Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 292


__ADS_3

Setelah berbincang-bincang dengan Maryam dan juga tadi tidak lupa mereka makan siang bersama dan juga di lanjutkan makan malam. Sekarang mereka kembali ke Apartemen karena memang hari sudah gelap.


" Ayo ibu langsung istirahat di kamar," Asyifa langsung menarik tangan ibunya yang ingin membawa ibunya kekamar.


" Asyifa nanti dulu," ucap Rania yang masih tidak enak dengan yang lainnya.


" Tidak apa-apa Rania, kamu istirahat saja," ucap Ratih.


" Tuh, nenek sudah kasih izin. Jadi sekarang ibu ikut Asyifa," ucap Asyifa yang kembali menarik tangan ibunya dan Rania mau tidak mau harus mengikuti anaknya. Yang lain hanya tersenyum dengan geleng-geleng kepala dengan kelakuan Asyifa.


" Ya sudah mah, Rendy kekamar dulu ya," ucap Rendy.


" Iya Rendy," jawab Ratih.


" Alhamdulillah jika akhirnya Rendy dan Rania bisa bersatu lagi," ucap Rudi yang masih tidak percaya dengan hikmah yang di dapatkan keluarga mereka hari ini.


" Alhamdulillah pak Rudi. Semoga setelah ini. Tidak akan ada yang memisahkan mereka lagi," sahut Ratih.


" Amin kita doakan yang terbaik," sahut Willo.


" Ternyata ibadah umroh kali ini benar-benar memberikan Anugrah yang begitu besar. Kak Rania kembali," sahut Nia. Yang lainnya mengangguk-angguk.


" Ya sudah sekarang kita juga istirahat," sahut Ratih yang lain mengangguk-angguk dan menuju kamar masing-masing.


Sementara Asyifa membawa ibunya kedalam kamar dan langsung mendudukkan ibunya di pinggir ranjang yang membuat Rania heran.


" Ibu mau mandi atau mau langsung tidur?" tanya Asyifa menunggu jawaban ibunya.


" Memang kenapa?" tanya Rania dengan menautkan alisnya.


" Itu bukan jawabannya ibuuuuu!" sahut Asyifa dengan suaranya yang di ayun. Rendy yang berdiri di dekat pintu hanya tersenyum saja melihat istrinya yang sekarang pasti pusing menghadapi kepintaran Asyifa.


" Ayo jawab Asyifa, mau mandi apa mau langsung tidur?" tanya Asyifa lagi.

__ADS_1


" Kalau ibu mau tidur. Ibu akan tidur di sini?" tanya Rania.


" Benar ibu, Asyifa di tengah, ayah di kiri dan ibu di kanan," jawab Asyifa sambil menunjuk ranjang.


" Tetapi ibu belum mau tidur dan juga tidak mau mandi," ucap Rania.


" Lalu?" tanya Rania heran.


" Ibu mau peluk Asyifa. Boleh tidak?" tanya Rania dengan merentangkan tangannya.


" Boleh ibu," sahut Asyifa yang langsung memeluk ibunya dengan erat. Dan Rania begitu gemas dengan anaknya itu.


" Asyifa sangat cantik dan pintar sekali siapa yang mengajari Asifa?" tanya Rania dengan geram pada anaknya itu.


Asyifa melonggarkan pelukannya untuk minat ibunya, " Ayah bilang, ibunya Asyifa itu sangat cantik dan juga pintar. Jadi wajar Asyifa cantik dan pintar. Karena ibu Asyifa seperti itu," jawab Asyifa membuat Rania tersenyum melihat ke arah suaminya yang tertawa kecil.


" Lalu apa lagi yang di katakan ayah pada Asyifa?" tanya Rania.


" Banyak sekali. Tetapi ayah pernah bilang kalau dia cinta sama ibu," ucap Asyifa membuat Rania melotot mendengar putrinya sudah bisa bilang cinta-cintaan.


" Tau kan Asyifa ada karena hasil dari cinta ibu sama ayah," jawab Asyifa begitu polosnya membuat Rania sampai tidak bisa berkata-kata.


" Apa ayah yang mengajari itu?" tanya Rania memastikan. Asyifa menjawab dengan tertawa-tawa penuh arti. Rania langsung melihat suaminya, melihat dengan mengintimidasi. Rendy merasa tertuduh langsung menggelengkan kepalanya.


" Asyifa jangan di perdalam ya nak pengetahuan tentang cintanya. Asyifa kan masih kecil. Nanti ada waktunya ya sayang," ucap Rania khawatir dengan rasa penasaran putrinya yang begitu tinggi.


" Iya ibu. Lagian kan Vi ga itu kasih sayang sama dengan Asyifa yang menyayangi ibu," ucap Asyifa dengan tersenyum lebar.


" Baiklah sayang," sahut Rania.


" Ehemmm!" Rendy berdehem dan mendekati istri dan anaknya duduk di samping Rania, " Asyifa sepertinya ayah akan jarang di peluk. Karena sedari tadi ibu terus yang di peluk," ucap Rendy dengan wajah mengkerutnya.


" Kan ibu minta Asyifa peluk, kalau ayahkan belum minta," jawab Asyifa yang punya jawaban.

__ADS_1


" Hmmmm, begitu jadi harus ayah minta peluk dulu baru Asyifa peluk," sahut Rendy dengan wajah-wajah mulai merajuk, " ya sudah ayah peluk ibu saja," Rendy langsung merangkul bahu Rania.


" Ayah, lucu kalau ngambek," sahut Asyifa tertawa-tawa membuat Rania ikut tertawa-tawa dan menoleh ke arah suaminya.


" Anak kita pintar sekali, makasih kamu sudah merawat dan membesarkannya," ucap Rania menatap intens suaminya itu.


" Sama-sama sayang. Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang ayah dan juga menepati janjiku kepadamu," ucap Rendy sembari mengusap lembut pipi Rania.


Rendy mencium lembut kembali kening Rania dengan mencium pipinya juga. Mata Rendy juga turun pada bibir Rania yang sudah lama tidak di sentuhnya dan Rendy dapat di pastikan ingin mencium bibir indah itu.


" Asyifa masih ada di sini Lo...." sahut Asyifa dengan polosnya menghentikan kebablasannya dengan saling melihat bersama Rania dan sama-sama tertawa karena ulah mereka yang bisa-bisanya tidak menyadari ada anak kecil di sana.


Rendy dan Rania sama-sama memeluk Asyifa dengan erat yang masih ingin menumpahkan rasa rindu.


Akhirnya Rania Asyifa dan Rendy sudah sama-sama berada di atas tempat tidur, sesuai dengan aturan tidur yang tadi di katakan Asyifa. Asyifa berada di tengah di antara ke-2 orang tuanya dan Rana juga sudah membuka jilbabnya dengan rambut panjangnya yang terurai.


Walau tadi Rania canggung saat membuka jilbabnya. Karena masih merasa Rendy bukan mahramnya dan mungkin Rania tidak biasa. Tetapi Rendy adalah suaminya tidak ada yang salah jika auratnya terbuka.


" Ibu, ayah sekarang kita tidur ya," ucap Asyifa. Rendy dan Rania hanya sama-sama mengangguk.


Sebelum tidur Asyifa berdoa dulu, " Ya Allah terima kasih sudah membuat Asyifa bisa tertidur dengan ayah dan juga ibu Asyifa," ucap Asyifa dan juga Asyifa menutup dengan doa tidur, " Amin," ucap Asyifa mengusap wajahnya. Rendy dan Rania ikut-ikutan mengucapkan amin.


" Tumben sekali Asyifa baca doa ada suaranya," sahut Rendy heran.


" Kan doa Asyifa sudah di kabulkan Allah," jawab Asyifa melihat ke arah Rendy.


" Jadi selama ini Asyifa dia itu?" tanya Rendy.


Asyifa mengangguk kan kepalanya, " Asyifa selalu minta sama Allah untuk Asyifa bertemu bidadari yang sering ayah katakan, bidadari cantik, berhati malaikat dan Allah sudah kabulkan itu," ucap Asyifa mendengarnya Rania menahan haru yang suaminya selalu menceritakan semua kebaikannya kepada anaknya.


" Lalu kenapa ayah tidak boleh tau doa-doa Asyifa?" tanya Rendy.


" Karena Asyifa tidak mau ayah sedih. Jadi maafkan Asyifa ayah. Kalau Asyifa tidak memberi tahu ayah," ucap Asyifa dengan tersenyum.

__ADS_1


Rendy hanya mengangguk, " ya sudah sekarang kita bobo ya," ucap Rendy. Asyifa mengangguk. Sebelum tidur Rendy mencium lembut kening Asyifa dan bergantian dengan Rania. Lalu mereka mulai memejamkan mata dengan Rendy dan Rania yang sama-sama memeluk Asyifa yang ada di tengah.


Bersambung


__ADS_2