
" Argggghhh," teriak Anisa di dalam kamarnya dengan menyapu semua isi meja riasnya, " Rania kamu sangat berani bicara padaku. Kamu sungguh berani Rania!" teriaknya yang terlihat frustasi dengan memberantaki semua seisi kamarnya, menarik selimut dari atas tempat tidur, melempari bantal ke sembarang tempat.
" Anisa!" gertak Sarah yang mendengar suara-suara ribut-ribut dan Sarah langsung masuk kedalam kamar itu.
" Apa yang kamu lakukan Anisa?" tanya Sarah dengan matanya melotot melihat anaknya itu yang seperti kerasukan.
" Rania ma, Rania sudah mengacaukan semuanya. Dia semakin lama, semakin berani bicara. Mama tau apa yang di katakannya tadi. Dia berani menegurku untuk tidak masuk kekamar Rendy," ucap Anisa dengan suaranya menggelegar, wajah itu seperti monster kelaparan.
" Apa, kamu bilang dia berani mengatakan seperti itu," sahut Sarah tampak terkejut.
" Iya mah, dia sangat berani mengatakannya. Bahkan mama harus tau aku melihat dengan mataku dia dan Rendy... Ahhhhhh," teriak Anisa yang tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.
" Anisa kamu tenanglah, kamu jangan teriak-teriak, seisi rumah bisa mendengar kamu dan orang-orang di rumah ini akan bertanya-tanya apa yang terjadi sama kamu. Mau kamu seperti itu," ucap Sarah mengingatkan.
" Mama tidak tau apa yang aku rasakan," sahut Anisa dengan air matanya yang keluar dan menunjuk dadanya dengan jari telunjuknya.
" Anisa, mama mengerti perasaan kamu. Tapi kamu harus tau, jika kamu seperti ini orang-orang yang ada di dalam rumah ini. Hanya akan tau apa tujuan kita di rumah ini. Jadi kamu harus tenang kamu harus menenangkan diri kamu," ucap Sarah mengingatkan Anisa.
Anisa mencoba menenangkan dirinya menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan ke depan. Lalu langsung duduk di pinggir ranjang. Sarah pun menyusul Anisa duduk di pinggir ranjang.
" Mama mengerti perasaan kamu Anisa. Mama tau apa yang kamu rasakan. Tapi tidak seperti ini Anisa. Kita harus lebih pintar untuk membuat Rania keluar dari rumah ini," ucap Sarah.
" Tapi ma, dia selalu menang dari kita. Mama lihat sendiri dia semakin lama semakin berani," ucap Anisa.
" Kamu jangan khawatir. Rania tidak akan bertahan di rumah ini. Karena kamu juga harus tau. Oma Wati juga tinggal di sini dan kamu tau alasannya tinggal di sini untuk apa," ucap Sarah membuat Anisa menatap mamanya dengan serius.
" Untuk apa, memangnya?" tanya Anisa
" Anisa, mama dengar sendiri Oma Wati itu menginginkan cucu dari rumah ini yang itu artinya dari Rendy. Yang berarti dia akan terus mendesak Rania untuk memberikan keturunan di rumah ini," ucap Sarah.
" Ya kalau begitu. Permintaan Oma Wati hanya akan memberikan peluang besar untuk Rania dan Rendy yang akan semakin dekat. Dan jika Rania hamil, itu hanya akan semakin membuat Rania semakin di nomor 1 kan di rumah ini dan hubungan Rania dan Rendy akan semakin dekat," ucap Anisa yang sudah bisa menerka-nerka apa yang terjadi kedepannya.
" Tidak seperti yang kamu bayangkan Anisa," ucap Sarah membuat Anisa menatap sang mama heran.
" Maksud mama?" tanya Anisa.
" Anisa, kamu taukan Rania itu wanita seperti apa. Dia dari keluarga yang tidak beres. Rania suka minum-minum keras dan paling parahnya dia juga wanita yang bukan virgin. Karena pasti dia sering berhubungan dengan banyak laki-laki. Dia menikah dengan Rendy. Pasti dia melakukan sesuatu makanya Rendy bersedia menikahinya dan jelas Rendy sebagai Dokter tau wanita itu seperti apa," Apa yang di bicarakan Sarah membuat Anisa semakin bingung.
" Maksudnya seperti apa, Anisa tidak mengerti," ucap Anisa.
" Rania, walau Rendy terjebak dalam pernikahan ini. Dia jelas tidak mau terkena penyakit dari Rania!" ucap Sarah.
" Penyakit, penyakit apa?" tanya Anisa.
" Apa lagi, kalau bukan HIV," sahut Sarah membuat Anisa kaget.
" Mama tau dari mana dia punya penyakit berbahaya itu?" tanya Anisa yang masih terkejut.
__ADS_1
" Wanita yang suka berhubungan dengan banyak laki-laki. Apalagi kalau bukan HIV nama penyakit dari perbuatan Zina itu dan Rendy pasti tau hal itu, makanya dia tidak pernah menyentuh Rania," jelas Sarah.
" Mereka belum bersentuhan, mama tau dari mana," sahut Anisa kebingungan.
" Ya, buktinya Rania tidak hamil-hamil," sahut Sarah.
" Tapi itu tidak mungkin ma, mereka sudah lama menikah mana mungkin tidak bersentuhan dan lagian mereka juga pernah tinggal 1 bulan berduaan. Itu tidak masuk akal ma," ucap Anisa yang tidak percaya. Apa lagi tadi matanya melihat jelas apa yang terjadi antara Rendy dan Rania.
" Itu jelas mungkin Anisa. Karena Rendy tidak mungkin menyentuh wanita itu. Karena punya penyakit seperti itu," sahut Sarah meyakinkan Anisa.
" Lalu jika memang tidak saling bersentuhan. Lalu di mananya yang akan membuat Rania tidak akan tahan di rumah ini," sahut Anisa.
" Anisa, ya sudah jelas. Rania akan mendapat tekanan dan akan membuatnya tidak betah di rumah dan yang paling parahnya Rendy juga lama-lama akan muak kepadanya," ucap Sarah.
" Tapi bukannya mama juga sering melihat, jika Rendy sering membelanya. Dan Rendy juga tau semua tentangnya. Tapi tetap menikahinya. Bahkan jika Rania benar terkena HIV dan Rendy masih tetap menjadikannya istri, dia tidak menceraikannya," ucap Anisa dengan wajah cemasnya.
" Karena kamu tau Rendy. Dia sangat penurut pada ibunya dan semua itu karena ibunya," sahut Sarah.
" Maksud mama?" tanya Anisa.
" Kuncinya bukan pada Rendy Anisa. Tetapi pada Ratih. Rendy masih mempertahankan Rania karena Ratih. Jadi kuncinya ada pada Ratih," ucap Sarah.
" Jadi maksud mama, kita akan membuat Tante Ratih membenci Rania dan dengan begitu hubungan Rendy dan Rania akan terpecah bela. Jika Tante Ratih sudah tidak menginginkan Rania menjadi menantunya," ucap Anisa yang menerka-nerka.
" Hmmm, itu kamu tau," sahut Sarah menyunggingkan senyumnya.
" Anisa, kamu hanya fokus pada Ratih, kamu harus membuat kamu adalah wanita sempurna. Sehingga Ratih sangat menyesal menikahkan Rania dan Rendy," ucap Sarah.
" Iya mama benar, aku akan membuat Tante Ratih berpihak padaku, agar Tante Ratih sendiri yang akan menendang Rania dari rumah ini," ucap Anisa dengan tersenyum miring.
" Iya memang itu yang harus kamu lakukan. Kamu akan menang dari Rania. Karena memang kamulah yang pantas menjadi Rendy. Kamu yang pantas menjadi nyonya di rumah ini. Kamu yang pantas bersanding di pelaminan bersama Rendy. Bukan dia, wanita yang tidak beres itu," ucap Sarah dengan menyunggingkan senyumnya.
Anisa juga tersenyum, ibu anak itu sama-sama tersenyum dengan wajah mereka yang penuh rencana untuk menghancurkan rumah tangga orang lain.
**********
Walau sudah bangun, tetapi Rendy masih lemas. Tetapi paling tidak dia bisa bicara. Jadi tau apa yang di inginkannya. Rania juga bisa memberinya makan dan juga obat seperti biasanya.
Rania, terus merawat Rendy dengan ketulusan, meninggalkan pekerjaannya dan memilih menyelesaikan di rumah agar bisa mengontrol kesehatan suaminya.
Walau dia sambil bekerja sambil mengurus Rendy. Tetapi semua di lakukannya dengan tulus dan jelas menjadi sangat mudah.
Rendy yang beristirahat sejak tadi sore, akhirnya terbangun dengan membuka matanya perlahan. Rendy memijat dahinya yang mungkin masih terasa sangat berat.
Rendy mencoba menggerakkan tubuhnya bergeser sedikit agar bisa duduk dan usahanya berhasil yang membuatnya duduk dan bersandar di kepala ranjang dengan di beri bantal sebagai pelapis punggungnya.
Rendy menoleh kedepannya yang ternyata Rania yang di carinya sedari tadi sedang melaksanakan ibadah sholat. Melihat istrinya yang sudah bisa sholat sendiri membuat hatinya begitu tenang. Ya selama ini Rania akan sholat jika ada Rendy, bersama dengan Rendy.
__ADS_1
Suatu kemajuan untuk Rania yang mungkin tingkat kesadarannya semakin meninggi yang tau apa kewajibannya yang tidak boleh di tinggalkannya. Hal itu justru membuat Rendy semakin cepat sembuh. Wajah Rendy juga begitu berseri, senyum yang indah itu terpancar yang melihat betapa sholeha nya istri cantiknya itu.
" Assalamualaikum, warahmatullahi,"
" Assalamualaikum warahmatullahi,"
Rania mengucapkan salam dan mengusap wajahnya dengan tangannya dan juga langsung mengarahkan tangannya untuk berdoa. Yang mana di panjatkannya, di dalam hatinya.
Selesai berdoa Rania langsung berdiri. Dan matanya langsung melihat ke arah suaminya yang ada di sana.
" Kamu mau sudah bangun?" tanya Rania. Rendy mengangguk.
" Kamu butuh sesuatu?" tanya Rania lagi.
" Kemarilah!" panggil Rendy dengan suara lembutnya membuat Rania bingung namun melangkah pelan mendekati Rendy.
" Ada apa!" tanya Rania heran.
" Ayo duduk," ucap Rendy menepuk di sampingnya dan Rania pun duduk di samping Rendy yang berhadapan dengan Rendy.
" Terima kasih kamu, sudah merawatku," ucap Rendy yang menatap dalam-dalam Rania.
" Bukannya memang seharusnya aku melakukan itu kan tidak mungkin Anisa yang merawatmu," sahut Rania membuat Rendy mengkerutkan dahinya bingung mendengar Rania yang tiba-tiba membawa-bawa nama Anisa.
" Anisa, ada apa dengannya?" tanya Rendy.
" Tidak. Tidak apa-apa. Tapi sepertinya dia punya kejiwaan perawat yang memaksa," ucap Rania membuat Rendy semakin bingung.
" Maksudnya?" tanya Rendy.
" Sudahlah lupakan," sahut Rania yang tidak mau membahas Anisa.
" Rania ada apa sebenarnya, kenapa tiba-tiba membicarakan Anisa?" tanya Rendy yang tidak ingin istrinya berpikiran sesuatu.
Tok-tok-tok-tok.
" Aku buka dulu," ucap Rania. Rendy mengangguk. Rania pun langsung membukanya dan ternyata Nia adik iparnya.
" Ada apa Nia?" tanya Rania.
" Ini kak, buah yang kakak pesan tadi," ucap Nia. Memberikan kantung plastik yang berisi buah-buahan.
" Ya ampun makasih ya Nia, kakak sudah merepotkan kamu," ucap Rania merasa tidak enak.
" Santai aja. Ya sudah Nia balik kekamar dulu ya, masih ada tugas kuliah," ucap Nia pamit.
" Iya, sekali lagi makasih ya," ucap Rania. Nia mengangguk lalu pergi dan Rania langsung masuk kedalam dan mengkunci pintu kamar membuat Rendy heran.
__ADS_1
Ya mungkin Rania tidak ingin ada tamu yang tidak di undang masuk sembarangan kamarnya. Jadi dia harus mengkuncinya.
Bersambung