
Wajah orang-orang benar-benar terkejut dengan apa yang mereka lihat dan penuh dengan pertanyaan.
Sementara Willo hanya diam saja yang pasti juga malu dengan suaminya yang membuat mabuk di depan tamu yang membuat harga dirinya hilang. Sementara Rania sudah pasrah.
" Apa-apaan sih, mas bram, bisa-bisanya dia datang kemari bicara melantur seperti itu, benar-benar laki-laki berguna," batin Willo yang mengepal tangannya.
" Ma katakan pada Willo, aku tidak mau bercerai dengannya," ucap Bram yang menunjuk Willo.
" Siapa dia?" tanya Iren yang tampak kesal dan tangannya terus menutup hidungnya yang sangat membenci minuman beralkohol itu.
" Apa dia dia keluarga kalian?" Tanya Jaya lagi yang juga penasaran.
" Dia menantuku," jawab Faridah dengan ragu. Iren melototkan matanya mendengar Pria mabuk itu adalah menantu besannya.
" Apa. Jadi Pria mabok ini adalah menantumu," sahut Iren yang tampak sangat terkejut. Farida mengangguk pelan yang pasti dia malu dengan hal ini.
" Astagfirullah Al Azdim, jadi keluarga ini memang tidak benar, pantas saja calon istri Gilang juga seperti itu," batin Anisa geleng-geleng.
" Menantu. Apa itu suami kakak Rania. Pantas saja bicara kakaknya tidak pernah benar. Suaminya juga seperti itu. Suami dan pria memang sama," batin Zahra.
" Apa keluarga kalian terbiasa dengan minuman haram itu, dengan bangganya minum seperti itu," sahut Iren dengan emosi.
" Tante tenanglah," sahut Rendy mencoba memengankan.
" Gimana bisa tenang. Sudah jelas di lihat keluarga apa ini," sahut Iren.
" Mbak, semua tidak seperti yang apa yang mbak pikirkan," sahut Faridah yang mencoba menghentikan kesalah pahaman.
" Jika tidak lalu apa. Jelas dia mabuk-mabukan," sahut Iren.
" Hey, nenek tua," sahut Bram menunjuk Iren dan Iran langsung membulatkan matanya saat mendapat julukan nenek tua.
" Kau cerewet sekali. Kau jangan sembarangan, aku tidak mabuk, aku kemari hanya ingin mengembalikan rumah tanggaku. Jadi kau jangan ikut campur kalau kau mau. Sini minum bersamaku," ucap Bram dengan suaranya yang melantur yang mengejek Iren yang membuat semuanya semakin shok.
" Apa katamu, aku tua, jaga bicaramu," sahut Iren yang tampak tidak terima dan ingin menghajar Bram namun suaminya langsung menghentikannya.
" Sayang, sudah jangan, kamu tidak perlu meladeninya," ucap Jaya mencegah istrinya yang emosian.
" Dia keterlaluan," geram Iren yang tidak terima.
__ADS_1
" Willo, sana kamu bawa suami kamu masuk," ucap Rudi pelan.
" Iya pa," sahut Willo yang tampak kesal dengan menggeertakkan ke-2 kakinya melangkah mendekati suaminya yang mabuk yang yang membuatnya dirinya malu.
" Dasar sialan," desis Willo dengan kesal langsung menghampiri suaminya.
" Ayo Bram, pergi dari sini," ucap Willo menarik tangan Bram dan bram langsung melepas dan malah menjatuhkan Willo.
" Auhhhhh," lirih Willo dan membuat semua orang kaget dengan perlakuan Bram.
" Astagfirullah al azim," lirih Ratih yang melihat kekasaran itu.
" Bram kau benar-benar, kau sadar tidka apa yang kau lakukan," geram Willo yang emosian dengan Bram yang menjatuhkannya.
" Maafkan aku sayang. Aku tidak sengaja. Aku tidak bermaksud membuatmu terluka, jadi jangan marah kau terlihat jelek saat marah kau terlihat sangat tua," ucap Bram seakan menyesal dengan memegang tangan Willo dan Willo langsung melepas tangan itu karena kesal yang sudah di jatuhkan dan malah mendapat ejekan. Sementara Zahra mendengar hal itu harus menahan tawanya.
" Minggir kamu! jangan menyentuhku. Kamu benar-benar kelewatan Bram. Aku tidak akan memaafkanmu," teriak Willo. Yang kembali berdiri.
" Sayang, aku datang kemari bukan untuk mencelakaimu. Tetapi untuk memperbaiki rumah tangga kita," ucap Bram.
" Tidak. Aku tidak mau. Aku ingin bercerai dengan mu," sahut Willo dengan kesal. Dan membuat Bram langsung emosian.
" Willo," lirih Faridah yang melihat suasana semakin kacau.
" Kau pikir kau siapa menceraikanku. Kau pikir aku mau kembali bersamamu hah! Aku hanya bercanda membujukmu, ha ha ha ha ha ha," ucap Batam yang sekarang tertawa terbahak-bahak membuat keluarga itu semakin malu.
" Hey, Willo. Kau tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan Rania," ucap Bram menunjuk Rania. Dan Rania semakin panik yang namanya sekarang di bawa-bawa dan semua mata tertuju padanya. Willo pasti kesal mendengar suaminya yang berani membandingkan dirinya.
" Lihatlah dia sangat cantik. Pintar cari duit tidak sepertimu. Wanita malas yang suka marah-marah," lanjut Bram mempermalukan Willo.
" Kurang ajar kamu Bram," batin Willo dengan geram
" Kamu hanya sampah yang tidak bisa melakukan apa-apa," teriak Bram menunjuk-nunjuk Willo.
" Sial. Jika aku sudah di hina. Maka kamu juga Rania," geram Willo yang langsung berdiri.
" Puas kamu Rania," sahut Willo tiba-tiba yang kembali berdiri dengan air matanya yang mengalir. Pasti air mata dadakan.
" Apa lagi yang akan di ciptakan kak Willo, kenapa dia menyebut- nyebut namaku," batin Rania terlihat pasrah.
__ADS_1
" Apa kamu puas menghancurkan rumah tanggaku. Aku selama ini diam. Tapi kamu sudah mempengaruhi suamiku," teriak Willo. Semua mata tertuju pada Rania yang terlihat pasrah.
" Willo, cukup!" bentak Faridah yang sudah tau arah tujuan sang anak.
" Mama terus membela dia. Mama telah membela perselingkuhan di antara mereka," teriak Willo. Mata semua orang langsung membulat sempurna mendengar kata-kata Willo. Iren yang pasti melihat tajam dan yang lainnya masih ragu dan butuh penjelasan.
Dan Rania meneteskan air matanya. Saat kakaknya memfitnahnya kesekian kalinya di depan semua orang yang tak lain adalah calon suaminya sendiri.
" Apa maksud kamu?" tanya Iren yang masih schok.
" Tadinya aku ingin diam. Agar dia menikah dengan Gilang dan berhenti mengganggu rumah tanggaku. Tetapi kesabaran ku habis. Ketahuilah calon menantu kalian ini. Wanita tidak beres. Dia sudah bermain belakang dengan suamiku. Dia tidur dengan banyak pria lain dia wanita murahan yang suka bermain-main dengan Pria dan terlebih lagi dia dan menggoda suami orang. Makanya tidak ada yang mau menikahinya,"
" Bukan hanya Gilang yang melamarnya. Tetapi banyak. Tapi berhenti ditengah jalan. Ketika semua keluarganya tau siapa dia. Jika dia adalah ******," teriak Willo yang benar-benar menuduh Rania yang tidak.
Rania benar-benar pasrah dan hanya meneteskan air mata mendapat tuduhan dan penghinaan itu dari Willo dan bisa di katakan orang-orang yang ada di sana pasti langsung berpikiran buruk padanya.
" Astagfirullah, Al Azdim," sahut Iren menatap Willo penuh kebencian, seakan Rania adalah wanita yang paling hina.
" Itu, tidak benar mbak. Ini hanya salah paham, anak saya hanya terbawa emosi," sahut Faridah yang hanya mencoba menenangkan keluarga besannya.
" Mama terus saja membelanya. Dia penguasa di rumah kita. Apa mama takut. Jika dia akan mengusir mama saat mama. Kalau mama tidak membelanya," teriak Willo.
" Nak, tenangkan diri kamu. Jangan bicara jika tidak ada bukti," sahut Ratih yang melihat Rania hanya diam dengan tubuhnya yang bergetar.
" Tante tidak tau kebenarannya. Tante hanya melihat wanita itu dari luar. Selain menjadi perusak rumah tangga orang. Dia beberapa kali ingin mengusir orang tuanya. Karena dia yang punya uang," Lanjut Willo lagi.
" Willo, cukup kapan Rania melakukan itu," bentak Faridah yang harus tegas pada Willo.
" Mama terus saja membelanya. Apa mama tidak pernah ingat dengan kata-katanya yang selalu mengungkit kehidupan yang kita miliki. Apa artinya. Secara tidak langsung dia mengusir kita," sahut Willo yang terus bicara dengan terisak-isak.
" Jadi kamu wanita tidak benar," sahut Iren yang menatap Rania penuh kebencian, " Kamu juga anak yang durhaka," lanjut Iren lagi.
" Ma, jangan mendengarkan hanya dari satu sisi saja. Rania belum menjawab apa-apa," ucap Gilang menenangkan mamanya.
" Diam kamu Gilang. Wanita apa yang kamu nikahi. Apa wanita murahan seperti dia. Dia memang kaya. Tetapi kamu tidak tau dari mana dia mendapatkan kekayaannya dan bahkan sangat durhaka ke pada orang tuanya," ucap Iren marah.
" Mbak, jangan langsung mengambil keputusan," sahut Ratih.
" Kalian masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Ada papa ku yang berdiri di sana tanyakan dia bagaimana putrinya yang durhaka itu," sahut Willo melempar pada papanya.
__ADS_1
Bersambung