
Akhirnya mereka telah sampai di Bali. Mereka semua sudah tiba di lobi Bandara menunggu jemputan. Terlihat Anisa yang gelisah melihat kekiri dan kekanan seperti mencari-cari.
" Hmmmm, semoga saja dia tidak mengikutiku. Semoga saja memang hanya kebetulan kami satu pesawat. Ya pasti hanya kebetulan. Aku rasa orang sepertinya tidak mungkin tidak punya pekerjaan. Dia pasti punya pekerjaan. Aku yakin itu," batin Anisa yang terus melihat-lihat di sekelilingnya yang melihat-lihat apakah Agam mengikutinya atau tidak.
" Kak Anisa kenapa?" tanya Nia yang melihat Anisa tampak kebingungan.
" Hah, kenapa memang aku kenapa," sahut Anisa yang salah tingkah.
" Aku lihat kak Anisa kayak gelisah gitu, kayak terjadi sesuatu aja," sahut Nia.
" Memang ada sesuatu Anisa?" tanya Ratih yang sepertinya juga memperhatikan gerak-gerik Anisa.
" Ha, ya nggak adalah Tante. Aku merasa aku biasa aja. Lagian aku kenapa aku tidak apa-apa kok," sahut Anisa tersenyum menutupi keresahannya.
" Mungkin Anisa agak tidak enak liburannya. Karena Sarah mungkin tidak ada," sahut Oma Wati menebak.
" Iya, benar sekali aku merasa tidak enak saja liburan tanpa mama," sahut Anisa menjadikan kata-kata Oma Wati sebagai alsan.
" Ya itu memang sangat wajar. Tidak apa-apa Anisa. Lagian ini hanya sekali-sekali saja," sahut Oma Wati.
" Iya Oma," jawab Anisa tersenyum.
" Anisa kamu harus tenang. Dia tidak mungkin mengikutimu. Percayalah semuanya akan baik-baik saja," batin Anisa yang menetralkan pikirannya.
" Itu mobilnya datang," sahut Zahra menunjuk mini bus yang cukup untuk mengangkut mereka semuanya.
" Ya sudah ayo," sahut Rendy. Mereka mengangguk. Rudi dan Rania membantu Willo untuk masuk terlebih dahulu. Karena repot dengan Willo yang di angkat di kursi roda.
Sementara Rendy dan Elang juga supir mobil membantu memasuki barang-barang kedalam bagasi dan juga kedalam mobil sebagian. Karena pasti bagasi tidak akan muat.
Yang lain juga masuk satu persatu. Dari keponakan Rania yang di bantu suster sampai suster. Oma, Wati, Anisa. Saat Zahra ingin masuk. Tiba-tiba saja mata Zahra melihat Cindy yang memasuki mobil yang di bukakan oleh supir dan mobil itu pun langsung melaju.
" Cindy, dia ada di sini. Apa Elang dan Cindy janjian ada di sini," batin Zahra dengan pikirannya yang lain yang terus melihat mobil yang semakin jauh itu.
" Zahra!" tegur Rania yang berada di belakang Zahra yang menunggu Zahra masuk.
__ADS_1
" Ha, iya kenapa," sahut Zahra tersentak kaget dengan teguran Rania.
" Kenapa diam, ayo masuk," ucap Rania.
" Oh, iya," sahut Zahra yang langsung masuk dan mencari tempat duduk.
" Bukannya Elang sudah berjanji tidak akan berhubungan dengan Cindy selama pernikahan. Tetapi kenapa dia malah janjian dengan Cindy berada di Bali. Apa menurut Elang menjadi kesempatan besar untuknya bersama-sama dengan Cindy di Bali," batin Zahra yang berpikiran buruk pada Elang.
Rania yang duduk di samping Zahra memperhatikan mimik wajah Zahra yang terlihat begitu sendu dan seperti banyak beban pikiran yang di otak Zahra.
" Zahra kamu tidak apa-apa?" tanya Rania.
" Tidak apa-apa," jawab Zahra bohong. Rania percaya-percaya saja. Walau dia merasa temannya itu sepertinya ada sesuatu.
" Apa semuanya sudah masuk?" tanya Rendy yang mengecek kedalam.
" Sudah kak Rendy ayo let's go," sahut Nia dengan semangatnya.
" Let's go," sahut Lulu dan Dedy yang tidak kalah semangatnya yang mengundang tawa kecil semua orang di dalam bus.
" Kalian berdua ingat jangan bandal-bandal," ucap Willo memperingati.
" Oke kita berangkat," sahut Rendy yang akhirnya masuk dan duduk di dekat pintu.
************
Villa mewah.
Akhirnya mereka sampai di Villa tempat mereka liburan. Jarak dari bandara hanya 40 menit. Jadi memang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat saja.
Supir, Rendy, dan Elang kembali menuruni koper-koper dari dalam mobil. Sementara yang lainnya sudah mulai memasuki villa tersebut.
" Hmmmm, baiklah sekarang kita sudah sampai Nia akan menunjukkan kamar kalian masing-masing," sahut Nia yang sepertinya masalah urusan Villa adalah pekerjaan dan mungkin Villa itu juga rekomendasi dari dia.
" Si sini ada kamar yang besar dan yang sedang. Jadi untuk kak Willo, Lulu dan Della, Pak Rudi dan Dedy 1 kamar. Aku, kak Anisa satu kamar. Dan pasti untuk pasutri satu kamar. Jadi silahkan ya cari kamarnya masing-masing," ucap Nia yang membagikan arahan.
__ADS_1
" Iya Nia," sahut semuanya serentak.
" Baiklah, sekarang kita beres-beres koper dulu. Kita istirahat sebentar baru liburan," sahut Rania menambahi. Karena dia juga sangat lelah hari ini.
" Ya sudah Ayo," sahut Zahra yang langsung pergi terlebih dahulu.
Zahra sepertinya mood ya tidak bagus. Dia bahkan menyeret kopernya sendiri mengambil dari Elang. Hal itu juga membuat banyak pertanyaan dari Elang mengenai Zahra yang tiba-tiba aneh. Setelah Zahra pergi yang lain juga menyusul untuk kekamar masing-masing.
**********
Zahra berada di dalam kamar yang menyusun pakainnya ke dalam lemari yang di sediakan. Mereka memang rencananya akan liburan 2 hari. Namun berubah pikiran menjadi double. Mungkin karena Rania juga jadi Rendy yang seakan tau apa yang di inginkan istrinya.
Tidak lama Elang memasuki kamar dan melihat Zahra yang kesulitan mengangkat koper yang sudah kosong. Zahra ingin mengangkatnya ke atas lemari dan Elang langsung spontan membantu Zahra.
" Biar aku saja," ucap Elang.
" Tidak perlu," sahut Zahra menolak dan kembali berusaha sendiri.
" Kamu tidak bisa Zahra. Jadi biar aku yang melakukannya," sahut Elang yang mencoba mengambil alih koper itu lagi.
" Aku bisa sendiri," sahut Zahra lagi yang benar-benar tidak mau di bantu Elang.
" Biar aku saja," sahut Elang menegaskan.
" Aku bilang tidak!" sahut Zahra dengan suara gertakan yang membuat Elang kaget dengan Zahra yang tiba-tiba marah dan bahkan Zahra menjauhkan koper itu dari Elang.
" Kamu kenapa sih?" sahut Elang heran.
" Kamu yang apa-apaan. Aku sudah mengatakan tidak maka tidak," sahut Zahra dengan wajah marahnya.
" Ya kenapa tiba-tiba seperti ini. Biasanya kamu juga tidak seperti ini," sahut Elang. Zahra mendengus kasar dengan kata-kata Elang.
" Maksud kamu apa, biasanya seperti apa. Biasanya yang sangat bodoh yang percaya dengan kata-kata Pria sok menyesal seperti mu," sahut Zahra dengan menekan suaranya.
" Apa yang kamu katakan Zahra. Kenapa bicara mu melantur seperti ini," sahut Elang heran.
__ADS_1
" Hah sudahlah," sahut Zahra mengibas tangannya di depan Elang, " aku capek Elang dengan Drama kamu yang seakan menyesal, menepati janji. Tapi apa kamu tidak melakukannya. Kamu tetap egois," tegas Zahra yang pergi begitu saja dari hadapan Elang yang membuat Elang heran dengan sikap Zahra.
Bersambung