
Rania masih tetap memijat kepala suaminya dengan lembut yang berada di pangkuannya. Dan Rendy masih memakamkan matanya yang begitu menikmati sentuhan istrinya itu.
" Rendy!" tegur Rania.
" Kenapa?" tanya Rendy tanpa membuka matanya.
" Apa di sini, susah sinyal?" tanya Rania tiba-tiba membuat Rendy membuka matanya dan melihat Rania dan wajah Rania begitu serius membuat Rendy bingung.
" Iya, memang kenapa. Kamu ingin menghubungi seseorang?" tanya Rendy. Tania menggeleng.
" Lalu?" tanya Rendy heran.
" Kapan ada sinyalnya?" tanya Rania.
" Biasanya sih pagi-pagi sekali," jawab Rendy.
" Dan kamu menggunakan kesempatan itu untuk menghubungi orang di rumah?" tanya Rania membuat Rendy menatap Rania heran.
" Maksud kamu?" tanya Rendy bingung.
" Kamu 2 hari di sini dan tidak menghubungiku sama sekali. Kamu menghubungi Anisa dengan kesempatan sinyal yang ada," ucap Rania membuat Rendy kebingungan.
" Aku menghubungi Anisa," sahut Rendy tampak bingung. Rania mengangguk.
" Kapan. Lagian untuk apa aku menghubunginya. Selama di sini. Jangankan Anisa mama saja aku tidak pernah menghubunginya. Karena memang sesulit itu untuk berkomunikasi," ucap Rendy apa adanya.
" Kamu tidak menelpon Anisa?" tanya Rania. Rendy menggelengkan kepalanya.
" Jadi Rendy. Tidak menelpon Anisa. Lalu yang aku dengar Anisa yang saling menelpon dengan Rendy apa. Apa Anisa sedang berbohong. Dia mengarang-ngarang cerita," batin Rania tampak penuh pikiran.
" Rania ada apa. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Rendy heran.
" Anisa mengatakan. Kalau kamu menelponnya," jawab Rania jujur. Rendy mengkerutkan dahinya mendengarnya..
__ADS_1
" Kapan aku melakukannya. Dan bagaimana bisa aku menghubunginya. Mama saja aku kesulitan mengabarinya, jangankan mama. Kamu saja tidak bisa di hubungi," sahut Rendy heran.
" Berarti Anisa memang berbohong. Tetapi kenapa dia harus sampai berbohong. Apa yang di inginkannya sebenarnya. Apa dia sengaja ingin membuatku memikirkan hal itu atau seakan ingin menyadarkan diriku," batin Rania dengan penuh teka-teki di dalam hatinya.
" Rania apa terjadi sesuatu?" tanya Rendy yang merasa ada yang tidak beres. Di lihat dari ekspresi wajah Rania yang penuh pikiran.
" Rendy, aku bertanya sesuatu padamu," sahut Rania.
" Iya tanyalah, ada apa?" sahut Rendy.
" Apa kamu dan Anisa punya hubungan special?" tanya Rania memberikan diri untuk bertanya.
" Kenapa kamu bicara seperti itu. Memang apa yang membuatmu sampai punya pikiran seperti itu?" tanya Rendy. Rania diam tanpa bisa menjawab langsung.
" Rania ada apa sebenarnya, apa ada beban yang kamu pikirkan?" tanya Rendy melihat wajah Rania dengan serius.
" Rendy aku hanya kepikiran. Jika kamu menikahiku. Hanya karena menjaga nama baik keluargamu. Dan aku kepikiran jika pernikahan ini membuat kamu tersiksa," ucap Rania pelan.
" Apa yang kamu bicarakan. Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu. Apa ada yang aku lakukan sampai kamu punya pikiran seperti itu," ucap Rendy. Rania menggeleng.
" Apa kamu pikir jika aku dan Anisa ada hubungan dekat dan kamu mengira kita menikah hanya untuk sementara dan akhirnya aku akan bersama Anisa," ucap Rendy seakan tau apa yang di pikiran Rania. Rania melihat mata Rendy yang menatapnya dengan dalam.
" Kamu punya pikiran seperti itu?" tanya Rendy memastikan. Rania mengangguk pelan.
" Rania, kamu tau alasan ku untuk menikahimu apa. Dan saat aku menikahimu. Tidak ada yang aku korbankan. Aku tidak menjalin hubungan dengan siapapun dan bagiku pernikahan itu ibadah terlama. Bukan sementara yang aku selesai menikahimu lalu mengakhirinya. Aku tidak punya pikiran seperti itu dan masalah dengan Anisa demi Allah aku tidak ada hubungan dengannya," ucap Rendy menatap Rania dalam-dalam.
" Ya Allah, kenapa Rendy harus bicara seperti itu. Seolah dia meyakinkanku," batin Rania dengan perasaannya yang kembali bergetar.
" Rania, kita sudah sepakat di awal akan menjalani semuanya," lanjut Rendy lagi.
" Maafkan aku Rendy," sahut Rania merasa bersalah, " aku tidak bermaksud untuk menanyakan masalah itu. Aku tiba-tiba kepikiran itu saja," sahut Rania. Rendy tersenyum mendengarnya. Dan mengusap lembut pipi Rania.
" Aku akan memijat lagi," sahut Rania dengan cepat melepas tangannya dari Rendy memijat kepala Rendy lagi. Karena dia mulai salah tingkah dengan tatapan Rendy.
__ADS_1
" Ya Allah, kenapa dia masih melihatku seperti itu," batin Rania yang tampak gugup. Rania memang menunduk memijat kepala Rendy yang membuat wajahnya dan Rendy begitu dekat sehingga napas mereka saling menerpa.
Rania kelihatan gugup dan tidak berani melihat mata Rendy. Dan Rendy tersenyum dengan mengusap-usap pipi Rania terus sampai akhirnya Rendy mengangkat kepalanya sedikit yang langsung mengecup bibir Rania membuat Rania kaget sampai melotot melihat Rendy dengan menelan salavinanya.
" Aku tidak percaya. Jika kamu sampai memikirkan hal itu," ucap Rendy tersenyum mengusap lembut bibir Rania dengan jarinya. Rendy kembali mengangkat kepalanya dan mencium kembali bibir Rania dan Rania dengan cepat memejamkan matanya. Bahkan lebih menunduk lagi. Agar Rendy semakin mudah mencium nya dengan dalam.
Ciuman itu ternyata semakin dalam. Dan Rania tidak keberatan sama sekali dengan ciuman yang sudah 2 kali di lakukannya dengan suaminya yang mungkin untuk membangun awal dari hubungan mereka.
tok-tok-tok-tok.
Ketukan pintu membuat ke-2nya saling melepas ciuman itu dan Rani mengatur napasnya perlahan dan saat ke-2 mata itu saling bertemu. Mereka saling canggung kembali.
" Aku akan membuka pintu," ucap Rendy. Rania mengangguk. Lalu Rendy bangkit dari pangkuan Rania dan langsung keluar kamar untuk membuka pintu.
Setelah kepergian Rendy. Rania memegang bibirnya yang masih basah karena ciuman manis itu. Lalu membuatnya tersenyum miring.
" Kenapa tidak melakukan yang lain," celetuknya tiba-tiba. Namun sadar dengan ucapannya yang ada-ada saja.
" Rania apa yang kamu katakan. Apa kamu gila," batin Rania merasa bodoh sendiri dengan kata-katanya dan malah tersenyum lagi lalu menarik selimut dan heboh sendri menutup dirinya di dalam selimut dengan kakinya yang di goyang-goyangkannya. Seperti cacing kepanasan.
" Rania aku mau pergi," sahut Rendy tiba-tiba datang dan kaget melihat Rania dan Rania yang berada di dalam selimut terkejut mendengar suara Rendy.
" Kenapa dia cepat sekali masuk kamar," gumam Rania yang schok sendiri. Rania merapatkan giginya dan malu sendiri dan perlahan membuka selimut dari tubuhnya.
" Hah, iya kenapa?" tanya Rania dengan menahan malu.
" Aku mau keluar ada keperluan sebentar," ucap Rendy yang masih kebingungan dengan Rania.
" Oh, begitu rupanya. Lama?" tanya Rania.
" Aku tidak tau kapan akan selesai," jawab Rendy.
" Aku boleh ikut?" tanya Rania.
__ADS_1
" Ya sudah ayo, kalau kamu memang mau ikut," jawab Rendy. Rania tersenyum dan akhirnya pun bangkit dari tempat tidur dengan semangat untuk mengikuti Rendy. Walau dia masih malu dengan Rendy karena kerandoman nya barusan.
Bersambung