
Rania dan Rendy pun beres-beres di dalam kamar, mereka juga sudah bersih-bersih, sudah mandi dan mengganti pakaian mereka. Rania sedang memasukkan pakaiannya kedalam kamar. Namun wajahnya terlihat sangat murung seperti ada yang di pikirkannya.
Tidak berapa lama Rendy yang tadi berada di kamar mandi pun keluar dari kamar mandi dan melihat wajah Rania yang kelihatan murung seperti ada yang di pikirkan Rania.
" Kamu ada masalah?" tanya Rendy langsung to the point.
" Oh, tidak. Aku hanya sedikit lelah," jawab Rania memijat-mijat belakang lehernya. Mungkin lelah juga menjadi faktor utama murungnya wajahnya.
Tok-tok-tok-tok.
Pintu kamar mereka di ketuk dan Rendy langsung membukanya.
" Anisa," ucap Rendy membuat Rania menoleh kearah pintu dan memang betul ada Anisa di depan pintu yang mengetuk pintu.
" Ayo turun untuk makan malam," ucap Anisa.
" Oh, iya. Nanti aku akan turun bersama Rania," ucap Rendy.
" Ya sudah aku menunggu mu di bawah," ucap Anisa. Rendy mengangguk dan Anisa tersenyum lebar. Lalu akhirnya pergi. Sementara Rania terlihat resah melihat hal itu.
" Rania, ayo turun untuk makan makan malam!" ajak Rendy.
" Iya," jawab Rania dengan datar.
*********
Rania dan Rendy pun akhirnya menyambangi ruang makan yang mana sudah ada Oma Wati, Ratih, Sarah, Zahra dan Nia dan pasti ada Anisa yang selalu saja cari perhatian.
" Ayo Rendy, Rania Kalina makan," sahut Ratih. Rendy dan Rania hanya mengangguk dan Rendy menarik kursi terlebih dahulu di samping Nia yang ada di Kananya untuk duduk.
Saat Rania ingin menarik kursi di dekat Rendy. Anisa langsung terlebih dahulu menariknya dan terakhirnya duduk di samping Rendy dan Rania masih tetap diam mematung melihat Anisa yang menyalip dirinya sembarangan.
" Rania, kamu kenapa berdiri saja ayo duduk sini," ucap Sarah yang berada di depan Anisa. Yang mana Sarah tersenyum melihat Anisa yang berhasil duduk di samping Rendy.
__ADS_1
" Kakak duduk sini saja," sahut Nia tiba-tiba. Rania mengangguk dan akhirnya duduk di samping Rendy juga. Rendy berada di tengah di antara Rania dan Anisa.
" Mari kita makan!" sahut Oma Wati.
" Rendy biar aku ambilkan," sahut Anisa yang ingin menyendokkan nasi pada Rendy. Namun Rania dengan cepat berdiri mencegah tangan Anisa membuat Anisa kaget dan melihat Rania.
" Biar aku yang melakukannya. Kamu duduk dan makan atau isi piring orang lain. Untuk Rendy. Biar menjadi urusanku," ucap Rania yang menyinggirkan tangan Anisa dan langsung menyendokkan nasi kepiring suaminya. Anisa terdiam dan terakhirnya hanya mulu dan perlahan duduk.
" Wau, ternyata anak ini sangat berani," batin Sarah yabg merasa itu di luar dugaannya.
Sementara Anisa sudah mengepal geram tangannya melihat Rania yang menyendokkan nasi kepiring Aditya.
" Kamu mau pakai lauk apa?" tanya Rania.
" Terserah kamu saja," jawab Rendy. Rania tersenyum dan langsung mengambilkan lauk untuk suaminya.
" Hmmm, sialan. Rania memang selalu sengaja mempermalukan ku di depan orang banyak," batin Anisa. Padahal sebenarnya tidak ada yang peduli. Yang lain makan dengan santai. Anisa saja yang punya pikiran yang tidak.
" Kenapa aku merasa Anisa seperti sengaja selalu berusaha mencari perhatian Rendy. Ya seharusnya aku tidak heran apa yang di katakannya tempo lalu saat di dapur sudah jelas. Tetapi Rendy jelas mengatakan. Jika dia tidak ada apa-apa dengan Anisa yang berarti memang tidak ada apa-apa," batin Rania yang tampaknya mencemaskan sesuatu.
" Tidak tau Nia, kan kakak juga baru pulang," sahut Rendy sambil mengunyah makanannya.
" Biasanya sih, bukannya kalau Dokter yang ikut mengambil tugas menjadi Dokter suka relawan. Bukannya kalau dia berhasil menjalankan tugasnya. Setelah itu akan di beri cuti," ucap Nia yang sok tau.
" Ya, seharusnya seperti itu kan Rendy," sahut Zahra.
" Ya biasanya memang akan ada cuti. Tapi tergantung mau di ambil atau tidak," sahut Rendy.
" Kalau kamu lelah, kamu bisa ambil beberapa hari untuk beristirahat," sahut Ratih menyarankan.
" Benar, liburan kek. Kak Rania juga kasihan masa iya selama menikah belum pernah di ajak liburan. Di ajaknya hanya ke desa doang. Coba ajak liburan ke Luar Negri. Sekalian bulan madu," celetuk Nia yang lagi-lagi bicaranya akan mengarah untuk menggoda Rania dan Rendy.
Perkataan itu harus membuat Rania dan Rendy saling melihat dan malah sama-sama tersenyum malu-malu. Yang di tangkap oleh Anisa yang pasti panas melihat senyum itu.
__ADS_1
" Nia benarkan," sahut Nia menatap kakaknya serius.
" Benar apanya?" tanya Rendy.
" Ya kakak sama kak Rania harus bulan madu," jelas Nia.
" Nanti saja Nia. Kakak memang cuti. Tetapi Rania juga sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaannya. Jadi Rania harus aktif bekerja lagi," ucap Rendy.
" Benar, Nia, kakak harus kembali keperusahan," sahut Rania.
" Hmmm, benar banget sih, banyak proyek Rania yang berantakan. Kalau kamu tidak berada di perusahaan," sahut Zahra.
" Kalau kamu fokus bekerja. Lalu bagaimana fokus kalian untuk keturunan," sahut Oma Wati tiba-tiba dengan santai. Rania dan Rendy sama-sama melihat Oma Wati yang bicara tampak serius.
" Rania, saya tidak melarang kamu untuk bekerja. Tetapi kamu juga harus tau tugas kamu sebagai istri dan tujuan pertamanya menikah di mana. Jadi jangan melupakan hal kecil itu," ucap Oma Wati yang tampak serius untuk memperingati Rania.
" Ya begitulah resiko, jika Rendy harus menikah dengan wanita karir yang sepertinya. Akan menomor kan paling terakhir hal penting itu," sahut Sarah mengambil cela yang memprovokasi keadaan.
" Ma, Rania dan Rendy baru pulang. Rania selama ini juga tertimpa masalah dan juga ikut dengan Rendy. Jadi wajar kalau dua pulang harus fokus kembali bekerja," sahut Ratih yang selalu membela menantunya.
" Benar Oma, lagian bekerjanya juga biasa saja dan selama ini juga biasa aja. Oma juga tidak pernah ikut-ikutan mengkritik," sahut Nia.
" Kalau di kritik berati ada yang salah," sahut Oma Wati dengan tegas. Sementara Rania diam saja yang tidak bisa bicara apa-apa. Anisa tersenyum puas yang melihat Oma Wati menegurnya.
" Sekarang Oma bertanya pada kamu Rania. Kamu memilih mana rumah tangga kamu apa pekerjaan kamu," ucap Oma Wati membuat Rania kaget mendengarnya.
" Ma, sudah," sahut Ratih yang mencoba menetralkan ketegangan.
" Aku tidak pernah menyuruh Rania untuk memilih," sahut Rendy yang akhirnya turun tangan, " Oma, selagi aku tidak keberatan dengan apa yang di kerjakan Rania. Jadi aku rasa itu tidak akan masalah. Selama ini Rania bisa menempatkan dirinya dan tau batasannya. Jadi aku tidak pernah mempermasalahkan apapun," tegas Rendy yang melihat ke arah Rania dan Rania selaku bersyukur dengan Rendy yang selalu membelanya.
" Sudahlah, ayo kita makan lagi. Jangan membahas masalah itu lagi. Itu menjadi urusan Rendy dan juga Rania. Jadi stop semuanya," sahut Ratih dengan bijak.
Oma Wati pun tidak bisa bicara apa-apa lagi dan diam karena Rendy sudah angkat bicara.
__ADS_1
Bersambung