Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 193 Pelukan penenang.


__ADS_3

Elang pun akhirnya mengejar Zahra sampai ke luar dari Restauran dan meninggalkan Cindy yang masih berdiri melihat dirinya. Cindy yang memang tau pernikahan itu pun hanya melihat saja bagaimana Elang mengejar Zahra dan sekarang Elang menahan tangan Zahra yang membuat Zahra akhirnya terhenti.


" Zahra tunggu!" ucap Elang


" Lepaskan aku!" ucap Zahra yang melepaskan tangannya dari Elang. Zahrah yang menghadap Elang begitu marah kepada Elang.


" Zahra kamu jangan pergi begitu saja. Kita belum selesai makan. Tidak seharusnya kamu meninggalkan makanan kita," ucap Elang.


" Makan. Kamu mengajakku makan hanya untuk semua itu hah! kamu bilang makan. Aku tau semua yang ada di pikiran kamu. Kamu melakukan ini berpura-pura baik kepadaku hanya karena apa. Hanya karena hubungan kamu dan dia yang tidak baik. Iya kan," ucap Zahra yang terlihat begitu emosi.


" Zahra kamu jangan salah paham dulu. Aku mengajakmu makan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Cindy," sahut Elang yang menegaskan.


" Bohong," sambar Zahra. " kamu hanya menjadikan ku sebagai pelarian dan kamu masih berbicara tidak," sahut Zahra yang terlihat kecewa dengan Elang.


" Zahra," lirih Elang memegang tangan Zahra dan Zahra kembali menepisnya yang tidak ingin di sentuh oleh Elang.


" Aku bilang jangan menyentuhku," sahut Zahra dengan kesal. " kamu sungguh keterlaluan apa yang kamu lakukan di Bali yang terjadi di Bali dan semua yang terjadi malam itu lagi-lagi kamu hanya menjadikanku pelampiasan," sahut Zahra dengan emosi yang penuh kekecewaan.


" Tidak Zahra," bantah Elang.


" Sudahlah Elang, aku malas bicara sama kamu. Tidak seharunya aku makan bersamamu," sahut Zahra yang langsung pergi yang kembali meninggalkan Elang.


" Zahra!" panggil Elang yang sama sekali tidak di pedulikan Zahra dan Zahra terus berjalan. Tiba-tiba terlihat sepeda motor yang melaju kencang. Elang melihat sepeda motor itu melaju ke arah Zahra. Elang melotot dan melihat Zahra yang santai berjalan dan tidak melihat sepeda motor itu.


" Zahra!" teriak Elang. langkah Zahra terhenti melihat kebelakang dan Elang yang semakin panik, sepeda motor itu semakin melaju kencang.


" Awas Zahra!" teriak Elang berlari cepat. Sementara Zahra bingung. Sepeda motor tinggal 1 meter lagi sampai pada Zahra dan dengan cepat Elang menarik tangan Zahra dan membawanya kepelukannya.


Duk, Duk, Duk Duk Duk Duk Duk Duk Duk


Suara detak jantung dan deru napas yang tidak beraturan itu terdengar. Di mana Zahra yang di pelukan Elang dan Elang memeluknya erat yang merasa lega karena Zahra tidak tertabrak sama sekali.


Wajah Elang terlihat seakan takut akan kehilangan Zahra dengan tangannya yang mengusap-usap rambut Zahra. Zahra yang di pelukan itu masih mengatur napasnya yang dia juga tidak tau kenapa tiba-tiba dia menjadi seperti ini.

__ADS_1


" Maafkan aku Zahra!" lirih Elang yang meminta maaf dengan suara seraknya. Zahrah memejam kan matanya dan memeluk Elang. Dengan ke-2 tangannya yang merangkul Elang dengan erat.


" Aku minta maaf Zahra, maafkan aku, maaf," berkali-kali terdengar suara permintaan maaf itu yang tiba-tiba membuat Zahra begitu teduh.


Cindy yang di depan pintu melihat Elang dan Zahra yang saling berpelukan. Cindy hanya menatap dengan nanar Zahra dan Elang yang berpelukan mesra.


" Mungkin memang kita tidak berjodoh yang mana jodoh kamu hanya dengannya. Pada akhirnya hubungan kita berakhir sampai di sini," batin Cindy yang langsung pergi.


Setelah berpelukan cukup lama di di jalanan. Elang melepas pelukan itu dengan tangannya memegang ke-2 pipi Zahra dan menunduk sedikit melihat Zahra dengan matanya yang penuh kekhawatiran.


" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Elang yang tampak khawatir. Zahra yang masih belum tenang hanya mengelengkan kepalanya.


" Kita masuk kembali ya. Kita belum habiskan makannya," ucap Zahra.


" Aku sudah tidak lapar," jawab Zahra dengan pelan.


" Kalau begitu makanannya kita bungkus saja," sahut Elang. Zahra mengangguk setuju. Elang meraih tangan Zahra menggenggamnya dengan erat dan mengajaknya kembali memasuki Restaurant.


Mereka memang baru makan dan sangat sayang jika makanannya tidak di habiskan atau di buang. Makanya memilih untuk membungkusnya dan sepertinya amarah Zahra sedikit reda makanya menurut saja.


Zahra dan Elang yang makan siang dengan identik marah, dan akhirnya baikan. Sementara Rendy ternyata menemani istrinya untuk cek kandungan yang memasuki bulan ke-3.


Dengan Dokter wanita yang juga sama-sama bekerja di rumah sakit Rendy. Dokter yang di pilihkan Rendy untuk istrinya. Sekarang Dokter itu sedang memeriksa kandungan Rania dengan benda yang di putar-putarkan di perut Rania.


Sementara Rania dan Rendy sama-sama melihat ke layar monitor yang di samping Rania yang mana terlihat di rahim istrinya ada janin yang mulai terlihat di sana janin kecil yang sudah terbentuk.


Rendy dan Rania sama-sama tersenyum melihat janin itu. Senyum itu juga membuat haru pada pasangan suami istri itu.


Rendy yang berdiri di samping Rania mengusap-usap rambut Rania dengan mencium pucuk kepala istrinya.


" Itu anak kita?" tanya Rania melihat ke arah suaminya. Rendy menganggukkan kepalanya dan kembali mencium kening istrinya.


" Dia akan semakin berkembang dengan cepat," jawab Rendy.

__ADS_1


" Sangat lucu. Dia bergerak-gerak. Kalau perutku nanti sudah besar. Pasti gerak-geriknya akan terasa sampai perutku," ucap Rania. Rendy tersenyum mengangguk mendengarnya.


" Kamu benar sayang," sahut Rendy.


" Hmmmm, Pak Rendy, Bu Rania. Bayinya sehat, terus jaga kandungannya ya. Jangan terlalu lelah ya," ucap Dokter memberikan saran.


" Makasih ya Dokter," sahut Rendy.


" Sama-sama Dokter Rendy. Nanti saya tuliskan resep vitamin ya," ucap Dokter tersebut.


" Baik Dokter," sahut Rendy. Rendy dan Rania kembali saling melihat dengan sama-sama tersenyum dan tiba-tiba Rendy melihat serius pada USG.


" Itu apa Dokter?" tanya Rendy yang melihat gumpalan kecil di rahim Rania.


" Hanya gumpalan dari sedikit, itu biasanya memang ada," jawab Dokter.


" Apa itu tidak masalah, atau tidak perlu pemeriksaan lebih lanjut?" tanya Rendy yang tiba-tiba panik.


" Tidak usah pak Rendy. Itu hanya biasa jangan khawatir," sahut Dokter.


" Hmmm, baiklah kalau begitu," sahut Rendy yang terlihat tidak nyaman.


" Sayang apa akan ada masalah?" tanya Rania melihat suaminya dengan serius.


" Tidak ada masalah sayang. Jadi jangan khawatir," sahut Rendy tersenyum. Rania pun tersenyum dan terus melihat layar monitor. Matanya tidak puas jika tidak melihat calon anaknya tersebut.


" Baiklah sudah selesai pemeriksaannya," sahut Dokter menyelesaikan pekerjaannya. Rania mengangguk dan menurunkan pakainanya menutupi perutnya. Rendy juga membantunya untuk duduk.


" Saya permisi ya!" ucap Dokter pamit.


" Makasih Dokter," sahut Rendy. Dokter mengangguk dan langsung pergi.


" Kita pergi sayang!" ajak Rendy. Rania mengangguk dan Rendy kembali mencium kening istrinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2