
Rumah sakit.
Rania hari ini ikut kerumah sakit. Karena Willo akhirnya bangun dari komanya setelah lebih dari seminggu koma.
" Tidakkkkkk!" teriak Willo yang histeris di atas tempat tidur rumah sakit. Bagaimana tidak histeris saat bangun Willo yang menggerakkan tubuhnya sama sekali tidak bisa di gerakkan.
Rudi hanya menenangkan Willo, sementara Rania berdiri yang mana Rendy di sampingnya dengan tangan Rendy berada di pundak Rania.
" Ini tidak mungkin, ini pasti ada yang salah. Ini tidak mungkin, aku tidak mau lumpuh, aku tidak mau," Willo berteriak-teriak yang tidak bisa menerima kenyataan di dalam hidupnya itu.
" Willo, kamu tenanglah jangan seperti ini. Kamu akan sembuh," ucap Rudi menenangkan Willo.
" Kapan, kapan sembuhnya. Aku tidak mau pah, papa harus cari Dokter yang lebih baik dari pada dia," tunjuk Willo pada Rendy. " aku yakin dia yang sudah membuatku seperti ini. Papa harus cari Dokter agar aku bisa berjalan lagi!" teriak Willo dengan penuh tangisannya.
" Willo, kami sudah melakukan yang terbaik sebagai Dokter," sahut Rendy.
" Diam kamu!" bentak Willo, " kalau kamu melakukan yang terbaik. Aku tidak akan seperti ini," ucap Willo yang tidak bisa menerima kenyataannya.
" Tenanglah Willo, kamu jangan menyalahkan Rendy, dia tidak bersalah sama sekali. Dia yang sudah membantu kita banyak," sahut Rudi.
" Papa membelanya, apa yang sudah di berikannya pada papa sampai papa membelanya," sahut Willo semakin emosi.
" Cukup Willo, kamu jangan menambah-nambah masalah. Kamu seperti ini. Karena ulah kamu sendiri. Kamu seharusnya bisa mengambil pelajaran atas apa yang terjadi. Bukan malah menyalahkan orang terus," tegas Rudi.
" Apa maksud papa. Jadi sekarang papa sudah berpihak pada mereka. Papa akan meninggalkan ku dengan keadaanku seperti ini. Iya!" teriak Willo.
" Tidak ada orang tua yang akan meninggalkan anaknya dalam ke adaan apapun. Dan kamu harus menerima kenyataan bahwa kamu lumpuh permanen," ucap Rudi menegaskan.
" Tidak. Tidak, aku tidak mau," sahut Willo menggoyang-goyangkan kepalanya yang tidak menerima keadaannya.
" Aku membenci kaki ini aku membencinya!" teriak Willo histeris dengan memukul-mukul kakinya.
" Kak Willo, hentikan," sahut Rania yang memegang tangan Willo yang mencoba mencelakai dirinya. Rudi juga membantu Rania menghentikan Willo.
Rendy yang ada di sana mau tidak mau memberikan Willo suntik penenang.
" Aku tidak mau lumpuh!" ucap Willo dengan suara pelan yang langsung lemas.
__ADS_1
" Astagfirullah kak Willo," lirih Rania yang perlahan membaringkan Willo yang sudah tidak sadarkan dirinya.
" Willo, sangat schock menerima apa yang terjadi padanya. Semoga setelah sadar nanti. Willo akan menerima kenyataan itu," ucap Rendy.
" Maaf ya nak Rendy. Willo harus menyalahkan kamu atas semua ini," sahut Rudi merasa tidak enak.
" Tidak pah, saya tau apa yang di rasakannya, semua yang terjadi memang tidak mudah untuk Willo Jadi saya sangat memaklumi semuanya," ucap Rendy.
" Papa jangan khawatir ya, pelan-pelan papa coba bicara pada kak Willo, semoga kak Willo menerima semua ini," ucap Rania.
" Iya Rania," sahut Rudi..
" Ya sudah kami keluar sebentar," ucap Rendy pamit.
" Iya, sekali lagi terima kasih Rendy. Kamu sudah membantu Willo," ucap Rudi.
" Iya pak Rudi," sahut Rendy mengangguk, " ayo Rania!" ajak Rendy Rania mengangguk dan akhirnya mengikuti suaminya untuk keluar.
**********
" Jadi Willo lumpuh?" tanya Ratih pada Rania yang mana menemui Rania saat Rania berada di dapur.
" Ya Allah, pasti Willo sangat hancur dengan semua itu," ucap Ratih.
" Mama benar, kak Willo sampai histeris dan mau tidak mau Rendy harus memberinya suntik penenang," ucap Rania yang curhat pada ibu mertuanya itu.
" Ya Allah, semoga saja Willo di berikan kesabaran," ucap Ratih.
" Iya mah, Rania juga hanya bisa berdoa," sahut Rania.
Ternyata Anisa mendengarkan pembicaraan Rania dan Ratih.
" Jadi Willo lumpuh. Bagaimana ini, jika Willo lumpuh, bisa-bisa Willo yang akan menuntut mama. Meski Rania menganggap masalah ini sudah selesai. Tetapi sama saja. Willo itu wanita jahat. Apa lagi sekarang dia lumpuh. Dia mana mungkin membiarkan hidup mama tenang dan pasti akan menuntut mama," batin Anisa yang terlihat khawatir dengan sadarnya Willo dari koma dan bahkan Willo sampai lumpuh.
*********
Willo yang berada di rumah sakit menangis terus menerus dengan keadaannya yang tidak pernah di bayangkannya. Rudi hanya menenangkannya dengan mengusap-usap kepala Willo.
__ADS_1
" Kamu pasti sembuh Willo, tidak ada yang tidak mungkin," ucap Rudi memberikan semangat.
" Tapi bukannya suami Rania bilang jika aku lumpuh permanen. Itu artinya tidak akan pernah sembuh lagi. Aku tidak akan bisa berjalan seperti manusia normal lagi," ucap Willo yang terus menangis senggugukan.
" Willo ini mungkin adalah teguran untuk kamu. Dengan memiliki kekurangan kamu akan sadar dan akan menjadi orang bersyukur lagi. Jadi terimalah kenyataan itu dan insyallah. Jika Allah sudah berkehendak kamu pasti sembuh," ucap Rudi dengan lembut memberi arahan pada Willo.
" Tapi pah, kenapa sampai seperti ini. Jika tuhan marah padaku. Apa harus dia mengambil kakiku," sahut Willo.
" Dia tidak mengambil kaki mu Willo, Allah sedang mengujimu. Dia menyayangimu dan menegurmu untuk menjadi lebih baik. Percayalah sama papa. Semua kejadian ini akan ada hikmahnya," ucap Rudi dengan lembut bicara pada Willo. Rudi juga memeluk Willo yang memberikannya semangat dan Willo hanya menagis di pelukan Rudi.
Di luar Rania yang tadinya ingin masuk mengurungkan niatnya. Air matanya menetes mendengar kata-kata papanya yang benar-benar sudah menyerahkan pada ilahi. Hatinya begitu tersentuh sehingga air matanya harus keluar. Sebuah tangan hinggap di pundaknya membuat Rania menoleh kesampingnya yang ternyata suaminya.
" Ada apa?" tanya Rendy dengan lembut melihat istrinya menangis. Rania pun langsung memeluk suaminya.
" Kamu benar, ketika kita belajar untuk bersyukur. Kebahagian tidak akan pernah pergi dari kita. Aku sangat bersyukur dengan kehidupanku yang sekarang," ucap Rania. Rendy mengusap-usap pundak istrinya. Hati Rania memang sangat lembut makanya sangat mudah menagis.
********
Rania menuruni anak tangga dan Anisa sepertinya menunggunya di bawah.
" Aku ingin bicara Rania!" ucap Anisa ketika Rania sudah berada di depannya.
" Bicara apa?" tanya Rania heran.
" Aku mendengar Willo lumpuh," ucap Anisa yang tampak gugup.
" Iya memang benar," sahut Rania.
" Rania, aku tau semua itu terjadi karena mama. Rania aku minta tolong sama kamu. Jangan ubah keputusan kamu untuk membawa masalah ini pada hukum. Mama sudah mengakui kesalahannya dan bukannya kamu sudah berjanji juga," ucap Anisa.
" Anisa apa yang kamu bicarakan. Kak Willo lumpuh dan itu tidak ada hubungannya dengan keputusanku. Aku tetap menepati janjiku. Asalkan seperti yang aku katakan di awal. Tante Sarah berubah dan itu sudah cukup untukku," ucap Rania menegaskan.
" Itu artinya kamu tidak akan membawa masalah ini pada hukum?" tanya Anisa. Rania mengangguk.
" Makasih Rania," sahut Anisa merasa lega.
" Ya sudah aku pergi dulu," ucap Rania pamit. Anisa mengangguk.
__ADS_1
" Syukurlah mama tidak akan kenapa-kenapa lagi," batin Anisa merasa lega.
Bersambung