
Mereka masih berada di dalam pesawat dan sekarang sedang menikmati makan di pesawat. Rania dan Ardian makan dengan Ardian yang menyuapi Rania.
" Hmmm, aku mendengar-dengar. Katanya kalau pasangan suami istri yang telah memliki anak. Maka kasih sayang suaminya akan berpindah pada anaknya. Apa itu benar?" tanya Rania sambil mengunyah makannya.
" Kamu mendengar dari mana?" tanya Rendy.
" Dari orang-orang. Aku rasa itu benar sih," sahut Rania. Rendy hanya tersenyum dengan Rania yang belum saja anaknya lahir sudah cemburu.
" Kamu akan seperti itu?" tanya Rania yang benar-benar memastikan suaminya akan bertindak seperti itu atau tidak kepadanya.
" Aku tidak tau kan anak kita belum lahir," jawab Rendy.
" Apa itu artinya kamu akan seperti itu?" tanya Rania dengan wajahnya yang begitu serius meminta kepastian.
" Aku juga mendengar katanya. Kalau seorang istri sudah melahirkan. Fokusnya akan lebih banyak kepada anak. Sekarang aku yang bertanya apa kamu akan seperti itu. Apa suamimu ini akan di cuekin. Jika sudah ada anak?" tanya Rendy. Rania malah terlihat berpikir-pikir.
" Aku mana mungkin melakukan itu. Kan ada anak. Karena ada suami dan lagian suami istri tugasnya memang memberikan kasih sayangnya kepada anaknya perhatian dan segalanya. Tetapi bukan berarti perhatian untuk suaminya berkurang," sahut Rania.
" Kalau begitu jawaban ku juga sama. Aku pasti menyayangi anakku sampai mereka dewasa dan menemukan kehidupan masing-masing. Tetapi untuk istri kasih sayangnya berbeda. Karena nanti sampai tua aku hanya menghabiskan masa tua bersamamu. Jadi jelas, ada anak atau tidak. Tidak rasa sayang berkurang sedikitpun kepadamu. Justru rasa cintaku semakin bertambah kepadamu," ucap Rendy yang membuat Rania tersenyum lebar.
" Benar kah seperti itu?" tanya Rania dengan memegang pipi suaminya.
" Hmmm, benar, kamu lihat kesampingmu," ucap Rendy membuat Rania melihat kesampingnya yang di mana di sana ada jendela. Dan melihat awan yang indah.
" Ada apa?" tanya Rania heran.
" Kasih sayang ku sama seperti awan yang di manapun tetap ada," sahut Rendy. Rania tersenyum lebar mendengarnya.
" Sejak kapan kamu jadi tukang gombal seperti ini," ucap Rania.
" Apa tidak boleh aku menghinaku istriku sendiri?" tanya Rendy.
" Boleh dong. Mana mungkin kamu harus menggombali orang lain," sahut Rania.
" Ya sudah kalau begitu kamu makan lagi," ucap Rendy. Rania mengangguk dan melanjutkan makan di suapi oleh suaminya yang masyallah romantisnya dan begitu perhatian kepadanya.
**********
Lain Rania dan Elang yang romantis-romantisan. Di sisi lain Anisa harus bersabar dengan Agam yang di sampingnya yang sekarang sedang menikmati makan yang di sediakan di pesawat.
" Kamu yakin tidak makan?" tanya Agam.
__ADS_1
" Jangan bicara kepadaku," sahut Anisa geram.
" Kenapa di jawab," sahut Agam santai dengan mengunyah makannya.
" Kau diamlah. Kalau tidak aku akan melemparmu keluar dari pesawat ini," ucap Anisa mengancam.
" Huhhhh, takut kamu benar-benar menyeramkan," sahut Agam yang terlihat santai-santai saja.
" Pria ini benar-benar sakit jiwa. Jika terus berada di dekatnya aku yang bisa-bisa sakit jiwa," batin Anisa yang menahan kesabarannya.
" Kamu mending makan deh, supaya kamu tidak marah-marah lagi," ucap Agam.
" Diam aku bilang!" gertak Anisa yang membuat di sekelilingnya melihat ke arahnya. Karena suara Anisa lumayan keras. Anisa menyadari jika lagi-lagi dia mencuri perhatian.
" Semua ini gara-gara kamu," desis Anisa langsung mengalihkan pandangannya ke jendela pesawat.
" Hmmm, gara-gara aku lagi. Memang aku ngapain," sahut Agam geleng-geleng yang mendapat tuduhan dari Anisa.
" Kenapa dia ada di sini. Apa mungkin dia mengikutiku. Apa tujuannya dia benar-benar kurang waras yang ada masalah ini akan berantakan. Kalau semua orang melihat aku dan Agam bersama. Masalah akan semakin banyak," batin Anisa yang begitu panik. Agam memang sudah mengacaukan semuanya.
Bagaimana dia tidak frustasi. Tiba-tiba saja Agam sudah ada di pesawat yang sama dengannya. Kalau itu mobil Anisa pasti sudah turun terlebih dahulu. Sayangnya itu bukan mobil dan Anisa harus bersabar.
*********
" Aku ke toilet sebentar," ucap Elang yang permisi pada Zahra.
" Iya," jawab Zahra singkat. Akhirnya Elang pun langsung pergi ke toilet.
Elang yang berjalan ke toilet yang di mana ternyata Frans juga keluar dari toilet. Mereka berpapasan dan bahkan saling melihat sebentar. Hanya saja karena saling tidak mengenal. Jadi mereka sama-sama saling tidak menyapa dan terlihat acuh saja.
Elang memasuki toliet dan melihat ponsel Frans yang ketinggalan.
" Ya ampun apa ini miliknya," ucap Elang yang langsung keluar toilet.
" Mas!" panggil Elang yang melihat Frans berjalan terus.
Ponsel yang di pegang Elang. Tidak sengaja tertekan Elang dan dan layarnya hidup dan tidak di sangka ternyata Frans memasang wallpaper Cindy dan dirinya di handphonya. Karema ponsel itu di pegang Elang. Jadi Elang tidak melihatnya.
" Ada apa yang mas?" tanya Pramugari yang melihat salah satu penumpangnya ke resahan.
" Ini, saya menemukannya di toilet yang kemungkinan itu milik mas yang tadi masuk ke sana," ucap Elang.
__ADS_1
" Hmmm, baiklah mari saya bantu memberikannya," sahut Pramugari. Elang mengangguk dan langsung memberikan handphone tersebut. Dan handphone itu sudah mati kembali. Elang tidak sempat melihat wallpaper foto kekasihnya ada di sana.
" Kalau begitu silahkan kembali ketempatnya," ucap pramugari.
" Hmmm, iya tolong kembalikan kepadanya," ucap Elang. Pramugari mengangguk dan akhirnya pergi yang akan mengembalikan handphone itu pada salah satu penumpang.
***********
Frans pun kembali ketempat duduknya. Cindy tersenyum pada suaminya itu.
" Apa aku kelamaan?" tanya Frans pada Cindy.
" Tidak terlalu," jawab Cindy. Pramugari yang tadi di temui Elang akhirnya menyusul Frans.
" Permisi Pak," sapa pramugari.
" Iya ada apa?" tanya Frans.
" Apa ini ponsel Anda?" tanya Pramugari tersebut.
" Astaga," sahut Frans menepuk jidatnya. " iya benar ini punya saya. Makasih ya," sahut Frans.
" Lain kali hati-hati pak. Untung tadi ada yang menemukannya," ucap pramugari.
" Oh iya siapa?" sahut Frans.
" Tadi ada mas-mas yang menemukannya dia kebetulan ke toilet dan juga sudah memanggil anda. Tetapi anda tidak mendengarnya. Jadi makanya saya yang memberikannya," jelas pramugari.
" Hmmm. Ya untunglah kalau begitu. Apapun itu saya berterima kasih. Maupun mbaknya dan masnya," sahut Frans.
" Sama-sama. Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu," ucap pramugari pamit.
" Iya," sahut Frans.
" Kamu sih bisa-bisanya teledor seperti itu," sahut Cindy.
" Maklumlah banyak pikiran," sahut Frans.
" Memang apa yang kamu pikirkan sampai seperti itu?" tanya Cindy.
" Apa lagi kalau bukan kamu," sahut Frans.
__ADS_1
" Issssh," sahut Cindy tersenyum.
Bersambung