Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 219 Merasa bersalah.


__ADS_3

Rendy melihat ke arah Rania yang tetap pada posisinya. Rendy menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan lalu langsung memeluk Rania dengan erat.


" Apa aku menyakiti perasaanmu Rania. Percayalah Rania aku melakukan itu demi kamu. Jangan pernah merasa kurang sebagai istri. Bagiku kamu sangat sempurna Rania. Kamu begitu sempurna Rania di mataku," ucap Rendy dengan suara seraknya yang memeluk Rania dengan erat.


Membaca surat dari Rania membuat Rendy justru merasa bersalah dengan apa yang terjadi bagaimana tidak apa yang di lakuaknnnya justru menyinggung perasaan Rania dan membuat Rania merasa tidak sempurna yang seolah tidak berguna sebagai istri.


************


Suara kokokan ayam yang terdengar khas di subuh hari di mana Rania dan Rendy sedang melaksanakan sholat Subuh berjamaah seperti biasanya.


Rendy dan Rania sama-sama mengucapkan salam dan sama-sama mengusap wajah mereka dengan tangan mereka. Setelah berdoa seperti biasanya dan mengucapkan Amin.


Rendy berbalik badan dan Rania langsung mencium punggung tangan suaminya dan Rendy seperti biasa mencium kening dan wajah-wajah istrinya itu.


Setelah semua itu terlihat Rania yang ingin berdiri. Namun Rendy memegang tangannya yang menahannya untuk tidak kemana-mana.


" Kita bicara sebentar," ucap Rendy yang sudah bersilah kaki. Rania mengangguk dan tidak jadi kemana-mana.


" Aku sudah membaca suratmu," ucap Rendy. Wajah Rania terlihat sendu mendengarnya.


" Maafkan aku jika kita tidak membicarakan ini dan aku bertindak tanpa memberitahumu yang akhirnya membuat perasaan kamu tidak tenang, penuh pertanyaan, kecewa, sedih dan ketika kamu tau apa yang terjadi. Kenapa aku tidak melakukan itu. Kamu merasa diri kamu tidak berguna merasa bersalah dan lain sebagainya," ucap Rendy dengan lembut bicara pada Rania. Rania hanya diam dengan matanya yang tidak lepas menatap wajah suaminya yang merasa bersalah itu.


" Rania aku sering mengatakan kepadamu beberapa kali. Aku itu mencintaimu dan rasa cinta yang semakin besar bukan karena dari hubungan seksual saja. Tapi dari kita yang semakin dewasa dan semakin memahami. Jika kepuasanku hanya menyiksamu. Aku tidak bisa melakukannya," ucap Rendy yang begitu serius bicara. Sangat lembut agar istrinya mengerti.


" Tapi ini bukan perkara menyakiti atau tidak. Sakit atau tidaknya aku. Aku juga tidak mau jika tidak melakukan tugasku sebagai seorang istri," sahut Rania yang sedang menahan tangis.


" Rendy aku tau kamu melakukannya hanya demiku. Agar aku tidak hamil dan apa yang di takutkan tidak terjadi. Lalu sampai kapan semua akan seperti itu. Apa akan sembuh dalam bulan ini. Bagaimana jika setahun, 2 tahun bahkan sampai beberapa tahun dan akhirnya aku tiada. Apa kamu juga tidak memikirkan begitu banyaknya dosaku yang tidak bisa melayani suaminya. Sudah bisa memberi keturunan dan bahkan tidak bisa melayani suaminya. Aku jelas merasa sebagai wanita tidak berguna. Perasaan ku setiap hari akan semakin bergejolak. Lalu untuk apa melanjutkan pernikahan. Kalau aku istrimu tidak bisa melakukan apa-apa," sahut Rania yang tidak bisa mengendalikan dirinya.

__ADS_1


" Rania!" lirih Rendy yang begitu kaget mendengarkan kata-kata yang tidak cocok keluar dari mulut Rania. Rania yang merasa dia bicara kelewatan langsung membalikkan tubuhnya dan menangis dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.


Rendy menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dan memeluk Rania dari belakang untuk memberikan Rania ketenangan.


" Apa yang kamu bicarakan Rania," ucap Rendy dengan lembut. Rania membalikkan tubuhnya dan memeluk Rendy dengan erat dengan menangis senggugukan.


" Aku minta maaf. Aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku minta maaf," ucap Rania yang merasa bersalah.


" Aku yang salah. Aku yang sudah membuat kamu seperti ini. Aku yang salah Rania. Aku tidak seharunya membuat kamu merasa kurang. Kita akan cari solusi untuk masalah ini," ucap Rendy yang mengusap-usap rambut Rania.


Dia sebagai suami yang patut di salahkan. Karena membuat perasaan istrinya menjadi goyah seperti itu, sampai-sampai Rania mengatakan kata-kata yang seharusnya tidak perlu di katakannya. Rendy terus memeluk istrinya untuk memberikan istrinya ketengan agar memahami apa yang terjadi jangan berpikir hanya dengan emosi saja.


**********


Rania dan Rendy menemui Dokter Anggi Dokter Rania. Dokter Anggi tampak serius bicara pada Rania ataupun Rendy seakan membuat Rania paham. Memang sebaiknya Rania harus di bawa konsultasi agar emosinya berkurang dan lebih mengerti apa yang di lakukan Rendy kepadanya.


Banyak hal yang di lakukan pasangan suami itu seharian untuk mencari masalah positif di dalam hubungan mereka, membaca banyak buku mengenai kondisi Rania dan juga buku- islami penenang lainnya untuk membuka pikiran dan lain-lain yang mereka lakukan.


Selesai melakukan semua itu mereka pun pulang malam hari sampai rumah.


" Apa kamu sudah merasa lebih tenang?" tanya Rendy. Rania mengangguk dan langsung memeluk Rendy.


" Maafkan perkataan ku tadi pagi. Maaf," ucap Rania yang masih mengingat kata-kata yang tidak pantas di ucapkannya itu.


" Aku yang minta maaf, aku juga tidak mengerti apa-apa dan hanya memahami satu sisi saja. Jadi aku yang salah. Aku yang harus minta maaf," ucap Rendy dengan mencium pucuk kepala Rania dengan lembut. Rania mengangkat kepalanya dan mencium pipi suaminya.


" Kita masuk, aku mau makan," sahut Rania. Rendy mengangguk tersenyum dan sama-sama keluar dari mobil. Namun mereka menghentikan langkah mereka saat melihat ada mobil di depan yang terparkir di depan mereka.

__ADS_1


" Mobil siapa ini?" tanya Rania heran.


" Aku tidak tau sayang. Apa ada tamu?" tanya Rendy heran.


" Hmmm, ya mungkin saja," sahut Rania.


" Ya sudah ayo kita masuk," sahut Rendy yang mengajak istrinya masuk. Belum masuk tiba-tiba Nia keluar dari rumah.


" Kak Rendy kak Rania sudah pulang?" tanya Nia. Rendy dan Rania sama-sama mengangguk.


" Kamu mau kemana?" tanya Rania.


" Hmmm, mau ketoko depan bentar. Aku mau beli beberapa alat kuliah," jawab Nia.


" Begitu rupanya," sahut Rania.


" Oh iya Nia apa ada tamu di rumah?" tanya Rendy.


" Oh iya. Keluarga calon suaminya kak Anisa lagi silaturahmi," jawab Nia. Rendy dan Rania mendengarnya kaget.


" Calon suami," pekik ke-2nya sama-sama serentak. Nia mengangguk.


" Kaka kaget, sama aku juga kaget tadi. Aku juga tidak percaya kak Anisa akan menikah," sahut Nia. Rendy dan Rania memang begitu terkejut mendengarnya.


" Ya sudah Nia pergi dulu ya," sahut Nia. Rendy dan Rania hanya mengangguk saja.


" Ayo sayang kita masuk," ajak Rendy. Rania menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2