di depannya dan seorang ibu dari anak yang mampu membuatnya mengingat semuanya.


" Sungguh kamu Rania?" Rendy bertanya lagi untuk memastikan semuanya. Tubuhnya sudah bergetar hebat. Rania menjawab dengan mengangguk lagi.


Rendy melepas tangannya dari Asyifa, perlahan maju mendekati Rania yang hanya butuh 3 langkah saja sudah berdiri di depan Rania, melihat jelas wajah itu dengan mata mereka yang sama-sama melihat. Mata itu masih sama seperti dulu masih penuh cinta.


Perlahan tangan Rendy yang bergetar naik ke atas menyentuh pipi Rania yang begitu lembut. Pipi yang sekarang sudah di penuhi dengan air mata.


" Kamu benar-benar Rania istriku?" Rendy bertanya lagi ketikan tangannya menyentuh pipi Rania.


" Aku istrimu," jawab Rania dengan suara seraknya. Suara itu sama dan sudah jelas wanita itu adalah istrinya.


" Aku adalah Rania, aku istrimu, aku adalah istrimu, aku istrimu yang mencintaimu," ucap Rania dengan suara tangisnya.


" Aku adalah Rania, aku wanita yang keras kepala yang selalu membuatmu takut. Aku Rania wanita yang mencintaimu. Wanita yang melahirkan anak kita. Aku tidak ingat apa-apa selebihnya. Aku hanya mengingat terakhir kali memasuki ruang operasi dan setelah aku bangun aku tidak tau siapa aku. Tetapi beberapa bulan belakangan ini aku merasa ada sesuatu yang ternyata selama ini aku adalah Rania. Aku hilang ingatan karena efek dari pengangkatan tumor di rahimku," jelas Rania dengan tersedu-sedu. Dia hanya menjelaskan dengan singkat saja.


" Jadi kami masih hidup?" tanya Rendy lagi dengan dadanya yang kembang kempis.


" Iya, aku masih hidup, aku di selamatkan saat insiden di rumah sakit itu. Aku masih hidup. Aku tidak pernah pergi," jawab Rania.


Napas Rendy semakin naik turun yang tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Penjelasan Rania, sangat tidak masuk akal jika yang sudah tiada kembali hidup lagi.


Namun kenyataannya itu memang istrinya. Terlepas penjelasan itu benar atau tidak pada nyatanya wanita di depannya itu benar-benar istrinya. Wanita yang begitu di cintainya dan di rindukannya itu.

__ADS_1


Rendy pun langsung memeluk Rania dengan erat begitu juga dengan Rania yang mana mereka saling berpelukan untuk melepaskan rindu dengan air mata yang sama-sama keluar.


Asyifa tersenyum melihat ke-2 orang tuanya yang berpelukan. Sangat manis pemandangan itu dan pasti tidak pernah di bayangkan Asyifa jika ibunya yang cantik itu benar-benar ada dan sekarang memeluk ayahnya.


Asyifa selalu merasa ibunya adalah bidadari yang berada di surga malaikat baik hati yang nanti pasti Asyifa akan temui kalau dia jadi anak baik. Karena kata-kata itu yang sering di katakan keluarganya kepadanya dan sangat terbukti pada nyatanya. Asyifa yang telah menjadi anak baik akhirnya bisa bertemu ibunya. Sangat cantik lebih apa yang di khayalannya.


Lama berpelukan akhirnya Rendy dan Rania saling melepas. Pasti masih belum puas untuk berpelukan. Rendy memegang ke-2 pipi Rania sembari mengusap air mata itu dengan lembut. Rendy juga mencium kening Rania dengan lembut membuat mata Rania terpejam. Setelah itu Rendy menempelkan dahinya di dahi Rania dengan mata mereka yang kembali sama-sama bertemu.


Mungkin Rendy masih tidak percaya dengan wanita di depannya itu. Dia masih takut hanya berkhayal dan tiba-tiba Rania menghilang seperti sebelum-sebelumnya. Karena memang hanya bermimpi saja. Tetapi itu nyata dan sangat nyata.


Pandangan Rania mengarah ke samping yang di ikuti Rendy melihat anak kecil yang sejak tadi diam dengan senyum lembarnya. Rania kembali melihat Rendy. Rendy mengangguk pelan seakan tau apa maksud Rania. Ya Rania bertanya apakah itu anak mereka.


Dengan perlahan Rania melangkah mendekati Asyifa yang sejak tadi jadi obat nyamuk. Rania berjongkok di depan Asyifa dengan memegang pipi Asyifa.


" Apa Asyifa anak ibu?" tanya Rania. Asyifa menganggukan kepalanya.


" Asyifa adalah anak ibu. Ibu Asyifa sangat cantik, Allah sudah mengabulkan doa Asyifa," jawab Asyifa dengan lancarnya bicara. Rania yang tidak percaya dengan putri yang dilahirkannya itu.


Asyifa mengusap air mata Rania, " jangan menagis ibu," ucap Asyifa dengan lembut. Randy sudah berdiri di belakang Rania dengan memegang pundak Rania membuat Rania melihat ke arah Rendy.


" Dia anak kita. Tsamara Asyifa, anak yang kamu perjuangkan, anak kita sudah besar, dia Asyifa Rania, putri kecil kita," ucap Rendy membenarkan dengan sedikit penjelasan.


Dengan mendengar pernyataan Rendy membuat Rania langsung memeluk erat Asyifa. Dia juga melepaskan rasa rindunya pada anak yang tidak terasa sudah berusia 4 tahun. Anak itu dulu mati-matian di pertahankannya, dia dulu hanya sempat mendengar suara tangisnya saja dan sekarang sudah bisa memeluknya, memeluk dengan kehangatan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2