
Rania pun melanjutkan untuk mengkompres suaminya yang panasnya masih Tinggi. Padahal tadi Rania lagi siap-siapnya menyerahkan dirinya pada Rendy. Eh nggak taunya suaminya mendadak jatuh dan malah sakit.
" Kamu kenapa bisa tiba-tiba seperti ini," ucap Rania yang masih terlihat panik yang beberapa kali mengecek kondisi suhu tubuh suaminya dengan punggung tangannya. Rendy terllihat mengigil.
Rania pun mengambil selimut lebih tebal lagi di dalam lemari dan menyelimuti suaminya. Agar tidak kedinginan. Rania juga mengecilkan suhu AC. Ya banyak di lakukannya agar suaminya nyaman untuk beristirahat.
Sementara Anisa harus menahan kekesalan karena tadi Rania sudah membuatnya malu berkali-kali.
" Mama lihat sendiri bagaimana dia," ucap Anisa dengan kekesalannya.
" Dia, memang terlihat diam. Tapi tidak menyangka dia sangat berani," sahut Sarah yang tidak habis pikir dengan Rania.
" Dia bahkan berani memprotesku dengan sok taunya itu," geram Anisa.
" Anisa kamu tenang saja. Kamu dengarin mama. Kamu jangan menyerah hanya karena itu. Ini adalah kesempatan terbesar kamu. Jadi kamu harus tenang dan berpikir bagaimana caranya mencari simpatik Rendy dan membuat Rania sangat tidak berguna," ucap Sarah memberi saran.
" Kalau Rania masih terus menempel-nempel dengan Rendy sama saja ma. Lihat saja tadi dia sok tau. Paling juga caper di depan Tante Ratih," sahut Anisa kesal.
" Anisa mama sudah mengatakan. Kamu jangan menyerah. Rania itu tidak tau apa-apa. Dia hanya bisa melakukan itu pada Rendy. Tetapi selebihnya dia tidak akan bisa merawat Rendy. Dan dengan Rendy sakit kamu bisa mengambil kesempatan untuk dekat dekat dengannya. Karena pasti Rania akan sibuk bekerja dan tidak akan mengurus Rendy," ucap Sarah menjelaskan pada anaknya.
" Hmmm, mama benar. Dia tidak akan bisa meninggalkan pekerjaannya itu dan aku akan mengambil kesempatan untuk dekat dengan Rendy. Supaya Rendy sadar istrinya itu tidak pernah berguna sama sekali," sahut Anisa dengan menyunggingkan senyumnya.
" Hmmm, itu kamu mengerti," sahut Sarah.
" Lihat saja Rania. Kita akan buktikan. Siapa yang lebih pantas menjadi istri Rendy. Kamu atau aku. Kita lihat saja nanti. Bagaimana kamu yang sangat tidak berguna itu di tendang oleh Rendy dan hanya aku yang akan di sisinya," ucap Anisa dengan menyunggingkan senyumnya, melihat mamanya yang juga tersenyum.
Ibu dan anak itu memang memiliki niat jahat untuk tinggal di rumah itu. Ya semua hanya karena cinta Anisa pada Rendy. Cinta yang sama sekali tidak bisa di miliki yang akhirnya harus membuat Anisa melakukan cara-cara yang tidak baik hanya untuk hal itu.
Padahal dirinya, terkesan baik dan wanita sopan yang menutup auratnya. Tetapi memang pada kenyataannya. Penampilan dari luar tidak mencerminkan kepribadian kita. Karena apa yang di lihat dari luar tidak akan sama dengan apa yang di lihat di dalam.
***********
Mentari pagi kembali tiba. Sinar matahari yang cerah masuk kedalam sela-sela kamar Rania dan Rendy. Semalaman Rania terus terjaga dalam tidurnya.
Sebentar-sebentar dia mengecek kondisi Rendy mengkompres saat bangun. Sampai Rania tidak tidur tenang, seperti sekarang ini dia hanya tidur duduk di samping bagian kepala Rendy dengan punggungnya bersandar di kepala ranjang dan kakinya berpijak pada lantai.
Bahkan kepalanya miring. Karena memang dia sangat mengantuk. Rania mengkerutkan matanya. Saat merasa silau. Matanya terbuka sipit dengan menguap sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya.
" Ahhhhh," lirihnya yang masih mengantuk. Menyadari suaminya sakit. Buru-buru Rania memeng dahi Rendy dengan punggung tangannya.
" Ya ampun Rendy masih panas, bahkan tidak turun sama sekali," gumam Rania yang kelihatan panik.
Rania juga memegang-megang kening tangan Rendy, yang begitu panas sampai tangannya juga merasakan panas. Karena menyentuh kulit Rendy. Rania pun kembali mengkompres suaminya agar panasnya turun.
" Semoga panas kamu turun," ucap Rania dengan penuh harapan.
************
Rendy sampai saat ini belum bangun dan panasnya masih tetap sama. Hanya berkurang sedikit. Di dalam kamar Rendy. Sudah ada Anisa, Sarah, Ratih, dan Oma Wati. Zahrah pergi kekantor dan Nia sedang kuliah. Sementara Rania tidak terlihat dan malah terlihat Anisa yang duduk di samping Rendy dengan mengkompres Rendy.
" Rania, kemana coba. Masa iya meninggalkan suaminya dalam ke adaan sakit," ucap Oma Wati dengan geleng-geleng.
" Ya pasti Kerjalah kemana lagi, dia kan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya," sahut Sarah mengkompor- kompori.
" Mungkin saja Rania keluar sebentar, ada keperluan mungkin," sahut Ratih berpikir positif.
" Mbak, apapun itu, seharusnya istri itu mengutamakan suaminya. Lihatlah suaminya sudah sakit. Tapi apa coba yang dilakukannya pergi hanya untuk mengejar materi," ucap Sarah yang terus memperkeruh suasana.
" Benar, seharusnya suami yang nomor satu di urus," sahut Oma Wati yang mulai kesal dengan Rania.
" Ya, untung saja ada Anisa. Dia sangat tau bagaimana menghadapi orang sakit," sahut Sarah membanggakan anaknya sendiri.
__ADS_1
" Rendy, akan secepatnya sembuh. Tidak apa-apa Anisa akan menjaganya. Lagian Anisa juga tidak ada pekerjaan, Anisa akan merawat Rendy. Insyaallah sebentar lagi pasti Rendy akan bangun," sahut Anisa dengan kata-kata manisnya.
" Oma Wati, Tante Ratih jangan khawatir. Tidak apa-apa kok Anisa menjaga Rendy. Nanti kalau Rendy sudah bangun. Anisa akan berikan dia makan dengan bubur ini," lanjut Anisa yang terus mencari perhatian.
" Alhamdulillah, jika Anisa berbesar hati. Ingin merawat Rendy," sahut Sarah yang terus ingin mengunggulkan anaknya.
" Syukurin kamu Rania. Oma Wati saja sudah mulai kesal dengan mu," batin Anisa dengan menyunggingkan senyumnya.
Ceklek.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka yang membuat orang melihat ke arah pintu kamar yang ternyata Rania dengan ke-2 tangannya yang penuh dengan kantung plastik.
" Rania kamu dari mana?" tanya Ratih. Rania melihat Anisa yang kembali mencari ulah dengan berani menyentuh suaminya.
" Maaf, ma, tadi Rania pergi tidak pamitan. Karena buru-buru," sahut Rania yang langsung menghampiri suaminya.
" Minggirlah Anisa!" usir Rania membuat Anisa kaget, " jangan terus mengkompresnya dengan air yang itu-itu saja," ucap sinis Rania. Dan Anisa kembali kesal dengan Rania yang terus menghalanginya untuk dekat dengan Rendy.
" Rania, kamu jangan terus menyalahkan Anisa. Anisa hanya ingin membantu. Sudah syukur dia mau mengecek kondisi Rendy dan mau berusaha menurunkan panasnya. Dari pada kamu yang pergi begitu saja meninggalkan suamimu," sahut Sarah.
" Maaf Tante, apa yang di lakukan Anisa salah, kondisi Rendy tidak akan membaik. Jika hanya di kompres seperti itu. Dan aku sudah mengecek kondisi suamiku. Makanya aku pergi untuk membeli beberapa obat yang sudah di sarankan Dokter sebelumnya. Jadi tolong jangan membuat suamiku semakin sakit hanya karena sok tau masalah medis," jawab Rania tanpa basa-basi yang membuat Sarah tidak bisa berkutik lagi.
" Jadi Anisa tolong bangkit. Aku harus mengobatinya," ucap Rania menegaskan lagi dan dengan rasa malu Anisa pun berdiri dan Rania langsung duduk di samping Raihan dengan membongkar isi kantung plastik yang di bawanya dan tangannya dengan cepat memberikan kompres panas pada suaminya dan bahkan mengecek suhu Rendy.
Ratih melihatnya tersenyum. Di mana apa yang di lakukan Rania begitu telaten dan terlihat sangat khawatir dengan Rendy.
" Rania Istri Dokter, jadi wajar dia lebih paham dari pada kita," sahut Oma Wati yang tampaknya juga akhirnya salut dengan Rania yang mana tadi sudah kesal.
" Iya memang Rania pasti lebih tau apa yang harus di lakukannya," sahut Ratih m
" Apa-apaan Oma, kenapa dia memuji Rania," batin Anisa menahan amarahnya.
" Anak ini memang selalu bisa membuat orang-orang menyukainya. Lagian kenapa sih. Dia harus datang tiba-tiba. Bukannya seharusnya dia pergi saja. Dan Anisa bisa dekat dengan Rendy," batin Sarah dengan penuh kekesalan.
" Ya sudah ayo kita keluar," sahut Oma Wati dan semuanya pun langsung keluar dari kamar meninggalkan Rania yang mengurus suaminya.
Rania pun tetap merawat Rendy dengan lembut dan penuh perhatian. Dia memang keluar untuk membeli obat. Karena melihat kondisi suaminya yang buruk.
Setelah memberi alat pereda panas. Rania bahkan menggantikan pakaian Rendy agar Rendy terlihat lebih fress lagi. Ya mungkin apa yang di lakukan Rania tidak sebanding dengan apa yang di lakukan Rendy kepadanya.
Dulu juga saat Rania sakit Rendy terus di sisinya dan merawatnya dengan penuh kasih sayang dan sekarang gantian Rania yang harus mencurahkan perhatiannya pada suaminya.
" Aku harus memberinya makan," batin Rania yang langsung keluar dari kamar. Rania tampaknya ingin membuatkan makanan untuk Rendy.
Saat Rania kedapur di sana sudah ada Anisa dan Ratih. Di mana terlihat Anisa mengaduk-aduk sesuatu di dalam panci.
" Tante tenang aja, Rendy akan sembuh setelah makan bubur kesukaannya yang sudah Anisa buatkan," ucap Anisa yang ternyata masih tidak menyerah untuk mencari perhatian seisi rumah.
" Tapi apa tidak apa-apa Rendy memakan bubur ayam. Apa tidak seharunya bubur polos saja," sahut Ratih yang tampaknya ragu dengan Anisa.
" Tidak apa-apa dong Tante. Jika sudah mencium aromanya Anisa yakin Rendy tidak akan bangun dan akan memakannya," sahut Anisa dengan percaya diri.
" Tidak perlu dia memakan itu," sahut Rania. Anida dan Ratih sama-sama melihat suara itu.
" Apa lagi wanita ini. Apa dia ingin melarangku lagi," batin Anisa mulai kesal.
" Rania bagaimana Rendy?" tanya Ratih.
" Panasnya sudah mulai turun mah," jawab Rania.
" Alhamdulillah," sahut Ratih merasa lega.
__ADS_1
" Oh iya ma, apa mama punya kacang hijau?" tanya Rania.
" Iya ada, memang untuk apa," sahut Ratih heran.
" Rania mau membuat bubur kacang hijau untuk Rendy. Supaya ada tenaga yang masuk ke tubuhnya," sahut Rania.
" Tapi aku sudah membuatkannya bubur," sahut Anisa.
" Itu tidak cocok untuknya. Lidahnya pasti pait dan tidak bisa memakan yang terlalu kontras dengan rasa," jawab Rania.
" Sok tau," batin Anisa kesal.
" Ya sudah kalau begitu aku akan membuatkannya bubur kacang hijau," sahut Anisa yang langsung gercep.
" Tidak usah aku bisa melakukannya," sahut Rania yang langsung mencegah.
" Di mana mah, kacang hijau nya?" tanya Rania.
" Biar mama ambilkan," sahut Ratih. Rania mengangguk.
" Apa dia memasak dasar sok tau," batin Anisa kesal yang mana-mana pasti apa yang sudah di buatnya sia-sia. Karena Rania akan menghalanginya.
Ratih pun memberikan kacang hijau untuk Rania dan Rania langsung gercep untuk mengolahnya. Dan Anisa masih tetap diam di tempatnya.
" Anisa, tolong bantu Tante memetik sayurnya," sahut Ratih.
" Iya Tante," sahut Anisa yang langsung menghampiri Ratih. Sementara Rania tampak tidak peduli dan terus membuat bubur untuk suaminya dan pasti Anisa hanya melihat Rania yang keliatan sudah sangat biasa berhubungan dengan alat dapur.
Sementara Ratih tersenyum melihat ke telatenan Rania. Dia semakin bangga dengan menantunya itu yang sekarang menambah nilai plusnya yaitu semakin pintar.
Tidak lama Rania pun selesai memasak bubur kacang hijau, dan juga menuangnya kedalam mangkok.
" Rania bawa kekamar dulu," ucap Rania pamit.
" Iya nak," sahut Ratih. Rania pun langsung pergi dan membawa makanan itu.
" Dia benar-benar beberapa kali menang dari ku," batin Anisa yang hanya bisa menahan amarahnya pada Rania.
*********
Rania pun memasuki kamar dan Rendy memang tidak sempurna bangun. Dia hanya bentar-bentar mengigau karena efek pada panasnya yang tinggi. Rania langsung duduk di Sampit Rendy yang masih memejamkan matanya.
Rania menyendok sedikit bubur itu, meniup sampai benar-benar dingin lalu menyuapkan pada Rendy. Walau Rendy masih belum sadar. Rania menunggu apakah Rendy memakannya atau tidak. Tidak lama terlihat Rendy menelan salavinanya membuat Rania tersenyum yang mana Rendy memakan bubur itu.
" Alhamdulillah," ucapnya merasa senang dan Rania melanjutkan pelan-pelan menyuapi Rendy, walau sedikit belepotan. Tetapi Rania tidak menyerah, beberapa kali dia juga mengusap bibir Rendy yang belepotan dengan tisu, dan Rendy memang setengah sadar.
Tetapi mungkin kesulitan membuka mata. Karena beberapa kali Rendy menggeser-geserkan kepalanya dan juga mengigau.
" Kamu akan cepat sembuh Rendy," ucap Rania dengan yakin. Rania kembali menyuapkan dan Rendy menggelengkan kepalanya sepertinya Rendy sudah kenyang dan menolak. Karena memang bubur itu sudah hampir habis.
" Baiklah," ucap Rania menghentikan menyuapi Rendy. Meletakkan mangkuk di atas nakas dan memberi air putih menggunakan sedotan. Lalu Rania membuka obat dan langsung memberikan pada Rendy dan lagi-lagi Rendy menelannya.
" Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah mengisi perutmu dan juga sudah meminum obat. Kamu akan secepatnya sembuh," ucap Rania merasa lega.
Rania mengambil tisu dan kembali melap mulut Rendy. Lalu Rania berdiri membereskan tempat tidur, menarik selimut sampai ke dada Rendy. Kembali mengecek kondisi panas Rendy, mengusap pipi Rendy dan mencium kening Rendy.
Rania tampaknya sudah mulai berani melakukannya mungkin juga karena Rendy tidak bangun makanya Rania berani melakukannya.
Setelah selesai mengurus suaminya dan memastikan suaminya kembali beristirahat. Rania pun membersihkan kamar, mengutipi sampah yang berserakan. Ya supaya kamar rapi dan bersih yang juga akan mempercepat pemulihan Rendy.
Rania tidak ada istirahatnya sama sekali dia terus merawat suaminya dengan penuh ketulusan. Bahkan tidak membiarkan orang untuk menyentuh suaminya yang.
__ADS_1
Bersambung