Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 51 Keributan di tengah-tengah Rendy


__ADS_3

Rendy masih diam di tempat dengan menatap Gilang yang tampak gelisah di sana. Namun Rendy tidak melakukan apa-apa sampai akhirnya pintu lift tertutup.


Rania terlihat membuang napasnya perlahan merasa lega. Dan Rendy langsung berbalik badan untuk melihatnya.


" Ayo pulang!" ajak Rendy lembut. Rania mengangguk dan mengikuti Rendy berjalan di belakang suaminya.


" Aku berharap, Rendy tidak salah paham dengan apa yang terjadi," batin Rania yang berusaha tenang. Walau sebenarnya dia tidak bisa tenang.


Sampai akhirnya mereka sudah sampai di depan mobil Rendy.


" Rendy tunggu!" ucap Rania menghentikan tangan Rendy yang ingin membuka pintu mobil.


" Ada apa?" tanya Rendy heran.


" Aku harap kamu tidak salah paham dengan apa yang terjadi tadi. Aku tidak tau kenapa Gilang ada di sini dan aku juga tidak tau kenapa dia seperti itu," ucap Rania yabg takut Rendy berpikiran buruk padanya.


" Aku tau apa yang terjadi. Jadi aku tidak perlu salah paham. Dan masalah Gilang tadi. Aku hanya tidak ingin ada keributan dan apa lagi itu adalah kantormu yang akan menimbulkan masalah kepadamu. Jadi aku memilih diam dan nanti aku akan mencoba memberi peringatan kepadanya agar kamu tidak di ganggu nya," ucap Rendy dengan lembut berbicara pada Rania membuat Rania begitu tenang.


" Makasih ya, sudah percaya kepadaku," ucap Rania. Rendy menganggukan matanya.


" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rendy.


" Tidak aku tidak apa-apa. Dan kenapa kamu bisa menjemputku?" tanya Rania heran.


" Aku juga baru pulang dari rumah sakit dan aku rasa kamu belum pulang. Makanya aku menjemputmu," jawab Rendy.


" Aku harus berterima kasih lagi kepadamu," sahut Rania.


" Iya, sudahlah, kamu masuk mobil. Papa mu sedang menunggumu. Aku akan mengantarmu kesana," ucap Rendy. Membuat Rania heran.


" Apa, menunggu! apa maksud kamu. Papa," sahut Rania dengan wajah bingungnya.


" Tadi papa mu menelponku dan menyuruhku membawamu ke sana. Katanya ada Iran penting dia sudah menelponmu. Tetapi ponselmu mati," jelas Rendy.


" Papa benar-benar, bisa-bisanya dia menelpon Rendy. Hanya untuk menyuruhku pulang. Dia pasti ingin membahas masalah kak Willo. Kenapa sih papa harus melibatkan Rendy," batin Rania dengan kekesalan di wajahnya.


" Rania, kamu kenapa diam. Ayo masuk mobil," ucap Rendy mengajak Rania memasuki mobilnya.


" Rendy, sebaiknya kita pulang saja. Aku malas ketemu papa," sahut Rania yang tampak kesal.


" Ada apa, kenapa harus seperti itu. Aku telah mendapat amanah untuk membawamu pulang. Jadi mari kita temui pak Rudi dan jika ada masalah. Bukannya harus di selesaikan," ucap Rendy.


" Tapi itu hanya akan menimbulkan keributan. Kamu tau sendiri kan bagaimana keluargaku," ucap Rania. Rendy tersenyum tipis pada Rania.


" Tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan. Jadi sebaiknya. Kamu masuk dan kita pergi kesana untuk menyelesaikan masalahnya," ucap Rendy menegaskan.


" Tapi Rendy...." sahut Rania menolak.


" Sudah ayo, jangan membuang-buang waktu ini sudah malam," ucap Rendy. Rania membuang napasnya perlahan dan akhirnya pun menuruti suaminya dan memasuki mobil.


Sementara di ujung sana Gilang berdiri yang sedang memantau Rania dan juga Rendy.


" Sial, kenapa Rendy pakai ada segala lagi. Aku ceroboh sekali. Seharusnya aku tidak bertindak seperti itu pada Rania. Rendy jadi melihatnya. Untung saja aku belum berbuat yang lain-lain," batin Gilang yang panik dengan tertangkapnya dia oleh sepupunya yang tak lain suami yang wanita ingin di lecehkannya tadi.


" Semuanya berantakan, gara-gara pernikahan Rania. Ahhhh, sial," geram Gilang berdesis lalu pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


***********


Tidak lama akhirnya Rania dan Rendy pun sampai Kerumah Rania dan Faridah berada di dalam kamar yang pusing dan batuk-batuk terus yang di temani Della. Della berjalan ke arah jendela dan melihat kakak dan kakak iparnya datang.


" Mah, kak Rania datang," ucap Della.


" Rania datang," sahut Faridah.


" Iya mah, bersama kak Rendy juga," jawab Della.


" Ya Allah, apa lagi. Keributan apa lagi yang akan terjadi nanti," ucap Faridah mengusap-usap dadanya yang merasa akan ada hal yang tidak enak.


" Ya sudah Della. Kamu bawa mama kesan," ucap Faridah.


" Tapi kan mama lagi sakit," sahut Della.


" Tidak apa-apa. Jika mama tidak ada. Rania dan papamu akan ribut terus dan tidak mau mengalah," ucap sang mama. Della menatap sang mama dengan nanar. Juga sangat kasihan.


" Ayo Della," ajak mamanya yang sedikit mendesak.


" Baiklah mah," jawab Della yang akhirnya menurut dan membawa mamanya keluar dari kamar.


Sementara Rendy dan Rania langsung memasuki rumah dengan Rania yang berusaha terus menerus menahan emosinya dengan menenangkan dirinya.


" Assalamualaikum," sapa Rendy saat tiba di ruang tamu.


" Walaikum salam," sahut Rudi dan terlihat juga Faridah dan Della yang menuruni anak tangga dan menghampiri ruang tamu dan Rendy melihat ibu mertuanya itu tampak kurang sehat.


" Ibu tidak apa-apa?" tanya Rendy.


" Bisa-bisanya ya kamu mematikan telpon papa," sahut Rudi to the point. Padahal Rania dan Rendy baru saja duduk. Sementara Willo sudah senyum-senyum dengan apa yang di lihatnya.


" Karena sudah ada yang harus di bicarakan. Jadi untuk apa melanjutkan pembicaraan kita. Kalau ujung-ujungnya papa hanya membela dia saja," sahut Rania menatap kesal kakaknya.


" Apa lagi sebenarnya masalah mereka," batin Rendy kebingungan yang memang tidak tau masalah apa yang terjadi.


" Papa jelas membelaku. Karena tidak kamu tidak benar," sahut Willo dengan penuh emosi.


" Tidak benar apanya. Kakak yang tidak benar. Sudah menjual mobilku sembarangan. Jadi aku hanya memblokir kartu kredit kakak. Supaya kakak bisa belajar dari kesalahan dan tidak hidup hanya dengan suka-suka saja," sahut Rania dengan tegas.


" Jangan sok tau kamu. Nggak usah sok ngajarin. Aku yang tau apa yang harus aku lakukan. Dan tindakan kamu sangat kelewatan," geram Willo.


" Itu tidak kelewatan tapi itu yang harus aku lakukan sejak dulu. Supaya kakak tidak manja dan bisa berusaha," tegas Rania.


" Rania cukup," sahut Rudi yang lagi-lagi pasti akan membela Willo.


" Apa lagi pa. Papa ingin membelanya. Papa jelas dia salah. Tapi papa terus membelanya," sahut Rania geram.


" Cukup Rani!" gertak Rudi.


Dan Rendy hanya diam yang melihat suasana semakin panas. Sementara Faridah sudah semakin lemas dengan putrinya dan suaminya yang ribut. Bahkan beberapa kali Faridah batuk-batuk dan di tengah keributan itu dan malah fokusnya Rendy jatuh pada ibu mertuanya.


" Papa tidak ingin ribut dengan kamu. Sekarang juga kembalikan semuanya seperti awal. Kartu kredit Willo kamu kembalikan," ucap Rudi dengan entengnya. Membuat Rania menyunggingkan senyumnya.


" Maaf pa, tapi kali ini tidak. Dia bukan tanggung jawabku. Dia mempunya suami. Aku sudah menanggung jawabi. Dari dia belum menikah. Jadi aku akan menormalkan ya kemabli. Sana minta dana sama suaminya," ucap Rania menegaskan dengan menatap tajam Willo yang kegeraman.

__ADS_1


" Rania, Willo akan bercerai. Dan dia tidak bisa menuntut nafkah dari Bram," sahut Rudi yang terus membela.


" Itu kesalahannya. Karena dia meminta terlalu banyak. Dia meminta tidak sesuai kemampuan suaminya. Jadi itu salahnya. Dan aku tidak ikut campur akan hal itu," tegas Rania.


" Jangan sombong kamu Rania. Kamu harusnya sadar," sahut Willo emosian dan langsung berdiri menunjuk Rania dan Faridah mencoba mencegah anaknya itu.


" Aku bercerai dengan mas Bram. Itu karena ulah kamu yang kegatelan," teriak Willo.


" Jangan asal menuduh sembarangan. Aku tidak berselingkuh dengannya," teriak Rania yang juga langsung berdiri dan tidak terima dengan tuduhan itu dan Rendy mencoba menenangkan istrinya.


" Alasan kamu. Kamu itu wanita tidak beres. Kamu juga menikahi selingkuhan mu yang menyebabkan semuanya berantakan. Pasti dia kan yang merayu kamu untuk pelan-pelan ingin membuat kami semua terlantar," sahut Willo menunjuk Rendy. Dan jelas Rendy kaget karena telah di bawa-bawa.


" Willo, kamu ini apa-apaan sih, sudah cukup," ucap Faridah yang menahan Willo.


" Mama lagi, terus saja membela dia. Mama tau menantu mama itu sedang mencuci otak wanita itu. Supaya kita di telantarkan lihat apa yang terjadi. Dia memblokir kartu kredit ku dan masalah mobil langsung heboh dan pasti gara-gara dia," teriak Willo yang menyalahkan Rendy.


" Jaga bicara kakak. Jangan membawa-bawa nama Rendy dalam masalah dia tidak tau apa-apa. Kaka yang tidak tau diri. Sudah di bantuin tidak terima kasih dan selalu menyalahkan orang lain," sahut Rania yang emosinya semakin tinggi.


" Kamu yang tidak tau diri," teriak Willo tidak terima dan ingin berkelahi menarik rambut Rania.


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Faridah terus batuk-batuk yang berusaha menahan anaknya yang terus adu mulut dan Rendy pasti panik dengan situasi itu sama dengan Della yang juga panik dengan mamanya yang tau mamanya sedang tidak sehat. Sampai akhirnya pandangan Faridah rabun.


Brukkkk.


Akhirnya Faridah jatuh kesofa dan membuat semua orang kaget.


" Mama," teriak Rania, Della, dan Willo panik yang langsung menghampiri mamanya. Begitu juga dengan Rendy.


" Ya ampun mama kenapa?" tanya Rani panik meletakkan kepala mamanya di pahanya. Wajah mamanya yang pucat dan bahkan keluar darah dari hidungnya.


" Ini semua gara-gara kamu," sahut Willo menunjuk Rania yang duduk di bagian kaki mamanya.


" Jangan asal menyalahkan orang. Kakak yang cari gara-gara duluan," teriak Rania.


" Rania, sudah cukup. Lihat mama kamu. Kalau saja kamu tidak memblokir kartu kredit Willo mama kamu tidak akan seperti ini," sahut Rudi panik tapi masih menyempat-nyempatkan untuk menyalahkan Rania. Sementara Rendy yang berjongkok di bawah berusaha mengecek kondisi mertuanya itu.


" Papa masih bisa nyalahin aku. Dia yang salah," tunjuk Rania pada Willo.


" Kamu yang salah," sahut Willo tidak terima.


" Kamu,"


" Kamu,"


Rania dan Willo terus saling salah-salahan.


" Sudah cukup!" bentak Rendy dengan suara menggelegar yang membuat semuanya tersentak kaget.


" Bisa-bisanya ya kalian masih bertengkar. Ini ibu kalian bukan orang lain. Apa kalian pikir dengan kalian yang saling menyalahkan tidak mau mengalah ibu kalian akan bangun. Kalian benar-benar keterlaluan," ucap Rendy dengan suara keras yang emosian melihat keributan itu.


Rendy geleng-geleng. Lalu langsung menggendong mertuanya dan membawanya pergi. Dia juga bisa pingsan berada di tengah-tengah keributan yang tidak ada yang mau mengalah itu.


Tidak anak, bapak semuanya sama, malah seakan tidak menganggap ada orang yang sedang sekarat.


" Rendy tunggu!" teriak Rania yang langsung menyusul suaminya dan Della juga lari ikut menyusul. Rudi dan Willo pun akhirnya juga ikut menyusul.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2