Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 181 Melihat dengan mata kepala.


__ADS_3

Setelah selesai beres-beres di kamarnya, juga sudah mandi dan berganti pakaian. Rania pun keluar dari kamarnya.


" Rendy mana ya apa sudah di taman belakang," batin Rania yang kepikiran dengan suaminya yang sedari tadi pulang dari Villa Rania tidak melihatnya.


Rania berjalan melewati pintu depan. Namun tiba-tiba Rania melihat ada mobil yang berhenti di depan villa mereka.


" Siapa itu?" tanyanya heran dengan melihat dari depan pintu yang kebetulan pintu di buka. Tidak lama pintu mobil terbuka yang ternyata Anisa yang keluar dari dalam mobil yang membuat Rania heran.


" Anisa!" gumamnya heran yang terus melihat mobil itu.


" Siapa yang mengantarnya. Itu bukan mobil travel. Lalu siapa yang mengantarnya. Apa dia punya teman di sini," batin Rania yang bertanya-tanya.


Rania tetap dengan rasa penasarannya yang terus melihat mobil tersebut. Penasaran dengan yang mengantar Anisa sampai akhirnya mobil itu pergi dan Anisa memasuki rumah.


Saking penasarannya Rania tidak sadar jika Anisa sudah di depannya. Rania jadi salah tingkah yang ketauan mengintip Anisa.


" Rania. Ngapain dia di sini. Apa dia melihat Agam tadi. Tidak Rania pasti tidak melihat Agam," batin Anisa yang terlihat panik yang ternyata yang mengantarnya pulang adalah Agam.


" Ngapain kamu di sini?" tanya Anisa dengan jutek.


" Oh, itu, aku lagi, aku tadi," ucap Rania yang terlihat gugup.


" Lagi apa?" tanya Anisa ketus.


" Aku tadi mau keluar mencari Rendy dan tidak sengaja ketemu kamu. Ya hanya itu saja," ucap Rania dengan tersenyum yang berpura-pura tenang.


" Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Itu hanya Grab," ucap Anisa yang langsung pergi. Rania hanya menggedikkan bahunya.


" Memang aku bertanya apa. Dia langsung sesewot itu," ucap Rania dengan mulut manyunnya.


" Sayang!" tegur Rendy yang tiba-tiba berada di belakang Rania.


" Sayang, ngagetin aja," sahut Rania.


" Kamu ngapain?" tanya Rendy.


" Nggak tadi aku cariin kamu. Lalu lihat Anisa di antar sama grabe katanya. Lalu dia kayak sewot itu sama aku. Gara-gara aku itu perhatikan dia. Karena jujur sih aku kepo," jawab Rania dengan penjelasannya.


" Kamu sih, ngapain kepo-kepo sama urusannya. Sejak kapan istri ku ini suka mencampuri urusan orang lain," ucap Rendy dengan menaikkan 1 alisnya menatap Rania.


" Ihhhhh, siapa yang mencampuri. Aku tidak mencampuri hanya penasaran saja," sahut Rania dengan suara manjanya.


" Itu sama aja. Ingat lo, wanita cantik ini sedang hamil. Anaknya nanti bisa ikut-ikutan suka kepo seperti mamanya," ucap Rendy dengan nada bercanda.

__ADS_1


" Amit, amit. Kamu jangan doain yang nggak-nggak dong. Aku nggak mau," sahut Rania dengan wajah cemberutnya.


" Aku tidak mendoakan. Hanya mengingatkan," sahut Rendy mengusap-usap pucuk kepala Rania.


" Kamu kenapa mencariku?" tanya Rendy.


" Mau ngajak ke belakang kan Nia lagi ulang tahun," jawab Rania.


" Ya sudah ayo," sahut Rendy. Rania mengangguk dan mengikuti suaminya untuk pergi bersama-sama ke taman belakang.


*************


Di taman belakang persiapan sudah semakin lengkap semua orang juga sudah ada di sana termasuk Anisa dan tinggal Elang yang tidak ada di sana.


" Elang mana Zahra?" tanya Rendy.


" Lagi ke supermarket sebentar mau membeli sosis. Nia kelupaan beli tadi," jawab Zahra.


" Ohhh, begitu rupanya," sahut Rendy. Rania yang disamping suaminya malah saling lihat-lihatan dengan Anisa. Tidak tau kenapa tetapi mereka saling lihat-lihatan aja.


" Apaan sih, sih Rania dia benar-benar begitu penasaran kepadaku. Dia itu benar-benar wanita kepo," batin Anisa kesal dengan Rania yang menatapnya aneh.


" Anisa kenapa sinis gitu melihatku. Memang aku mau ngapain apa. Aku hanya melihatnya saja. Tetapi dia dah kayak mau nerkam. Apa dia pikir aku mau tau gitu urusan dia," batin Rania.


" Sebentar lagi Oma, kak Elang belum datang," sahut Nia.


" Aku coba telpon sebentar," sahut Zahra.


" Itu bukannya handphone nya yang ketinggalan," sahut Ratih melihat di atas meja.


" Ya, dia nggak bawa handphone," sahut Zahra lemas.


" Kita tunggu aja dulu," sahut Rendy.


" Kita mulai aja bakar-bakar dulu," sahut Rania.


" Lulu juga lapar," sahut Lulu.


" Ya sudah kita bakar-bakar ya, biar Tante yang bakar ," sahut Della.


" Baik Tante," sahut Lulu. Sambil menunggu Elang mereka pun akhirnya baberque duluan. Kebetulan ada dua anak kecil yang perutnya sudah lapar.


Rania juga melayani kakaknya yang di atas kursi roda kebersamaan itu memang terlihat sederhana. Namun begitu sangat membahagiakan.

__ADS_1


**************


Elang baru saja keluar dari supermarket yang membawa kantung plastik putih yang pasti berisi sosis pesanan yang di minta. Elang pun memasuki mobil.


" Aku harus cepat nih," ucapnya yang buru-buru memakai sabuk pengamannya. Namun saat ingin menyalakan mesin mobilnya. Tiba-tiba keluar seorang wanita dari supermarket yang sama.


Mata Elang langsung melotot ketika melihat wanita itu yang tak lain adalah Cindy.


" Cindy! ngapain dia sini?" tanya Elang terlihat schok.


Elang yang penasaran membuka sabuk pengamannya yang ingin menghampiri Cindy. Namun tiba-tiba seorang Pria datang menghampiri Cindy memeluk Cindy dan merangkul Cindy masuk kedalam mobil yang terparkir di depan Elang.


Apa yang dilihat Elang membuatnya benar-benar begitu terkejut. Dengan debaran jantungnya yang tidak menentu di dalam sana. Ada rasa marah, tidak mungkin dan lain sebagainya yang bercampur aduk.


" Apa sungguh itu Cindy, bukannya dia mengatakan jika dia ada di Jerman dan Pria itu bukannya Pria yang kemarin aku temui," lirih Elang yang merasa sesak di dadanya. Mobil yang di masuki Cindy berjalan yang membuat Elang menyadarkan dirinya.


Elang yang penasaran dengan Cindy dan Pria itu. Akhirnya memilih mengikuti. Banyak perasaan yang tidak menentu di hari Elang. Akan takut sesuatu. Tetapi seolah akan siap. Belum tau jelas apa yang terjadi, mengapa? kenapa? dan apa? tetapi Elang seakan sudah bisa menyimpulkan semuanya.


Dari apa yang di lihatnya barusan. Cindy yang terlihat dekat dengan Pria tidak asing baginya. Cindy yang di peluk dan dirangkul. Jelas itu menunjukkan tanda tanya yang besar.


Yang padahal sebelumnya Cindy pergi ke Jerman dan selama itu mereka tidak berkomunikasi. Elang juga ingin menelpon Cindy dan mempertanyakan di mana Cindy untuk memastikan Cindy berbohong atau tidak. Tetapi sayangnya Elang lupa membawa handphonenya.


Jadi untuk memastikan semuanya. Elang harus mengisi mobil itu sampai mana. Sementara di Villa Zahra mulai memikirkan Elang yang tidak pulang-pulang sudah 1 jam Elang keluar. Namun tidak kembali. Padahal Supermarket tidak terlalu jauh dan Elang juga membawa mobil.


" Zahra!" tegur Rania.


" Iya Rania," sahut Zahra.


" Kenapa Elang belum datang juga?" tanya Rania yang juga heran.


" Aku juga tidak tau Rania," sahut Zahra yang malah panik.


" Hmmm, mungkin sebentar lagi kali ya," sahut Rania yang berpikiran positif.


" Apa tidak sebaiknya acaranya kita mulai saja, potong kue, anak-anak pasti mau tidur. Bisa kemalaman nantinya," sahut Willo.


" Ya, sebaiknya. Kan hanya potong kue saja. Elang juga bentar lagi datang. Lagian kita juga masih baberque bersama," sahut Oma Wati yang tampaknya setuju. Orang-orang melihat Zahra yang tampaknya ingin meminta persetujuan Zahra.


" Ya sudah kita mulai saja," sahut Zahra yang mengambil keputusan yang lainnya mengangguk.


Akhirnya mereka menyayikan selamat ulang tahun untuk Nia tanpa Elang. Zahra terlihat gelisah di tengah-tengah perayaan ulang tahun itu mungkin karena tidak ada Elang yang mana Elang masih saja mengejar mobil Cindy untuk mencari kepastian.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2