
Agam membuka pintu kamarnya dengan menggendong Anisa ala bridal style yang memasuki kamarnya. Agam melangkah mendekati memasuki kamarnya dan langsung membaringkan Anisa di atas tempat tidur. Anisa yang benar-benar tidak sadarkan diri.
Agam duduk di samping Anisa dan langsung dengan mengusap-usap pipi Anisa dan juga mengusap bibirnya dengan tatapan mata Agam yang begitu menginginkan Anisa.
" Kamu sangat cantik Anisa. Tapi terlalu jual mahal. Aku tidak seharusnya melakukan ini kepadamu. Jika kamu menerima ku dengan baik. Karena jujur saat pertama kali bertemu aku menyukai mu Tapi kamu menolakku dan bahkan berkata yang pedas kepadaku. Jadi maaf jika dengan cara ini. Aku bisa memilikimu. Lalu kenapa tidak," ucap Agam yang terus menatap wajah Anisa.
Dengan perlahan tangan Agam membuka peniti pengait penutup aurat Anisa dan melepas penutup kepala itu. Rambut Anisa yang di sanggul asal langsung ikatan itu di lepas dan rambut Anisa bergerai memanjang.
Agam meletakkan jilbab Anisa di sembarang tempat dengan matanya yang tidak henti-hentinya menatap dengan intens Anisa.
" Hmmmmm," Anisa tiba-tiba bersuara dan terlihat sudah mulai gelisah dengan meraba-raba tubuhnya. Agam membelai-belai rambut Anisa menyinggirkan dari wajah cantik yang sudah mulai gelisah. Merasa ada tangan yang membelai wajahnya Anisa langsung menyinggirkannya dengan matanya yang terus memejam.
Agam berdiri dari duduknya, membuka jasnya, dan melemparnya kesembarang tempat. Agam membuka satu persatu kancing kemejanya dengan tatapan matanya pada Anisa yang terlihat semakin gelisah di atas tempat tidur bergerak kesana kemari seperti cacing kepanasan.
Tidak tau jenis obat apa yang di berikan Agam kepadanya yang jelasnya efeknya seperti itu. Setelah Agam selesai menanggalkan pakainnya bagian atas. Agam kembali mendekati Anisa duduk di samping Anisa. Mendekati wajah itu dengan mencium lembut kening Anisa.
" Kita akan menghabis kan waktu seharian di sini," bisik Agam di telinga Anisa membuat Anisa semakin merinding dan bahkan suara Anisa terlihat mendesah. Agam tidak menunggu lama dan langsung meraih bibir Anisa mencium dengan perlahan.
Anisa yang antara sadar dan tidak sempat mendorong Agam. Namun Agam tidak peduli dan tetap mencium bibir itu dengan dalam-dalam. Lidahnya mengabsen seluruh isi mulut Anisa.
Anisa memang terlihat tidak nyaman dan terus mendorong Agam. Tetapi Agam jauh lebih kuat dan bahkan menyinggirkan tangan Anisa dengan menautkan tangannya dan dengan leluasa Rendy mencium Anisa dalam-dalam.
Agam menghentikan ciuman itu sejenak, untuk memberikan Anisa waktu untuk bernapas.
" Siapa kamu? apa yang kamu lakukan?" tanya Anisa dengan suaranya yang serak.
Agam hanya menyunggingkan senyumnya mendengar racuan Anisa. Agam yang menindih tubuh Anisa pun melancarkan aksinya dengan menanggalkan pakaian Anisa.
__ADS_1
Agam benar-benar sudah di penuhi dengan gairah dan memang harus tersalurkan. Tanpa ada kata-kata toleransi lagi. Dengan perlahan Anisa membuka matanya dan melihat Agam yang menyerupai Rendy.
" Rendy!" lirihnya dengan pelan. Agam melihat Anisa yang berbicara memanggil nama orang lain
" Aku adalah Agam, kau akan melupakan nama itu dan hanya akan mengingat namaku," ucap Agam dengan suara serak yang kembali meraih bibir Anisa dan kali ini Anisa tidak menolak sama sekali.
Di alam bawah sadarnya mungkin dia mengira Agam adalah Rendy dan sangat bahagia jika Rendy melakukan hal itu.
Anisa seolah menerima perlakuan Agam membuat Agam semakin bergairah bahkan dia dan Anisa sudah sama-sama polos. Hanya selimut yang menutupi tubuh keduanya.
Tidak satupun tubuh Anisa di lewatkan nya. Semua di sentuh Agam, di cumbu Agam dan Anisa yang semakin menjadi-jadi hanya mengeluarkan suara-suara indah kenikmatan yang pasti obat itu semakin bekerja dan membuat hasil seperti itu.
Agam yang di puncak gairahnya yang sudah begitu lama dalam pemanasannya. Akhirnya melakukan penyatuan pada Anisa. Menembus kehormatan Anisa yang memang masih tersegel.
Terdengar suara kesakitan dari mulut Anisa. Namun hal itu justru suatu kebanggaan untuk Agam yang ternyata menjadi Pria yang paling pertama yang telah menyentuh wanita itu.
Mungkin karena Anisa yang dalam pengaruh obat dan terlebih lagi Anisa menganggap jika Pria itu adalah Agam yang menyetubuhinya tanpa henti, tanpa lelah, sementara Anisa sudah begitu lelah dan Agam benar-benar menikmati bercintanya dengan wanita yang baru di kenalnya itu.
****************
Pagi hari sudah berubah menjadi malam. Kamar Agam terlihat begitu berantakan, di mana pakainnya dan pakaian Anisa sudah ada di mana-mana.
Hiks, hiks, hiks, hiks, terdengar suara tangisan di dalam kamar itu. Yang mana ternyata Anisa sudah bangun dan dia begitu hancur ketika melihat apa yang terjadi dengannya. Anisa terduduk di atas ranjang dengan memeluk tubuhnya yang tertutup selimut menangis senggugukan yang benar-benar merasa dirinya telah kotor.
Sementara Agam masih tertidur di sampingnya. Tertidur kelelahan yang tidak tau berapa lama Agam menyetubuhi Anisa sampai dia selah itu. Namun suara tangisan itu mampu membuat Agam mengerjapkan matanya dengan memegang kepalanya yang terlihat sangat berat.
Agam menoleh kesampingnya dan melihat Anisa yang sudah bangun dan terlihat menangis terisak-isak.
__ADS_1
" Anisa!" lirih Agam. Mendengar suara itu membuat Anisa murka dan dengan cepat mengangkat kepalanya melihat pria bajingan yang sudah memperkosanya.
" Bajingan kamu!" teriak Anisa yang langsung meluapkan emosinya pada Agam. Agam pun perlahan duduk dengan memegang kepalanya yang semakin berat.
" Apa yang kamu lakukan kepadaku brengsek!" teriak Anisa dengan memukul-mukul Agam yang meluapkan kemarahannya Agam hanya meletakkan tangannya di wajahnya untuk menghindari pukulan Anisa.
" Kau sudah menghancurkan kehidupanku. Kau sudah menipuku, kau menjebakku, kau benar-benar binatang, dasar biadap, bajingan, setan!" teriak Anisa yang mengumpat terus memukul-mukul Agam.
" Anisa ampun, ini sudah terjadi mau bagaimana lagi," sahut Agam dengan entengnya bicara.
" Kurang ajar kau Agam!" teriak Anisa semakin menjadi-jadi. Agam pun berhasil menangkap ke-2 tangan Anisa yang ingin memukulnya.
" Lepaskan aku brengsek!" teriak Anisa dengan suaranya yang menekan dan menatap tajam Agam.
" Aku minta maaf. Tapi ini sudah terjadi," sahut Agam dengan santai yang masih memegang kedua lengan Anisa yang ingin memukulnya.
" Bajingan kau. Kau pikir maafmu. Bisa mengembalikan semuanya hah!" ucap Anisa.
" Aku tau tidak bisa mengembalikannya. Tapi asal kau tau aku tidak akan melakukan itu. Jika bukan dengan wanita yang aku sukai. Aku melakukan itu karena menyukaimu," ucap Agam.
" Tutup mulutmu. Jangan bicara lagi kepadaku. Kau menghancurkan hidupku. Kau benar-benar bajingan!" teriak Anisa.
" Iya aku memang bajingan. Dan sekarang semua di tanganmu. Apa ini akan menjadi pertemuan kita yang terakhir atau justru sebaliknya," sahut Agam yang menatap dalam-dalam Anisa. Menatap Anisa yang masih penuh dengan kemarahan.
" Argggghhh," sahut Anisa melepaskan tangannya dari Agam dan kembali memeluk tubuhnya dan menagis kembali yang seolah tidak ingin bicara dengan Agam yang semakin akan membuatnya sakit. Agam pun hanya membiarkan saja Anisa yang menagis. Dia juga bukan laki-laki yang terlalu kejam.
Bersambung.
__ADS_1