Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Eps 48 Kata-kata yang tidak nyaman.


__ADS_3

Rania sampai ke perusahaan, dia adalah wanita yang di segani di perusahaan itu. Langkahnya yang cantik, terus di sapa para karyawan di perusahaan itu dengan menundukkan kepala dan Rania akan membalas dengan senyuman tipis, sembari menundukkan kepalanya.


Mereka mengangumi sosok Rania yang cantik dan ramah, beberapa karyawan mengucapkan selamat atas pernikahannya yang menjadi tranding topik.


" Suaminya Bu Rania, tampan,"


" Wajar sih, dia juga cantik,"


" Anaknya nanti seperti apa ya,"


Terdengar beberapa karyawan yang bergosip memuji Rendy sang suami. Rania hanya tersenyum. Jika saja Rendy tidak menikahinya sekarang. Pasti beda cerita masalah gosip hari ini.


" Terima kasih Rendy, sudah menyelamatkanku," batin Rania yang merasa lega.


********


Di ruang rapat, para pemegang saham. Lagi-lagi saham Rania naik dan sekarang wanita yang baru menikah itu berdiri dan CEO perusahaan tuan Dellano memberikan sertifikat pada Rania yang di bingkai dengan kaca yang mahal.


" Selamat, Rania," ucap Dellano menjabat tangan Rania.


" Terima kasih pak," sahut Rania menundukkan kepalanya dengan dengan tersenyum lebar.


Prok-prok-prok


Rania mendapat sambutan tepuk tangan yang meriah dari orang-orang yang ada di ruang rapat tersebut.


Di sana ada juga Monica yang pasti tersenyum sinis melihat Rania yang ada di sana yang selalu menjadi pusat perhatian yang memberikan banyak pengaruh besar untuk Perusahaan Erlangga. Rania semakin sukses dan dia semakin tenggelam.


" Kenapa harus dia, dia dan dia lagi. Apa aku memang tidak akan bisa menang darinya. Benar-benar sial, ini pasti karena pernikahannya yang menjadikan dia sebagai penguasa. Seharusnya pernikahan itu gagal. Tetapi bisa-bisanya sepupunya Gilang menikahinya. Semua rencanaku berantakan, aku akan seperti-seperti ini terus," batin Monica mengepal tangannya dengan menatap sini Rania yang tersenyum lebar di sana.


" Kita harus merayakan semua ini," sahut salah seorang pria.


" Hmmm, pasti, apa lagi nona Rania, baru menikah, sekalian untuk merayakan kebahagiannya," sahut salah seorang wanita.


" Ide yang bagus, silahkan kalian bersenang-senang, masalah yang lainnya yang mengurusnya," sahut Dellano.


" Apa tuan Dellano tidak akan ikut?" tanya Rania.


" Kalian saja, saya ini sudah tua," sahut Dellano.


" Hmm, baiklah kalau begitu," sahut salah seorang Pria tersenyum dengan senang hati.


" Terima kasih untuk semuanya, silahkan di lanjutkan," sahut Dellano yang lainnya mengangguk-angguk dan Rania mendapat banyak ucapan selamat atas prestasinya dan pernikahannya.


************


Malam hari tiba, Rendy pulang kerumahnya.


" Assalamualaikum," Sapa Rendy melangkah menghampiri ruang tamu yang di sana sudah ada Anisa, Nia, mamanya dan Sarah ibu dari Anisa.


" Walaikum salam," sahut semuanya dengan serentak.


" Rendy, kamu baru pulang, kamu tidak bersama Rania?" tanya Ratih yang tidak melihat menantunya


" Rania, belum pulang," batin Rendy melihat arloji di tangannya yang sudah pukul 9 malam.


" Benar kata mbak Iren, wanita kalau terbiasa bekerja. Pasti lupa kalau dia sudah punya suami," sahut Sarah yang sengaja membuat kericuhan dan Anisa tersenyum miring mendengarnya.


" Baru juga menikah, tetapi sudah bekerja. Bukannya di rumah menunggu suaminya pulang, malah suaminya pulang duluan. Apa itu artinya tidak juga tidak akan melayani suaminya. Untung aja Gilang selamat dari wanita itu," lanjut Sarah yang memanfaatkan kesempatan untuk menjelek-jelekkan Rania.


" Mbak, mungkin Rania lagi di jalan," sahut Ratih.


" Assalamualaikum," sapa Zahra yang pulang bersama Rania.


" Walaikum salam," jawab seninya.


" Itu Rania pulang," sahut Ratih merasa lega.


" Maaf Tante kami terlambat pulang, soalnya tadi aku jemput Rania dulu, mobilnya tidak ada dan asistennya Asri lagi keluar kota," ucap Zahra memberikan penjelasan.


" Sudah tidak apa-apa," sahut Ratih.


" Maaf ya ma," sahut Rania merasa bersalah.


" Kamu ini bagaimana sih, istri kok pulangnya lama," sahut Sarah sinis. Rania hanya terdiam dengan ucapan wanita yang dia tidak tau siapa itu.


" Sudah-sudah jangan di bahas lagi, yang penting Rania sudah pulang. Ya sudah mendingan kalian bersih-bersih lalu makan," ucap Ratih.


" Iya ma," sahut Rendy.


" Jadi mbak, yang siapkan makan untuk menantu," sahut Sarah membuat Rania merasa terpojokkan.


" Rania, apa ibu kamu tidak mengajari kamu. Jika seorang wanita kelak dewasa harus pintar memasak, supaya bisa menjadi yang baik untuk suaminya. Memenuhi kebutuhan suaminya. Contohnya seperti Anisa. Saya mengajarinya untuk menjadi wanita serba bisa agar bisa melayani suaminya. Lihatlah dia sangat pintar memasak," ucap Sarah.

__ADS_1


Yang membandingkan Rania dengan Anisa dan pasti Rania tidak nyaman dan orang-orang di sana juga merasa tidak suka dengan kata-kata Sarah yang menyinggung Rania.


" Tapikan kak Anisa belum menikah, jadi melayani apa," sahut Nia. " Lagian kalau mama kak Rania tidak mengajari kak Rania memasak sampai kak Rania tidak bisa. Itu bukan berarti Tante membawa-bawa nama mamanya. Nia juga tidak bisa memasak. Berarti itu salah mama dong," sahut Nia yang mengambil alih bicara mungkin saling geramnya.


" Kenapa sih, Nia selalu saja membela Rania," batin Anisa yang kesal melihat Tania adik Rendy.


Kata Nia memang membuat Sarah diam tanpa berkutik sedikitpun. Namun Zahra tersenyum tipis.


" Aku sama Rania ke atas dulu," sahut Rendy yang mengambil alih bicara yang tidak ingin masalah semakin memanjang yang menimbulkan perdebatan.


" Ayo Rania!" ajak Rendy. Rania menganggu lalu menyusul Rendy untuk kekamar mereka.


" Zahra juga mau keatas dulu," sahut Zahra pamit. Ratih mengangguk dan Zahra langsung pergi. Sementara di ruang tamu malah menjadi tegang.


" Kenapa semua orang selalu membela Rania, apa istimewanya dia," batin Anisa yang merasa terlupakan.


*********


Rania berasama Rendy masuk kekamar dan terlihat Rendy duduk di pinggir ranjang membuka sepatunya dan Rania berdiri gugup di depannya.


" Ada apa?" tanya Rendy yang seakan tau jika Rania ingin bicara sesuatu.


" Aku harus pulang jam berapa?" tanya Rania membuat Rendy mengangkat kepalanya menatap heran Rania.


" Maksudnya?" tanya Rendy.


" Sepertinya keluarga kamu marah. Karena aku pulang selarut ini," ucap Rania merasa tidak enak. Rendy tersenyum tipis mendengarnya.


" Mungkin mereka hanya kaget, dan tidak terbiasa dengan hal itu. Zahra juga pulang lama. Itu karena kamu ada pekerjaan," ucap Rendy.


" Zahra pulang lama, karena menjemputku," ucap Rania.


" Kalau begitu lain kali, kamu pulanglah lebih cepat. Kalau lama pulang, kamu memberi kabar. Aku akan menjemputmu," ucap Rendy dengan lembut. Rania mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Ya sudah, kamu mandi duluan, kita akan makan setelah ini," ucap Rendy.


" Hmmm, aku mau menjemput mobil Kerumah, boleh tidak aku makannya di luar saja," ucap Rania yang gugup meminta izin pada Rendy. Rendy melihat jam tangannya sudah pukul 9 lewat.


" Harus sekarang?" tanya Rendy. Rania mengangguk.


" Ya sudah, aku akan mengantarmu," sahut Rendy.


" Tidak usah, aku bisa sendiri kok," sahut Rania menolak.


" Tidak apa-apa. Ini sudah malam. Tidak baik kamu keluar sendirian," sahut Rendy.


" Iya baiklah," sahut Rania tersenyum lalu langsung beranjak dari kamar mandi dan Rendy membuang napasnya dengan perlahan.


***********


Setelah mereka siap-siap. Pasangan itu menuruni anak tangga dengan Rania memakai dress panjang kebawah lengan pendek. Ternyata Anisa dan mamanya masih ada di sana dan tidak tau sebenarnya ngapain sih mereka di rumah itu.


" Kalian mau kemana?" tanya Ratih.


" Kita mau makan di luar," jawab Rendy.


" Hmmm, begitu rupanya. Ya sudah tidak apa-apa, kalian hati-hati ya," sahut Ratih.


" Iya ma," sahut Rendy yang mencium punggung tangan mamanya dan juga Rania ikut menyalam.


" Permisi! assalamualaikum," ucap Rendy pamit.


" Walaikum salam," sahut Ratih tersenyum melihat kepergian anak dan menantunya itu.


Rendy hanya menyapa Sarah dan Anisa. Begitu juga Rania, walau di cueki oleh 2 orang itu.


" Mereka bisa semakin dekat, ini tidak boleh terjadi. Rendy hanya milikku," batin Anisa yang tampak tidak suka.


" Semoga, Rendy dan Rania bisa semakin dekat. Aku ya Allah belum ada cinta di pasangan itu. Tapi aku yakin mereka pasti akan saling mencintai," batin Ratih yang terus berdoa banyak untuk anak dan menantunya itu.


*********


Sebelum menjemput mobil ternyata benar Rania dan Rendy menikmati makan malam dulu di salah satu Restaurant yang bersifat outher.


Di mana pasangan itu duduk saling berhadapan dengan makanan yang di pesan Rania seteak dan Rendy spageti dengan minuman yang sama orens jus.


" Hmm, oh iya Rendy, wanita yang tadi siapa?" tanya Rania sambil mengunyah makanannya.


" Yang mana?" tanya Rendy heran.


" Yang bersama Anisa," sahut Rania.


" Ohhh, itu Tante Sarah, mamanya Anisa," jawab Rendy.

__ADS_1


" Sedang apa mereka tadi?" tanya Rania.


" Aku juga tidak tau, aku pulang dan kamu juga pulang setelah beberapa menit dan sama sekali aku tidak tau sedang apa mereka. Tetapi mungkin hanya berbincang-bincang saja dengan mama," jawab Rendy.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Rania.


" Kamu tidak nyaman?" tanya Rendy.


" Sedikit, soalnya aku tidak mengerti. Kenapa, mamanya Anisa bicara seperti itu. Padahalkan kami tidak saling mengenal. Dia juga tidak tau siapa aku," sahut Rania yang ternyata tersinggung dengan perkataan Iren.


" Sudahlah Rania, kamu jangan ambil hari bicara Tante Sarah, seperti yang kamu bilang. Dia tidak tau siapa kamu. Jadi kalau dia tau dia tidak akan bicara seperti itu," ucap Rendy. Rania menganguk-angguk.


" Ayo makan lagi," ucap Rendy.


" Iya," sahut Rania tersenyum lebar dan Rania dengan semangat kembali menikmati makanan itu.


Tidak banyak yang mereka bicarakan. Hanya beberapa saja yang membuat ke-2nya nyaman. Mungkin itu tahap pendekatan dari mereka.


***********


Selesai makan. Rania dan Rendy pun keluar dari Restauran itu. Saat di parkiran Rania heran melihat mobil mewah berwarna merah berada di parkiran yang membuatnya seperti mengenali mobil itu.


" Kamu kenapa?" tanya Rendy heran.


" Ini seperti mobilku, siapa yang bawa kemari," ucap Rania yang jelas mengenali mobil kesayangannya itu.


" Mungkin salah satu keluargamu ada di sini," ucap Rendy. Wajah Rania terlihat panik dan Tiba-tiba mobil itu menyala dan terlihat 1 orang wanita keluar dari Restauran yang menghidupkan mobil dengan kunci mobil.


" Kak Desi," sapa Rania terkejut melihat kunci mobilnya ada pada wanita yang di kenalnya.


" Eh, Rania," sapa Desi dengan tersenyum menyapa dengan ramah.


" Kak, bukannya ini mobilku?" tanya Rania memastikan.


" Iya, dulu, sekarang jadi mobilku dong," sahut Desi dengan santainya membuat Rania kaget.


" Maksud kakak apa?" tanya Rania dengan jantungnya hampir mau copot.


" Aku sudah transfer biayanya kerekening Wilo, katanya kamu sudah tidak ingin mobil ini lagi dan akhirnya di jual. Ya karena kamu tau sendiri aku menyukainya jadi aku bayarin. Karena kalau beli baru kantung tidak cukup," ucap wanita itu bicara tanpa beban dan Rania sudah semakin kaget saja.


" Apa maksud kakak, apa kakak mau bilang kalau kak Willo menjual mobil ini?" tanya Rania dengan perasaannya yang dek-dekan.


" Hmmm, mobilnya di jual sama aku. Memang kamu tidak tau, mana mungkin tidak tau," sahut Desi dengan santainya. Sementara Rania sudah sangat panik.


" Kak Willo, benar-benar," geram Rania yang langsung histeris.


" Ya sudah aku balik dulu ya," sahut Desi yang langsung pergi sementara Rania sudah marah dan emosian dengan kakaknya yang menjual mobil kesangannya dengan mudahnya.


" Rania!" tegur Rendy yang melihat Rania panik.


" Kamu antar aku Kerumah ya," ucap Rania dengan suaranya yang sudah lemah.


" Baiklah," sahut Rendy.


Dan mereka pun akhirnya memasuki mobil dan akhirnya pergi bersama dengan Rania menuju rumahnya.


********


Tiba sampai di sana Rania tampak buru-buru sekali yang langsung ke luar dari mobilnya dengan langkahnya yang cepat dan Rendy buru-buru membuka sabuk pengamannya. Yang sudah mencium aroma-aroma perkelahian di sana.


" Kak Willo," geram Rania yang langsung marah-marah dan Willo ada di ruang tamu bersama mama, papa dan Della adikknya.


" Apaan sih kamu teriak-teriak. Kamu pikir ini hutan," sahut Willo langsung menyambar.


" Rania ada apa ini, kenapa kamu marah-marah datang kerumah ini?" tanya Rudi.


" Benar, sayang ada apa ini, kenapa marah-marah?" Faridah.


" Tau, nih bikin ulah, pakai teriak-teriak nama aku segala lagi," sahut Willo kesal.


" Apa yang kakak lakukan, kenapa kakak menjual mobilku?" tanya Rania dengan penuh emosinya.


" Willo, kamu menjual mobil Rania?" tanya Faridah kaget mendengarnya.


" Iya ma, dia menjual mobil kesayangan Rania, dia menjual dengan temannya. Tadi temannya yang beri tahu Rania," sahut Rania membenarkan semuanya.


" Ya ampun jadi hanya gara-gara, mobil kamu buat kehebohan seperti ini. Baru juga mobil," sahut Willo dengan gampangnya dan Rendy sudah tiba di sana dan dugaannya benar dia sudah melihat wajah-wajah yang penuh emosi.


" Apa kakak bilang. Kakak tau tidak itu mobil kesayangan Rania dan kakak seenaknya menjualnya tanpa sepengetahuan Rania," tariak Rania dengan geram yang ingin menerkam Willo.


" Sudah ya Rania, cukup, kamu ini hanya 1 mobil tapi hebohnya sampai kemana-mana. Kamu juga bisa beli lagi kan," sahut Rudi yang pasti akan membela Willo di bandingkan Rania.


" Pah, ini bukan masalah bisa di beli lagi atau tidak. Tapi ini masalah etika dan juga itu mobil bukan sembarangan," sahut Rania geram dengan matanya yang berkaca-kaca yang penuh kekecewaan..

__ADS_1


" Rania sudah, tenangkan diri kamu, tidak ada gunanya ribut-ribut," sahut Rendy.


Bersambung


__ADS_2