
Setelah Agam selesai mandi. Anisa bergantian untuk membersihkan dirinya. Karena dia juga lelah penat, dan tubuhnya juga merasa lengket jadi harus mandi agar tidurnya nyenyak.
Anisa keluar dari kamar mandi setelah selesai mandi dengan menggunakan baju tidur berbentuk dress panjang sampai mata kakinya. Baju tidur yang berbahan satin itu yang berwarna merah tua.
Anisa duduk di di depan cermin mengeringkan rambutnya yang terlihat basah. Tidak ada Agam di kamar tersebut dan Anisa juga tidak peduli dan bahkan tidak mencari Agam sama sekali.
Tidak lama Agam memasuki kamar dengan membuka pintu perlahan dan melihat Anisa yang duduk di depan cermin membuat Agam tersenyum miring yang melihat dari punggung saja Anisa sudah begitu cantik apalagi melihat rambut yang di keringkan dengan Hair Drayer itu membuat Agam tidak bisa berkata apa-apa. Langkah Agam perlahan mendekati Anisa berdiri di belakang Anisa dan Anisa kaget melihat dari cermin yang mana Agam sudah ada di belakangnya.
" Ada apa?" tanya Anisa. Agam tidak bicara sedikit membungkuk dengan ke-2 tangannya berada di bahu Anisa mengusapnya lembut dan mencium pipi Anisa lembut yang membuat Anisa kaget.
" Apa yang kau lakukan!" pekik Anisa yang langsung berdiri dan mendorong Agam.
" Memang ada apa. Bukannya kita sudah suami istri?" tanya Agam dengan langkahnya yang perlahan mendekati Anisa dan membuat Anisa perlahan mundur.
" Aku tau kita suami istri. Tapi kita menikah hanya untuk anak ini dan aku tidak bisa melakukan hal itu," sahut Anisa yang belum apa-apa menolak Agam.
" Itu tidak mungkin Anisa. Kau istriku dan sudah seharusnya kau melakukan tugasmu," ucap Agam yang menuntut Anisa.
" Aku belum siap," sahut Anisa yang menolak dan langsung pergi dari sadapan Agam. Namun Agam menahan tangannya.
" Tapi aku siap untuk membuatmu siap," ucap Agam dengan pelan yang membuat Anisa kaget dan Agam perlahan mendekati Anisa yang sudah berdiri di depan Anisa dan Anisa terus mundur sampai punggungnya sudah kandas pada meja rias dan Agam langsung mengangkat tubuh Anisa ke atas meja rias setelah menyapu isinya yang membuat Anisa kaget.
__ADS_1
" Apa yang kau lakukan Agam," ucap Anisa panik.
" Aku suamimu dan malam ini adalah malam pertama kita. Siap tidak siap kau harus melayaniku. Kita juga sudah pernah melakukannya dan itu tidak akan membuatmu kaget," ucap Agam sembari membelai wajah Anisa memegang dagu Anisa yang mana wajah itu menunduk. Agam mengangkat dagu itu dan mensejajarkan wajah mereka dan Agam langsung mengecup bibir Anisa.
" Aku sudah menyukaimu Anisa saat pertama kali kita bertemu jadi jangan membuatku untuk menahan hasrat ini. Aku menyukaimu Anisa dan malam ini adalah malam bahagia kita. Jadi mari kita laksanakan apa yang harus kita laksanakan," ucap Agam yang wajahnya begitu serius bicara pada Anisa.
" Aku, aku belum siap Agam, jangan melakukan itu," sahut Anisa yang menolak dengan bibirnya yang bergetar dan wajahnya yang panik.
Agam terlihat tidak peduli dengan penolakan Anisa dan Agam langsung mencium bibir Anisa dengan ********** perlahan. Anisa sudah menolak dan bahkan mendorong Agam.
Tetapi apa kuasanya Agam tidak mungkin melewatkan malam pertama mereka dan terus ******* bibir Anisa sampai akhirnya Anisa pasrah dan perlahan menerima ciuman Agam yang begitu dalam dan memberikan sensasi tersendiri untuknya.
Tanpa melepas ciuman itu Agam sekarang mengangkat tubuh kecil itu keatas tempat tidur dan ciuman Agam sudah berpindah pada leher Anisa yang membagikan Anisa waktu untuk bernapas. Anisa hanya pasrah dengan apa yang di lakukan Agam yang tidak henti-hentinya mencumbui dirinya menciumi tubuhnya tanpa ada yang tertinggal walau hanya sehelai benang pun.
Tangan Agam begitu jeli-jeli bermain di tubuh Annisa yang membuat Anisa tidak bisa mengendalikan dirinya dan bahkan merasa kenikmatan dengan permainan Agam di tubuh polosnya dan jangan tanya kapan pakaian itu terlepas. Karena Agam sepertinya begitu telatih dalam melakukan itu.
Tidak ada kata berhenti pada Agam yang di penuhi gairah yang memompa Anisa di bawahnya sana yang mana Anisa sudah lemas. Namun tidak bisa berkata apa-apa. Jujur dia pun merasa semua itu begitu nikmat dan tidak tau sudah berapa lama Agam menyetubuhinya dari ritme pelan santai dan cepat.
Agam seperti tidak ada puasnya dan seperti tidak ada hari esok yang terus menyentuh Anisa. Namun dia tetap berhati-hati. Karena ada bayi yang di kandung Anisa yang juga dua tidak egois yang akan menyakiti anaknya sendiri.
Keringat sudah membasahi ke-2nya sampai akhirnya Agam mengakhiri permainannya dengan napasnya yang tersenggal-senggal yang menatap Anisa yang di bawahnya yang terlihat begitu lelah. Agam tersenyum dengan mencium lembut kening Anisa, pipi kanan dan kiri Anisa lalu mengecup bibir Anisa, lalu Agam menjatuhkan diri di samping Anisa setelah dengan mengatur napasnya yang naik turun.
__ADS_1
Anisa bernapas lega dengan Agam yang akhirnya selesai Anisa menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan langsung memiringkan tubuhnya membelakangi Agam.
Agam melihat kesamping dan langsung memeluk Anisa dengan erat dari belakang.
" Terima kasih Anisa, aku sangat bahagia malam ini," ucap Agam dengan suara beratnya yang mencium pipi Anisa.
" Anisa tidak menjawab lagi dengan apa yang di katakan Agam dan dia hanya mencoba untuk mengatur napas dulu.
Malam itu juga Anisa langsung mandi, percintaan panas itu selesai jam satu malam dan Anisa pun mandi saat itu juga tidak lama Anisa keluar dari kamar mandi menggunakan handuk mandi dengan rambutnya yang basah dan di sana terlihat Agam bersandar di kepala ranjang dengan telanjang dada dan bagian bawahnya yang hanya di tutupi selimut yang pasti tubuh Agam masih polos.
Agam tersenyum melihat Anisa dan apa lagi melihat leher Anisa yang memerah penuh dengan karyanya. Namun Anisa tampak kesal dengan Agam. Bahkan Anisa juga kesal dengan dirinya sendiri yang tadi menolak Agam. Namun tubuhnya begitu menginginkan Agam. Dia merasa dia benar-benar begitu munafik.
" Jangan melihati ku seperti itu," sahut Anisa yang berlalu ke meja rias.
" Kamu marah kepadaku?" tanya Agam. Anisa diam saja dan tetap melakukan aktivitasnya di meja rias.
" Kamu makan?" tanya Agam. Anisa pun hanya diam yang memang tidak ingin menjawab Agam.
" Aku lapar Anisa. Kita pesan makanan ya," ucap Agam lagi yang sedari tadi bicara dan Anisa tidak menanggapi sama sekali yang merasa masa bodo dengan apa yang mau di lakukan Agam.
Bersambung
__ADS_1