Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Bab 206 Operasi.


__ADS_3

Rania sudah memakai pakaian operasi, tetapi dia masih ada di ruang perawatannya. Ratih mengusap-usap kepala Rania dengan beberapa kali mencium kening itu tangan Rania juga digenggam erat. Sayangnya mertuanya kepadanya melebihi rasa apapun melebihi pada anak kandung sendiri.


" Kamu semangat ya semuanya akan baik-baik saja," ucap Ratih yang memberikan menantunya itu semangat.


" Iya mah, makasih untuk doanya, maaf jika Rania belum bisa memberikan mama cucu," ucap Rania dengan suara sendunya.


" Jika mama mendapatkan menantu seperti ini. Mama rasanya untuk sekarang tidak butuh cucu. Kamu jangan memikirkan apa-apa. Kamu fokus saja dengan kesembuhan kamu. Melihat kamu sembuh itu sudah kebahagian untuk mama," ucap Ratih. Rania mengangguk yang menahan air matanya.


" Rania percaya sama papa. Kamu akan sembuh secepatnya," ucap Rudi menambahi.


" Iya pah," sahut Rania.


" Kakak kamu Willo dan adik kamu juga mendoakan kamu, mereka minta maaf, karena tidak bisa datang saat kamu operasi," ucap Rudi.


" Tidak apa-apa pah. Dia mereka jauh lebih penting," sahut Rania.


" Kak Rania semangat ya. Nia akan terus mendoakan kakak," ucap Nia yang memberikan semangat.


" Makasih ya Nia," sahut Rania dengan mengeluarkan senyum tipis. Rendy memasuki kamar yang sudah memakai pakaian operasi. Dia ikut menemani istrinya untuk operasi. Di sana juga sudah ada suster Anggi dan ada juga 3 suster.


" Apa Bu Rania sudah siap?" tanya Dokter Anggi. Rania menganggugkan kepalanya yang mana dia telah benar-benar siap.


" Mari suster kita bawa pasien!" Titan Dokter Anggi. Ke-3 suster itu mengangguk dan langsung menghampiri tempat tidur Rania.


Rendy berdiri di sampingnya dan mencium kening Rania dengan lembut.


" Semuanya akan baik-baik saja," ucap Rendy meyakinkan istrinya.


" Kamu akan menemaniku kan sampai aku selesai operasi?" tanya Rania yang tidak mau sendirian.

__ADS_1


" Pasti sayang, aku akan ada di sana. Kamu jangan khawatir," jawab Rendy. Rania mengangguk yang merasa lega.


" Mari kita bawa keruang operasi!" titah Dokter Anggi. Rendy mengangguk dan suster- suster itu pun mendorong tempat tidur itu untuk menuju ruang operasi. Semua keluarga begitu tegang yang mengantarkan Rania keruang operasi.


Rania pun memasuki ruangan operasi dan Ratih, Nia, Rudi menunggu di luar. Mereka hanya bisa berdoa semoga kondisi Rania baik-baik saja. Lampu operasi sudah merah yang tandanya operasi Rania di dalam sana sudah di mulai.


Yang pastinya Rendy dan orang-orang yang ada di dalam ruang operasi sebelum memulai semuanya mereka berdoa dulu yang berharap semua lancar. Karena apapun semuanya atas izin dari yang maha kuasa mereka Dokter hanya sebagai perantara saja yang hanya bisa berusaha.


************


Taxi berhenti di depan rumah sakit kasih bunda yang mana ternyata Elang dan Zahra yang turun dari Taxi. Mereka pulang lebih awal ketika mendengar kondisi Rania. Begitu tiba di Indonesia mereka langsung menuju rumah sakit untuk melihat ke adaan Rania yang mana mereka juga mendengar jika Rania hari ini akan di operasi.


" Di sana!" tunjuk Elang yang mengarahkan jalan untuk Zahra yang tau di mana Rania.


Zahra mengikut saja dengan langkah yang buru-buru dan tangannya terus di pegang Elang yang begitu khawatir Zahra akan kenapa-kenapa. Maklum lagi bucin-bucinya. Makanya sampai seperti itu. Tidak mau sang istri lecet sedikit pun.


" Tante!" panggil Zahra yang langsung menghampiri Ratih dan yang lainnya.


" Zahra kalian sudah kembali?" tanya Ratih.


" Iya Tante. Bagaimana Rania?" tanya Zahra dengan panik yang tangannya bahkan begitu dingin.


" Rania baru saja masuk ruangan operasi," jawab Ratih.


" Ya Allah semoga kondisinya baik-baik saja," ucap Zahra yang tidak kalah paniknya.


" Kita berdoa saja yang terbaik. Allah pasti akan menjaganya," sahut Ratih.


" Iya Tante," sahut Zahra yang tidak bisa menyembunyikan rasa kekhawatirannya.

__ADS_1


" Kak Zahra, kakak sebaiknya duduk," sahut Nia. Zahra mengangguk dan akhirnya duduk. Dia juga tidak tahan berdiri lama-lama. Karena maklum dia lagi hamil.


" Aku cari minum sebentar," ucap Elang.


" Iya," sahut Zahra dan Elang pun langsung pergi.


" Ya Allah, aku sangat percaya Rania pasti bisa melewati semua ini. Dia itu wanita yang sangat kuat, dia pasti bisa melewati semua ini," batin Zahra yang begitu khawatir dengan Rania dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Rania.


" Ya Allah, lancarkan operasi putri hamba. Kenapa harus Rania yang mengalami semua ini. Kenapa banyak sekali cobaan yang engkau berikan kepadanya," batin Rudi yang juga sangat mengkhawatirkan Rania.


Rania terus di operasi Dokter Anggi, dan suaminya, juga suster. Seperti keinginan Rania yang tidak ingin di sentuh oleh Dokter laki-laki kecuali suaminya. Makanya hanya ada Dokter wanita dan Rendy di ruangan operasi itu.


Obat bius yang di berikan pada Rania obat bius yang membuatnya juga tertidur. Jadi tidak melihat operasi itu berjalan. Karena Rendy tidak mau istrinya melihat janin mereka yang di angkat yang mungkin bisa membuat Rania sedih dan akan teringat terus nantinya.


Rendy dan yang lainnya yang menangani Rania. Sementara Ratih, Zahra, Nia, Rudi dan Elang memilih untuk sholat, mereka memilih untuk berdoa yang menyerahkan semuanya kepada sang pencipta.


Karena memang hanya sang pencipta yang memberi keselamatan, mengangkat penyakit, menghilangkan rasa sakit pada setiap umatnya. Jadi mereka memilih untuk berdoa dengan khusyuk yang pasti harapan untuk kesembuhan Rania.


**********


Anisa mendengar tentang apa yang menimpa Rania. Namun dia tidak ikut kerumah sakit. Karena dia sendiri juga sakit. Demam dan beberapa hari ini merasa di enak badan. Mungkin masalah Rania tidak bisa terselip di dalam pikirannya lagi. Karena banyaknya pikiran yang di pikirkannya.


Anisa hanya berbaring di atas ranjang. Menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Dengan wajahnya yang terlihat murung. Anisa membuka laci di sampingnya dan mengambil benda kecil yang tak lain adalah tespeck yang mana menunjukkan garis 2.


" Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin hamil tanpa suami. Jika Tante Ratih tau semua ini, mereka akan berpikiran buruk dan menganggap aku wanita tidak beres. Lalu bagaimana ini. Aku tidak mungkin mengandung tanpa suami.


" Aku harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Semua orang lagi fokus pada Rania di rumah sakit. Aku harus gunakan kesempatan ini untuk menyelesaikan masalahku. Sebelum orang-orang tau. Jika aku hamil," batin Anisa yang menyinggirkan selimut dari tubuhnya dan langsung bangkit dari ranjang dengan mengambil tasnya dan handphonenya dan pergi langsung keluar dari kamarnya yang tidak tau apa yang akan di lakukannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2