
Akhirnya Raina dan Rendy pun menghirup kembali udara ibu kota. Setelah lama berpetualang di desa yang begitu sederhana. Tetapi membuat Raina merasa bahagia dan mendapat banyak pelajaran selama di sana.
Selain itu yang paling istimewa. Raina dan Rendy menjadi semakin dekat. Bahkan tidak canggung- canggungan lagi. Ya segala sesuatu memang pasti ada hikmahnya.
Setelah melakukan perjalanan cukup panjang. Akhirnya Raina dan Rendy pun tiba di Jakarta yang mana mereka berdua di jemput oleh supir.
Rania dan Rendy duduk di kursi bagian belakang dan Rania menurunkan kaca mobil untuk melihat pemandangan di luar dengan wajahnya yang tersenyum simpul. Dua juga memejamkan matanya seakan menghirup udara Jakarta. Udara polusi pastinya.
Rendy menoleh ke arah Rania. Dia juga tersenyum melihat Rania yang tampak bahagia.
" Kamu bahagia bisa kembali ke Jakarta?" tanya Rendy. Rania mengangguk-angguk.
" Hmmm, aku sangat bahagia. Sudah sangat merindukan tempat ini karena sudah lama juga tidak berada di Jakarta. Jadi wajar aku sangat merindukannya," sahut Raina yang memang tidak bisa membohongi perasaannya. Jika dia benar-benar begitu bahagia.
" Selain itu, aku juga merindukan ruang dan orang-orang yang ada di dalamnya," lanjut Rania.
" Ya, aku juga," sahut Rendy yang tersenyum bahagia lebar. Yang pasti juga merindukan mama, adiknya dan juga yang lainnya. Untung istrinya ikut. Kalau tidak pasti akan lebih merindukan istrinya.
***********
Mendengar kepulangan Rendy. Anisa sudah sibuk dengan semua pekerjaannya di rumah itu. Dia sibuk memasak dengan berbagai macam makanan kesukaan Rendy. Apa lagi tidak mencoba untuk mencari perhatian Rendy. Makanya dia sangat sibuk dengan segala urusannya.
" Anisa!" tegur Sarah yang tiba-tiba datang.
" Kenapa ma?" tanya Anisa.
" Buruan kamu siapkan semuanya jangan sampai ada yang salah sedikitpun," ucap Sarah yang tampak mendesak Anisa.
" Iya mama tenang aja. Aku sudah menyiapkan semua makanan kesukaan Rendy. Dan pasti saat Rendy pulang dia akan langsung menikmati makanan ini. Karena dia pasti sangat merindukan makanan ini. Pasti di sana dia hidup menderita. Karena membawa wanita yang tidak bisa apa-apa," ucap Anisa dengan percaya dirinya..
" Kamu benar, makanya kamu siapkan semuanya. Biar Rendy setelah pulang langsung fokus pada kamu," ucap Sarah.
" Sip mah," sahut Anisa dengan mengajukan jempolnya. Sarah tersenyum miring.
Tidak berapa lama akhirnya mobil yang menjemput Rania dan Rendy akhirnya sampai. Di depan pintu sudah menunggu Ratih, Zahra, Nia, Oma Wati dan Anisa dan Sarah langsung ke depan begitu tau Rendy sudah datang.
Rendy dan Rania saling melihat di dalam mobil dan akhirnya Rendy turun dari mobil. Rania masih di dalam mobil yang memasukkan hanphonnya kedalam tasnya. Saat Rania ingin membuka pintu mobil. Rendy ternya sudah membukanya terlebih dahulu.
__ADS_1
Pasangan itu seolah memamerkan kemesraan mereka. Rania tersenyum dan keluar dari mobil. Pasti hal kecil yang di lakukan Rendy membuat Anisa menatap sinis.
" Kak Rendy!" teriak Nia yang langsung berlari menghampiri kakaknya dan memeluknya.
" Lama sekali pulangnya. Aku sudah merindukan kakak," ucap Nia dengan manjanya yang berada di pelukan kakaknya.
" Kaka juga sangat merindukan kamu," sahut Rendy yang memeluk adiknya erat. Sementara Rania menghampiri ibu mertuanya mencium punggung tangan wanita itu dan Rania langsung memeluknya.
" Kamu apa kabar nak?" tanya Ratih.
" Baik ma, maaf Rania jarang menelpon," ucap Rania merasa bersalah.
" Tidak apa-apa nak," sahut Ratih melepas pelukan itu dan melihat Rania dari bawah sampai atas. Memang tidak ada yang kurang dari menantunya itu. Bahkan semakin cantik.
" Selamat datang kembali Kerumah ini," ucap Ratih. Rania mengangguk dengan tersenyum.
Setelah berpelukan dengan Ratih. Rania juga mencium punggung tangan Oma Wati dan juga Sarah. Walau Sarah tampak tidak suka dengan Rania. Rania juga memeluk sahabatnya Zahra.
" Hmmm, akhirnya pulang juga, kangen tau," ucap Zahra ya b memeluk erat sahabatnya itu.
" Sama, aku jua kangen sama kamu," ucap Rania. Ke-2 sahabat itu saling berpelukan melepas rindu. Rendy juga akhirnya memeluk sang mama yang juga tidak kalah merindukan mamanya itu.
" Iya mah, Rendy baik-baik saja. Sangat baik?" jawab Rendy yang terus memeluk sang mama dengan erat.
Rendy melepas pelukannya dari mamanya dan mencium kening mamanya. Ratih memegang pipi Rendy.
" Rendy!" tegur Anisa membuat Rendy menoleh ke arah Anisa.
" Aku senang kamu bisa pulang kembali," lanjut Anisa dengan senyum merekahnya.
" Iya terima kasih," jawab Rendy.
" Hmmm, ya sudah sebaiknya kita masuk. Anisa sudah menyiapkan makanan untuk kamu. Jadi kita nikmati saja," sahut Sarah.
" Iya ayo kita masuk. Kalian juga pasti lapar," sahut Ratih.
" Iya mah," sahut Rendy. Rendy mengajak Rania dan merekapun akhirnya masuk bersama. Namun Rania melihat ke arah Sarah yang tampaknya heran.
__ADS_1
" Kenapa Tante Sarah ada di rumah ini. Kalau dia sudah pulang bukannya seharunya Anisa juga tidak ada di sini," batin Rania heran dengan kehadiran Sarah.
Mereka pun langsung memasuki ruang tamu dan Anisa terlihat sibuk menghidangkan jenis-jenis kue di depan meja. Yang apa lagi jika tidak caper pada Rendy.
" Kenapa susah sinyal di sana?" tanya Nia.
" Ya begitulah Nia, mau gimana lagi," sahut Rendy.
" Hmmm, Rendy kamu makan dulu kuenya," ucap Anisa yang memberikan Rendy sepotong kue yang mana Anisa berlutut di lantai menghadap Rendy.
" Iya Rendy, coba saja kuenya. Anisa dan Tante sudah begadang semalaman di rumah ini untuk membuat makanan kesukaan kamu," sahut Sarah.
" Begadang," sahut Rendy. Sarah mengangguk.
" Tante sama menginap di sini?" tanya Rendy.
" Iya Rendy, Anisa dan mamanya sudah 2 Minggu memang tinggal di sini," sahut Ratih.
" Kenapa?" tanya Rendy heran, begitu juga dengan Rania yang tampak bertanya-tanya.
" Kami sedang di timpa masalah. Rumah kami di sita oleh Bank dan kami tidak punya tempat tinggal. Makanya kami tinggal di sini," jelas Sarah dengan singkat.
" Iya Rendy papa juga tidak bisa pulang dari Luar Negri. Karena ada masalah dan untuk sementara aku sama mama akan tinggal di rumah ini," lanjut Anisa menjelaskan singkat.
" Oh, begitu rupanya," sahut Rendy yang tidak bisa menanggapi apa-apa.
" Jadi mereka akan tinggal di rumah ini," batin Rania yang kelihatan gelisah.
" Rendy tidak apa-apa kami kami tinggal di sini?" tanya Sarah memastikan.
" Ini bukan rumah saya Tante. Jadi bukan hak saya untuk melarang siapapun yang akan tinggal di rumah ini," sahut Rendy dengan bijak.
" Kami memang sangat beruntung bisa memiliki tetangga sebaik kalian. Kalian benar-benar menerima kami. Semoga suatu saat nanti saya bisa membalas kebaikan kalian," ucap Sarah terharu.
" Sudahlah mbak jangan di bahas lagi," sahut Ratih.
" Makanlah Rendy?" Anisa kembali menawarkan kue tersebut. Rendy mengangguk dan mengambilnya. Belum sempat menggigitnya.
__ADS_1
Rendy menoleh ke arah Rania dan malah memberikannya pada Rania. Rania tersenyum dan mengambilnya. Dan Anisa hanya kepanasan melihat hal itu.
Bersambung