
Ratih berada di dalam kamarnya yang sedang melaksanakan ibadah sholat subuh. Ratih mengucapkan salam dan mengusap wajahnya dengan tangannya dan langsung mengarahkan tangannya ke atas berdoa pada Allah.
" Ya Allah, engkau berikan kesabaran pada menantuku. Terlalu banyak ujian yang di dapatkannya. Aku sangat tau bagaimana anak itu. Dia sangat baik, wanita penyabar. Ya Allah aku tau putraku dan juga menantuku Rania belum sing mencintai. Aku hanya meminta kepadamu untuk memberikan Rahmat kepada pasangan itu. Tumbuhkan cinta di antara mereka. Jadikan mereka pasangan suami istri yang saling mencintai dan melengkapi.
" Aku tau ya Allah. Engkau maha melihat dan maha mengetahui segalanya. Aku pasrahkan, aku serahkan segala urusan rumah tangga putraku. Aku hanya ingin putraku bisa membahagiakan Rania," ucap Ratih yang dalam doanya yang ingin kebahagian atas Rania dan juga Rendy.
" Ya Allah, mungkin banyak orang yang berpikir tidak baik kepada Rania. Tapi maha mengetahui apa yang sebenarnya, engkau tau jika anak itu bukan wanita yang sering di katakan orang-orang. Jujur ya Allah hamba sangat sakit hati ketika ada yang mengatakan Rania hal yang buruk-buruk, ya Allah engkau lindungi di manapun Rania, jauhkan dia dari mata bahaya dari orang-orang yang jahat," Ratih terus meminta pada Allah untuk melindungi Rania, dia sangat takut terjadi sesuatu pada menantunya itu.
Ratih memang sangat mulia. Dia hanya memikirkan Rania saja. Mungkin Rania bukan hanya sebagai menantunya. Tetapi Rania juga sudah di anggap sebagai anaknya. Dan pasti dia terus memberikan doa pada menantunya itu.
Rania memang sangat beruntung memiliki mertua seperti Ratih yang menerima dirinya apa adanya yang mempercai nya dan selalu melindunginya dan membela dirinya.
" Amin," Ratih selesai berdoa dan mengusap wajahnya dengan tangannya.
" Mah," tegur Nia yang ternyata sedari tadi berdiri di depan pintu.
" Nia," sahut Ratih menengok kebelakang. Nia pun memasuki kamar mamanya dan Ratih pun berdiri.
" Kamu ngapain berdiri di situ?" tanya Ratih membuka mukenanya.
" Mama kenapa, apa ada sesuatu yang menganggu pikiran mama?" tanya Nia merasa sang mama mempunyai beban.
" Tidak apa-apa Nia," jawab Ratih.
" Lalu kenapa, kelihatan sangat khawatir pada kak Rania?" tanya Nia. Ratih tersenyum mendengarnya dan duduk di pinggir ranjang di samping Nia.
" Apa seorang ibu tidak boleh khawatir pada anaknya?" tanya Ratih membelai-belai rambut Nia.
" Kalau begitu pasti ada sesuatukan?" tebak Nia.
" Nia, kakak kamu dan Rania baru saja menikah dan pasti untuk pernikahan mereka akan banyak di gangguan, cobaan. Mama hanya takut. Jika mereka tidak bisa menghadapinya," ucap Ratih dengan rasa khawatir.
" Tapi kan ma, kak Rendy orang yang bertanggung jawab dan mama juga melihat. Apapun itu. Kak Rendy bahkan tidak pernah termakan dengan omongan apapun. Dia sangat mempercayai istrinya. Bukannya mama sering bilang pernikahan itu kuncinya pada suami. Jadi menurutku tidak akan ada apa-apa dan kak Rania juga wanita yang sangat baik," ucap Nia dengan keyakinannya yang penuh.
" Kamu benar Nia. Tidak akan ada terjadi apa-apa. Karena mereka adalah pasangan yang saling mengerti. Jadi semuanya akan baik-baik saja," ucap Ratih tersenyum. Nia juga tersenyum mendengarnya.
" Ya sudah jangan memikirkan apa-apa lagi ya," ucap Nia menegaskan. Ratih mengangguk dengan membelai-belai terus rambut putrinya.
__ADS_1
" Hmmm, aku tau jangan-jangan mama kangen lagi sama kak Rendy?" tebak Nia menyipitkan matanya.
" Jelas mama kangen, masa tidak," sahut Ratih.
" Apa kita telpon saja," sahut Nia memiliki ide.
" Memang bisa. Bukannya sangat sulit berkomunikasi?" tanya Ratih.
" Kita coba saja dulu," ucap Nia.
" Ya sudah coba lah," sahut Ratih. Nia pun mengambil ponselnya dan langsung menghubungi kakaknya dengan berdoa semoga panggilan itu menyambung.
Rania dan Rendy sekarang ternyata masih tertidur. Di mana kali ini tidurnya terlihat berbeda di mana Rania berada dipelukan Rendy, tidur di dada bidang Rendy dengan lengan Rendy yang di jadikannya bantal.
Suara ponsel itu terus berdering di atas nakas tepat di samping Rendy. Sampai akhirnya terdengar di telinga Rendy dan membuatnya meraba-raba nakas dan mengambil ponselnya. Matanya terbuka menyipit yang ternyata mendapat panggilan Video call dari adiknya.
Kayaknya kalau subuh-subuh sinyal lancar. Makanya langsung menyambung dan Rendy yang masih belum mengumpulkan nyawanya langsung mengangkat Vido call tersebut.
" Assalamualaikum kak Rendy?" sapa Nia yang sudah menampilkan wajahnya yang dekat dengan sang mamanya.
" Walaikum salam," jawab Rendy dengan suara seraknya dan matanya masih mengantuk.
" Astagfirullah kakak kesiangan," sahut Rendy yang baru menyadari.
" Kalian apa kabar?" tanya Rendy.
" Baik dong," sahut Nia.
" Mama, apa sehat?" tanya Rendy.
" Sehat nak," jawab Ratih. Rania bagaimana?" tanya Ratih. Rendy menoleh kearah Rania yang masih pulas tertidur yang membuat Rendy senyum-senyum.
" Eleh-eleh, senyum-senyum," goda Nia yang melihat sang kakak senyum-senyum dan bahkan handphone tersebut bergerak yang memperlihatkan Rania berada di mana membuat Nia menjadi punya banyak bahan.
" Pantesan kesiangan bangun. Semalam pasti lagi...." goda Nia lagi.
" Lagi apa?" sahut Rendy kembali memfokuskan wajahnya pada handphone sehingga istrinya tidak terlihat lagi.
__ADS_1
" Ya itu lah," sahut Nia senyjm-6 mengejek.
" Kamu ini sok tau. Rania masih tidur," sahut Rendy.
" Hmmm, rela tuh nggak di bangunin, takut
ganggu istrinya. Ya ampun punya kakak kok bucin amat," goda Nia lagi membuat Rendy harus sabar-sabar menghadapi adiknya itu.
" Nia, kamu ini ya," tegur mamanya.
" Ihhh, mama lihat, jangan khawatir sama kak Rendy dan Kaka Rania. Lihat tidur aja kayak lakban nempel mulu," ucap Nia.
" Nia, kau ini sok tau, kakak hanya tidur, jadi pikiran kamu jangan yang aneh-aneh," sahut Rendy.
" Yaampun kak, masa iya kakak harus mengatakan semauanya sampai yang pribadi apa yang terjadi sebelumnya kan nggak mungkin," sahut Nia.
" Terserah kamu deh Nia," sahut Rendy geleng-geleng. Membuat Nia tertawa melihat wajah kesal kakaknya yang terus di godanya.
" Sudah-sudah, Nia kita menelpon kakak kamu karena ingin mengetahui keadaannya bukan untuk membuat dia kesal," ucap Ratih
" Iya, Nia minta maaf kak. Sungguh tidak bermaksud kak," ucap Nia.
" Ya sudah Rendy, mama hanya ingin tau keadaan kamu dan juga Rania. Karena kalian tidak pernah memberi kabar," ucap Ratih.
" Maaf ma, di sini sangat sulit berkomunikasi dan syukur-syukur hari ini di berikan ke lancaran," ucap Rendy.
" Tidak apa-apa. Yang penting mama sudah tau keadaan kalian ber-2," sahut Ratih.
" Iya mah," sahut Rendy.
" Ya sudah mama tutup dulu. Kamu sholat subuh lah," ucap Ratih.
" Iya ma," sahut Rendy.
" Titip salam sama Rania. Assalamualaikum," ucap Ratih dan Nia juga melambai-lambai dan yang langsung menutup telponnya.
" Walaikum salam," sahut Rendy.
__ADS_1
Bersambung