Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 148 peringatan untuk Anisa.


__ADS_3

" Maafkan aku ya Rania gara-gara aku, kamu sama Rendy jadi bertengkar," ucap Zahra yang merasa bersalah pada Rania. Dia sampai mendatangi Rania kekamarnya untuk meminta maaf pada sahabatnya itu.


" Tidak apa-apa Zahra, semuanya sudah terlanjur," sahut Rania.


" Lalu apa Rendy sudah baikan dengan kamu?" tanya Zahra.


" Zahra Rendy itu sangat baik sabar dan segalanya dia hanya akan marah jika dalam kebohongan dan jika ada yang di tutupi. Untuk hal lain dia tidak pernah marah dan wajar jika sampai detik ini dia masih marah kepadaku," ucap Rania yang pasrah akan dirinya dan juga Rendy.


" Maafkan aku Rania, semua ini gara-gara aku," sahut Zahra.


" Sudahlah tidak apa-apa. Nanti kalau Rendy pulang aku akan coba bicara lagi padanya," sahut Rania yang mencoba tenang.


" Aku doakan ya semoga kamu dan Rendy baik-baik saja," ucap Zahra.


" Amin. Lalu kamu bagaimana apa sudah bicara lagi pada Tante Ratih?" tanya Rania.


" Aku belum berani menemuinya. Tante Ratih sangat marah kepadaku dengan apa yang terjadi antar aku dan Elang. Apa lagi kamu tau sendiri. Keluarga ini sangat membenci perzinaan. Bahkan tidak akan ada ampunan untuk itu dan ini juga belum di ketahui Oma, mungkin akan lebih parah jika Oma tau," ucap Zahra dengan raut wajahnya yang begitu sedih.

__ADS_1


" Zahra tadi pagi kan kamu bicara dengan tidak sejelasnya pada Tante Ratih. Kamu hanya bicara seteng-tengah. Coba deh kamu bicara lagi dengan Tante Ratih, bicara pelan-pelan dan ceritakan semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi dengan begitu Tante Ratih akan mengerti," jelas Rania memberikan saran.


" Ya semoga saja, aku berharap masalah ini cepat selesai dan aku akan menerima konsukuensinya," ucap Zahra dengan lapang dada menerimanya.


" Dan Elang apa memang kamu akan melepasnya?" tanya Rania memastikan.


" Rania Elang itu bukan siapa-siapa ku. Aku tidak bisa membuat dia di sisiku. Aku tau dia ada niat untuk bertanggung jawab. Tapi di sisi lain dia juga tidak mau menyakiti kekasihnya. Dan apa yang terjadi bukan keinginannya dan mungkin seperti yang aku katakan. Biar aku yang menanggung semua resiko ini. Dan jika Elang ingin membantu aku juga tidak bisa melarangnya," jawab Zahra dengan wajahnya yang terlihat begitu sendu.


" Ya sudah aku hanya bisa berdoa untuk kebaikan kamu. Dan semoga saja bayi ini sehat. Karena dia tidak tau apa-apa dan itu bukan kesalahannya," ucap Rania.


" Iya makasih ya kamu sudah membantuku," sahut Zahra. Rania tersenyum dan memeluk Zahra.


**********


Rania menuju dapur dan ternyata ada Anisa di sana yang sedang memasak bersama bibi. Ibu Anisa memang tidak ada di rumah karena sedang pergi ke menjenguk papa Anisa dan mungkin beberapa hari ini baru akan kembali.


" Kamu tau semuanya?" tanya Rania sambil mencuci tangannya di wastafel. Anisa melihat bibi yang di sampingnya dan seolah memberi kode untuk pergi dan bibi pun mengerti jadi langsung pergi dan tinggal Rania dan Zahra yang berada di dapur.

__ADS_1


" Awalnya aku mencurigai gerak-gerik Zahra dan juga Elang. Aku juga sering mendapati mereka bertemu diam-diam dan bicara dengan serius. Awalnya aku tidak mau tau. Tapi sampai seketika aku mendengarkan mu dan Zahra berbicara mengenai hal itu," jelas Anisa dengan tetap mengaduk sayur di dalam panci.


" Lalu kamu juga tau, kalau aku merahasiakannya dari Rendy?" tanya Rania.


" Iya, karena malam itu kamu bicara dengan Zahra dan menjelaskan Rendy tidak tau sama sekali masalah besar itu," jawab Anisa.


" Dan kamu memberitahunya?" tanya Rania lagi. Anisa mematikan kompor dan melihat ke arah Rania yang juga mematikan keran wastafel dan saling berhadapan dengan Anisa.


" Rania aku tau kamu istri Rendy. Tapi kamu tidak tau jika keluarga ini mempunya tata dan moral yang baik. Menurut kamu kehamilan Zahra adalah hal biasa dan kamu merahasiakannya dari semua orang karena mungkin menurut kamu. Kamu dan Zahra bisa mengatasinya. Tapi kamu tidak tau keluarga ini sangat membenci permasalahan yang di hadapi Zahra dan kamu merahasiakannya karena kamu tidak mengerti apa yang harus kamu rahasiakan dari semua orang dan tidak harus kamu rahasiakan," ucap Anisa menjelaskan dengan menegaskan seakan paling mengerti tentang keluarga Rendy.


" Anisa, jika kamu mengetahui semuanya karena malam itu kamu mendengar aku dan Zahra bicara. Aku rasa kamu juga mendengar apa yang kami bicarakan selanjutnya. Jika dengan jelas Zahra mengatakan akan bicara pada Rendy besok pagi. Dan itu sudah menjelaskan aku dan dia akan menceritakannya pada Rendy dan mama. Tapi kamu mengambil kesempatan untuk mendahului aku dan Zahra sehingga kamu dengan berani bicara pada Rendy. Tujuan kamu apa ingin aku dan Rendy ribut," sahut Rania menegaskan membuat Anisa terdiam dengan menelan salavinanya.


" Anisa kamu merasa paling tau tentang keluarga ini. Tapi apa yang kamu ketahui kamu sangat egois. Apa yang terjadi pada Zahra adalah sebuah aib. Seharusnya jika kamu mengetahuinya. Kamu bisa menahan diri dan tidak menyebar aib itu. Dan terlebih lagi kamu bukan bagian dari keluarga ini yang sok tau dan harus merasa paling benar," lanjut Rania yang bicara dengan tenang namun kata-katanya begitu menyakitkan.


" Jika kamu memang paling mengerti keluarga ini. Kamu tidak seharusnya membiarkan mama schok mendadak seperti tadi. Seharusnya kamu membiarkan Zahra yang mempunyai masalah untuk bicara apa yang terjadi padanya. Tapi apa karena ke egoisan kamu dan niat kamu yang sangat jahat kamu buru-buru untuk bicara pada Rendy. Yang kamu inginkan dari semua itu buka penyelesaian masalah Zahra. Tapi konflik yang akan terjadi antara aku dan Rendy," tegas Rania dengan sinis bicara pada Anisa.


" Anisa kamu lebih tau agama dari pada aku. Sudah banyak yang kamu lakukan Anisa untuk rumah tangga ku dan juga Rendy. Aku mengira kamu benar-benar sadar akan hal itu. Tetapi tidak karena kamu masih tetap seperti itu. Kamu wanita yang sangat agamis. Aku sangat berharap kamu benar-benar menutup rasa iri kamu dengan rumah tangga ku dan juga Rendy. Kamu jangan hanya menutup tubuh kamu dengan pakaian sopa, menutup aurat kamu. Tapi isi hati kamu masih penuh kedengkian," tegas Rania yang bicara terang-terangan dan Anisa hanya diam tanpa bisa berkata apa-apa.

__ADS_1


" Aku sangat berharap kamu mengerti posisi mu siapa Anisa di rumah ini. Jangan sampai lebih banyak orang lagi yang akan menyadarkan mu!" tegas Rania. Rania menarik napasnya panjang dan pergi dari hadapan Anisa dia sudah puas memperingati Anisa.


Bersambung


__ADS_2