
Rendy yang di panggil mendadak ternyata untuk menangani pasien yang tertimpa bangunan runtuhan. Karena hujan deras dan yang kencang menyebabkan pohon tumbang dan menimpa salah satu rumah warga dan akhirnya menyebabkan luka-luka parah pada 4 penghuni rumah tersebut.
Bukan hanya Rendy yang ada di sana. Ternyata ada 2 Dokter lagi yang ikut menangani pasien dan di tengah hujan deras itu juga banyak warga menggunakan mantel hujan yang memotong ranting pohon.
Rania hanya berdiri melihat suaminya yang mengobati salah satu anak kecil yang sekitar berusia 10 tahun yang mengalami luka parah di bagian tangannya.
" Neng, sebaiknya duduk," tegur salah seorang wanita paruh baya yang menyapa Rama Rania.
" Tidak apa-apa Bu," sahut Rania.
" Sudah tidak apa, ayo duduk," ajak wanita itu dan Rania pun mengikut duduk.
" Di minum neng," tawar wanita itu memberikan Rania segelas air putih
" Makasih Bu," sahut Rania tersenyum dan wanita itu duduk di sampingnya.
" Neng, ini siapanya Dokter?" tanya wanita itu.
" Saya istrinya," jawab Rania.
" Masyallah, cantik sekali," puji wanita itu membuat Rania tersenyum malu.
" Sudah memiliki anak?" tanya wanita itu. Rania menggeleng dengan tersenyum. Bagaimana mau memiliki anak 2 bulan pernikahan Rania dan Rendy saja belum berhubungan.
" Insyallah akan segera di kasih," ucap wanita itu berdoa yang baik. Rania mengangguk tersenyum mendengarnya.
" Makasih Bu atas doanya," sahut Rania tersenyum.
" Kalian ini pasangan yang serasi. Semoga saja hidup kalian berdua selalu di berikan kebahagian," ucap ibu tersebut. Rania hanya tersenyum mendengar doa tulus wanita itu.
Rania melihat ke arah kamar di mana Rendy mengobati anak tersebut. Dia tersenyum melihat suaminya yang mengobati anak tersebut.
Harus Rania akui Rendy bukan hanya baik. Tetapi Rendy sangat tampan dan cara mengobatinya sangat tulus dan penuh kasih sayang dan dia pun pernah merasakan hal itu.
__ADS_1
Rendy yang mengobati anak tersebut tidak sengaja melihat ke arah Rania dan Rania langsung dengan cepat mengalihkan pandangannya. Rendy melihat hal itu tersenyum.
Sementara Rania jadi salah tingkah yang ketahuan memperhatikan Rendy diam-diam. Halal aja kok saling melihat jadi jangan curi-curi pandang.
**********
Akhirnya Rendy selesai bertugas dan sudah jam 11 malam. Mereka pun harus pulang.
" Yakin mau pulang, masih hujan deras," ucap wanita paruh baya yang tadi berbicara dengan Rania.
" Tidak apa-apa Bu, lagian dekat. Pakai payung saja sudah aman," sahut Rendy.
" Tapi kasian istrinya, nanti kalau sakit bagaimana karena terkena hujan-hujanan," ucap wanita itu yang begitu perhatian pada Rania.
" Tidak apa-apa Bu," sahut Rania.
" Ya sudah Bu sebaiknya kami pulang malam akan semakin larut," ucap Rendy.
" Ya sudah kala begitu hati-hati. Terima kasih atas bantuannya," ucap wanita itu.
" Ayo pulang!" ajak Rendy.
Rania mengangguk dan berpamitan juga pada ibu tersebut. Saat di depan rumah ibu tersebut. Rendy memasangkan payung. Lalu meletakkan tangannya di bahu Rania menggeserkan Rania lebih dekat padanya membuat Rania melihat tangan Rendy dan kembali perasaannya yang benar-benar aneh.
" Kita pulang!" ucap Rendy lembut Rania mengangguk dan akhirnya mereka pun pulang dengan hujan yang masih deras berada di bawah payung yang Rendy merangkul Rania seakan tidak ingin Rania terkena setetes hujan pun. Hal simple yang di dapatkan Rania membuat jantungnya tidak aman dan beberapa kali Rania menoleh kearah Rendy melihat seriusnya Rendy yang melindungi dirinya.
" Aku tidak pernah merasakan hal ini. Seumur hidupku. Tidak ada Pria yang menghormatimu yang melindungiku yang tulus kepadaku. Aku mengenal banyak Pria, berhubungan berkali-kali. Tetapi mereka hanya ingin menikah atau berpacaran dengan ku. Karena hanya materi yang ku punya makanya mereka menerimaku,"
" Dan saat aku bertemu Pria yang sama-sama memiliki kekayaan yang sama. Tetapi mereka tidak menerima kepribadianku dan mencapku dengan buruk. Bahkan Gilang yang aku percaya yang aku berikan harapan banyak kepadanya. Lebih parah menyakitiku,"
" Tetapi Rendy. Kami hanya tidak sengaja bertemu, aku tidak mengenalnya dan dia tidak mengenalku. Tetapi dia menikahiku tanpa ingin tau siapa aku pantas atau tidak menjadi istrinya. Dia memperlakukan ku layaknya seorang manusia yang di hormati. Dia melindungiku dan selalu membelaku,"
" Bahkan kami sudah menikah dia bahkan tidak pernah menyentuhku bahkan memintaku untuk melayaninya. Dia bahkan masih bisa berkata maaf, saat tidak sengaja menyentuhku. Padahal aku adalah istrinya dan seharusnya sudah tugasku untuk melayaninya. Tetapi dia tidak pernah menuntut apapun dari ku,"
__ADS_1
" Ya Allah apakah dia adalah imam yang kau kirimkan untukku. Apakah ini waktunya. Aku harus menyerahkan diriku kepadanya yang mana memang apa yang aku miliki adalah miliknya semua itu adalah haknya," Rania terus berbicara di dalam hatinya menatap Rendy terus menerus sambil berjalan.
Rendy pun melihat kearah Rania dan melihat mata Rania bergenang yang menatapnya dengan penuh arti.
" Ada apa?" tanya Rendy. Rania menggeleng.
" Lalu kenapa melihatku?" tanya Rendy.
" Apa salah melihatmu kan kamu suamiku," ucap Rania dengan berani bicara.
Rendy tersenyum mendengarnya. Dan mengalihkan pandangannya kembali fokus berjalan. Rania pun tersenyum dan meletakkan tangannya di pinggang Rendy. Seraya merangkul Rendy. Rendy juga tersenyum dan mereka kembali berjalan di tengah hujan deras di bawah lindungan payung.
***********
Akhirnya pasangan suami istri itu sampai rumah dan mereka berada di dalam kamar. Rendy membuka kemejanya yang basah dan langsung menggantinya dengan kaos. Sementara Rania berada di depannya yang malah kebingungan mau berbuat apa.
Rania melihat handuk putih lalu mengambilnya dan mendekat kearah Rendy dan spontan Rania melap rambut Rendy membuat Rendy tersentak kaget ketika Rania melakukan hal itu.
Rendy hanya tersenyum melihat Rania yang melap rambutnya. Hal kecil yang terkesan manis yang membuat perasaan berbunga-bunga.
" Aku bisa sendiri," ucap Rendy memegang tangan Rania yang melap rambutnya.
" Tidak apa-apa. Aku juga bisa melakukannya," sahut Rania yang selalu berusaha ingin melakukan hal baik pada suaminya. Rendy pun mengangguk dan membiarkan Rania melap rambutnya.
" Sudah kering," ucap Rania.
" Makasih," sahut Rendy. Rania mengangguk, ' " Kamu sebaiknya ganti baju. Nanti kamu masuk angin," ucap Rendy. Rania mengangguk dan langsung menuju lemarinya untuk mengambil pakaiannya.
Rania melihat kearah Rendy. Rendy yang mengerti pun langsung keluar dari kamar dan membiarkan Rania mengganti baju.
Tidak lama pasangan itu pun sudah berada di tempat tidur, yang hanya pas-pasan untuk berdua walau sebenarnya harus sempit-sempitan. Rania berbaring miring dan Rendy berbaring lurus. Di mana perasaan Rania semakin tidak bisa di kondisinkan.
" Selamat malam," ucap Rendy menoleh kearah Rania.
__ADS_1
" Selamat malam," jawab Rania.
Bersambung