Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 126 Kembali.


__ADS_3

Akhirnya perjalanan Rendy dan Rania sudah berakhir di tanah suci. Pasangan itu akhirnya kembali ke Indonesia. Setelah selesai mengurus perosedur keberangkatan dan yang lainnya. Rania dan Rendy akhirnya sudah- berada di dalam pesawat.


Posisi duduk Rania berada di dekat jendela dan Rendy di sebelahnya. Tidak tau sudah berapa lama perjalanan mereka. Tetapi sekarang mereka sudah makan bersama di dalam pesawat.


" Kamu sudah membaca suratku?" tanya Rania pada sambil mengunyah makanannya.


" Tidak aku menyimpannya. Nanti saja kalau mau di baca," jawab Rendy bohong. Rania melihat serius ke arah Rendy yang mana tatapan itu menjadi horor.


" Serius tidak membacanya sama sekali?" tanya Rania memastikan. Rendy mengangguk dengan santai sambil mengunyah makanan itu.


" Padahal, aku sudah capek menulisnya. Masa iya sih kamu tidak membacanya," ucap Rania dengan lemas yang tertunduk. Bahkan semangatnya hilang begitu saja. Rendy tersenyum melihat wajah Rania yang cemberut itu.


" Aku sudah membacanya," sahut Rendy.


" Serius?" tanya Rania tidak percaya melihat Rendy dengan serius. Rendy mengangguk.


" Lalu?" tanya Rania.


" Lalu apa?" tanya Rendy kembali.


" Ya tanggapan kamu bagaimana setelah membacanya?" tanya Rania penasaran.


" Hmmm. Satu hal yang aku tidak tau dari kamu. Selama aku mengenalmu dan kita menikah. Aku berpikir kamu itu wanita yang acuh. Tapi ternyata aku salah. Aku tidak menyangka kamu juga wanita yang sama dengan anak-anak remaja yang mengalami virus bucin," jelas Rendy. Tania mendengarnya mengkerutkan dahinya.


" Apa maksud kamu virus bucin dan kenapa aku malah seperti anak-anak remaja. Maksudnya?" tanya Rania penuh kebingungan.


" Ya. Karena anak-anak remajalah yang menulis surat cinta seperti itu. Dan kamu ternyata kembali seperti anak-anak," ucap Rendy membuat Rania terlihat kesal.


" Tidak siapa bilang," sahut Rania yang langsung membantah.


" Buktinya. Kamu sampai menulis surat cinta. Jaman sekarang kenapa harus menulis surat segala. Kenapa tidak mengungkapnya langsung," ucap Rendy menatap istrinya itu.


" Ya memang kenapa. Apa ada yang salah. Aku menulis surat bukan berarti aku anak remaja. Jadi jangan bicara sembarangan," sahut Rania kesal yang langsung membuang tatapannya dari Rendy. Belakangan Rendy memang suka iseng pada Rania. Ya namanya juga bucin jadi maklumlah ke-2nya seperti itu.


Rendy meraih tangan Rania yang memegang sendok dan Rania menoleh ke arah Rendy.


" Makasih ya untuk suratnya. Aku sudah membacanya dan aku bahagia karena membanya tulisan yang aku baca aku simpan di hatiku dan juga memoriku yang akan menjadi ingatan paling indah untukku," ucap Rendy dengan tulus. Rania tersenyum mendengarnya.


" Aku mencintaimu Rania," ucap Rendy yang mengatakan kembali cinta pada istrinya.


" Aku juga mencintaimu," sahut Rania. Rendy tersenyum dan mencium lembut kening Rania.

__ADS_1


" Kita makan lagi," ucap Rendy. Rania mengangguk dan mereka sama-sama tersenyum dan melanjutkan makannya.


Rania melihat ke luar jendela melihat ke awan yang indah bergelembung.


" Cinta setelah menikah ternyata benar adanya. Aku dan dia melakukan pendekatan setelah menikah dan akhirnya kami berdua saling mengungkap isi hati dalam pernikahan. Masyallah ini sangat indah," batin Rania yang tidak henti-hentinya bersyukur.


**********


Lama di perjalanan akhirnya Rendy dan Rania pun sampai di Indonesia. Saat di Bandar mereka di jemput supir dan tidak sampai 20 menit mereka tiba di rumah dan di sambut oleh keluarga yang merindukan mereka.


Para keluarga itu sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut Rendy dan Rania. Wajah mereka tersenyum ketika melihat Rendy dan Rania turun dari mobil dengan tangan yang tetap bergandengan dan tidak ingin lepas


" Assalamualaikum," sapa Rendy.


" Walaikum salam," sahut semuanya dengan serentak.


Rendy dan Rania menyalam dan memeluk orang-orang yang menunggu mereka.


" Alhamdulillah kalian ber-2 pulang dengan selamat," ucap Ratih.


" Iya mah, makasih sudah mendoakan kita ber-2," ucap Rania.


" Hmmmm, oleh-oleh untuk Nia ada atau tidak?" tanya Nia langsung pada intinya.


" Ya kangen lah. Tapi mau bagaimana di peluk. Dari tadi tangannya nempel terus. Kan takut untuk meluk," ucap Nia dengan melihat tangan kakaknya yang masih saja menggenggam tangan Rania.


" Alasan aja," sahut Rendy.


" Jangan berantam," sahut Oma Wati.


" Hmmm, oh iya Zahra mana kok tidak ada. Bukannya ini hari minggu seharusnya dia tidak kekantor kan?" tanya Rania yang tidak melihat temannya itu.


" Zahra lagi pergi bentar lagi juga pulang," jawab Ratih.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Rania.


" Ya sudah ayo masuk kalian ber-2 pasti lapar. Kita makan dulu," ucap Ratih.


" Iya ma," sahut Rania.


Rania dan Rendy pun akhirnya memasuki rumah dan memang mereka langsung saja menuju meja makan. Di mana di sana sudah ada Anisa dan Sarah yang menghidangkan makanan. Sepertinya Anisa dan Sarah bukan tamu di rumah itu. Tapi mungkin saja pelayan baru.

__ADS_1


" Rendy, Rania kalian sudah pulang," sapa Sarah tampak manis menyambut Rania dan Rendy. Rania dan Rendy hanya tersenyum membalas sapaan itu.


" Ayo duduk kalian pasti lelah. Jadi kita makan dulu!" ajak Sarah.


" Iya Tante," sahut Rendy.


Satu persatu mereka pun menduduki tempat masing-masing. Dan Anisa pun menghidang seperti biasa. Ya dia memang sangat cocok menjadi pelayan bukan tamu di rumah itu.


" Biar aku yang mengambilkannya. Kamu dudukku!" tegur Rania yang mencegah Anisa untuk melayani suaminya.


" Iya," sahut Anisa dan akhirnya duduk di samping mamanya di depan Rania.


" Bagaimana perjalanan kalian apa lancar?" tanya Oma Wati.


" Lancar Oma," sahut Rania.


" Alhamdulillah, semoga saja. Kita nanti di berikan kesehatan supaya sekeluarga bisa melaksanakan ibadah umroh dengan lengkap," ucap Oma Wati.


" Amin," sahut Nia, " Nia sudah lama tidak kesana. Jadi Nia ingin kesana lagi," lanjut Nia.


" Ya, semoga saja di berikan kelancaran dalam urusan kita," sahut Ratih.


" Hmmm, tapi kalau misalnya pergi. Rania boleh ajak papa," sahut Rania.


" Pasti boleh Rania. Itu jauh lebih baik untuk mengajak papamu karena kita semua sudah menjadi keluarga," sahut Ratih yang tanpa ada masalah.


" Dan semoga juga permasalahan Sarah dan Willo selesai secepatnya," sahut Oma Wati membuat Rania dan Rendy terlihat terkejut dan pasti bingung.


" Permasalahan. Permasalahan apa maksudnya?" tanya Rania heran. Sarah menunduk yang sepertinya tidak punya muka.


" Apa terjadi sesuatu?" tanya Rania yang merasa ada yang tidak beres. Apa lagi dengan eksperesi wajah Sarah membuatnya malah tidak tenang.


" Kak Rania. Kak Willo masuk rumah sakit. Jatuh dari lantai 2 karena Tante berkelahi dengan Tante Sarah," sahut Nia yang membuat Rania dan Rendy kaget mendengarnya.


" Masuk rumah sakit. Lalu bagaimana dengan ke adaannya?" tanya Rania panik.


" Belum siuman sampai sekarang dan masalah Tante Sarah kami menunggu kakak untuk menyelesaikannya. Masalah ini di bawa ke hukum atau bagaimana," lanjut Anisa.


" Astagfirullah Al Azdim," lirih Rania yang langsung down mendengar kakaknya masuk rumah sakit dan bahkan belum sadar.


Bagaimana pun hubungannya dengan kakaknya. Dia tetap khawatir terjadi hal buruk pada kakaknya. Dan masalah Sarah dia bahkan tidak berpikir apa-apa. Namun Rania pasti tau apa penyebabnya makanya terjadi seperti itu.

__ADS_1


" Rania kamu tenang dulu ya," ucap Rendy mencoba memengankan istrinya yang pasti schock dengan kabar kecelakaannya sang kakak. Sementara Sarah diam saja.


Bersambung


__ADS_2