Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 141 bucinnya suami istri.


__ADS_3

Rania duduk di salah satu kursi di halaman rumah sakit. Dia memang datang kerumah sakit di waktu jam makan siang yang ingin makan bersama suaminya.


Rania duduk dengan tangannya di lipat di dadanya duduk termenung dengan tas dan bekal yang ada di sampingnya. Sangat terlihat jelas. Wajah Rania begitu berpikir keras yang tidak di ketahui juga apa yang di pikirnya.


Tidak lama Rendy pun datang yang masih memakai jas Dokternya, Rendy menghampiri Rania begitu melihat Rania.


" Rani!" tegur Rendy memegang bahu Rania hal itu membuat Rania tersentak kaget.


" Hay," sahut Rania menjadi gugup.


" Kamu sudah lama menunggu?" tanya Rendy.


" Tidak kok, tidak sama sekali," jawab Rania yang langsung mencium punggung tangan suaminya. Rendy membuka jasnya dan meletakkan di kepala kursi.


" Kita makan siang," ucap Rania yang membuka bekal ingin menikmati makan siang bersama suaminya. Rendy menganggu dengan tersenyum.


Rania terlihat menyiapkan makanan yang tadi di bawanya dari rumah.


" Kamu tadi tidak kekantor?" tanya Elang.


" Tidak, aku hari ini bolos kekantor. Aku menemani Zahra dan sekali menemui El...." Rania tidak melanjutkan kalimatnya saat ingin mengetakan Elang. Namun Rendy terlihat menunggu jawaban itu.


" Hmmm, aku tadi hanya menemui klien," sahut Rania mengubah jawabannya.


" Begitu rupanya," sahut Rendy yang terlihat biasa dan tidak memikirkan apa-apa.


" Ini," ucap Rania memberikan suaminya makanan.


" Makasih," sahut Rendy. Rania mengangguk.


" Aku tidak mungkin memberitahu Rendy masalah Zahra dan Elang," batin Rania yang melihat Rendy dan Zahra makan. Dia sebenarnya sangat bersalah jika harus merahasiakan sesuatu. Tapi mau gimana lagi semuanya sudah seperti itu.


" Kamu tidak makan?" tanya Rendy yang melihat Rania bengong dan malah tidak makan.


" Hmmm, nanti saja," sahut Rania. Rendy menaikkan 1 alisnya yang mendengar alsan tidak masuk akal Rania.


" Makanlah!" ucap Rendy yang langsung menyodorkan sendok untuk Rania dan mau tidak mau Rania membuka mulutnya menerima suapan itu.


" Kamu datang kemari untuk membawakanku makan siang, lalu kamu tidak makan itu mana adil namanya," ucap Rendy yang menyuapi istrinya.


" Aku hanya belum lapar," sahut Rania pelan.


" Walau belum lapar, kamu harus makan ini sudah waktunya jam makan siang," ucap Rendy. Rania mengangguk dengan tersenyum kepada Rendy.


Rania memang jauh lebih tenang ketika bersama dengan suaminya apa lagi suaminya begitu lembut menyuapinya seakan apa yang di pikirkannya hilang untuk sementara.

__ADS_1


Tidak lama akhirnya mereka selesai makan. Makanan yang di bawakan Rania habis total tanpa sisa karena memang mereka makan bersama. Rania membereskan bekal tersebut sementara Rendy sedang meneguk air putih.


Rania melihat bibir suaminya terdapat minyak bekas makanan. Rania langsung mengambil tisu dan langsung melap dengan lembut bibir suaminya. Rendy pasti akan mengeluarkan senyum indahnya saat mendapat perlakukan yang baik dari Rania.


" Kamu Kenyang?" tanya Rania.


" Ya, aku kenyang, makasih kamu sudah membawakan ku makanan," ucap Rendy.


" Sama-sama," jawab Rania, " Hmmm, ya sudah aku harus pulang, kamu juga bukannya akan kembali bekerjakan," ucap Rania.


" Iya, kamu benar," sahut Rendy. Rania yang selesai beres-beres Rania dan Rendy sama-sama berdiri.


" Aku pulang dulu," ucap Rania mencium punggung tangan suaminya.


" Hati-hati," sahut Rendy yang memeluk Rania dengan mencium pucuk kepalanya. Rania malah memeluk erat yang seolah merindukan Rendy. Padahal mereka tidak pernah berpisah sama sekali.


" Kamu cepat pulang," ujar Rania dengan manjanya.


" Memang kalau aku cepat pulang apa yang ingin kamu berikan?" tanya Rendy sedikit menggoda istrinya itu.


" Banyak yang ingin aku berikan," sahut Rania mengangkat kepalanya, tetapi masih tetep memeluk Rendy. Rania berjinjit sedikit dan mencium pipi Rendy dengan lembut membuat Rendy tersenyum.


" Jangan lama-lama pulang," ucap Rania lagi. Rendy menganggukkan matanya.


" Ishhhh," desis Rania dengan menaikkan ujung bibirnya, lalu melepas pelukannya dari Rendy.


" Sudahlah aku pergi dulu," ucap Rania yang pamit kembali. Rendy menganggukan matanya dan lagi-lagi mencium pucuk kepala sang istri.


" Daaaa," sahut Rania melambaikan tangannya. Rendy pun membalasnya dengan tersenyum geleng-geleng. Mereka masih tetap layaknya orang yang pacaran yang begitu bucin.


Pasti masih aneh jika 2 orang yang sama-sama cuek, sama-sama dingin dan tidak suka menye-menye dengan pasangan. Mendadak jatuh cinta dan bicinnya minta ampun.


************


Rania berada di dalam kamar Zahra yang mana mereka sama-sama duduk di pinggir ranjang dengan Rania yang mengeluarkan obat-obatan dari kantung plastik.


" Ini obat mual untuk kamu," ucap Rania yang memberikan beberapa papa tablet obat untuknya.


" Dan ini vitaminnya, untuk penguat janin," ucap Rania yang memberi lagi.


" Makasih ya Rania," sahut Zahra.


" Iya, kamu harus jaga kesehatan dan jangan khawatir kamu tidak akan mual-mual lagi dan orang- orang tidak akan mencurigai kamu," ucap Rania.


" Iya, aku lega kamu bisa mengetahui semua ini dengan begitu aku tidak merasa sendirian," ucap Zahra.

__ADS_1


" Iya Zahra kaku jangan khawatir ya. Aku juga sudah bicara dengan Elang. Aku sudah menegaskan padanya dan kamu tenang saja Elang akan mengambil tindakan dengan cepat," ucap Rania.


" Iya, semoga saja," sahut Rania.


" Ya sudah kalau begitu kamu istirahatlah, jangan lupa obatnya di minum dengan teratur. Aku juga harus kembali kekamar," ucap Rania yang berpesan pada Zahra.


" Iya Rania sekali lagi terima kasih," sahut Zahra. Rania mengangguk dan Rania pun langsung pergi.


***********


Rania memasuki kamarnya dan terlihat Rendy yang duduk di pinggir ranjang yang sedang menelpon.


" Siapa?" tanya Rania.


" Papah," sahut Rendy yang sudah mengakhiri telpon itu.


" Oh, iya kok tumben malam-malam nelpon?" tanya Rania yang menghampiri Rendy duduk di samping Rendy.


" Besok papa minta tolong aku untuk ngecek kesehatan Willi," jawab Randy.


" Aku boleh ikut tidak?" tanya Rania.


" Boleh, memang kamu tidak kerja?" tanya Rendy.


" Kan hanya sebentar jadi tidak apa-apa," sahut Rania.


" Ya sudah tidak apa-apa," sahut Rendy.


" Oh iya Rania kamu tadi habis tebus obat," ucap Rendy tiba-tiba. Rania kaget mendengarnya.


" Maksud kamu?" tanya Rania panik.


" Itu Redeb obat siapa?" tanya Rendy menoleh kearah nakas yang Rania juga melihat kearah nakas. Rania baru menyadari jika resep itu tidak sempat di simpannya.


" Rania!" tegur Rendy.


" Oh, iya itu punya Astri, tadi di kantor dia minta tolong padaku," jawab Rania mencari alasan dengan cepat.


" Kantor, bukannya kamu bilang kamu tidak kekantor tadi," sahut Rendy yang mengingat perkataan istrinya. Rania menelan salavinanya yang benar-benar terintimidasi.


" Iya tapi karena Astri menelpon. Jadi aku kekantor untuk menemuinya," sahut Rania dengan cepat yang terus punya jawaban.


" Begitu rupanya," sahut Rendy yang mengangguk-angguk saja. Tidak tau Rendy merasa aneh atau seperti apa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2