Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 203 Elang dan Zahra.


__ADS_3

Pagi ini Rania yang di temani suaminya memeriksakan rahim Rania dengan serius. Rendy terus berada di sampingnya dengan genggaman tangan yang begitu erat yang tidak ingin melepas istrinya sedikitpun. Genggaman tangan itu juga seperti semangat atau tersimpan rasa khawatir yang sama sekali tidak dapat di mengerti.


" Ya Allah semoga tidak terjadi apa-apa pada istri hamba. Semoga istri hamba baik-baik saja," batin Rendy yang terus berusaha tenang. Sementara Dokter kandungan itu begitu tenang memeriksa rahim Rania. Sama dengan Rania yang juga terlihat tenang dan hanya Rendy yang tidak tenang.


Tidak butuh waktu lama untuk memeriksa rahim Rania yang akhirnya Dokter selesai dan menyinggirkan alat-alatnya.


" Saya akan masukkan pada lab. Kondisi Bu Rania akan kita ketahui beberapa jam lagi," ucap Dokter pada Rendy.


" Baik Dokter," sahut Rendy.


" Apa ada hal yang serius Dokter?" tanya Rania yang kelihatan mulai khawatir.


" Kita lihat aja nanti ya Bu Rania. Saya belum bisa memberikan jawaban apa-apa," sahut Dokter.


" Baiklah Dokter," sahut Rania.


" Baiklah, Bu Rania sebaiknya istirahat yang tenang. Saya permisi dulu," ucap Dokter pamit.


" Makasih Dok," sahut Rendy. Dokter mengangguk dan langsung pergi.


" Aku tidak akan apa-apa kan?" tanya Rania pada suaminya.


" Tidak sayang. Kamu tidak akan apa-apa," jawab Rendy meyakinkan istrinya.


" Lalu bagaimana dengan anak kita. Apa dia juga baik-baik saja?" tanya Rania.


" Iya sayang anak kita juga baik-baik saja," jawab Rendy.


Krekkk.


pintu ruangan itu terbuka yang memperlihatkan Rudi, Willo, Ratih, dan Nia yang memasuki kamar Rania yang ingin menjenguk Rania.

__ADS_1


" Rania, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rudi begitu khawatir pada putrinya itu.


" Tidak pah. Rania hanya kecapean saja," jawab Rania begitu mudahnya.


" Alhamdulillah sayang. Papa sangat khawatir dengan kamu," sahut Rudi dengan wajah paniknya.


" Kalau kamu merasa tidak enak atau ada apa-apa. Seharunya kamu bilang sama kakak," sahut Willo yang juga mengkhawatirkan asiknya itu.


" Iya kak, Maaf ya kak, pah sudah membuat kalian semua khawatir. Tapi benar kok. Rania tidak apa-apa. Dokter juga bilang begitu," sahut Rania meyakinkan keluarganya.


" Alhamdulillah jika memang seperti itu," sahut Rudi.


" Kamu sudah makan?" tanya Rudi.


" Sudah kok pah, mama Ratih selalu menyuapi Rania. Jadi papa jangan khawatir selain di rawat Dokter suami Rania. Rania juga di rawat oleh mama Ratih yang sangat baik," sahut Rania memuji mertuanya itu.


" Kamu jangan berlebihan Rania. Itu memang tugas orang tua," sahut Ratih.


" Makasih Bu Ratih ibu sudah menjaga anak saja. Makasih juga Rendy yang selalu mendampingi Rania," ucap Rudi.


" Sama-sama Pak. Tetapi Rania adalah keluarga kami juga dan apa yang kami lakukan memang kewajiban kami," sahut Ratih.


" benar kata mama. Jadi tidak ada yang perlu di ucapkan kata terima kasih," sahut Rendy menambahi.


Rudi mendengarnya begitu lega. Sangat banyak yang menyayangi putrinya itu yang membuatnya begitu bahagia dan rasa khawatirnya yang berkurang. Rania juga semakin bertambah semangat dengan kedatangan papa dan kakaknya yang datang menjenguknya. Walau sebenarnya dia juga tidak ingin merepotkan siap-siap.


*********


Mekkah.


Mentari pagi kembali tiba. Di kamar hotel tempat Zahra dan Rendy menginap di sana. Ternyata pasangan suami istri itu masih tertidur lelap di atas tempat tidur yang king size tersebut.

__ADS_1


Dengan perlahan Zahra membuka matanya. Mungkin sudah waktunya bangun makanya Zahra bangun. Zahra melihat Elang masih tertidur miring yang menghadap dirinya.


Zahra tersenyum tipis yang melihat suaminya itu. Ternyata baru kali ini Zahra melihat Elang tertidur dan harus di akuinya. Jika Elang begitu tampan saat tertidur yang membuat senyum itu tidak hilang sama sekali.


Zahra begitu betah melihat dan menatap suaminya itu, dengan perlahan tangannya menyentuk pipi Elang. Jemari itu menyentuh mata, hidung Elang dengan perlahan bahkan mengusap bibir Elang.


Tidak tau kenapa dia seperti itu yang penting dia ingin saja melakukannya. Sampai akhirnya Zahra juga memberanikan diri memajukan wajahnya mencium bibir Elang. Hanya mengecup saja.


Elang membuka matanya perlahan saat merasakan sentuhan di bibirnya. Zahra langsung keciduk yang mencuri ciuman itu. Zahar mendadak gugup dengan kesulitan menelan salivanya.


" Maaf aku tidak bermaksud untuk melakukannya," ucap Zahra dengan gugup. Elang meraih tangan Zahra yang masih berada di pipinya. Elang mencium lembut telapak tangan itu dan mendekatkan dirinya pada Zahra dan mencium lembut kening Zahra.


Darah Zahra berdesir menerima ciuman hangat di keningnya di pagi hari yang indah itu. Tidak sampai di situ. Ternyata Elang juga mencium bibir Zahra yang seolah membalas ciuman Zahra tadi.


Zahra memejamkan matanya yang seolah memberikan izin pada Elang. Dan Elang yang mendapatkan ijin itu semakin memperdalam ciuman itu dengan memegang pipi Zahra untuk mendekatkan wajah Zahra pada wajahnya agar mempermudah untuk memperdalam ciuman itu.


Ciuman itu terlihat lembut dan begitu saling menikmati sampai Zahra sudah berbaring lurus dan Elang di atasnya yang terus menciumnya.


Gairah sepertinya memuncak yang seolah tidak ingin jika hanya dengan ciuman saja. Elang menghentikan ciuman itu, membiarkan Zahra bernapas sejenak. Zahra membuka matanya dan melihat mata Elang yang sudah di penuhi gairah yang membuat Zahra semakin gugup.


Elang pun kembali mencium Zahra dengan meraih tangan Zahra, membuat tangan itu mengalung di leher Elang dan Zahra sedikit memajukan tubuhnya untuk mempermudah Elang.


Dalam ciuman itu. Tangan Elang perlahan membuka kancing baju tidur Zahra. Tidak ada penolakan untuk Zahra. Mereka suami istri dan tidak ada yang salah dalam melakukan hal itu dan memang seharusnya mereka melakukan hal itu.


Ke-2nya yang sama-sama menginginkan hal itu sudah sama-sama polos. Pakaian itu sudah terlepas dari tubuh masing-masing dengan tubuh yang hanya di tutupi selimut.


Tubuh polos istrinya terus di sentuhnya tanpa melewatkan sehelai benang pun. Zahra menikmati semua sentuhan itu. Ini jelas berbeda pada saat mereka melakukan yang pertama dulu yang mana dulu ke-2nya sama-sama tidak sadar dan pasti tidak ada keinginan satu sama lain.


Tetapi kali ini semuanya sama-sama sadar dan memang menginginkan hal itu. ke-2nya pasnagan itu bahkan sudah melakukan penyatuan di dalam kamar itu.


Saling memberikan kenikmatan satu sama lain untuk ke-2nya yang memang sama-sama menginginkan hal itu. Pasangan itu bercinta dengan penuh cinta dan Elang melakukannya sangat hati-hati. Karena sangat menyadari jika ada janin di rahim istrinya yang saat ini ingin di jenguknya. Ternyata perjalanan umroh mereka menjadi perjalanan bulan madu yang penuh dengan cinta.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2