Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 285


__ADS_3

Bandara.


Akhirnya keluarga Rendy tiba di bandara untuk melakukan perjalanan umroh yang lengkap dengan keluarga dari almarhum istrinya. Mario ikut tapi hanya mengantarkan saja.


" Makasih ya Mario kamu sudah mengantarkan kami," ucap Ratih.


" Sama-sama Tante," jawab Mario.


" Om Mario tidak ikut?" tanya Asyifa.


" Tidak Asyifa," jawab Mario.


" Hmmmm, bakalan kengen dong sama Tante Nia," sahut Asyifa menggoda tantenya.


" Asyifa kamu ini," ucap Nia pelan yang malu dengan Asyifa yang asal-asal bicara saja.


" Lagian kalau Om ikut. Pasti ayah tidak ijinkan karena ayah tidak mau Om Mario dekat-dekat dengan Tante Nia kan bukan muhrim. Makanya di halalin biar jadi muhrim," ucap Asyifa dengan terus menggoda.


Yang lainnya hanya senyum-senyum saja mendengar kata-kata Asyifa yang pasti korban malu dari Mario dan Nia yang di goda anak kecil.


" Asyifa kamu ini!" geram Nia dengan wajahnya yang sudah memerah.


" Kenapa, kan emang benar apa yang Asyifa katakan. Iya kan ayah. Ayah akan marah kalau Tante Nia dan Om Mario berduan terus. Makanya ayah selalu suruh Asyifa untuk ada di tengah-tengah," ucap Asyifa lancarnya bicara yang mengundang tawa semua orang.


Anak kecil itu memang akan membuat orang-orang mati kutu jadi jangan di pancing-pancing anak kecil itu.


" Sudah-sudah Asyifa, kamu ya buat Tante Nia malu saja, nakal lo," sahut Willo.


" Maaf Tante, jangan marah ya," ucap Asyifa dengan memegang tangan Nia. Nia mengangguk.


" Ya sudah sebaiknya sekarang kita pergi," sahut Rudi.


" Ya sudah ayo. Mario makasih ya sekali lagi," ucap Ratih.


" Iya Tante," sahut Mario tersenyum.


Akhirnya merekapun berpisah dari Mario. Mereka langsung menaiki pesawat setelah melakukan prosedur perjalanan dengan benar.


Merekapun sudahe menduduki kursi pesawat. Asyifa pasti duduk di samping ayahnya. Nia bersama Ratih, Willo bersama anak perempuannya dan Rudi bersama cucu laki-laki nya.


Di dalam pesawat yang sudah berjalan. Di mana sekarang mereka sedang makan.

__ADS_1


" Ayah Asyifa mau kekamar mandi," ucap Asyifa.


" Ya sudah ayo ayah antar," ucap Rendy.


" Tidak usah ayah. Asyifa sama Tante Willo aja," sahut Asyifa.


" Ya sudah," jawab Rendy. Karena ayahnya sedang makan. Dia tidak mau mengganggu makan ayahnya. Anak itu memang anak yang begitu pengertian sekali.


*******


Asyifa pun selesai ke toilet yang di temani Willo saat keluar dari toilet. Asyifa melihat di salah satu bangku. Seorang wanita yang duduk yang memakai cadar yang membaca Al-Qur'an kecil. Yang mana mencuri perhatian Asyifa saat melihat mata wanita itu.


" Asyifa ayo," ajak Willo.


" Baik Tante," sahut Asyifa. Wanita yang memakai cadar itu tak lain adalah Aisyah. Merasa ada sesuatu membuat Aisyah menoleh kebelakang dan melihat seorang wanita yang berjalan dengan seorang anak kecil.


" Kenapa jantungku berdebar, kenapa seakan ada yang menarikku," batin Aisyah memegang dadanya yang merasa ada yang aneh pada dirinya.


Asyifa kembali duduk di tempatnya dan kepikiran sesuatu.


" Ayo Asyifa makan lagi," ucap Rendy.


" Boleh nak," jawab Rendy yang langsung memberikan handphone pada Asyifa.


Dia memang tidak perlu bertanya untuk apa handphone itu. Asyifa langsung membuka galeri dan melihat foto ibunya. Asyifa memperhatikan mata ibunya dengan wanita yang di temuinya. Sangat mirip sekali dengan ibunya.


" Ayah!" tegur Asyifa.


" Iya sayang kenapa?" tanya Rendy.


" Apakah di dunia ini ada yang mirip?" tanya Asyifa.


" Pasti ada yang mirip, saudara kembar juga mirip. Dan kata orang-orang di dunia ini ada 7 kemiripan," jawab Rendy.


" Lalu apa ibu Asyifa juga mirip dengan wanita yang tadi," batin Asyifa.


padahal hanya melihat matanya saja. Asyifa sudah bisa menyimpulkan ibunya sangat mirip dengan wanita yang 2 kali di temuinya.


" Asyifa kenapa bengong?" tanya Rendy.


" Tidak apa-apa ayah," jawab Asyifa, " ini handphone ayah," Asyifa memberikan handphone itu pada Rendy.

__ADS_1


" Sekarang Asyifa makan ya," ucap Rendy. Asyifa mengangguk dan makan dengan tenang. Tetapi masih memikirkan wanita yang di lihatnya tadi.


***************


Akhirnya mereka sudah sampai di Mekkah. Mereka juga berada di apartemen keluarga Rendy yang memang ada di Mekkah.


Asyifa terlihat main-main di kamar dia dan ayahnya. Asyifa bermain bersama Lulu dan Dedy anak dari Willo.


" Kak Lulu sini deh!" ajak Asyifa memanggil saudara sepupunya itu. Lulu mendekat dan Asyifa berbisik di telinga Lulu.


" Jangan bilang ayah. Asyifa melihat ibu," bisik Asyifa membuat mata Lulu terbelalak. Lulu usianya sekarang sudah 12 tahun.


" Asyifa lihat Tante Rania," sahut Lulu dengan wajah kagetnya.


" Shutttt," Asyifa meletakkan jarinya di mulutnya, " nanti ayah dengar," ucap Asyifa resah yang melihat di sekelilingnya yang takut ayahnya masuk tiba-tiba.


" Tapi kan kita masih ada di dunia. Kita belum ke surga. Jadi mana mungkin Asyifa lihat Tante Rania," ucap Lulu yang bicara bisik-bisik. Sementara Dedy asyik bermain game.


" Tapi memang benar, matanya sama dengan ibu," ucap Asyifa pelan.


" Mungkin Asyifa lagi mimpi," sahut Lulu yang memang merasa tidak mungkin.


" Tidak kak. Asyifa tidak mimpi. Asyifa juga lihat sewaktu di pesawat," ucap Asyifa dengan yakinnya. Yang membuat Lulu malah bingung.


" Kalian bicara apa sih?" tanya Dedy yang mendengar bisikan-bisik. Asyifa memberi kode pada kakak sepupunya itu untuk diam karena itu rahasia mereka ber-2.


" Tidak ada," sahut Lulu dan Asyifa serentak. Dedy pun tidak perduli dan melanjutkan dalam permainan gamenya.


*********


Rendy sedang berada di Ka'bah menjalankan ibadah umroh. Dia juga sholat dan berdoa di sana. Sama dengan Aisyah yang juga ada di sana yang sama-sama berdoa yang pasti permintaan Aisya supaya mengingat keluarganya.


Ibu yang merawatnya adalah seorang Dokter. Setelah kejadian di rumah sakit itu yang kebetulan wanita itu bertugas sementara di rumah sakit itu. Menemukan Aisyah di bawah runtuhan di samping mayat-mayat yang menjadi korban ledakan itu.


Saat itu wanita itu membawa Aisyah Kerumah sakit lain. Karena kondisi Aisyah yang parah memutuskan ibu itu membawanya ke Jerman. Tempat dia bekerja. Ibu tidak berpikiran lagi masalah keluarga wanita yang di bawanya. Dan ternyata sampai detik ini Aisyah hilang ingatan. Namun masih berusaha mengingatnya dan untuk ibu yang membawanya selalu bicara jujur dan terus membantu Aisyah untuk mengingat semuanya.


Setelah selesai berdoa. Rendy maupun Aisyah sama-sama berdiri dengan jarak yang jauh.


Sampai akhirnya pria dan wanita itu saling berselisih dengan baju mereka yang saling bersentuhan. Wanita yang berpapasan dengan Rendy itu tidak bisa di lihat karena memakai cadar. Namun ada getaran yang dulu pernah di rasakan Rendy yang membuatnya merasa aneh.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2