
Rania dan Rendy sama-sama berada di atas ranjang rumah sakit. Mereka sama-sama bersandar dengan kepala Rania bermanja di dada suaminya dan Rendy sambil mengusap-usap kepalanya.
Mereka berdua sedang membolak-balik album yang lumayan besar itu yang mana ternyata ke-2nya sedang melihat-lihat foto-foto pernikahan mereka.
" Kamu grogi tidak saya menikah denganku?" tanya Rania mengangkat kepalanya untuk melihat Rendy saat mereka melihat foto-foto saat proses Ijab kabul.
" Ya pasti grogi. Aku tidak ada rencana untuk menikah dan tiba-tiba harus menikah. Aku dek-dekan saat itu. Takut salah bicara atau apapun itu. Tetapi karena aku yakin makanya semuanya lancar," jawab Rendy dengan mencium kening Rania.
Rania tersenyum mendengarnya dan kembali membuka lembaran demi lembaran yang lainnya, " aku jadi ingat saat kamu mengajakku menikah. Saat itu aku sedang hancur-hancurannya. Banyaknya masalah keluarga belum lagi penghiyanatan dan ini itu yang aku hadapi dan kamu datang tanpa berpikir dan mengajakku menikah. Tetapi setelah kita sama-sama sholat istikharah," ucap Rania tersenyum mengingat-ingat masa-masa itu..
" Kamu juga sholat istikharah pada saat itu?" tanya Rendy.
" Bukannya saat itu kamu menyuruhku. Agar tidak salah pilih dan yakin dengan keputusanku. Dan jujur itu sholat istikharah pertamaku di mana aku meminta petunjuk dari Allah untuk keputusanku. Dan ternyata Allah tidak pernah marah kepadaku. Aku baru menghadapnya dan sudah meminta suatu petunjuk kepadanya dan dia memberikan jawabnya, ya kamu benar Allah tidak akan pernah meninggalkan ciptaannya," ucap Rania.
" Aku juga saat itu meminta petunjuk. Jika kamu jodohku maka akan di lancarkan segalanya dan semuanya terjawab pada saat proses Ijab kabul. Di mana kamu memang jodohku karena di berikan kelancaran yang tidak bisa aku bayang kan," ucap Rendy yang mengingat-ingat hal itu membuatnya bahagia.
" Tetapi tetap aja kamu gugup. Lihat wajah kamu," ucap Rania menunjuk salah satu foto saat dia dan Rendy berfoto memegang buku nikah .
" Wajar aku gugup, memang kamu tidak apa?" tanya Rendy.
" Ya sama aku jauh lebih gugup," sahut Rania.
" Rania!" tegur Rendy.
" Hmmmm," sahut Rania dengan deheman.
__ADS_1
" Apa yang kamu pikirkan saat kita sudah menikah waktu itu?" tanya Rendy.
" Banyak yang aku pikirkan. Aku tidak tau bagaimana nanti akan bersikap saat aku sudah menjadi istrimu. Aku takut salah ini. Aku takut salah itu. Pokoknya sangat banyak yang aku pikirkan," jawab Rania. " kalau kamu apa yang kamu pikirkan saat kita sudah menikah?" tanya Rania yang juga ingin tau jawabannya.
" Aku hanya berpikir bagaimana cara memberimu kebahagian," jawab Rendy simple. Rania tersenyum mendengarnya dan mengangkat kepalanya kembali melihat suaminya dengan mencium pipi suaminya..
" Dan kamu tidak perlu berpikir lagi. Karena semenjak aku sah menjadi istrimu. Aku benar-benar sangat bahagia. Tidak ada hari yang tidak bahagia yang aku lewatkan bersamamu," ucap Rania dengan tersenyum. Wajahnya yang bersinar menunjukkan dia memang orang yang paling bahagia di dunia ini.
" Benarkah itu?" tanya Rendy. Rania menganggukkan kepalanya dan kembali melihat-lihat album itu.
Rania membolak-balikkan album itu sampai menemukan foto USG anak pertama mereka. Rania pun mengeluarkan dari tempatnya, tersenyum melihat hasil USG tersebut.
" Dia sudah menungguku di surga," ucap Rania yang kalau berbicara kematian begitu enteng dan Rendy sudah biasa mendengarnya. Rania menoleh kearah suaminya.
" Benarkan dia sedang menungguku?" tanya Rania.
" Hmmm kamu benar. Jadi jangan sedih kalau aku terlebih dahulu menyusul anak kita. Karena kamu masih punya tugas untuk menjaga dan membesarkan anak kita," ucap Rania yang selalu tenang bicara. Rendy hanya mengangguk saja.
" Oh iya sayang kita belum USG kelamin anak kita," ucap Rania yang tiba-tiba mengingat hal itu.
" Nanti saja kita USG. Tapi kamu tidak boleh lihat ya pas proses USGnya," ucap Rendy membuat Rania menautkan alisnya.
" Kenapa?" tanya Rania heran.
" Sayang. USG itu akan memperlihatkan monitor di mana rahim kamu akan di lihat. Nanti bukan hanya akan melihat anak kita. Tapi kamu akan melihat sesuatu di rahim kamu. Itu sangat besar berupa gumpalan yang tidak bisa di angkat jika masih ada anak kita. Jadi kita akan USG tanpa kamu lihat. Karena aku tidak mau kamu khawatir dan kepikiran dengan apa yang kamu lihat. Setelah USG nya selesai. Aku akan mengatakan jenis kelamin anak kita kepada kamu," jawab Rendy dengan semua penjelasannya yang tidak ingin istrinya menambah beban pikiran.
__ADS_1
" Jika ada gumpalan besar di rahimku. Apa tidak akan menggangu anak kita?" tanya Rania yang mulai khawatir.
" Tim Dokter selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik. Insyaallah tidak akan terjadi apa-apa. Karena kamu yang menahan sakitnya selama ini. Jadi itu lah sebabnya kamu terus merasa nyeri di perut kamu. Karena hal itu," jelas Rendy.
" Hmmm begitu. Tapi tidak apa-apa. Karena tidak terlalu sakit. Seperti apa yang aku katakan. Sakitnya datang lalu hilang dengan sendirinya," sahut Rania yang dengan santai menghadapi penyakitnya.
" Jadi bagaimana? Kamu mau USG atau tidak usah?" tanya Rendy.
" Ya sudah aku tetap USG. Kan harus tau jenis kelaminnya. Supaya bisa mempersiapkan semuanya. Karena kalau sudah lahir nanti belum tentu sempat menyiapkan apa-apa melihatnya sedetik saja sudah sukur," ucap Rania yang bicara asal-asalan.
" Ya sudah kalau kamu mau tetap USG. Tetapi dengan syarat yang aku ajukan. Kamu tidak boleh melihatnya," ucap Rendy dengan lembut.
" Iya sayang. Aku akan tutup mata dan kalau perlu kamu suntik bius aku saat tertidur. Jadi semuanya akan aman," jawab Rania dengan santainya.
" Baiklah. Yang penting kamu tidak boleh melihatnya," sahut Rendy. Rania mengangguk-angguk.
" Hmmm, kira-kira. Kamu pengen anak kita. Cowok apa cewek?" tanya Rania.
" Apapun itu. Yang penting kamu dan dia sehat," jawab Rendy.
" Sama aku juga terserah Allah saja mau kasih cewek apa cowok. Yang penting bayinya sehat," sahut Rania.
" Ya sudah kamu sudah banyak bicara hari ini. Sekarang kita istirahat ya," ucap Rendy mengambil album itu dari tangan istrinya menyimpannya di atas nakas.
" Sudah malam. Waktunya untuk tidur," ucap Rendy.
__ADS_1
" Baiklah," sahut Rania yang langsung memeluk Rendy dan Rendy menarik selimut untuk menutupi mereka berdua dan kembali ke-2 untuk beristirahat dengan Rendy mencium terlebih dahulu pucuk kepala istrinya.
Bersambung