Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 231 Mencoba merenungi diri.


__ADS_3

Pagi ini Rania kembali memeriksakan kondisinya pada Dokter Anggi yang mana di temani suaminya. Hanya periksa biasa dan Rendy dan Rania sudah keluar dari ruangan Dokter Anggi.


" Kamu mau minum?" tanya Rendy.


" Hmmm, aku haus," jawab Rania.


" Ya sudah tunggu sebentar ya aku beli dulu," ucap Rendy. Rania mengangguk dan langsung pergi. Rania pun mengambil tempat duduk di tempat para pasien menunggu giliran untuk masuk.


Mata Rania tiba-tiba tertuju pada ibu hamil yang mana di sana suaminya berlutut dengan mencium perut wanita yang sudah membesar itu. Tangan Rania refleks mengusap perutnya yang ramping itu.


" Seharusnya perutku sudah sebesar itu. Tetapi tidak. Perutku tidak sebesar itu. Dan mungkin aku tidak akan pernah bisa merasakan hal itu. Memang kebahagian suami hanya lah ketika istrinya memberikan keturunan padanya," batin Rania yang tiba-tiba meneteskan air mata.


Rania juga melihat di sekelilingnya dan melihat wanita-wanita yang memang memeriksakan kandungannya, Rania merasa asing sendirian.


" Aku tidak mandul, aku bukan wanita tidak bisa memiliki anak. Ini hanya waktu Rania. Kamu jangan merasa kurang. Kamu nikmati kebersamaan kamu dengan suami kamu. Dia tidak menuntut apapun kepadamu. Bahkan dia melakukan banyak hal untuk kesembuhan kamu. Jangan berpikiran yang lain-lain Rania. Kamu tidak boleh mengecewakan Rendy yang sudah begitu banyak memberikan segalanya kepadanya. Dia hanya akan sedih jika kamu sedih. Jadi jangan membuatnya sedih," batin Rania yang mulai menata hatinya untuk mengerti posisinya.


Dia memang harus memberi semangat untuk dirinya sendiri dan meyakinkan semuanya hanya butuh waktu. Waktu yang di butuhkan untuk semuanya. Hanya waktu dan waktu. Dia dan Rendy di uji dengan masalah yang berat dan Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan umatnya dan pastinya Rania dan suaminya bisa melewati semuanya ini.


*************


Sementara untuk hubungan Anisa dan Agam benar-benar semakin parah. Kemarin Agam yang diam dan tidak mempedulikan Anisa. Tetapi sekarang Anisa juga memilih diam dan tidak bicara dengan Agam.


Bahkan pagi ini saat sarapan bersama dengan mertuanya. Agam diam, Anisa diam dan Sarah juga bingung mau ngapain.


" Ehem, Anisa. Kita ke Mall ya hari ini. Mama bosan di rumah. Kan tidak apa-apa sekali-kali," ucap Sarah. Anisa diam tanpa merespon ucapan mamanya.


" Hmmm, Agam kamu mengijinkan Anisa kan untuk ke Mall. Lagian kamu jangan mengurung istri kamu terus menerus. Kamu lihat dia bisa jenuh dan stres yang adanya," ucap Sarah. Agam diam tanpa merespon dan terus melanjutkan sarapannya.


" Agam kamu dengar tidak mama bicara. Ini mertua kamu loh," sahut Sarah lagi yang merasa di acuhkan. Agam menghentikan sarapannya dan langsung berdiri dan pergi begitu saja.

__ADS_1


" Malah pergi, benar-benar tidak ada sopan nya dengan mertua. Dia pikir siapa dirinya!" geram Sarah dengan penuh emosi.


" Anisa lihat suami kamu itu. Apa-apaan coba," ucap Sarah. Anisa pun berdiri yang juga langsung pergi yang malas mendengarkan mamanya.


" Anak ini juga malah ikut-ikutan. Benar-benar ya dia berubah dan tidak menghargai orang tuanya," ucap Sarah yang bertambah kesal dengan anaknya tersebut.


***********


Agam berada di dalam mobilnya di lampu merah dengan sikunya yang berada di pinggir kaca mobil yang tangannya memijat-mijat kepalanya. Wajah Agam terlihat tampak berpikir dan pasti yang di pikirkan Agam juga pasti lumayan berat yang tidak tau apa yang di pikirkannya.


Tiba-tiba Agam melihat Rendy dan Rania yang jalan-jalan di berdua dengan tangan mereka yang bergenggaman yang terkuat romantis. Di mana terlihat Rendy yang membantu istrinya membuka bungkusan eskrim wals dan memberikannya pada Rania.


Terlihat Rania yang tersenyum saat mendapatkan eskrim tersebut dan juga menyuapi suaminya dengan bermain sedikit dan terlihat pasangan itu sama-sama bercanda.


Rendy juga terlihat berjongkok yang membuka heels Rania melatakka 1 telapak kaki Rania dia atas pahanya dan terlihat Rendy membersihkan isi dalam heels Rania mengusap lembut telapak kaki Rania dan kembali memasukkan kaki itu pada heels tersebut.


" Apa salah jika aku ingin seperti Rania yang selalu mendapat perilaku baik dari suaminya yang diam mencintai istrinya dan tidak pernah memaksa istrinya,"


Teringat kata-kata Anisa kemarin yang mana Anisa mengeluarkan isi hatinya.


Agam menarik napasnya panjang dan membuanya perlahan kedepan.


" Apa aku keterlaluan selama ini. Apa aku memang egois yang tidak pernah memikirkan perasaan Anisa," batin Agam yang tampaknya mulai menyadari di mana titik kesalahannya yang sebenarnya dialah yang menganggap pernikahannya dengan Anisa yang hanya main-main saja.


***********


Rendy, Rania dan Zahra turun dari mobil yang berhenti di depan Mall. Hari ini Rendy tidak bekerja dan mengantarkan istrinya dan Zahra ke Mall yang katanya mau menemani Zahra memebelai beberapa peralatan untuk calon bayi Zahra yang usia kandungan Zahra memang sudah semakin membesar.


" Kamu tidak ikut masuk?" tanya Rania.

__ADS_1


" Aku menunggu di sini saja. Kalian masuk lah. Nanti kalau butuh sesuatu tinggal telpon aku saja," ucap Rendy.


" Baiklah sayang. Kamu tunggu di sini. Ingat ya kalau wanita itu belanja pasti lama. Jadi jangan bosan menunggu kami," ucap Rania memberi saran kian.


" Iya sayang," sahut Rendy.


" Ya sudah Rendy, istrinya aku bawa dulu," sahut Zahra.


" Oke," sahut Rendy.


Rania dan Zahra pun memasuki Mall dan Rendy hanya menunggu di salah satu bangku di depan Mall yang ada meja payungnya hanya melihat-lihat hanphonenya saja.


Rania dan Zahra belanja untuk perlengkapan bayi Zahra. Di mana Rania ikut senang dalam membantu Zahra untuk memilih-milih dari pakaian sampai yang lainnya.


" Ini lucu banget," ucap Rania yang memperlihatkan baju yang begitu lucu.


" Boleh-boleh, nggak sia-sia ngajakin kamu. Ternyata kamu itu is the best," ucap Zahra.


" Siapa dulu dong," sahut Rania yang paling semangat untuk mencari perlengkapan bayi Zahra.


" Ya sudah, kalau begitu, kamu pilihan lagi yang mana aja. Kalau aku yang pilih bawaannya pusing," sahut Zahra.


" Bukan pusing. Namanya itu kamu malas," sahut Rania menaikkan ujung bibirnya.


" Tau aja," sahut Zahra yang tertawa kecil.


" Ya Allah, semoga Rania cepat sembuh, agar bisa hamil kembali. Dia begitu bahagia dengan menemani ku berbelanja," batin Zahra yang begitu senang mengajak Rania berbelanja dengannya.


Mereka kembali mencari-cari perlengkapan lainnya dan kebanyakan Rania yang memilih dan Zahra selalu menuruti kemauan Rania. Karena selain selera mereka sama. Zahra juga ingin Rania bahagia dan menganggap anak yang di kandungnya juga adalah anaknya sendiri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2