Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 187 Kerumah Agam.


__ADS_3

Ternyata Anisa di jemput oleh Agam. Dan mobil mewah Agam berhenti di depan Villa mewah. Agam turun dari mobil terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Anisa.


" Ayo turun!" ajak Agam.


" Kita mau ngapain di sini?" tanya Anisa heran dengan melihat di sekelilingnya dan merasa begitu gelisah.


" Bukannya aku sudah mengatakan kepadamu. Aku hanya ingin mengundangmu makan siang. Itu saja," sahut Agam.


" Lalu kenapa di sini. Kenapa tidak Restauran saja," sahut Anisa yang masih tetap berada di dalam mobil.


" Aku ingin kamu yang memasaknya di rumahku. Aku mendengar kamu itu sangat pintar memasak. Jadi aku ingin kamu memasak untukku," ucap Agam.


" Aku tidak bisa memasak," sahut Anisa dengan ketus.


" Anisa jangan menolak. Bukannya kita sudah berjanji ini akan menjadi pertemuan terakhir kita dengan syarat kita menghabiskan waktu seharian dengan melakukan banyak kegiatan," ucap Agam. Anisa terlihat berpikir lagi yang ragu untuk memasuki rumah Agam.


" Jangan banyak berpikir. Ayo turun aku akan tidak akan mengganggumu setelah ini," ucap Agam. Anisa menarik napasnya panjang dan membuangnya dengan perlahan.


" Baiklah," sahut Anisa yang akhirnya turun. Agam tersenyum manis melihat Anisa.


" Mari masuk," sahut Agam yang mempersilahkan Anisa untuk memasuki Villanya dan Anisa pun menurut saja.


Agam membuka pintu depan dan Anisa berdiri di belakanganya yang mana kepala Anisa melihat-lihat di sekelilingnya. Villa itu terlihat sepi yang tidak ada penghuninya sama sekali.


" Mari masuk!" titah Agam lagi. Anisa mengangguk dan akhirnya masuk. Agam menyusul dan menutup pintu rumahnya tersebut.


Anisa melangkah dengan kepalanya yang berkeliling. Vila itu terlihat begitu mewah dan pasti sangat indah, karena dingding kaca yang langsung melihat ke arah pantai yang indah.


" Kamu di sini sendiri?" tanya Anisa.


" Hmmm, ini Villa keluarga aku. Kalau liburan di Bali. Aku akan di sini," sahut Agam.


" Begitu rupanya," sahut Anisa dengan datar-datar saja menanggapinya.


" Ayo! di sana dapurnya!" tunjuk Agam yang kembali mempersilahkan Anisa. Anisa pun ikut-ikutan saja dan melihat ke arah dapur tersebut yang sudah lengkap dengan bahan makanan yang sudah di siapkan.


" Sebaiknya aku cepat-cepat menurutinya untuk memasak. Supaya aku cepat pulang," batin Anisa.

__ADS_1


" Kamu mau di masakkan apa?" tanya Anisa melihat ke arah Agam.


" Apa yang menurut kamu special," sahut Agam.


" Aku mana tau apa yang kamu sukai," sahut Anisa.


" Hmmm, begitu rupanya. Apa kita harus mengobrol dulu. Supaya saling tau apa yang aku sukai dan apa yang tidak," sahut Agam dengan menaikkan 1 alisnya.


" Aku rasa itu tidak perlu. Kamu katakan saja apa yang kamu mau. Biar aku masakkan. Kamu jangan membuang-buang waktuku," sahut Anisa yang kembali begitu jutek.


" Baiklah Anisa, aku hanya bercanda. Tetapi kamu sudah sangat serius seperti itu. Kamu masakan aku makanan favoritmu saja," sahut Agam.


" Baiklah!" sahut Anisa yang tidak membantah atau apapun lagi. Agar tidak terjadi perdebatan yang membuat mereka semakin lama nantinya.


" Silahkan memasak. Aku akan menunggu di teras belakang. Aku akan akan bermain game untuk menunggumu dan jika ada apa-apa. Kau bisa tanyakan aku," sahut Agam. Anisa mengangguk saja.


Agam pun langsung pergi dari hadapan Anisa dan Anisa pun menghampiri meja tempat sayuran itu.


" Kenapa dia sangat suka membuat ribet," batin Anisa yang terlihat begitu kesal. Namun Anisa tidak punya pilihan. Anisa pun dengan cepat buru-buru memasak. Ya harus buru-buru biar dia bisa cepat pulang dan ini pertemuan terakhirnya dengan Agam.


**********


Hanya 1 jam kurang lebih Anisa selesai memasak. Dan akhirnya masakannya selesai. Anisa pun mengantar masakan itu pada Agam.


" Cepat juga selesainya," sahut Agam.


" Untuk apa di lama-lama kan," sahut Anisa ketus yang menghidangkan makanan itu di depan Agam.


" Kamu sengaja cepat-cepat supaya cepat pulang," sahut Agam menebak.


" Lalu apa lagi. Kau pikir aku suka lama-lama di sini," sahut Anisa.


" Hmmm, baiklah kalau begitu. Aku akan mencoba menikmati makanan yang kamu buat," sahut Agam. Anisa diam saja dan tidak menanggapi kata-kata Agam lagi.


Agam meletakan handphonya dan melihat makanan yang tertata di meja itu. Ada 3 menu makanan yang dalam ke ahlian Anisa memasaknya. Walau terpaksa tetapi Anisa tidak membuatnya asal-asalan. Agam mencoba mencicipi masakan itu.


" Kamu tidak duduk. Apa tidak ingin untuk mencobanya?" tanya Agam.

__ADS_1


" Kamu saja yang makan," sahut Anisa menolak.


" Duduklah dan temani aku makan. Aku tidak mungkin menghabiskan makanan ini sendirian," sahut Agam.


Anisa berdecak kesal yang mau tidak mau memang harus menuruti Agam. Dan dengan terpaksa Anisa pun duduk di depan Agam. Agam hanya tersenyum melihat Anisa yang tidak menolak apapun yang di perintahkan nya.


Agam dan Anisa pun makan bersama. Tanpa obrolan. Sebenarnya Agam mengajaknya mengobrol. Tetapi namanya Anisa tidak menanggapinya. Dia hanya ingin cepat-cepat pulang agar urusannya dan Agam cepat selesai.


Di sela-sela makan Anisa tiba-tiba memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berat.


" Kamu kenapa?" tanya Agam heran.


" Kepalaku sakit. Apa aku boleh pulang," sahut Anisa memegang kepalanya.


" Tapi aku belum selesai makan dan bukannya kita janji untuk menghabiskan waktu seharian," sahut Agam.


" Aku mana tau kalau kepalaku akan sakit," sahut Anisa dengan kesal.


" Baiklah, kalau kamu ingin pulang. Tetapi berati ini bukan pertemuan terakhir kita," sahut Agam.


" Terserah kamu," sahut Anisa kesal.


" Baik kalau begitu. Aku ambil kunci mobil dulu. Kamu tunggu di sini," ucap Agam. Anisa hanya mengangguk dan Agam pergi mengambil kunci mobil.


Anisa meminum air putih untuk menetralkan kondisinya yang memang tidak baik.


" Kenapa tiba-tiba pusing sih, benar-benar aneh," batin Anisa yang terus memegang kepalanya yang terasa pusing.


Tidak lama akhirnya Agam kembali ke teras belakang dan ternyata Anisa sudah tidak sadarkan diri di sofa. Agam tersenyum melihatnya.


Agam menghampiri Anisa duduk di samping Anisa dengan mengusap-usap pipi Anisa.


" Aku tidak tau apa kah setelah kita menghabiskan waktu akan menjadi pertemuan terakhir. Atau justru akan membuat kita semakin bertemu," ucap Agam dengan mengecup bibir Anisa.


" Manis. Aku menyukaimu Anisa. Aku hanya ingin kau menjadi milikku. Aku penasaran dengan mu. Dan aku ingin tau bagaimana dirimu," ucap Agam yang tersenyum miring melihat Anisa yang tidak sadarkan diri.


Di saat Anisa kebelakang ingin mengambil makanan lagi. Agam mengambil kesempatan memberikan sesuatu di minuman Anisa dan mungkin itu yang membuat Anisa tiba-tiba pusing.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2