
Rania dan Rendy berada di dalam mobil. Tidak biasanya. Rendy terlihat begitu jutek. Bahkan hanya diam dan wajahnya begitu dingin. Mungkin Rendy merasakan sesuatu yang membuatnya menjadi seperti.
" Apa yang aku lakukan tadi. Bisa-bisanya aku saling menatap dengan kak Elang di depan Rendy. Apa itu yang membuat Rendy begitu jutek kepadaku," batin Rania yang menoleh kearah Rendy. Menatap suaminya dengan sendu yang sama sekali tidak menegurnya.
" Jika aku mengatakan kepada Rendy. Elang dalam mantanku, aku tidak tau apa tanggapannya dan aku harus mulai dari mana untuk memberitahunya. Aku takut Rendy akan banyak bertanya," Rania terus bergerutu di dalam hatinya yang sekarang bebannya bertambah.
Rania yang sibuk melamun dengan segala kebingungan di hatinya. Sampai tidak menyadari jika dia sudah sampai di perusahannya. Mobil itu bahkan berhenti. Rendy menoleh kearah Rania dan terlihat Rania melamun.
" Rania sudah sampai!" tegur Rendy membuyarkan lamunan Rania.
" Hah! sudah sampai rupanya aku sampai tidak menyadarinya," sahut Rania dengan gugup.
Rania membuka sabuk pengaman, mengambil tasnya dan beberapa map-map yang tadi di bawanya.
" Terima kasih sudah mengantarku," ucap Rania yang membuka pintu mobil dan langsung pergi.
Rania melupakan kebiasannya yang mencium punggung tangan suaminya. Mungkin karena kurang fokus yang akhirnya melupakan hal wajib itu dan Rendy pasti terkejut melihat hal itu.
Dia hanya melihat istrinya itu dengan nanar. Melihat kepergian istrinya yang begitu saja. Jika di tanya kecewa pasti ada rasa kecewa di hari Rendy dengan perubahan sikap Rania yang begitu cepat. Rendy menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
Lalu menarik gas mobilnya dan melajukan mobilnya. Rendy tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan hanya seakan mengikuti alurnya saja.
Setelah mengantar istrinya Rendy melanjutkan perjalananya untuk kerumah sakit. Tapi tampaknya Rendy tidak fokus menyetir lintasan bayang-bayang Rania dan Elang muncul.
Dari Elang yang memegang tangan Rania, sampai mendapati sendiri Rania dan Elang saling melihat. Suami mana yang tidak marah atau kecewa. Tapi kemarahan itu tidak bisa di ungkapkan. Tetapi tidak bisa bohong jika hal sekecil itu membuat sedikit luka. Apa lagi Rania yang baru saja di antarnya pergi begitu saja tanpa mencium tangannya.
Rendy beberapa kali membuang napasnya perlahan. Ketika harus mengingat-ingat kejadian itu. Dia memang seakan tidak bisa melakukan apa-apa.
" Kenapa kamu tidak mengatakan sesuatu Rania," batin Rendy dengan penuh kekecewaan.
__ADS_1
**********
Anisa dan Sarah sedang minum teh di taman belakang. Wajah ibu dan anak itu terlihat berseri-seri ya pasti hal itu, karena kejadian sarapan di meja makan.
" Aku tidak percaya, kehadiran Elang di rumah ini membuat semuanya kacau," sahut Anisa.
" Mama bilang juga apa. Kamu ikuti saja alurnya. Biarkan semuanya berjalan semulus itu," sahut Sarah
" Ya, mama benar, lihatlah tadi Rendy. Dia tampak memperhatikan Rania dan sepertinya dia marah. Tetapi masih menahannya. Aku yakin lama-lama kelamaan. Amarah Rendy akan di keluarkan dan Rania akan tammat," sahut Anisa dengan senyum yang sudah tidak sabaran menunggu hal itu.
" Kamu benar Anisa. Tidak lama lagi semuanya akan selesai," sahut Sarah.
" Tapi ma, kalau aku lihat-lihat sepertinya Elang itu masa lalu Rania yang sangat membekas. Buktinya dari mata Rania terlihat jelas. Jika Rania masih memiliki hati untuknya," ucap Anisa menerka-nerka.
" Itu bagus Anisa. Terserah mau dia masih menyukai Elang atau tidak ataupun sebaliknya yang penting kehadiran Elang akan membuat hubungan Rania dan Rendy retak. Dan orang-orang di rumah ini akan menyadari menantu yang di bangga-banggakan itu sangat tidak berguna dan hanya membuat malu dan untuk saat ini adalah kesempatan kamu ada di sisi Rendy. Karena mama yakin dia pasti sangat membutuhkan kamu," ucap Sarah menyunggingkan senyumnya.
" Hmmm, iya mama tenang saja. Mama urus saja Elang dan Rania. Biar Rendy aku yang mengurusnya dengan begitu semuanya akan lebih mudah," sahut Anisa. Sarah mengangguk dan meminum kopinya tersenyum miring dengan rencana mereka yang berhasil dengan cepat.
**********
Malam hari tiba, seperti biasa Rendy pulang kerumah setelah selesai bertugas. Hari ini Rendy pulang agak larut. Karena ada operasi mendadak.
" Assalamualaikum," sapa Rendy saat sampai di ruang tamu yang di sana ada mama, Oma Wati, Zahra, Nia, Sarah dan Anisa.
" Walaikum salam," jawab mereka serentak.
" Loh, Rania mana kok nggak pulang sama kamu?" tanya Ratih heran.
" Rania belum pulang? tanya Rendy sebaliknya dengan wajahnya yang bingung.
__ADS_1
" Belum, mama pikir kalian pulang bersama. Bukannya biasanya pulang bersama," sahut Ratih.
" Aku sudah mengatakan kepada Rania pulang agak larut dan menyuruhnya pulang terlebih dahulu. Tapi kenapa dia belum pulang," batin Rendy tampak cemas.
" Mungkin Rania tadi mampir menemui klien yang baru melahirkan. Tadi dia bilang samaku sih. Hanya saja mobilnya tiba-tiba mogok. Jadi mungkin Rania lagi di bengkel," sahut Zahra.
" Hmmm, begitu rupanya," sahut Ratih merasa lega.
" Hmmm, pantasan aja. Tadi Elang juga pamit pergi setelah menerima telpon. Rania minta tolong padanya untuk di jemput. Jadi mobilnya mogok," sahut Sarah tiba-tiba membuat Rendy menatap Sarah serius.
" Kak Rania menelpon kak Elang, memang ada nomornya," sahut Nia.
" Mungkin belum ganti nomor," sahut Sarah membuat Rendy terkejut dan bahkan wajah itu memerah.
" Maksudnya?" tanya Zahra heran.
" Sudahlah, yang penting Rania tidak kenapa-kenapa," sahut Oma Wati.
" Aku kekamar duku!" ucap Rendy dengan suara beratnya yang langsung pergi kekamarnya. Yang lainnya hanya mengangguk. Anisa dan Sarah lagi-lagi saling melihat dan sama-sama menyunggingkan senyumnya. Ya ibu dan anak itu lagi-lagi merasa menang dengan apa yang terjadi.
***********
Rendy keluar dari kamar mandi dengan mengeringkan rambutnya menggunakan handuk putih. Rendy melihat kearah jam yang menggantung yang sudah pukul 10 lewat dan istrinya belum pulang juga.
" Kenapa dia belum pulang juga," batin Rendy tampak cemas. Rendy pun melangkah mendekati ranjang dan mengambil ponselnya dan sama sekali tidak ada pesan dari Rania yang mengabarkan diri sedang di mana.
" Di mana kamu Rania. Kenapa tidak memberitahuku pergi kemana dan dengan siapa. Apa kamu lupa jika kamu sudah memiliki suami," batin Rendy yang tampak gelisah.
Rendy yang pasti khawatir dan tidak bisa bohong jika pikirannya juga tidak tenang. Rendy pun langsung menghubungi istrinya.
__ADS_1
" No yang anda tujui sedang tidak aktif," hanya jawaban dari layanan ponsel. Bagaimana tidak Rendy semakin khawatir.
Bersambung.