
Rania duduk di meja kerjanya di dalam kamarnya dengan pekerjaannya yang lumayan banyak. Dalam keseriusannya bekerja tiba-tiba Raina memegang perutnya yang terasa nyeri mendadak.
" Issshhh, ahhhhh, kenapa sakit sekali," keluhnya dengan hembusan napas yang berat, Rania juga mendadak keringat dingding. Sakitnya seperti nyeri pada halangan. Rania meminum air putih yang ada di mejanya, rasa nyarinya lumayan berkurang.
" Kenapa sakit sekali, tiba-tiba suka nyeri dan hilang begitu saja," ucapnya yang merasa sudah jauh lebih baik.
Ceklek.
" Assalamualaikum," sapa Rendy yang sudah pulang kerja.
" Walaikum salam," sahut Rania tersenyum. Rendy langsung menghampiri Rania dengan Rania yang mencium punggung tangan suaminya dan Rendy pasti akan mencium kening, pipi kanan dan kiri.
" Kamu terlihat pucat, kamu sakit?" tanya Rendy.
" Nggak aku nggak apa-apa, cuma lelah aja," jawab Rania. Rendy beralih kebelakang Rania dan memeluk erat istrinya itu. Rania tersenyum dengan mengusap-usap lengan suaminya yang berada di dadanya.
" Jangan terlalu lelah bekerja," ucap Rendy.
" Hmmm, lagian ini yang terakhir aku bekerja," ucap Rania Rendy mengkerutkan dahinya mendengarnya.
" Maksudnya?" tanya Rendy heran.
" Aku mau resign dari kantor," jawab Rania. Rendy mendengarnya cukup kaget dengan keputusan istrinya yang tiba-tiba.
" Kamu mengundurkan diri?" tanya Rendy yang terlihat tidak percaya. Rania mengangguk membenarkan hal itu.
" Loh kenapa?" tanya Rendy begitu serius. Rania menengok kearah suaminya.
" Aku kan lagi hamil. Aku mau fokus sama calon anak kita dan juga kamu. Aku ingin menikmati masa-masa kehamilanku dan ingin menjadi istri yang di rumah menunggu suaminya pulang. Kalau tidak menemani suaminya entah kemana-mana," jelas Rania yang menghadap Rendy dengan memegang pipi Rendy.
" Kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Rendy. Rania mengangguk yang sudah memikirkan hal itu matang-matang.
" Aku ingin melakukannya. Aku benar-benar ingin melakukan semua itu. Aku sangat yakin dengan segala keputusanku," ucap Rania.
__ADS_1
" Bukannya kamu sudah meraihnya dari dulu. Karir kamu adalah hidup kamu dan semua itu juga tidak gampang kamu dapatkan. Dan kamu ingin melepasnya begitu saja," ucap Rendy yang ingin istrinya berpikir lebih matang lagi.
" Karir adalah impian aku. Tapi semuanya terwujud dan dengan karir aku mendapatkan semuanya, materi dan juga kemewahan. Tapi tidak kebahagian dan hikmah dari semua ini aku mendapatkan kamu. Bonus paling terindah di salah hidupku dan itu yang menjadikan impian awalku. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik kepadamu. Aku tidak ingin menjadi istri egois yang masih bekerja, sibuk bekerja padahal sudah menikah dan aku tau Rendy. Kamu tidak pernah melarangku untuk tidak bekerja. Tetapi aku sadar diri. Jika ada kewajiban yang lebih penting di bandingkan karir yaitu adalah keluarga kecil yang kita bangun," jelas Rania yang memang sudah bulat untuk berhenti dari pekerjaannya.
" Tidak apa-apa kan aku resign?" tanya Rania. Rendy menganggukkan matanya dengan mengusap-usap pucuk kepala Rania.
" Jika keputusan kamu sudah bulat. Maka terserah kamu mau bagaimana. Aku akan selalu mendukung apa yang kamu inginkan," ucap Rendy yang mencium lembut kening Rania.
" Makasih ya sudah terus mendukungku," ucap Rania.
" Sama-sama sayang," sahut Rendy tersenyum lebar dengan mengusap-usap lembut pipi Rania.
" Hmmmm, kamu mau makan?" tanya Rania.
" Aku mandi dulu, setelah itu baru makan," ucap Rendy.
" Kita makan di luar yuk!" ajak Rania.
" Hmmmmm, boleh tidak aku makan durian, sedikit aja," ucap Rania.
" Hanya sedikit?" tanya Rendy memastikan. Karena memang ibu hamil tidak boleh makan banyak-banyak.
" Iya hanya sedikit," jawab Rania.
" Baiklah," sahut Rendy yang tidak masalah. Rania tersenyum yang mendapatkan ijin dari suaminya.
" Ya sudah aku mandi sebentar ya," ucap Rendy. Rania mengangguk, sebelum pergi Rendy mencium lagi kening Rania. Lalu Rendy pergi menuju kamar mandi.
" Mau di mandiin tidak," sahut Rania menggoda Rendy saat Rendy membuka pintu kamar mandi. Rendy langsung melihat kearah Rania dengan menaikkan alisnya. Rania langsung memutar kursinya yang tidak ingin melihat Rendy. Dia jadi malu sendiri karena sudah menggoda suaminya.
Dan yang benar saja Rendy kembali menghampiri Rania dan memeluk Rania kembali dari belakang. Tetapi seakan mengangkat Rania dari kursi..
" Aku belum pernah di mandikan, ayo mandikan aku!" ucap Rendy mengangkat paksa Rania.
__ADS_1
" Tidak, aku masih ada pekerjaan," sahut Rania yang menolak dengan menahan tubuhnya tetap duduk.
" Ayo cepat!" paksa Rendy.
" Nggak mau. Aku hanya bercanda," sahut Rania yang kekeh dengan pertahankan diri.
" Nggak ada kata bercanda, cepetan," desak Rendy yang terus memaksa Rania. Rania tetap kekeh sampai Rendy harus menggelitiki Rania agar tubuh itu lentur.
" Sayang geli, sayang," keluh Rania yang harus merasakan akibat karena berani menggoda suaminya. Rendy tetap tidak mau mengalah dan menggendong Rania ala bridal style dengan kaki Rania yang meronta-ronta.
" Sayang turunkan aku!" ucap Rania.
" Tidak akan. Aku ingin di mandikan," tegas Rendy. Rania geleng-geleng dengan kepanikannya dan yang benar saja Rendy memang membawa Rania kedalam kamar mandi. Setelah sampai di dalam kamar mandi Rendy menurunkan perlahan istrinya itu.
" Issss, sayang kamu ini ya benar-benar," geram Rania.
" Kamu yang mau memandikan aku," sahut Rendy dengan seriangi nakal di wajahnya yang mendekatkan diri pada Rania. Tangan Rendy langsung menekan shower sehingga airnya langsung memancar ketubuh Rania dan Rania langsung kaget. Rendy tertawa melihat istrinya yang basah kuyup. Rania yang kesal langsung menyiram suaminya.
Yang pada akhirnya mereka malah bermain-main di dalam kamar mandi. Saling siram-menyiran saking rebutan shower untuk membalas satu sama lain. Mereka ber-2 layaknya seperti anak kecil yang bermain air di dalam kamar mandi. Terdengar tawa yang sama-sama lepas.
*********
Bukan hanya Rendy yang mandi jadinya Rania juga mandi dan sekarang ke-2nya sudah selesai mandi dan duduk di pinggir ranjang dengan Rendy yang di hadapan Rania yang melap rambut istrinya itu.
" Dingin?" tanya Rendy.
" Kamu sih," sahut Rania bete. Rendy tersenyum dan terus melap rambut istrinya di mana Rania terus menatap suaminya yang juga rambutnya basah. Suaminya begitu sangat tampan sekarang membuat Rania mengecup bibir Rendy.
Rendy yang menerima hal itu melihat ke arah Rania. Lagi-lagi Rania yang memancing yang membuat Rendy menghentikan pekerjaannya dan memegang pipi Rania sembari mengusap-usapnya. Lalu mencium lembut bibir Rania dan juga menciumnya sangat dalam. Rania memejamkan matanya yang menerima ciuman itu. Yang lama kelamaan mereka malah saling menjatuhkan diri di atas tempat tidur.
Makan malam sepertinya tidak jadi yang di ganti malam indah dalam hubungan suami istri.
Bersambung.
__ADS_1