Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 128 Mendapat jalan terbaik.


__ADS_3

Rania dipinggir ranjang dengan wajahnya yang terlihat murung. Rendy memasuki kamar dan melihat istrinya yang wajah cantik itu di tekuk. Rendy langsung menghampiri ranjang dan duduk di samping istrinya dengan meletakkan tangannya di pundak sang istri.


" Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rendy dengan lembut sambil membelai-belai pipi rambut Rania.


" Jelas yang aku pikirkan masalah kak Willo, masalah papa, Tante Sarah, aku bingung harus memilih jalan yang mana," ucap Rania dengan wajahnya yang penuh kebingungan.


" Sudah sholat isya?" tanya Rendy. Rania melihat suaminya dan menggeleng pelan.


" Ayo sholat dulu. Siapa tau setelah kamu sholat kamu bisa menemukan jalan yang terbaik," ucap Rendy memberi saran.


" Kamu sendiri sudah sholat?" tanya Rania.


" Aku tadi sudah di Masjid rumah sakit," jawab Rendy.


" Ya sudah kalau begitu aku ambil Wudhu dulu," ucap Rania. Rendy mengangguk tersenyum. Tanpa menunggu lama dan menunda waktu. Rania langsung menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan kewajibannya untuk sholat.


Rania menjalankan ibadah sholat dengan khusuk dan Rendy di atas tempat tidur yang bersandar di kepala ranjang tersenyum lebar melihat istrinya yang sholat.


Tidak lepas mata itu menatap sang istri sampai Rania mengucapkan salam dan setelah itu berdoa pada penciptanya untuk di berikan jalan dalam mengambil tindakan yang membuatnya penuh kebingungan.


Rendy hanya melihat Rania terus. Sepertinya Rendy akan jatuh cinta setiap hari kepada istrinya itu. Sudahlah cantik, pintar, baik, Sholeha pula. Masyallah Rania memang paket komplit untuk Rendy.


Setelah selesai sholat Rania mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya dan melihat ke arah Rendy yang masih tidak mengedipkan matanya membuat Rania malu saja dengan tatapan dalam suaminya itu.


Tidak ingin salah tingkah di depan Rendy. Rania pun langsung berdiri, membuka mukenahnya dan meletakkan pada tempatnya. Lalu Rania menghampiri suaminya di atas ranjang.


" Sudah merasa lebih tenang?" tanya Rendy.


" Hmmm, aku sudah merasa jauh lebih tenang," jawab Rania.

__ADS_1


" Baguslah kalau begitu. Rania dalam hukum tidak terlihat mana keluarga dan bukan. Aku tau apa yang kamu pikirkan. Kamu sedang bingung dengan tindakan yang kamu ambil. Di sisi lain kamu memiliki rasa tidak enak pada Tante Sarah. Tetapi di sisi lain kamu juga ingin menjadi adik yang baik untuk kakakmu. Jadi jelas kamu penuh dengan kebingungan," ucap Rendy.


" Lalu?" tanya Rania.


" Lihatlah masalah dari banyak sisinya, jangan melihat dari satu sisi saja. Jangan mendengar dari banyak mulut. Tapi lihat kebenaran dan ambil kesimpulan dengan bijak sehingga mengeluarkan keputusan yang adil tanpa menyakiti siapapun," ucap Rendy menjelaskan dengan tutur kata yang lembut dan sangat mudah di pahami.


" Hmmm, kamu benar. Apapun itu. Aku tidak bisa bermain dengan hati dan juga terlalu egois. Aku harus bisa mengambil kebijakan untuk kakak dan juga Tante Sarah," sahut Rania yang kelihatan sudah mulai mengerti dan merasa tenang.


" Iya kamu benar," sahut Rendy.


" Makasih ya Rendy, kamu sudah membantuku untuk berpikir. Aku sekarang jauh lebih tenang dan tidak banyak berpikir lagi," ucap Rania yang merasa tenang.


" Sama-sama. Ya sudah sekarang kita tidur," ajak Rendy. Rania mengangguk.


" Rendy!" tegur Rania.


" iya kenapa?" tanya Rania.


" Iya kamu benar, kita memang harus menyelesaikan masalah sebelum tidur," sahut Rendy. Rania tersenyum mengangguk.


" Ya sudah sekarang kita tidur. Karena masalahnya sudah selesai," sahut Rania. Rendy hanya tersenyum dengan mencium kening istrinya sebelum mereka ber-2 tidur sampai akhirnya mereka ber-2 tidur dengan memeluk romantis.


************


Si sisi lain Anisa benar-benar gelisah dengan masalah yang datang dalam hidupnya. Anisa berada di taman belakang yang resah dengan mamanya yang akan berurusan dengan hukum.


" Kenapa juga mama mau aja kerja sama dengan wanita mata duitan seperti itu. Sekarang lihat apa yang terjadi. Apa coba yang di dapatkan mama tidak ada sama sekali. Hanya kesialan," gerutu Anisa dengan memijat kepalanya yang terasa berat karena menghadapi masalah mamanya.


" Apa yang harus aku lakukan. Aku bahkan sudah merendahkan diriku di depan Rania, meminta maaf, mama juga sampai bersujud. Tetapi Rania sama sekali tidak memberi jawaban apa-apa. Bagaimana nanti jika Rania benar-benar membawa masalah ini pada hukum. Mama tidak mungkin di penjara," Anisa terus bergerutu penuh kebingungan yang tidak tau apa yang harus di lakukannya.

__ADS_1


" Aku harus bertindak. Masalah ini tidak bisa di biarkan begini saja. Aku harus menemukan jalan. Agar Rania tidak membawa masalah ini pada hukum dan mama bisa bebas," ucapnya Anisa yang mulai berpikir keras untuk memutar otak agar menemukan jalan untuk titik terang dalam mamanya.


" Zahra aku tau, tapi tolonglah!" tiba-tiba terdengar suara Pria yang di sekitar taman yang membuat Anisa tersentak.


" Suara siapa itu. Zahra kenapa dia menyebut nama Zahra," batin Anisa heran dan Anisa yang penasaran langsung mencari suara itu yang berasal dari mana.


Anisa berdiri di balik pohon Bungan yang mulai rindang. Anisa melihat Elang dan Zahra yang berdiri saling berhadapan yang seperti berdebat.


" Zahra dan Elang. Ngapain mereka," batin Anisa yang penasaran.


" Lalu sampai kapan?" tanya Zahra merendahkan suaranya. Elang mendekatinya dengan memegang ke- bahu Zahra.


" Maafkan aku Zahra, aku sudah mengacaukan semuanya. Tapi aku mohon. Kasih aku waktu untuk berpikir. Aku tidak akan kemana-mana. Aku pasti tetap di sini," ucap Elang terlihat meyakinkan Zahra.


" Tapi aku takut," sahut Zahra dengan wajah gelisahnya. Elang pun memeluknya untuk menengakannya. Apa yang di lihat Anisa membuatnya kaget yang melihat Elang berpelukan dengan Zahra.


" Kenapa mereka berpelukan seperti itu. Apa mereka sedekat itu. Dan sejak kapan mereka dekat. Bukannya mereka tidak pernah bertegur sapa," batin Anisa dengan wajahnya yang masih terkejut dan penuh pertanyaan.


" Jangan takut. Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap ada di sampingmu. Kamu jangan khawatir. Aku hanya butuh waktu," ucap Elang yang lagi-lagi memberi keyakinan pada Zahra.


" Iya, aku mempercayaimu m," sahut Zahra.


" Ya sudah sekarang kamu masuk ya. Kamu istirahat dan jangan memikirkan masalah itu," ucap Elang. Zahra mengangguk dan pergi dengan perlahan dari hadapan Elang. Anisa langsung bersembunyi karena takut ketahuan Zahra dan juga Elang.


" Apa yang terjadi. Apa yang mereka bicarakan. Memang ada apa, kenapa Zahra menangis dan Elang memeluknya," batin Anisa terlihat masih begitu penasaran dengan Elang dan Zahra.



...Jangan lupa mampir ke Novel terbaru aku ya. Mohon suportnya, like, koment, vote, makasih para readers setia ku....

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2