Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 222 persiapan pernikahan.


__ADS_3

Anisa tetap tidak menyadari jika Agam berada di belakangnya. Setelah tes itu sudah naik dan punggung Anisa sudah tertutup. Agam memegang pundak Anisa dengan mengusapnya lembut dengan ke-2 tangannya. Anisa yang merasa aneh terdiam dengan aktifitasnya dan sejenak berkarir.


Agam tiba-tiba saja mencium rambut belakang Anisa yang di gerai memanjang itu. Anisa kaget dan dengan cepat membalikkan tubuhnya dan kaget melihat Agam yang sudah ada di sana


" Apa yang kamu lakukan!" teriak Annisa yang langsung mendorong Agam yang hampir jatuh.


" Kau benar-benar kurang ajar Agam," teriak Anisa yang seperti kesetanan melihat kelakukan Agam yang seperti ingin melecehkannya.


" Santai Anisa aku hanya membantumu, sumpah," sahut Agam dengan mengangkat ke-2 jarinya.


" Bohong kau pasti sengaja masuk diam-diam untuk mengintipku. Mata mu itu memang jelalatan," sahut Anisa yang langsung marah-marah.


" Anisa kau jangan salah paham, aku hanya tidak sengaja masuk dan melihatmu kesulitan dan aku hanya membantumu," sahut Agam membela diri.


" Alah sudahlah jangan banyak alasan dengan ku. Kau pikir aku tidak tau niat busukmu itu. Apa ada kata-kata mu yang bisa di percaya hah! kau itu penuh kebohongan," sahut Anisa dengan kesal.


" Heh, ngapain juga aku mengintipmu. Aku juga pernah melihat tubuhmu. Jadi tidak ada gunanya aku mengintip mu," sahut Agam.


" Mulutmu benar-benar ya Agam," geram Anisa yang ingin memukul Agam.


" Anisa kamu di dalam apa yang terjadi!" tiba-tiba terdengar suara dari luar yang membuat Anisa kaget dengan matanya yang melotot.


" Iy..." Agam tiba-tiba mau bersuara dan Anisa dengan cepat membekap mulut Agam sehingga Agam tidak bisa bicara sama sekali.


" Diam!" geram Anisa.


" Iya mah, masih memakai pakaian," sahut Anisa dengan panik.


" Lalu kenapa berteriak apa yang terjadi?" tanya Sarah.


" Tidak apa-apa mah, ada binatang tiba-tiba muncul," sahut Anisa. Mata Agam membulat sempurna mendengar kata binatang yang pasti itu adalah dirinya.


" Binatang apa?" tanya Sarah.


" Hanya kecoa ma," sahut Anisa.


" Sialan dia mengataiku aku kecoa," batin Agam yang terlihat kesal.


" Lalu kamu bagaimana apa sudah baik-baik saja. Apa kecoanya sudah pergi. Mama masuk ya," sahut Sarah. Anisa semakin panik mendengar jika mamanya ingin masuk.


" Jangan ma, kecowanya, sudah pergi kok," sahut Anisa yang dengan cepat bertindak.

__ADS_1


" Anisa juga sebentar lagi akan selesai. Jadi mama tunggu di luar saja," sahut Anisa yang masih terus membekap mulut Agam yang membuat Agam kesulitan bernapas.


" Hmmmm, ya sudah kalau begitu jangan lama-lama," sahut Sarah.


" Iya ma," sahut Anisa dan langsung melepas tangannya dari mulut Agam dan Agam langsung menghembuskan napasnya dengan kuat yang mana terasa sesak dan hampir mati karena ulah Anisa.


" Kau hampir membunuhku," ucap Agam dengan napasnya yang naik turun.


" Kau yang hampir membunuhku. Jika mama benar-benar masuk tadi, maka semuanya akan selesai," ucap Anisa dengan kesal.


" Tetap aja kau tidak perlu menghentikan pernapasanku," sahut Agam dengan kesal.


" Itu kesalahanmu sendiri. Karena kau yang mencari masalah. Sudah sana kau keluar dari ruangan ini. Jangan sampai mama dan yang lainnya melihatku dengan kau ada di sini, sana keluar!" usir Anisa dengan kesal.


" Iyaaa," sahut Agam yang tidak ikhlas dan langsung pergi begitu saja.


" Huhhhh, hampir saja semuanya berantakan. Memang benar-benar dia itu otaknya terbuat dari apa," ucap Anisa yang masih begitu kesal dengan Agam. Anisa juga mengatur napasnya dengan perlahan.


*********


Tidak lama akhirnya Anisa dan Agam pun yang sudah memakai pakaian pengantin menunjukkan diri di depan Sarah dan juga Ratih.


" Tante jangan berlebihan," sahut Anisa yang kurang nyaman dengan pujian itu.


" Apa yang Tante katakan benar. Masyallah semoga pernikahan kalian di lancarkan sampai hari Ha nya," sahut Ratih tersenyum lebar.


" Makasih Tante untuk pujiannya. Dan makasih untuk doanya," sahut Agam.


" Ya sudah jika yang ini sudah cocok. Kita pulang saja. Masih banyak yang harus di urus. Kalian juga harus membeli cincin kawin," sahut Sarah.


" Tidak perlu Tante. Aku sudah meyiapkan cincin pernikahan kami," sahut Agam. Anisa kaget mendengarnya sampai melihat Agam.


" Kamu sudah membelinya?" tanya Anisa.


" Uta aku sudah membelinya," jawab Agam


" Apa cocok untukku?" tanya Anisa.


" Tenag saja semuanya aman, percayakan kepadaku," sahut Agam dengan percaya dirinya.


" Alhamdulillah jika masalah cincin sudah di persiapkan Agam. Jadi kita tidak perlu mencari cincin lagi. Kita bisa menyiapkan yang lain," sahut Ratih.

__ADS_1


" Hmmm, ya sudah. Kamu juga Agam jangan lupa siapkan mahar untuk Anisa. Jangan pelit-pelit dengan mahar," sahut Sarah mengingatkan hal yang paling penting baginya.


" Tante jangan khawatir saya sudah menyiapkan semuanya. Jadi Tante tidak perlu khawatir," sahut Agam dengan santai.


" Hmmm, baguslah kalau begitu. Jangan sampai mengecewakan saya," sahut Sarah.


" Mama apa-apaan sih. Memang harus apa dua harus membicarakan masalah mahar yang sebenarnya tidak perlu di bahas di depan Tante Ratih," batin Anisa yang merasa mamanya bicara terlalu kelewatan.


" Ya sudah jika sudah tidak ada lagi. Sebaiknya kita pulang," sahut Ratih. Anisa mengangguk begitu juga dengan Agam yang mengangguk.


*********


Setelah semuanya selesai Anisa, Ratih dan Sarah pulang kerumah dan Agam juga pulang kerumahnya. Di ruang tamu terlihat Anisa, Nia dan Zahra yang sibuk dengan mempersiapkan undangan.


" Assalamualaikum," sapa sapa Ratih.


" Walaikum salam," jawab semuanya dengan serentak.


" Mama sudah pulang," sahut Nia. Ratih mengangguk dan ikut duduk di ruang tamu begitu juga dengan Ratih dan juga Anisa.


" Apa semuanya lancar?" tanya Zahra.


" Semuanya lancar. Kalian sendiri bagaimana apa semuanya lancar," sahut Ratih.


" Lancar kok ma, tinggal di sebar aja. Kita juga sudah bagi asingkan beberapa bagian undangannya," sahut Rania.


" Alhamdulillah kalau begitu," sahut Ratih yang tersenyum lebar.


" Rania pasti senang banget yang sekarang sudah tidak Anisa lagi. Dia akan merasa hidupnya sebahagia itu dengan suaminya," batin Sarah yang masih tidak ikhlas melihat kebahagian orang lain.


" Ehmmmm, syukurlah kalau kalian juga membantu mempersiapkan pernikahan Anisa," sahut Sarah.


" Ya itu kan memang harus Tante," sahut Nia.


" Hmmm, ya Anisa mama senang kamu menikah semoga saja setelah menikah kamu cepat punya anak. Jangan lama-lama. Supaya suami kamu tidak lari," sahut Sarah yang mengalihkan pembicaraan yang bertujuan untuk menyindir Rania dan Rania memang saat itu langsung terdiam.


" Ma, baru juga mau nikah sudah bicara anak. Udah deh nggak usah bicara kemana-mana," sahut Anisa.


" Sudah ayo kita lanjutkan untuk menyiapkan undangannya," sahut Ratih yang kembali mencairkan suasana.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2