
Rania duduk di pinggir ranjang yang sudah begitu cantik dengan dress tidurnya yang sepahanya yang memang khusu untuk suaminya Rania terus saja bercermin di ponselnya untuk melihat apakah ada yang kurang dari nya.
Tidak lama Rendy keluar dari kamar mandi dan Rendy dengan pakaian santai dan tersenyum melihat cantiknya istrinya itu yang duduk begitu anggun dengan kaki yang di silang.
Rendy mendekati istrinya dan berdiri di depan istrinya dengan mencium kening istrinya lembut. Lalu Rendy duduk di samping Rania dan Rania langsung memeluk Rendy.
" Aku tidak tau kenapa aku sangat merindukanmu," ucap Rania dengan manjanya.
" Aku juga merindukanmu. Sayang kamu sangat cantik malam ini," ucap Rendy.
" Hanya malam ini saja?" tanya Rania dengan mengangkat kepalanya melihat suaminya.
" Setiap hari kamu sangat cantik. Tetapi malam ini. Kamu jauh lebih cantik," jawab Rendy yang mencium lembut pipi Rania dan juga kelopak mata Rania. Rania tersenyum dengan mengalungkan tangannya pada suaminya.
" Kamu minum obat dulu ya," ucap Rendy tiba-tiba. Mood Rania langsung berubah dengan wajahnya yang menunjukkan ketidak sukaannya yang membahas masalah obat di tengah-tengah dia dan suaminya ingin bermesraan.
" Sayang kenapa diam, ayo minum obat," ucap Rendy yang tampak ingin berdiri dan mengambil obat.
Namun Rania langsung menahan dengan menciumi bibirku Rendy dan hanya beberapa detik menciumnya. Lalu Rania melepas kembali ciuman itu dengan menatap suaminya dengan intens.
" Aku mencintaimu," ucap Rania yang perlahan membuat Rendy berbaring di atas ranjang dan Rania yang memulai semuanya dengan mencium bibir Rendy dengan dalam-dalam. Rania yang beradab di atas tubuh Rendy terus mencium Rendy dan sampai pada akhirnya Rendy membalas ciuman itu dengan memegang ke-2 pipi Rania.
Jelas dia juga bergairah sampai melupakan obat istrinya yang harus di minum sebelum berhubungan. Karena sudah puasa 3 Minggu. Jadi Rendy seakan cepat melupakan apa yang baru saja di lakukannya dan di gantikan dengan menyentuh istrinya dengan lembut dan tidak pernah egois dalam berhubungan.
Karena baginya Rania adalah ratu yang harus di perlakukan seperti ratu dan ratu dan tugasnya memberikan nafkah batin pada istrinya yang mana membuat kebahagian pada istrinya.
Malam yang dingin itu hanya penuh dengan kehangatan di atas ranjang dengan penyatuan pasangan suami istri yang sudah berada di dalam selimut dengan posisi Rania di bawah dan Rendy di atasnya. Karena Rendy memang bukan laki-laki yang banyak permintaan dalam hal berhubungan intim.
__ADS_1
***************
Mentari pagi kembali tiba. Malam sudah terlewatkan dengan kehangatan ranjang yang tidak tau selesai sampai jam berapa. Sekarang Rania yang sudah keramas dengan dress biru di bawah lututnya sedang membantu suaminya memakai kemeja.
Rendy hanya tersenyum dengan istri cantiknya yang terlihat ceria. Di lihat dari wajah berseri-seri itu bahkan terlihat leher Rania yang terdapat kemerah-merahan yang apa lagi jika bukan karena perbuatan Ardian tadi malam.
" Sudah selesai," ucap Rania mengusap pundak suaminya dengan dengan ke-2 tangannya. Dan Rendy langsung mencium kening istrinya.
" Aku ambil sisir duku!" ucap Rania yang berjalan menuju cermin dan mengambil sisir, menyisir rambut Rendy yang juga masih sedikit basah.
" Sangat tampan," puji Rania membuat Rendy mendengus tersenyum.
" Ya sudah sekarang sudah selesai. Ayo turun kita sarapan," ucap Rania dengan cerianya di pagi ini. Di mana-mana biasanya pria yang semangat jika sudah mendapat jatah dari istrinya. Ini malah kebalikannya. Rania seperti habis di cas full.
" Oh, iya sayang kamu belum minum obat. Tadi malam juga lupa, ayo minum. Jangan sampai lengah," ucap Rendy yang ternyata tidak melupakan obat yang harus di minum sebelum dan sesudah berhubungan untuk menjaga agar Rania tidak hamil.
" Sayang kenapa di tunda-tunda. Kan hanya tinggal minum dan selesai," sahut Rendy dengan lembut.
" Sudah ayo kita sarapan nanti kamu telat kerumah sakit," ucap Rania yang tampaknya tidak mendengarkan perintah Rendy dan langsung menarik tangan Rendy untuk keluar dari kamar. Namun kaki Rendy tertahan membuat Rania menoleh kebelakang.
" Ada apa Rania?" tanya Rendy dengan suara dinginnya dan wajahnya yang tampak begitu serius.
" Ada apa memangnya. Aku hanya ingin sarapan, kamu harus ke rumah sakit kan," sahut Rania yang masih terlihat santai.
" Aku bilang ada apa. Kenapa kamu sepertinya menghindari untuk meminum obat itu tidak tadi malam dan tidak ini. Kenapa?" tanya Rendy sudah mode serius. Wajah yang tersenyum itu sudah tidak ada lagi dan Rania melepas tangannya dari Rendy dengan menarik membuang napasnya perlahan kedepan.
" Aku sarapan duluan, aku tunggu di bawah," ucap Rania yang langsung pergi.
__ADS_1
" Kamu pergi tanpa menjawab pertanyaanku?" tanya Rendy membuat langkah Rania terhenti.
" Rania aku suamimu, jika aku bicara lihat dia bukan membelakanginya," ucap Rendy. Rania pun berbalik badan dan melihat Rendy.
" Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin bertergantungan dengan obat itu," sahut Rania.
" Apa maksud kamu. Itu obat kontrasepsi, agar kamu tidak hamil. Bagaimana mungkin kamu punya pikiran untuk tidak bertergantungan," ucap Rendy dengan wajahnya khawatir.
" Aku sudah menikah dan aku memerlukan obat itu. Aku ingin menjadi wanita normal," sahut Rania yang membuat Rendy kaget.
" Apa maksud kamu Rania?" tanya Rendy dengan suara beratnya. Rania diam dan tidak berani melihat Rendy.
" Kamu tidak merencanakan untuk hamilkan," ucap Rendy yang menebak rencana Rania. Rania diam seakan membenarkan pikiran Rendy. Rendy mengusap wajahnya dan memijat kepalanya lalu mendekati Rania dengan dugaannya yang ternyata benar.
" Rania kamu jangan main-main. Kamu tau resikonya. Cukup Rania untuk kamu melakukan semua ini," ucap Rendy dengan wajah paniknya. Rania langsung melihat Rendy dengan matanya yang berkaca-kaca.
" Kenapa, kenapa aku tidak boleh hamil. Tidak ada yang salah. Selagi aku masih punya rahim dan bisa hamil lalu kenapa tidak boleh?" tanya Rania dengan suara yang mulai meninggi dan terlihat menahan air mata.
" Rania apa yang kamu bicarakan. Kamu itu sedang sakit dan kamu tau resikonya," sahut Rendy.
" Aku sakit atau aku berbeda dari istri-istri lain. Aku yang harus ini harus ini. Aku susah capek dengan semuanya tidak ada hasilnya," sahut Rania yang terlihat putus asa.
" Berapa kali aku mengatakan kepada kamu Rania aku lebih memilih untuk tidak mempunyai anak seumur hidup dari pada melihat kamu hamil dengan penuh penderitaan!" teriak Rendy dengan suaranya yang menggelegar.
" Tapi aku tidak peduli, aku tidak ingin mati dengan tidak sia-sia," sahut Rania yang tidak kalah dengan suara yang menggelar berteriak di depan Rendy dan baru kali ini dia berteriak pada suaminya sampai Rendy tidak bisa bicara apa-apa lagi dan mata mereka yang saling bertemu.
Air mata Rania sudah mengalir di pipinya dan ke-2 bola mata Rendy yang sudah memerah dengan napas ke-2nya yang sama-sama naik turun. Napas yang sama-sama tidak stabil dengan ke-2nya yang sama-sama emosi.
__ADS_1
Bersambung.