
Rania akhirnya hari ini melakukan USG untuk kandungannya. Seperti apa yang di katakan suaminya kemarin Rania USG tanpa harus melihat hasil USG nya. Karena Rendy tidak ingin istrinya kepikiran dengan masalah kandungannya.
Rania tidak melihatnya tidak di bius juga. Dia tetap berada di atas tempat tidur dan Dokter sedang memeriksanya di mana perut Rania terasa geli dengan benda yang berputar-putar di perutnya.
Rania pun tetap santai dengan tangannya yang terus memegang tangan suaminya yang suaminya hanya berusaha untuk tenang saat melihat bayi mereka yang ada di rahim Rania melihat di layar monitor.
Sesuai dugaan Rendy. Di mana gumpalan besar itu terlihat dengan jelas. Bahkan gumpalan itu semakin membesar tidak sama dengan beberapa waktu lalu yang juga di cek Rendy dan Dokter kandungan Rania.
Dokter Anita yang sekarang menjadi Dokter Rania. Melihat kearah Rendy seakan memberi tau Rendy sesuatu. Rendy hanya mengangguk dengan pelan yang pasti hanya pasrah dengan apa yang terjadi. Yang penting Rendy tidak mau jika harus membahas masalah itu saat ada istrinya. Dia tidak ingin istrinya harus kepikiran dengan kondisinya tersebut.
" Apa sudah selesai dokter?" tanya Rania merasa Dokter tersebut bengong.
" Sudah Bu Rania," jawab Dokter menghentikan pekerjaannya dan Rania menurunkan bajunya untuk menutup perutnya.
" Ya sudah kalau begitu saya keluar dulu," ucap Dokter pamit. Rania mengangguk-angguk dan Rendy membantunya untuk duduk.
" Hasilnya apa?" tanya Rania.
" Kita lihat nanti ya," jawab Rendy.
" Baiklah," sahut Rania mengangguk dengan tersenyum.
**********
Akhirnya Rania pun mengetahui jenis kelamin anaknya yang mana jenis kelamin anaknya adalah perempuan. Rania yang duduk di atas tempat tidur terus tersenyum melihat hasil USG bayinya dan Rendy duduk di sampingnya dengan mengusap-usapnya kepalanya.
__ADS_1
" Dia sudah mulai terlihat, sangat cantik," ucap Rania. Rendy mengangguk. Kandungannya memang sudah 23 Minggu.
" Dia akan cantik seperti kamu," sahut Rendy.
" Alhamdulillah kalau dia mirip denganku dengan begitu kamu tidak akan pernah kehilangan aku. Karena melihat putri kita. Kamu juga akan melihat aku," ucap Rania yang tersenyum pada suaminya. Rendy hanya mengangguk-angguk saja.
" Kamu harus sembuh sayang. Anak kita pasti ingin terus bersama ibunya," ucap Rendy.
" Iya, aku pasti akan sembuh. Kita sama-sama berdoa. Tetapi jika takdir tidak berpihak padaku. Mau bagaimana lagi. Yang penting aku pergi tidak sia-sia," ucap Rania. Rendy harus menanggapi dengan senyuman terpaksa atas kata-kata istrinya itu.
***********
Hari-hari Rania harus di laluinya di dalam rumah sakit. Dari hari Minggu berganti untuk pemulihannya. Keluarganya papanya dan kakaknya juga sekali-kali menginap di rumah sakit untuk menemani Melody.
Semenjak pulang dari umroh Willo juga sudah memakai hijab. Sama dengan Rania yang Istikomah dalam hijabnya karena dorongan suaminya dan pasti semua itu karena keyakinan dirinya karena akan takut dengan dosa.
Anisa dan keluarganya sedang mengalami duka atas kehilangan bayi Anisa dan juga Agam. Kondisi Anisa pun masih dalam pemulihan di rumah sakit di Luar Negri.
Untuk Zahra sendiri ternyata masih betah di tempat mertuanya yang bayinya mungkin sudah bertambah besar. Zahra berkomunikasi dengan yang Rania dan lainnya hanya menggunakan Vidio Call saja yang mana Zahra pasti terus menayakan kondisi Rania.
Untuk kondisi Rania pasti hanya seperti-seperti itu saja. Sakit terus di alaminya, semakin hari semakin lemah, semakin berjuang untuk kandungannya yang begitu lemah.
Sama dengan hari ini di mana Rania yang tertidur karena sejak tadi dia terus drop dan bahkan kesakitan dengan berteriak-teriak. Dan baru bisa tenang sejam dari kejadian sebelumnya.
Selain punggung tangannya yang terpasang infus. Hidungnya juga di pasang infus untuk membantu pernapasannya.
__ADS_1
Ceklek.
Rendy memasuki ruangan Rania. Melangkah mendekati tempat tidur Rania Rendy lega jika Rania masih tidur dengan begitu istrinya bisa tenang sejenak dan tidak merasa sakit. Rendy menunduk dengan mencium kening Rania. Lalu duduk di samping Rania dengan mengusap-usap punggung tangan Rania.
" Kamu wanita yang kuat. Tidak ada yang sia-sia sayang semuanya akan bisa kita hadapi. Maafkan aku. Aku tidak bisa melakukan banyak hal untukmu. Maaf sayang," ucap Rendy yang menatap wajah Rania yang tertidur begitu tenang.
Rendy melihat amplop pink yang pasti itu surat. Sewaktu subuh selesai sholat Rendy melihat Rania menulisnya dan pasti jika sudah di tulis beberapa jam akan di berikan kepadanya. Tetapi karena jam 8 kondis Rania drop mungkin Rania tidak sempat memberikannya pada Rendy.
Rendy pun mengambil surat itu. Dan langsung membacanya.
..." Sayang kalau aku drop itu bukan salah kamu. Jadi jangan berpikir jika semua itu salah kamu. Kan aku memang sakit dan kalau drop itu sudah biasa. Aku tidak apa-apa. Seperti yang aku katakan sakitnya akan hilang dengan sendirinya dan kalau sudah tertidur. Pasti saat bangun akan hilang lagi. Oh iya sayang aku ingin sekali-kali kamu membalas surat ku. Katakan kepadaku. Jika kamu tidak akan khawatir lagi. Oke. Aku mencintaimu," tulis Rania di dalam suratnya yang terus mengatakan cinta pada suaminya....
Selesai membaca surat itu. Rendy melihat ke arah istrinya menatapnya dengan sendu. Rendy kembali melihat ke arah nakas dan melihat tumpukan buku. Rania memang sangat banyak membaca buku belakangan ini.
Rendy mengambil salah satu buku yang tak lain adalah tata cara dalam merawat bayi. Rendy juga melihat ada buku agenda hitam dan langsung melihatnya di mana Rania ternyata merangkum apa yang ada di buku menuliskan pada agenda tersebut dengan rapi.
Rania seolah membuat rumusan tata cara mengurus bayi mencatat yang penting-penting dan seolah-olah membuatnya khusus untuk Rendy. Agar Rendy nanti tidak kewalahan mengurus anak mereka.
Rania begitu rapi dalam menulisnya yang mungkin sudah banyak membaca dan melihat-lihat di YouTube dan menyimpulkan sendiri.
" Anak itu biasanya rewel di pada tengah malam. Jadi siapkan waktu tidur. Agar tidur kamu tidak kurang saat anak kita menangis,"
Terlintas tulisan yang di baca Rendy dari sekian banyaknya. Sedetail itu Rania menulisnya dan mungkin setiap hari Rania menambah tulisan di dalam lembaran itu.
Karena Rendy terus membuka lembaran-lembaran demi lembaran dan sampai-sampai merek popok, merek susu, tempat makan khusus bayi telah di susun Rania dengan rapi di tulis Rania dengan lengkap.
__ADS_1
" Rania jika kamu berusaha untuk melahirkan anak hanya untukku. Maka berusahalah untuk tetap di sisiku dan kita merawat anak kita bersama-sama," ucap Rendy dengan tetasan air matanya menatap istrinya yang tertidur tenang.
Bersambung