
Kepergian Rania dengan marah-marah membuat Rendy bingung.
" Apa yang terjadi Dokter?" tanya Rendy napas beratnya.
" Silahkan duduk Dokter Rendy!" ucap Dokter Anggi mempersilahkan Dokter Rendy untuk duduk dan Rendy pun langsung duduk dan begitu juga Dokter Anggi.
" Ini Dokter," sahut Dokter Anggi memberikan Rendy beberapa lembaran kertas. Ekspresi Rendy membaca lembaran kertas itu membuatnya sesak.
" Stadiumnya naik. Jadi kanker Rania sudah stadium 3," ucap Rendy dengan napas beratnya. Dokter Anggi mengangguk.
" Bu Rania tidak terima dengan kondisinya dan mengakibatkan dia marah-marah. Dan juga itu pengaruh dari hormonnya yang tidak stabil," jelas Dokter Anggi. Rendy memejamkan matanya dengan hembusan napas berat kedepan.
" Ya Allah kenapa cobaan ini semakin berat engkau berikan kepada istriku. Aku tau dia wanita yang kuat ya Allah. Tapi aku juga tau dia sangat lemah. Kenapa ya Allah. Tidak engkau limpahkan sakit itu kepadaku. Kenapa harus Rania istriku. Dia pasti semakin hancur dan semakin putus asa," batin Rendy dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya yang pasti air matanya yang sudah keluar.
" Yang sabar ya Dokter Rendy," ucap Dokter Anggi. Rendy mengangguk yang berusaha untuk ikhlas.
" Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Rendy. Dokter Anggi mengangguk dan Rendy langsung pergi.
********
Rendy pun mencari Rania di sekitar rumah sakit dan sama sekali tidak menemukan istrinya bahkan sudah mencarinya di parkiran. Tetapi tetap tidak menemukannya juga.
" Rania di mana kamu," ucap Rendy panik dengan menelpon Rania yang tidak juga mengangkat telpon darinya yang membuat Rendy semakin mencemaskan istrinya.
Rendy sudah mencari Rania di jalanan dengan menggunakan mobil. Rendy melihat ke kiri kekanan untuk mencari istrinya. Namun tidak di temukannya beberapa kali juga Rendy sudah menghuni Rania. Namun Rania tidak mengangkat telpon suaminya sama sekali.
Yang ternyata Rania kepemakaman anaknya yang telah di ambil paksa dari rahimnya. Di mana Rania terus menangis sengugukan memegang mesan yang kecil itu.
" Seharunya ibu tidak mengijinkan Dokter itu mengeluarkan kamu sayang dengan paksa. Seharusnya kamu tetap di perut ibu. Kamu pasti sudah lahir ke dunia ini. Andai ibu tidak setuju dengan kata-kata Dokter itu. Kamu sekarang melihat kamu menjadi korban dan ibu tidak sembuh sama sekali dan bahkan semakin parah," ucap Rania dengan menangis sengugukan.
__ADS_1
" Maafkan ibu sayang, maafkan ibu," ucap Rania yang mengeluarkan semua isi hatinya pada anaknya yang telah pergi ke surga
Ternyata Rendy menemukan istrinya. Yang firasatnya bertujuan pada tempat itu dan benar. Firasatnya istrinya ada di sana dan Rendy hanya diam mendengar curahan hati istrinya itu pada anak mereka. Dia tau betapa hancurnya Rania yang merasa mengorbankan segala-galanya. Namun tidak mendapatkan apa-apa.
" Maafkan ibu, maafkan ibu, maafkan ibu," ucap Rania yang terus meminta maaf. Rendy pun melangkah mendekati Rania yang duduk lemas di makam itu. Rendy langsung berada di samping Rania dengan memegang pundak Rania. Dan Rania menoleh ke arah suaminya. Rendy langsung memeluknya.
" Percuma semuanya, percuma semuanya. Tidak ada gunanya semuanya. Semuanya sia-sia. Aku sudah berusaha. Kamu tau banyak hal yang aku lakukan. Banyak hal yang aku korbankan tetap apa. Aku tetap seperti ini seharusnya kamu tidak membujukku untuk menggurkan anak kita. Seharusnya tidak di lakukan. Lihat sekarang aku tetap seperti ini," ucap Rania yang menangis di pelukan Rendy dengan terisak-isak. Rendy mengusap-usap rambut Rania dan memeluknya erat yang membiarkan Rania mengatakan apapun.
Rendy mebiarkan Rania mengeluarkan apa yang di simpannya. Karena Rendy tau rasa hancurnya Rania. Rania yang merasakannya dan kali ini Rendy tidak mau banyak bicara yang membuat istrinya down. Rania terus menangis dan bicara panjang lebar dengan kata-kata yang itu-itu saja sampai akhirnya dia tidak bicara lagi. Namun hanya terdengar suara isakan tarikan nafas yang mungkin Rania sudah lelah.
Rendy melepas pelukan itu dengan memegang ke-2 pipi istrinya mengusap wajah Rania dengan rambut Rania yang lengket di wajah itu. Rendy mencium lembut kening Rania menatap mata Rania yang penuh kekecewaan.
" Kita pulang ya," ucap Rendy dengan lembut yang menahan air matanya.
Rania menganggukkan kepalanya. Rendy tersenyum dan perlahan membatu istrinya untuk berdiri. Tubuh Rania begitu lemah dan bahkan kakinya sangat kebas membuat Rendy lebih memilih menggendong Rania ala bridal style.
" Aku tau sayang kamu sangat lelah. Kamu kecewa, kamu marah dengan semua yang terjadi. Aku tau itu sayang. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha berdoa. Selebihnya kembali lagi pada ilahi yang menentukannya dan sangat wajar jika kamu sangat tertekan seperti ini," batin Rendy yang terus mencoba untuk memahami perasaan istrinya.
***********
Anisa, Agam, dan Sarah sedang makan malam bersama di rumah Agam.
" Undangan apa yang barusan Anisa datang?" tanya Sarah.
" Undangan dari Zahra baby shower untuk kandungannya," jawab Anisa sambil mengunyah makanannya.
" Di mana di adakan?" tanya Sarah.
" Di rumah Tante Ratih," jawab Anisa.
__ADS_1
" Kamu pergi?" tanya Sarah.
" Kalau nggak ada halangan aku sama Elang akan pergi," jawab Anisa.
" Ngapain sih harus pergi. Kamu tidak ingat mereka sudah usir mama dari rumah itu," ucap Sarah yang mengingat kejadian itu.
" Mah, Anisa dan Agam tidak ada masalah atau urusan dengan mereka dan mama yang di usir. Dan kalau kita di undang ya sebisanya kita pergi," ucap Anisa dengan bijak.
" Aku juga setuju. Lagian aku juga jarang silaturahmi ke tempat Tante Ratih. Jadi tidak ada salahnya akan pergi ke sana," sahut Agam.
" Kalina berdua ini sama aja. Bukannya membela mama, malah membela keluarga itu," sahut Sarah kesal.
" Tidak ada yang membela. Kita netral," sahut Anisa.
" Alah sudahlah, terserah kalian ber-2. Sana kalau mau pergi. Tapi jangan ajak-ajak mama. Mama tidak sudi kerumah itu lagi," sahut Sarah.
" Kitakan memang tidak ajak mama," sahut Agam dengan santai.
" Agam kamu benar-benar ya," geram Sarah semakin kesal. Anisa hanya geleng-geleng dengan mamanya yang sikapnya kayak anak kecil.
" Kalian ber-2 memang tidak menghargai mama di rumah ini. Mama sudah tidak selera makan," ucap Sarah yang langsung berdiri dan langsung pergi.
" Kenapa sih mama?" tanya Agam.
" Nggak tau biarin ajalah," sahut Anisa yang masa bodo. Agam hanya geleng-geleng. Memang mertuanya itu memang ada-ada saja dalam mencari gara-gara dan Agam sudah terbiasa dengan ngambek-ngambekkan dari mertuanya itu.
" Malas juga meladeni mama," batin Anisa.
Bersambung
__ADS_1