
Pagi hari tiba kembali tiba ternyata Rania masih tertidur. Setelah sholat subuh tadi Rania memang sangat mengantuk dan memilih untuk tidur.
Rania merasa sudah sangat lama tidur dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Sinar matahari yang masuk dari sela-sela jendela memang membuatnya jadi terbangun. Rania menguap panjang dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Rania menoleh kesampingnya dan melihat Rendy yang sedang packing membuat Rania heran.
" Kamu mau kemana?" tanya Rania yang langsung duduk dan nyawanya dengan cepat terkumpul.
" Aku mau ke Jerman," jawab Rendy sambil memasukkan pakaian ke dalam koper.
" Kok mendadak," sahut Rania.
" Tidak mendadak Rania. Bukannya aku sudah mengatakannya seminggu yang lalu. Aku akan ke Jerman selama 3 hari," sahut Rendy menoleh ke arah Rania.
" Astaga aku lupa," sahut Rania menepuk jidatnya yang memang baru mengingat apa yang di sampaikan suaminya.
" Maaf ya Rendy, aku tidak ingat, biar aku bantu," sahut Rania merasa bersalah dan langsung membantu Rendy.
" Tidak usah. Sudah selesai," sahut Rendy. Dan Rania semakin bersalah. Karena seharusnya dia yang menyiapkan keperluan suaminya untuk pergi. Tetapi dia malah tidak ingat.
" Kamu kenapa?" tanya Rendy yang melihat wajah sendu Rania.
" Aku minta maaf, aku tidak bermaksud lupa," sahut Rania.
" Sudahlah, itu bukan menjadi masalah untuk ku," sahut Rendy.
" Jam berapa pesawatnya?" tanya Rania.
" Sejam lagi," sahut Rendy.
" Kamu tidak ada niat untuk mengajakku?" tanya Rania pelan. Rendy tersenyum padanya.
" Rania, kita sudah membahas ini 1 Minggu yang lalu. Kamu tidak bisa ikut. Karena pameran di perusahan kamu besok," sahut Rendy dengan lembut.
" Astaga, aku sampai lupa. Kenapa sih aku belakangan menjadi pelupa," gumam Rania.
" Ya sudah, aku turun dulu. Aku harus memasukkan koper ke mobil. Sekalian pamitan dengan yang lainnya. Ayo kamu juga turun," ucap Rendy.
" Aku boleh ikut mengantarmu kebandara?" tanya Rania.
" Tidak usah, biar supir yang mengantarku. Lagian aku sudah telat. Kamu juga belum ngapain-ngapain. Jadi biar aku pergi sendiri," jawab Rendy.
" Ayo turun. Aku duluan ya," ucap Rendy menurunkan kopernya dari atas tempat tidur lalu mengangkatnya ke luar dari kamar dan Rania masih diam di tempatnya.
" Rania, kamu bagaimana sih. Masa iya kamu tidak mengingat Rendy akan pergi. Kenapa Rania kamu tidak pernah fokus. Masalah kemarin aja belum selesai dan sekarang kamu membuat Rendy kecewa lagi," batin Rania yang terus merasa bersalah.
__ADS_1
***********
Rendy pun akhirnya pamitan pada keluarganya. Mereka mengantarkan Rendy sampai depan rumah dan supir sedang memasukkan koper Rendy kedalam bagasi mobil.
" Ini Rendy, bawa ya untuk makanan kamu di sana," ucap Sarah yang memberikan paper bag besar pada Rendy.
" Makasih tante," sahut Rendy yang langsung mengambilnya.
" Berterima kasihlah pada Anisa. Dia yang membuat semuanya dari jauh-jauh hari," ucap Sarah tersenyum. Rendy menoleh ke arah Anisa dan Anisa langsung tersenyum.
" Makasih ya Anisa," ucap Rendy.
" Sama-sama," sahut Anisa.
Rania hanya bisa diam. Dia tidak sempat menyiapkan apa-apa. Karena memang lupa jika suaminya akan pergi. Dia sekarang hanya merasa bersalah dan pasti cemburu melihat Anisa yang menyiapkan banyak hal untuk keberangkatan Rendy.
" Ya, sudah kalau begitu aku pergi dulu. Soalnya pesawatnya akan berangkat," ucap Rendy pamit.
" Kamu hati-hati ya nak," ucap Ratih.
" Iya mah," sahut Rendy.
" Jangan lupa oleh-olehnya kak," sahut Nia.
" Biarin," sahut Nia.
" Sudah-sudah. Yang penting itu bagaimana Rendy selamat," sahut Oma Wati. Rendy hanya tersenyum saja dan Rendy melihat kearah Rania yang tampak murung Rendy mendekatinya berdiri di hadapannya.
" Aku pergi ya," ucap Rendy lembut memegang pundak Rania.
" Kamu hati-hati," ucap Rania. Rendy mengangguk.
" Aku akan mengantarmu Rendy," sahut Elang.
" Tidak usah, aku sudah sama supir," tolak Rendy menatap nanar Elang.
Ada keganjalan bagi Rendy. Namun karena tugas Rendy harus pergi dan meninggalkan istrinya dan pasti Rendy tidak akan tenang. Karena masih banyak yang seharusnya di bahasanya dengan Rania tapi tidak sempat. Bahkan Rania juga belum jujur apa-apa. Tapi mau gimana lagi semuanya sudah seperti itu. Rendy hanya menanamkan ribuan kepercayaan untuk Rania.
" Aku pergi," ucap Rendy pamit yang terakhir kalinya. Yang lainnya mengangguk. Rendy menatap istrinya sebentar. Lalu kemudian langsung memasuki mobil dan tidak lama mobil itu melaju dan Rania pun langsung memasuki rumah terlebih dahulu.
Anisa melihat kearah Rania yang berjalan memasuki rumah.
" Hubungan mereka benar-benar sudah retak. Rendy bahkan tidak menciumnya saat seperti Rendy pergi dulu. Ya aku yakin Rendy sudah mulai muak dengan wanita itu. Dia juga tidak menyiapkan apa-apa dengan kepergian Rendy. Bahkan tidak mengantarnya ke bandara. Ya baguslah memang itu yang seharusnya terjadi," batin Anisa dengan tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
**********
Rania memasuki kamarnya dan membuka lemari kecil, Rania mengambil permen coklat dan segala jenis makanan yang selalu di makannya yang memang ada di kamar itu. Rania memasukkan kedalam paper bag berwarna putih.
Rania membuka lemari dan mengambil syal dan juga mantel tebal dan memasukkannya ke tempat yang berbeda. Lalu Rania buru-buru keluar dari kamarnya.
Rania menuruni anak tangga dengan buru-buru dan bersamaan dengan orang-orang yang lainnya memasuki rumah.
" Mau kemana Rania?" tanya Ratih.
" Ke Bandara ma, mau menyusul Rendy. Ada yang ketinggalan," jawab Rania.
" Telpon aja Rendy. Kan Rendy baru pergi," sahut Sarah.
" Tidak usah aku akan menyusulnya," jawab Rania.
" Biar aku antar," sahut Elang menawarkan.
" Tidak perlu. Aku bisa sendiri," tolak Rania, " aku pergi," ucap Rania yang buru-buru dan langsung pergi.
Bandara
Tidak lama Rania sudah sampai di bandara dan Rania mencari-cari Rendy sambil melihat arloji di tangannya yang dia yakin suaminya itu belum pergi dan akhirnya Rania pun menemukan Rendy yang menyeret kopernya.
" Rendy!" panggil Rania, membuat Rendy menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya melihat siapa yang memanggilnya.
" Rania!" lirih Rendy. Rania langsung berlari menghampiri suaminya itu.
" Kamu kenapa kemari?" tanya Rendy ketika Rania sudah berada di depannya.
" Kamu ketinggalan ini," ucap Rania yang memberikan 2 paper bag pada Rendy.
Rendy menurunkan paper bag yang tadi di berikan Sarah dan mengambil apa yang di berikan Rania. Rendy melihat sekolah isinya dan melihat Rania dengan menghela napas perlahan dan tersenyum.
" Iya, aku seharusnya tidak melupakan benda yang penting. Makasih ya kamu sudah membawakannya," ucap Rendy. Rania mengangguk.
Rendy meletakkan apa yang di berikan istrinya kepadanya di lantai dan mendekati Rania lalu memeluknya dengan erat. Seharusnya dia memang memeluk istrinya itu tadi saat berpamitan.
" Aku mempercayaimu Rania," ucap Rendy yang memeluk erat Rania.
" Makasih Rendy, maafkan aku. Aku tidak menjadi istri yang baik untukmu," ucap Rania merasa bersalah.
" Bagiku kamu sudah menjadi istri yang baik," jawab Rendy yang terus memeluk erat.
__ADS_1
Bersambung