
Rania terus terlihat membuang napasnya dengan perlahan karena rasa grogi yang di hadapinya. Tangannya juga sangat dingin.
" Apa lukanya sudah kering?" tanya Rania dengan suaranya yang bergetar yang begitu gugup.
" Belum kering, mungkin 2 hari kedepan, kamu jangan banyak bergerak melakukan sesuatu hal yang lain. Lukanya bisa akan lama mengering," ucap Rendy. Rania hanya mengangguk-angguk.
" Apa sangat dalam. Makanya sampai seperti itu?" tanya Rania.
" Lukanya 7 cm," jawab Rendy.
" Kamu masih merasa sakit?" tanya Rendy melihat ke arah Rania.
" Hanya sedikit-sedikit," jawab Rania.
" Kamu jangan khawatir kamu akan secepatnya sembuh," ucap Rendy. Rania mengangguk tersenyum.
" Rania duduklah, aku akan memberikan perban keliling pada perut mu untuk lebih aman," ucap Rendy.
" Hmmm, baiklah," sahut Rania dengan gugup dan Rendy membantunya untuk duduk. Rendy melihat Rania yang begitu gugup.
" Pakaianmu harus di lepas semua," ucap Rendy dengan suara seraknya.
Uhuk uhuk uhuk,
Rania langsung tersedak mendengarnya dan melihat ke arah Rendy. Dia begitu kaget dengan kata-kata Rendy yang menyuruhnya melepas pakaian.
" Apah, di lepas. Jadi pakaian ku harus di lepas. Berarti dia akan melihat semuanya," batin Rania yang kelihatan panik.
" Kamu kenapa diam?" tanya Rendy.
" Oh tidak. Ya kalau memang harus di lepas. Ya sudah lepas saja," sahut Rania yang tidak bisa berbuat apa-apaagi. Bahkan tidak berani mengatakan untuk tidak. Dia malah terlihat kepanasan bahkan dahinya berkeringat dengan terus mengepal tangannya yang menahan dirinya.
" Kamu gugup?" tanya Rendy menatap Rania.
" Kenapa harus bertanya Rendy, jelas aku sangat gugup. Masa iya aku mempertontonkan diriku," batin Rania yang bertambah gugup dengan tatapan Rendy yang membuat pertempuran di dalam sana.
" Jika kamu tidak nyaman, aku telpon suster, untuk membantumu," ucap Rendy memberi saran. Karena tau istrinya kurang nyaman.
" Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa. Kenapa harus panggil suster kalau kamu sendiri Dokter. Ya kamu lakukan yang seharusnya kamu lakukan, lagian bukannya sebelumnya kamu juga melakukannya," ucap Rania dengan gugup. Rania bahkan tidak berani melihat Rendy mengalihkan pandangannya entah kemana-mana.
__ADS_1
" Aku juga tidak melakukannya sendiri. Aku melakukannya dengan suster-suster," sahut Rendy.
" Ya sudah kalau begitu kamu lakukan seperti biasanya," sahut Rania.
" Baiklah, tapi kamu harus tenang," sahut Rendy. Rania mengangguk.
Dengan perlahan Rendy membuka kancing baju Rania bagian atas. Kepala Rania miring kesamping tidak berhadapan dengan Rendy. Karena dia sungguh tidak berani menghadap Rendy.
Rendy terus melakukan pekerjaannya sampai kancing baju terbuka sampai bawah. Lalu melepas kemeja Rania dan Rania pasrah dengan memejamkan matanya. Rendy tau Rania begitu gugup.
Mungkin karena mereka suami istri makanya saling gugup seperti itu. Rendy juga tidak bisa bohong jika perasaannya juga bercampur aduk di dalam sana. Pakaian itu terlepas dan memang hanya memperlihatkan pakaian dalam Rania yang masih di lapisi tantop putih.
Rendy menarik tantop itu keatas sedikit untuk mengambil tempat perban yang pas untuk luka Rania.
" Tolong bantu pegang," ucap Rendy lembut. Rania memegangnya tanpa melihat Rendy dan Rendy pun mengambil gulungan perban. Lalu mulai melilit pernah di perut Rania dengan berputar.
Rania hanya berharap Rendy tidak mendengar suara debaran jantungnya yang tidak normal di dalam sana. Bahkan sedari tadi Rania terus bermain dengan napasnya. Dia merasa tidak tenang bahkan ingin berhenti bernapas.
" Rania, pegangkan ujung perbannya," ucap Gilang. Namun Rania masih diam saja dan bahkan tidak mendengar apa kata Rendy. Mungkin dia sibuk dengan pikirannya yang tidak menentu.
" Rania," tegur Rendy.
" Kenapa aku seperti ini. Ada apa denganku," batin Rania tidak mengerti dengan perasaannya yang bercampur aduk.
" *Dia istrimu Rendy. Tidak ada yang salah yang kamu lakukan, jika kau gugup dan tidak profesional itu sangat wajar. Karena dia istrimu," batin Rendy yang juga perasaannya tidak tenang. Selain kemarin menangani Rania.
Rendy juga baru kali ini melihat tubuh mulus Rania dengan langsung dan dia adalah laki-laki normal. Wajar pikirannya tidak tenang. Mereka saling menatap beberapa detik*.
" Pegangkan!" ucap Rendy. Rania mengangguk dan memegangnya. Lalu Rendy kembali melanjutkan pekerjaannya.
Akhirnya Rendy selesai melakukan pekerjaannya dengan perasaan yang sama sekali tidak tenang sama dengan Rania yang gelisah dan terus gelisah.
Setelah selesai memberi perban pada istrinya. Rendy juga menggantikan pakaian Rania. Rendy mengambil kemeja. Karena kemeja memudahkan Rendy untuk memeriksa luka itu. Rania seperti anak kecil yang di pakaikan baju oleh suaminya.
Setelah kemeja itu terpasang di tubuhnya, Rania memperbaiki rambut Rania mengeluarkan dari dalam baju. Terlihat Rania begitu gerah. Karena terlihat keringat membasahi lehernya dan juga dahinya. Setiap apa yang di lakukan Rendy hanya menguji Rania yang menahan dirinya.
" Bisa ikatkan rambutku?" tanya Rania dengan pelan.
" Baiklah," jawab Rendy yang tanpa menolak dan langsung mengikat rambut Rania agar Rania tidak kepanasan di yang berada di belakang Rania mengikat dengan lembut.
__ADS_1
" Kamu kepanasan?" tanya Rendy.
" Iya," jawab Rania.
" Padahal AC-nya menyala kenapa kepanasan?" tanya Rendy.
" Aku mana tau, kenapa harus di tanyakan," sahut Rania.
" Baiklah jangan di bahas. Rambutmu sudah selesai. Sekarang kamu minum obat," ucap Rendy.
" Rania mengangguk lagi. Rendy pun langsung memberikan obat pada Rania. Dan Rania langsung menelannya.
" Makasih," ucap Rania.
" Istirahat lah," ucap Rendy. Rania mengangguk. Rendy ingin berdiri. Namun Rania menghentikannya.
" Terimakasih, kamu sudah merawatku," ucap Rania.
" Nanti saja berterima kasih. Kalau kamu sudah sembuh," ucap Rendy.
" Aku juga berterima kasih kamu memberikan darahmu kepadaku," ucap Rania.
" Kamu tau dari mana?" tanya Rendy heran.
" Aku mendengar suster berbincang-bincang dan mengatakan itu," jawab Rania. " dan kelihatan mereka juga tidak tau kalau aku istrimu. Apa kamu tidak mengatakan. Kalau kamu menikah?" tanya Rania.
" Aku tidak merahasiakan apapun. Mungkin sebagian dari mereka tau dan sebagian tidak," jawab Rendy.
" Lalu kalau mereka tau. Tidak akan masalahkan?" tanya Rania.
" Kenapa harus masalah kan memang kamu istriku," sahut Rendy.
" Oh, iya, memang seperti itu, yang penting aku berterima kasih kepadamu. Kamu begitu baik kepadaku," sahut Rania.
" Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan.
" Lalu bagaimana aku membalasnya? tanya Rania.
" Aku tidak ingin apa yang aku lakukan menjadi hutang Budi. Jadi jangan berpikir untuk membalasnya. Kamu sebaiknya istrirahat. Aku mandi dulu," ucap Rendy yang beralih langsung dari tempat tidurnya. Rania mengangguk-angguk saja.
__ADS_1
Bersambung